Titik Balik

Titik Balik
TIGA PULUH TUJUH


__ADS_3

Kamar itu nampak temaram. Hanya di terangi sebuah lampu tidur yang sinarnya tidak terlalu menyilaukan penglihatan. Di depan jendela kamar itu, berdiri seorang perempuan yang tengah mengandung. Dengan mata yang sedikit sembab, dengan hati yang di selimuti berpuluh-puluh pertanyaan, dan dengan segala kekalutan yang ia rasakan.


Lintang menarik nafas dalam, kemudian ia hembuskan perlahan. Mencoba menguasai hatinya agar tidak terjebak dalam sebuah prasangka, dan mencoba menguasai raganya agar mampu untuk tetap berdiri tegak.


Mungkin apa yang ia rasakan hanya sebuah perkara yang sepele, namun tidak dapat dipungkiri, jika hal itu seakan menjadi awal runtuhnya rasa percaya kepada seorang laki-laki yang baru tiga bulan menjadi imamnya.


Siapa dia?, ada apa dengan ini semua?, pertanyaan itulah yang berputar-putar di otak Lintang, setelah melihat nama kontak di ponsel suaminya dengan sebutan mami. Mungkinkah?, mungkinkah?, mungkinkah?


Pikirannya semakin menerawang jauh.


"Sayang?!", terdengar suara Agum memanggil Lintang. Yang dipanggil masih terpaku


menatap ke luar jendela.


"Sayang?", panggil Agum lagi. Kali ini ia mendekat ke arah Lintang


Lintang membalikkan tubuhnya. Ia melihat Agum sudah ada di belakangnya. Sekilas ia menatap mata Agum dengan pandangan yang tajam.


"Maaf, aku capek. Aku mau tidur dulu mas", ucap Lintang sambil melangkah meninggalkan Agum.


Dengan gerakan cepat, Agum menarik tangan Lintang. Dan seketika membuat Lintang berhasil terkungkung dalam pelukan Agum. Tangan Lintang tetap menjuntai ke bawah. Ia sama sekali tidak membalas pelukan Agum. Dadanya terasa kembali sesak. Dan bulir air bening berhasil lolos dari pelupuk matanya.


"Aku minta maaf sayang, aku minta maaf!", ucap Agum sambil mengeratkan pelukannya.


"Aku bisa jelaskan semuanya sayang!", sambung Agum pula


Lintang tersentak. Ya, sedari tadi ia memang ingin mendengarkan penjelasan langsung dari Agum. Ia mencoba merenggangkan kungkungan Agum dan kembali menatap wajah suaminya itu.


"Apa yang ingin mas jelaskan?", tanya Lintang


"Apa kamu akan tetap percaya sama mas, jika mas jelaskan semua ke kamu sayang?", tanya Agum balik


"Aku akan mencoba untuk selalu mempercayai apapun ucapanmu mas", jawab Lintang


Agum mendudukkan Lintang di tepi ranjang. Kemudian ia jongkok di hadapan Lintang, sehingga posisinya lebih rendah dari Lintang.


"Kamu seperti ini karena apa sayang?, apa karena nama kontak yang kamu lihat?", tanya Agum. Lintang tidak bergeming.


"Dia Reni, sayang" ucap Agum lirih.


Deg!!!

__ADS_1


Gejolak dalam dada Lintang yang tadi sempat berhenti kini seolah dipaksa untuk bergejolak kembali. Reni, kenapa wanita itu yang kembali mengusik ketenangannya. Setelah beberapa waktu ia mencoba menepis segala prasangka buruknya mengenai hubungan Agum dengan wanita itu, kini seolah membenarkan prasangka yang ada sebelumnya.


Lintang menatap ke sembarang arah dengan tatapan kosong.


"Apakah yang ada di pikiranku benar adanya?", tanya Lintang yang mulai membuka suaranya.


Agum masih menundukkan pandangannya.


"Apakah sebelumnya kamu dan juga Reni memiliki hubungan yang spesial?", sambung Lintang pula dengan nada yang sedikit berbeda dari biasanya.


"Iya sayang, maafkan aku. Aku belum menceritakan ke kamu jika dulu aku dan Reni pernah menjalin hubungan", jawab Agum sambil menggenggam tangan Lintang dan menciumnya.


