
Lintang menatap tubuh gadis kecil yang ada di ranjang itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Ia sudah terlihat sedikit lebih tenang setelah beberapa waktu yang lalu ia menangis, meronta, dan nampak begitu terpukul atas kepergian ayahnya.
Aku tidak menyangka jika akan sesakit ini mas. Kau lihat anak kita begitu terpukul melihatmu pergi meninggalkannya. Aku mungkin bisa kuat namun sepertinya tidak untuk Nana. Bagaimanapun juga Nana masih teramat kecil untuk menerima sebuah perceraian dari kedua orang tuanya.
Lintang menghela nafasnya dalam mencoba untuk mencari kekuatan yang lebih dari sebelumnya. Mencoba untuk kembali merangkak dan kembali berdiri, tentunya untuk membesarkan Nana seorang diri.
Lintang meraih bingkai foto kecil yang ada di atas nakas. Sebuah foto yang diambil sesaat setelah prosesi ijab-qobul beberapa tahun yang lalu. Di usapnya foto itu, dan kemudian air mata itupun kembali menetes.
Secepat ini kah rumah tangga kita berakhir mas?, dulu aku selalu meyakinkan diriku jika kamu adalah dunia-akhiratku, namun ternyata takdir hanya mengantarkan kita cukup sampai di sini. Berbahagialah selalu mas. Semoga setelah mengalami ujian hidup seperti ini, kita bisa semakin menjadi manusia yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Dikecupnya bingkai foto itu. Kemudian ia letakkan di dalam laci nakasnya. Pandangannya kembali menerawang jauh sembari memandang wajah Nana dengan pandangan kosong.
Tok.. tok... tok...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar yang membuat Lintang tersadar dari lamunanya.
"Ndhuk?!".
Lintang menghapus air matanya. "Iya bu, masuklah, Lintang belum tidur kok".
Ibu Ratih masuk ke dalam kamar Lintang kemudian duduk di bangku kecil di depan meja rias.
"Kamu baik-baik saja ndhuk?", tanya ibu Ratih dengan nada sedikit cemas.
Lintang mengangguk. "Lintang baik-baik saja bu". Ia menarik nafas dalam. "Tapi Nana_____"
Ibu Ratih tersenyum kemudian meraih tangan Lintang. "Semua akan baik-baik saja ndhuk"
Lintang memeluk tubuh ibunya kemudian menangis sesenggukan di sana. "Mengapa ini semua harus terjadi kepada keluarga Lintang bu?"
Ibu Ratih mengusap-usap punggung Lintang berupaya menenangkannya. "Sabar ya ndhuk, kamu maupun Nana pasti kuat menghadapi ini semua. Sekarang kita fokus ke Nana ya, agar ia bisa segera lupa dengan kejadian hari ini".
Lintang mengangguk. "Iya, bu".
Ibu Ratih menarik nafas dalam. "Apa rencanamu sekarang ini ndhuk?"
Lintang merenggangkan pelukannya, ia usap air matanya yang masih tersisa. "Lintang akan segera ke pengadilan bu. Mas Agum tidak mau menceraikan Lintang, secara otomatis Lintang akan tetap menjadi istrinya jika Lintang tidak bersegera mengajukan gugatan cerai. Dan pastinya setiap langkahku akan menjadi dosa jika tidak ada izin darinya".
"Iya nak, lebih cepat pastinya akan lebih baik", ucap ibu Ratih menyetujui ucapan Lintang.
Ibu Ratih beranjak. "Ya sudah, sekarang kamu istirahat ya ndhuk".
Lintang mengangguk. "Iya bu".
Ibu Ratih melangkahkan kaki keluar dari kamar Lintang. Dan Lintang merebahkan tubuhnya di samping Nana. Ia peluk erat tubuh anak semata wayangnya itu sembari mengecup keningnya.
