Titik Balik

Titik Balik
SERATUS SATU


__ADS_3

Mata Lintang tetiba memerah. Saat mendengar Agum mengucapkan kalimat itu, hanya kegetiran yang ia rasakan. Saat ia melepaskan Agum karena ada sebuah janin yang berkembang di rahim Reni, rasanya tidak terlalu berat untuk ia lepaskan. Namun kini, ketika Lintang tahu jika apa yang telah terjadi adalah salah satu jebakan dari Reni, rasanya hatinya begitu getir mendengarkan semua ucapan mantan suaminya itu.


Mungkinkah jika Reni tidak membuat jebakan itu, saat ini rumah tangganya yang ia bangun bersama Agum penuh dengan ketentraman?, apakah rumah tangganya dipenuhi dengan keromantisan dan tidak sampai berujung dengan perceraian?


Lintang menggeleng-gelengkan kepala, berusaha bangun dari kegetiran yang ia rasakan. Bagaimanapun juga ini merupakan takdir yang tidak bisa di elak lagi. Inilah fase kehidupan yang harus ia jalani.


Lintang menghela nafas dalam dan menyunggingkan senyumnya ke arah Agum. "Semoga mas Agum juga bahagia ya. Aku minta maaf jika selama ini aku belum bisa menghadirkan yang terbaik untuk mas".


Agum menggeleng. "Kamu adalah wanita paling sempurna yang pernah aku miliki dek. Mungkin benar apa kata orang, kita baru akan merasa kehilangan setelah orang itu pergi". Agum membuang nafas kasar. "Dulu aku menyia-nyiakan keberadaanmu hingga akhirnya aku kehilanganmu. Kehilangan sesuatu yang teramat berharga yang pernah aku miliki".


Lintang tersenyum simpul. "Semoga kita bisa sama-sama belajar dari apa yang pernah terjadi di antara kita ya mas. Dan ini semua bisa membuat kita menjadi hambaNya yang lebih bersyukur atas apa yang sudah kita miliki.


Agum mengangguk. "Iya dek".


"Percayalah mas, jika Allah pasti juga telah mempersiapkan yang terbaik untuk mas Agum. Tentunya sebuah kebahagiaan di masa depan nanti".


"Setelah apa yang aku lakukan terhadap keluarga kita, masih pantaskah aku meminta untuk diberikan kebahagiaan dek?", ucap Agum dipenuhi dengan nada kegetiran.


Lintang tersenyum. "Jangan pernah berputus asa dari rahmat juga kasih sayang Allah mas. Percayalah, jika kita benar-benar menyesali akan dosa-dosa yang pernah kita perbuat, Allah pasti sudah mempersiapkan buah yang layak untuk kita petik di depan nanti".


Agum menyunggingkan senyumnya. Entah apa yang ia rasakan, mendengar semua perkataan Lintang, hatinya semakin merasa ikhlas untuk melepaskan Lintang. "Terimalah Hanan menjadi pendamping mu dek, aku akan berbahagia jika kamu bisa bersamanya. Dia lah lelaki yang pantas untuk bersanding denganmu. Dan kamu pantas dicintai oleh laki-laki yang memiliki cinta luar biasa seperti cinta Hanan untukmu".


Lintang hanya mengendikkan bahunya dan tersenyum simpul.


*****


Satu minggu telah berlalu. Ya, Agum telah kembali ke Surabaya. Setelah mengalami pergolakan hati antara menyesal dan rasa cinta yang masih ia miliki untuk Lintang, akhirnya kali ini, ia bisa melepaskan Lintang dengan penuh keikhlasan.


Begitu pula dengan Lintang. Ia sendiri pun juga sudah bisa memahami semua keadaan ini. Di mana ia sudah lebih bisa berdamai dengan waktu jika apapun yang terjadi kepadanya merupakan garis takdir yang harus ia jalani.


Malam ini, Lintang terlihat sedang merapikan baju-baju yang ada di dalam almarinya. Seketika pandangannya tertuju pada kotak merah beludru yang satu minggu yang lalu Hanan berikan untuknya.


Ia mengambil kotak itu. Ia buka dan tetiba dahinya mengerut. "Bukankah ini batas waktu yang mas Hanan berikan kepadaku?"


Ia duduk di tepi ranjang masih dengan menatap lekat kotak merah yang ada di tangannya itu. Senyum tipis tersungging di bibirnya.


Jika kamu menerimaku, langsung saja hubungi aku agar aku bisa segera menemui ibu untuk memintamu. Namun jika tidak, datanglah ke tempatku untuk mengembalikan kotak ini, dek.


Seketika ingatan Lintang tertuju pada ucapan Hanan satu minggu yang lalu. Ia segera mengambil ponsel di atas nakas bermaksud untuk menghubungi Hanan.


"Tidakkah lebih baik kamu langsung menemui Hanan, ndhuk?", ucap ibu Ratih tiba-tiba.

__ADS_1


Lintang terperanjat dengan kedatangan ibunya yang tiba-tiba. Ibu Ratih tersenyum sembari menyusul Lintang duduk di tepi ranjang.


"Sudah bisa kamu putuskan ndhuk?", tanya ibu Ratih pula.


Lintang menghela nafas dalam. "Bismillah, Lintang akan menerima lamaran dari mas Hanan bu".


Ibu Ratih kemudian memeluk Lintang. "Syukurlah jika kamu membuat keputusan itu ndhuk". Ibu Ratih merenggangkan pelukannya kemudian menatap lekat mata Lintang. "Jemputlah kebahagiaanmu ndhuk. Dan percayalah jika kamu berhak untuk bahagia".


Lintang meneteskan air matanya. "Inshaallah bu. Melihat ketulusan hati dan cinta yang mas Hanan miliki untuk Lintang juga untuk Nana, rasanya Lintang semakin mantap untuk menerima pinangan mas Hanan".