Lintang melepaskan genggaman tangan Agum. Ia menaikkan kakinya, kemudian berbaring miring menghadap tembok.


"Aku lelah, aku ingin segera tidur", ucap Lintang lirih.


Agum ikut berbaring di ranjang, ia memiringkan pula tubuhnya dan memeluk Lintang dari belakang, sedangkan Lintang masih memunggunginya.


"Sayang, jangan seperti ini, aku minta maaf", ucap Agum.


"Maaf, aku sedang tidak bisa berpikir jernih. Tidurlah, ini sudah terlalu larut", jawab Lintang.


Agum semakin mengeratkan pelukannya, meski Lintang memunggunginya. Ia cium kepala Lintang berkali-kali. Seolah menjadi isyarat permintaan maaf darinya.


"Maaf sayang!!", ucap Agum lirih


Lagi, setetes air bening berhasil lolos dari pelupuk mata Lintang. Ia pun mencoba memejamkan mata, memeluk mimpi. Sembari berharap esok akan pulih seperti sedia kala.


**********


Matahari mulai naik ke peraduannya. Seberkas sinarnya mulai terasa hangat menyentuh jiwa dan menjadi sumber kehidupan bagi siapapun yang merasakannya. Sebagai penyemangat, melalui hari-hari baru dan tentunya dengan semangat yang baru pula.


Lintang tengah sibuk di dapur. Ia menyiapkan teh hangat untuk keluarganya juga memasak untuk sarapan pagi ini. Meski hatinya sedang tidak baik-baik saja tapi ia masih bertanggung jawab untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri.


"Mbak, kamu baik-baik saja?", tanya ibu Ranti saat melihat wajah Lintang yang nampak murung


"Tidak apa-apa bu, Lintang hanya sedikit lelah", jawab Lintang sambil menuang teh ke dalam cangkir


"Agum belum bangun mbak?", tanya ibu Ranti


"Masih ada di kamar bu", jawab Lintang singkat. "Lintang kembali ke kamar yang bu", sambung Lintang berpamitan. Ibu Ranti pun hanya mengangguk sambil menatap kepergian menantunya.

__ADS_1


Lintang masuk ke kamarnya. Terlihat Agum sedang berdiri di depan cermin sambil mengenakan t-shirt nya.


"Sayang?!", panggil Agum saat melihat Lintang membereskan tempat tidurnya.


Apakah aku pantas kau panggil sayang, sedangkan ada wanita lain yang kau anggap istimewa di hatimu mas?


"Ya?", jawab Lintang singkat sembari melipat selimut


Agum menghampiri Lintang kemudian memeluknya. Ada seberkas kesejukan yang mengaliri tubuh Lintang saat Agum memeluknya seperti ini. Tapi tidak di pungkiri bahwa ia masih belum bisa berdamai dengan hatinya.


"Jangan diamkan aku seperti ini sayang, aku memang salah, maafkan aku sayang", ucap Agum dengan suara sedikit serak.


Lintang berusaha melepaskan pelukan Agum. Ia tatap lekat wajah suaminya itu, mencoba mencari sebuah kejujuran dari kedua bola matanya.


"Mas benar mencintaiku?", tanya Lintang. Agum mengangguk.


"Jika memang benar mas mencintaiku, aku minta putuskan segala bentuk hubungan dengan Reni", jawab Lintang.


"Aku janji sayang, aku janji!", ucap Agum dengan penuh keyakinan.


"Aku harap mas bisa memegang janji itu, karena seorang laki-laki yang baik adalah yang bisa memegang janji nya", ucap Lintang.


Agum tersenyum "Jadi kamu memaafkan aku sayang?", tanya Agum


Lintang ikut tersenyum kecil "Untuk saat ini aku memaafkanmu mas"


Agum mengernyitkan dahinya "Untuk saat ini?",


"Jika esok atau entah kapan hal seperti ini aku temui lagi, aku tidak bisa menjamin bisa memaafkanmu mas", jawab Lintang


.


.


.


. bersambung


Hai-hai para pembaca tersayang.. jangan lupa untuk meninggalkan jejak like juga komentar kalian semua yaa.. terima kasih


Salam love, love, love💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2