Bunda akan selalu ada di sampingmu nak, kita saling menguatkan ya. Bunda berharap semoga hari esok akan lebih indah daripada hari ini ..
****
"Sayang, ayo makan dulu!", ucap Lintang sambil berusaha menyuapi Nana.
Nana menggeleng. "Tidak bunda, Nana tidak mau".
Lintang menghela nafas dalam. "Sayang, jangan seperti itu dong, dari tadi Nana belum makan loh, nanti kalau sakit gimana?".
Nana tetap menggeleng. "Tidak bunda".
__ADS_1
Lintang kehabisan cara membujuk Nana agar mau makan. Tadi pagi ia hanya makan sedikit, dan hingga sore, ia sama sekali tidak mau makan.
Ibu Ratih mendekati Nana. "Nenek yang suapin ya sayang?".
Nana menggeleng. "Tidak mau nek".
"Atau mau di suapin sama tante Friska? ".
Nana tetap menggeleng. Lintang terlihat begitu cemas melihat keadaan Nana saat ini. Sejak kepergian ayahnya, membuat ia seperti kehilangan keceriaannya.
"Assalamualaikum", ucap seseorang dari teras rumah.
"Wa'alaikumsalam", jawab ibu Ratih sembari menuju ruang tamu. "Bu Nury, nak Hanan?, mari silakan masuk", sambung bu Ratih mempersilakan mereka masuk.
Hanan dan ibu Nury mengekor di belakang ibu Ratih kemudian mereka duduk di sofa ruang tamu.
"Ibu, mbak Lintang ada?", tanya ibu Nury.
"Ada bu", jawabnya. "Ndhuk sini sebentar, ibu Nury mencari kamu, ini!", ucap ibu Ratih.
Lintang yang masih berada di ruang makan seketika beranjak dan menghampiri ibunya. Sedangkan Nana, masih terlihat murung di kursi makan.
"Bu Nury, mas Hanan?!"
Hanan dan bu Nury mengulas sedikit senyum.
"Apa kabar dek?", tanya Hanan setelah melihat Lintang duduk di sofa.
Lintang tersenyum. "Alhamdulillah baik mas".
"Alhamdulillah".
Wajah Arumi terlihat berbinar. "Inshaallah bisa bu".
Bu Nury tersenyum lebar. "Alhamdulillah. Saya pesan 30 box nasi ayam rempah ya mbak".
"Baik bu, inshaallah. Oh iya, mau di antar jam berapa?".
"Tidak usah di antar mbak. Jam dua siang sudah siap saja, nanti biar diambil Hanan, jadi mbak Lintang tidak perlu repot-repot mengantar", ujar ibu Nury menjelaskan.
"T-tapi bu_________"
Ibu Nury kembali mengulas senyum. "Tidak apa-apa mbak".
Lintang pun mengangguk pasrah.
"Oh iya dek, Nana di mana?, kok tumben tidak kelihatan?", tanya Hanan tiba-tiba.
Lintang terperangah. "N-Nana ada di ruang makan mas".
"Ia sedang makan?".
Lintang menggeleng pelan dengan raut wajah yang sedikit berbeda. Ekspresi wajah Lintang tidak luput dari perhatian Hanan. Ia merasa jika telah terjadi sesuatu dengan Lintang.
"Boleh aku menemuinya dek?".
Lintang mengangguk pelan. "Silakan mas!".
__ADS_1
Lintang beranjak menuju ruang makan disusul Hanan di belakangnya. Terlihat Nana sedang menatap makanan yang ada di depannya dengan tatapan kosong dan tanpa ia sentuh sama sekali.
Hanan mengernyitkan dahi. Bingung dengan apa yang menimpa Nana, hingga anak sekecil dia terlihat murung seperti ini. "Apa yang sedang terjadi dek?".
Lintang menggeleng pelan dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Tidak bisa ia pungkiri ketika melihat Nana yang seperti ini, ingatannya kembali berputar pada saat Agum pergi.