Ibu Ratih mengangguk. "Temuilah Hanan ndhuk".


"Iya bu, besok Lintang akan menemui mas Hanan".


****


Sementara itu di tempat berbeda, terlihat seorang laki-laki sedang sibuk melihat-lihat ponsel yang ada di tangannya. Seharian tadi hingga detik ini, ia masih sibuk menatap layar ponselnya, berharap ada seseorang yang menghubunginya.


Jantungnya bergemuruh hebat. Hari ini merupakan akhir dari penantiannya terhadap seorang wanita yang masih menjadi pemilik doa-doa yang ia semogakan. Mungkinkah akan berakhir indah atau untuk kedua kalinya ia akan melepas harapan itu?.


Apakah kali ini kamu akan kembali menolakku, dek?, tidakkah kamu merasa jika aku benar-benar mencintaimu dan ingin membahagiakanmu lahir maupun batin?


Ia terlihat mengusap wajahnya kasar. Berkali-kali ia menghela nafas dalam mencoba untuk menguasai gejolak dalam dadanya.


Hanan menggeleng pelan. "Belum tante, hingga saat ini pun Lintang belum menghubungi Hanan".


Ibu Nury duduk di kursi kecil yang ada di depan meja kerja Hanan. "Lalu, apa yang akan kamu lakukan Nan?".


Hanan yang sedang berdiri di depan jendela kamarnya itu hanya memandang luar jendela dengan tatapan kosong. "Kemungkinan terburuknya, besok Hanan akan ke Jakarta, tan".


Ibu Nury mengernyit. "Kamu yakin?".


Hanan tersenyum getir. "Jika untuk kedua kalinya Lintang tidak menerimaku, aku bisa apa tan?".


Ibu Nury juga hanya bisa tersenyum, sembari memberikan sedikit kekuatan untuk keponakannya itu. "Ya sudah, apapun yang akan terjadi nanti, tante hanya bisa mendoakan semoga kamu bahagia Nan. Sekarang istirahatlah, malam sudah semakin larut"


Ibu Nury melangkahkan kaki meninggalkan kamar Hanan. Dan Hanan mulai menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang. Ia kembali menghembuskan nafas pelan, mulai memejamkan mata dan mencoba untuk memeluk mimpi. Entah apa yang akan terjadi esok, ia hanya bisa berpasrah kepada sang maha pemilik kehidupan.


****


"Assalamualaikum, bu Nury?!", ucap Lintang saat berada di depan rumah Hanan.

__ADS_1


"Waalaikumussalam mbak Lintang, mari silakan masuk!", jawab bu Nury sembari mempersilakan Lintang masuk.


Lintang pun mengekor di belakang tubuh bu Nury untuk menuju ruang tamu, kemudian ia mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada ruang tamu itu.


"Mas Hanan ada bu?", tanya Lintang langsung pada tujuannya.


Ibu Nury menautkan kedua alisnya. "Loh, Hanan belum ngasih kabar ke mbak Lintang kah?".


"K-kabar apa bu maksudnya?", tanya Lintang sedikit tidak paham.


"Hari ini Hanan berangkat ke Jakarta mbak, dia menerima tawaran pekerjaan di sana".


Lintang terkejut mendengar ucapan dari bu Nury, ia hanya bisa terperangah dan mengatupkan bibirnya. "Ke Jakarta?".


"Iya mbak".


Mata Lintang memanas, seketika air matanya berkumpul di pelupuk mata. "K-kenapa mas Hanan tidak menunggu Lintang bu?".


Bu Nury hanya bisa menggeleng. "Saya juga tidak paham mbak, semalaman ia menunggu kabar dari mbak Lintang, namun hingga pagi ia tidak mendapatkan kabar apapun. Akhirnya ia memutuskan untuk ke Jakarta".


Lintang menutup mulutnya. Kejutan yang ingin ia berikan untuk Hanan, malah menjadi kesalahpahaman seperti ini. "Ya Allah, padahal Lintang ke sini untuk menerima pinangan dari mas Hanan bu".


Bu Nury yang saat ini terkejut mendengar ucapan Lintang. Ia kemudian melirik jam yang ada di tangannya. Senyum tipis pun tersungging di bibirnya. "Susul lah Hanan di stasiun Tugu mbak, masih ada setengah jam lagi dari jadwal keberangkatan kereta yang akan ia tumpangi".


Lintang mengusap air matanya yang mulai jatuh satu per satu. "Benarkah itu bu?".


Ibu Nury mengangguk. "Benar mbak Lin, susul lah Hanan di sana. Ibu berharap semoga kalian masih bisa dipertemukan".


Lintang berdiri dari posisi duduknya. Ia menghela nafas dalam. "Lintang akan menyusul mas Hanan bu".


Lintang mulai melangkahkan kakinya keluar dari rumah Hanan. Dengan sejuta harap, semoga ia masih bisa bertemu dengan Hanan.


Jika memang mas Hanan adalah takdir yang telah Kau pilihkan untukku, tolong pertemukan kami ya Rabb.


.


.


. bersambung....


Bakalan ketinggalan kereta gak ya?? Thor kok ribet banget sih, kenapa Lintang gak langsung hubungin lewat handphone aja biar Hanan gak jadi berangkat, isssshhhhh!!!, hihihihihi jawabannya biar ada perjuangannya sedikit gitu loh kak.. 😆

__ADS_1


Terima kasih banyak untuk semua yang sudah setia menunggu kelanjutan novel titik balik ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episode nya yah.. dan jangan lupa untuk vote, vote, vote biar author lebih semangat lagi dalam menulis. Happy Reading kakak.. 😘😘


Salam love, love, love💗💗💗


__ADS_2