Titik Balik

Titik Balik
LIMA PULUH DUA


__ADS_3

Tiga tahun kemudian....


Matahari mulai condong ke arah barat. Semburat warna oranye terlihat begitu indah menghiasi langit sore ini.


"Sayang, mainan sepedanya sudah dong, ayo mandi dulu!", teriak Lintang di depan teras rumah.


"Sebentar lagi bunda, Nana masih pengen sepedaan", ujar anak perempuan kecil yang berusia 3 tahun itu.


Lintang hanya menggeleng-gelengkan kepala, melihat putri semata wayangnya itu yang kini semakin aktif. Ya, tiga tahun sudah Lintang menjalani kehidupan bersama Agum. Awal-awal menjalankan peran sebagai seorang ibu, ia merasa begitu kerepotan. Namun berkat bantuan dari ibu dan juga mertuanya, ia berhasil melewati masa-masa adaptasi itu dengan baik.


Dan kini, Nana telah berusia tiga tahun. Seluruh perhatian dan kasih sayang keluarga tercurah penuh untuknya. Agum juga terlihat sangat mencintai putri pertamanya itu. Meski saat ini Agum mulai di sibukkan dengan pekerjaannya yang semakin banyak, bahkan terkadang sering melakukan perjalanan dinas ke luar kota, namun setiap ada waktu luang pastilah Agum memberikan sepenuh waktunya untuk Lintang dan Nana. Sehingga, meski Agum terlihat lebih sibuk, namun Nana tetap tidak merasa kekurangan akan perhatian juga kasih sayang dari ayahnya.


Lintang menghampiri putrinya yang sedang berada di atas sepeda mini dengan bantuan dua roda kecil di sisi roda utamanya. Anak perempuan dengan rambut bergelombang, yang saat ini dikucir kuda.


Lintang mengusap kepala putrinya itu. "Sayang, ayo mandi dulu. Sehabis mandi kita nyiapin kejutan untuk ayah yuk. Hari ini ayah ulang tahun loh"


"Waaahhh mau bikin kejutan apa bunda?"


Lintang menunjukkan ekspresi layaknya orang yang sedang berpikir keras. "Eemmmm gimana kalau kita bikin kue untuk ayah?"


Wajah Nana terlihat berbinar. "Kue?, mau bunda, mau!!", seru Nana. "Tapi kalau sekarang mandi dulu, nanti baju Nana kotor lagi bunda. Nana mandinya setelah bikin kue ya bunda?", sambung Nana pula


Lintang terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya lagi, melihat putrinya itu sudah pandai bernegosiasi. "Ya sudah, sekarang cuci tangan, cuci kaki, lalu kita bikin kue untuk ayah"


"Hore!!!!", seru Nana kegirangan


***********

__ADS_1


Taaaraaaaaaaa!!!, setelah berkutat di dapur hampir satu jam lamanya, akhirnya kue ulang tahun untuk Agum pun jadi. Jangan ditanya bagaimana keadaan dapur Lintang saat ini, seolah seperti kapal pecah. Terigu sampai mana-mana, telur juga ada yang pecah di bawah meja dapur, dan cucian juga terlihat menumpuk di wastafel.


"Waaahhh sedang asyik apa nih cucu nenek?", tanya ibu Ranti.


"Nana abis bikin kue untuk ayah nek"


"Ini yang bikin cucu nenek?", tanya ibu Ranti ketika melihat kue tart di depannya.


"Iya dong nek, Nana hebat kan!", jawabnya berseri-seri.


Setelah selesai beres-beres dapur, Lintang pun menghampiri putrinya. "Dah sayang, sekarang mandi yuk, keburu maghrib!"


"Siap bunda!", seru Nana


Lintang menghampiri ibu mertuanya. "Lintang mandiin Nana dulu ya bu, atau ibu mau makan dulu biar Lintang siapkan?"


Seperti inilah keseharian Lintang. Mengurus rumah, mengurus anak, dan mengurus ibu mertuanya. Mengurus ibu mertua?. Ya, ketika Nana berusia dua tahun, Mimin yang sebelumnya menjadi perawat ibu mertuanya, berpamitan untuk berhenti dari pekerjaannya dikarenakan ayahnya yang ada di Magelang sakit keras dan membutuhkan Mimin. Dan sejak hari itu Lintang yang bertanggung jawab penuh untuk mengurus ibu mertuanya.


*********


Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Lintang, Nana, dan juga ibu mertuanya terlihat duduk di ruang tamu menunggu kepulangan Agum. Di meja sudah terhidang kue tart yang rencananya untuk menyambut ketika Agum sampai rumah.


Jarum jam terus berdetak hingga bergeser di antara angka sembilan dan sepuluh.


"Bunda, ayah masih lama ya pulangnya?, hoooaaaaammm", tanya Nana sambil menguap dan mengucek matanya.


Lintang memperhatikan wajah putrinya itu. Ia begitu iba melihat anaknya menahan kantuk hanya untuk memberi kejutan untuk ayahnya.

__ADS_1


Lintang mengusap kepala Nana. "Sayang, sekarang bobok dulu saja ya, sudah ngantuk kan?


Nana mengerjap-ngerjap kan matanya berusaha agar matanya tetap terbuka. "Nana pengen nungguin ayah, bunda"


Lintang tersenyum sambil mencakup kedua pipinya. "Sayang, kalau ayah sudah pulang nanti bunda bangunkan, sekarang bobok dulu ya"


Akhirnya Nana pun menurut. Ia masuk kamar, kemudian merebahkan diri di atas tempat tidur.


Lintang menghampiri ibu mertuanya yang duduk di sofa. "Ibu istirahat juga ya, sudah terlalu larut"


"Iya mbak Lin, ini ibu juga sudah capek banget".


Lintang mengangguk kemudian mengantar ibunya ke kamar. Ia menghembuskan nafas kasar. Sejak tadi ia mencoba menghubungi Agum namun ponselnya tidak aktif. Seketika terbesit betapa semangatnya Nana di sore hari tadi ketika menyiapkan kue ulang tahun untuk ayahnya dan sekarang seolah itu semua pupus saat Agum belum sampai rumah di jam sepuluh malam ini.


Lintang menatap nanar kue tart yang masih teronggok di atas meja ruang tamu. Air matanya meleleh.


Kamu di mana mas?, apa kamu tidak tahu jika kami semua di sini menunggumu?.


.


.


.


. bersambung


Hai-hai para pembaca tersayang. Terima kasih banyak sudah berkenan mampir di novel pertamaku ini yaa. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like dan komentarnya yaa... terima kasih...

__ADS_1


Salam love, love, love 💗💗💗


__ADS_2