Titik Balik

Titik Balik
ENAM PULUH


__ADS_3

"Aku hanya sedang mengistirahatkan tubuhku sebentar, hanya sebentar mas!!", ucap Lintang memotong ucapan Agum dengan air mata yang sudah tidak dapat lagi ia bendung.


"Nyatanya ibu-ibu rumah tangga yang lain, mereka juga bisa meng- handle semuanya. Mereka bisa ngurus rumah, ngurus anak, ngurus suami dan ngurus dirinya sendiri", jawab Agum berargumen.


Lintang semakin terisak. Ia tidak percaya, suaminya membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Ia mencoba mengusap air matanya. "Coba sehari saja kamu jadi aku mas, kamu _________________"


"Bunda?!", panggil Nana yang tiba-tiba sudah berada di dapur menyusul Lintang dan Agum.


Lintang mengusap sisa-sisa air matanya yang masih menetes. Kemudian mencoba tersenyum ke arah Nana. "Iya sayang?"


"Gendong!", pinta Nana. Lintang pun kemudian menggendong putrinya itu.


Nana memperhatikan wajah ibunya. "Mata bunda kenapa kok keluar airnya?, bunda menangis? ",


Lintang mencoba menenangkan hatinya sendiri. "Tidak sayang, bunda tidak menangis kok. Tadi bunda hanya kelilipan"


Pandangan Nana beralih ke Agum yang hanya diam dan berdiri di pojok meja makan. "Ayah tidak boleh nakal ya, jangan bikin bunda sedih"


"Aku ke kamar dulu mas", ucap Lintang sambil meninggalkan Agum dengan Nana yang masih berada di gendongannya.


Agum merasa tercubit mendengar ucapan anaknya. Terbesit rasa bersalah telah memperlakukan Lintang seperti itu. Tapi bagaimana lagi, perasaannya kepada Lintang mulai terkikis sehingga membuat ia setega itu kepada Lintang.


Sedangkan di dalam kamar ibu Ranti yang letaknya tidak jauh dari dapur, terlihat wanita separuh baya itu meneteskan air matanya. Hatinya ikut merasa sesak ketika mendengar Agum berbicara seperti itu kepada Lintang. Ia memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan nanar.

__ADS_1


Kamu benar-benar keterlaluan Gum, kamu tidak tahu bagaimana repotnya Lintang mengurus ini semua sendiri. Seharusnya kamu berterima kasih kepada Lintang karena kewajiban yang seharusnya kamu lakukan kepadaku, digantikan olehnya.


*************


Lintang duduk termenung di tepi ranjang tempat Nana tertidur lelap. Ia memandang wajah mungil putrinya itu. Ia mengusap kepalanya dengan lembut dibarengi dengan seutas senyum dari bibirnya.


Kamu lah sumber kekuatan bunda sayang, ketika semua orang bahkan ayahmu sendiri tidak bisa melihat apa yang sudah bunda lakukan, tapi kamu berada paling depan untuk membela bunda.


Seketika air matanya meleleh. Hatinya terasa begitu tercabik ketika teringat kata-kata yang diucapkan oleh Agum tadi. Kata-kata yang tidak semestinya keluar dari mulutnya, yang semakin membuat ia seperti seorang istri yang tidak becus mengurus rumah tangga.


Ceklek...


Terdengar seseorang membuka pintu kamarnya, dan Agum pun terlihat masuk ke dalam kamar. Buru-buru Lintang segera mengusap air matanya.


Lintang menoleh ke arah Agum dan pandangan mereka pun bertemu. "Ya?"


Agum menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya pelan. "Aku minta maaf, atas ucapanku tadi. Aku hanya sedang merasa capek, sehingga spontan membuat aku melontarkan ucapan seperti itu"


Lintang memindai ekspresi wajah Agum. "Kalau bicara capek, kita sama-sama capek mas. Tapi bukankah itu sudah menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai suami istri?, kamu punya kewajiban kerja dan aku bantu mengurus semua keperluan yang ada di rumah, mulai dari mengurus ibu, mengurus Nana, mengurus rumah, dan mengurus kamu"


Agum tak bergeming sedikit pun. Lintang mencoba menguasai emosinya agar dalam keadaan seperti ini pun, ia tidak sampai berucap kasar di depan suaminya.


"Aku ini hanya manusia biasa mas, yang punya rasa lelah. Jadi apakah aku salah jika aku ingin beristirahat sejenak?, satu keadaan rumah yang di matamu seperti kapal pecah ternyata telah menutup mata hatimu untuk melihat hal-hal lain yang sudah aku kerjakan. Apakah itu adil untukku mas?, apakah itu adil?", sambung Lintang sambil menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Tubuh Lintang terlihat bergetar. Ia benar-benar tidak percaya jika apa yang telah ia lakukan hanya mendapatkan sebuah cemooh-an dari suaminya.


Agum pun semakin merasa bersalah. Bagaimanapun juga ia telah keterlaluan terhadap Lintang. Agum berdiri dan duduk di sisi Lintang kemudian ia menariknya ke dalam dekapannya.


"Aku minta maaf dek, aku minta maaf", ucap Agum lirih.


Lintang menangis sejadi-jadinya di pelukan Agum. "Jangan pernah melakukan ini lagi mas, tolong beri aku kekuatan juga, agar aku bisa menjadi seorang istri, ibu, sekaligus menantu yang baik untuk keluarga kita"


Agum mengusap kepala Lintang. "Iya dek, sekali lagi aku minta maaf"


Lintang mencoba menghentikan isak tangisnya. "Maafkan aku jika belum bisa menjadi seorang istri yang sempurna untukmu mas, tapi tolong, tolong jangan pernah meremehkan atau merendahkan apa yang sudah aku lakukan"


Agum mengangguk dan memeluk Lintang lebih erat lagi. Ya, kini Lintang mulai merasa tenang saat berada di dalam dekapan suaminya. Ia tidak pernah menuntut apa-apa dari Agum, yang ia butuhkan hanya sebuah dukungan dari suaminya. Sebuah dukungan yang pastinya akan membuat ia semakin kuat menjalani hari-harinya.


.


.


.


. bersambung


Hai-hai para pembaca tersayang. Terima kasih banyak ya sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar kalian semua yaa.. terima kasih...

__ADS_1


Salam love, love, love 💗💗💗


__ADS_2