Tak sepatah katapun keluar dari bibir Lintang. Hanan kemudian mendekati Nana dan berjongkok di sisi kursi makan yang di duduki oleh Nana.
"Assalamualaikum anak cantik?!", ucap Hanan sembari mengusap kepala Nana.
Nana terperangah, ia mengerjap-ngerjapkan mata, kemudian pandangannya mengedar ke arah Hanan. Ia tersenyum tipis. "Wa'alaikumsalam om ganteng!".
Hanan tersenyum. "Makanannya kenapa hanya diliatin saja sayang?".
"Nana tidak mau makan, om ganteng".
Hanan mengernyitkan dahi sembari mengusap pipi Nana. "Kenapa sayang?, kan kasihan bunda, sudah memasak untuk Nana, tapi Nana tidak mau makan".
Mata Nana tiba-tiba memerah. "Hikss... hikksss.. hiks.... Nana mau ayah om ganteng!"
Jleb!!
Dada Lintang seperti tertikam pisau tak kasat mata. Nana masih menginginkan Agum tetap di sini bersamanya.
Dahi Hanan semakin mengkerut. Ia mengedarkan pandangan ke arah Lintang mencoba mencari penjelasan namun hanya di jawab dengan gelengan kepala dan tetesan air mata.
Hanan semakin yakin jika telah terjadi sesuatu dengan Lintang dan Agum. Hana meraih tubuh mungil Nana ke dalam gendongannya. "Hiks.. hikss.. hiks... Nana mau ayah om ganteng, Nana tidak mau ayah pergi".
Hanan mengusap-usap punggung Nana, mencoba menenangkannya. "Cup cup cup sayang, Nana tenang ya, ayah pasti segera pulang".
Nana terdengar sedikit menghentikan isak tangisnya. "Benar om?".
Hanan mengangguk. "Benar sayang, jadi sekarang Nana tidak boleh sedih lagi ya".
Nana mengangguk pelan. Hanan menghela nafas dalam. "Sekarang bagaimana kalau kita jalan-jalan?"
Nana merenggangkan sedikit tubuhnya kemudian menatap lekat kedua manik mata Hanan. "Jalan-jalan?".
Hanan mengangguk. "Iya. Kita ke kolam nangkap ikan, mau?".
Nana mengernyitkan dahinya. "Nangkap ikan?".
"Iya sayang, kita ke kolam nangkap ikan, terus nanti ikannya bisa di bawa pulang, terus di goreng deh sama bunda. Mau?".
Wajah Nana seketika berubah berbinar. Ia mengangguk. "Mau om mau!!".
Lintang terperangah melihat keberhasilan usaha Hanan untuk menghibur Nana. Ia pun sedikit lega karena bisa melihat keceriaan Nana lagi. Pandangan Lintang mengarah ke Hanan yang saat itu juga sedang menatap matanya. Pandangan mereka saling bertemu dan Hanan pun hanya tersenyum simpul.
Aku tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi di dalam pernikahanmu Lin, tapi untuk saat ini biarkan aku yang mengisi kekosongan hati Nana yang begitu terpukul atas kepergian ayahnya. Aku akan berupaya untuk mengembalikan keceriaan Nana seperti semula.
.
.
. bersambung...
Mohon maaf baru bisa update hari ini ya kak... 🙏.. tuh Hanan udah mulai mendekat ke Nana. Apakah Hanan yang nantinya akan menjadi ayah sambung untuk Nana? Dan Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya ya?, hihihiihihu... tunggu episode selanjutnya ya..
__ADS_1
Terima kasih banyak yang masih setia mengikuti kelanjutan novel titik balik, semoga kita bisa mengambil pelajaran dari cerita ini ya... jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episode nya. Dan jangan lupa vote, vote, vote biar author lebih semangat dalam menulis. Hihhiihi happy Reading kakak...
Salam love, love, love💗💗💗