
"Makasih ya mbak Lin", ucap ibu Ranti saat Lintang menyodorkan satu piring nasi lengkap dengan sayur sup juga tahu gorengnya untuk makan siang.
"Iya bu", jawab Lintang. "Gimana kesehatannya bu?, apa akhir-akhir ini ibu merasa kesehatan ibu bermasalah?", sambung Lintang
Ibu Ratih tersenyum kecil "tidak mbak, ibu justru merasa lebih sehat sekarang"
"Syukur alhamdulillah kalau begitu bu, Lintang ikut tenang mendengarnya", jawab Lintang.
"Terima kasih ya mbak. Ibu bersyukur mempunyai menantu seperti kamu mbak, ", ucap ibu Ranti sambil menggenggam tangan Lintang.
"Iya bu, sama-sama, Lintang juga bersyukur memiliki mertua yang jago masak seperti ibu, Lintang jadi gak susah-susah nyari mentor untuk ngajarin memasak bu, hehehe", jawab Lintang sambil terkekeh. Ibu Ranti pun ikut tersenyum.
"Emmmm apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan Agum ya mbak", ucap ibu Ranti tiba-tiba.
Lintang pun hanya tersenyum tipis "Inshaallah bu, Lintang akan menjaga pernikahan Lintang dengan baik". Ibu mertuanya pun mengangguk dengan seutas senyum di bibirnya.
***********
Agum terlihat sedang memakai sepatu, setelah selesai melaksanakan sholat dzuhur di masjid belakang kantornya. Tak lama setelah itu, terlihat Reni keluar dari dalam rumahnya dengan mengenakan tank top warna pink dan hotpant berwarna hitam. Pandangan Agum dan Reni saling bertemu.
"Mas?", ucap Reni mencoba menyapa Agum
"Ya?", jawab Agum singkat
"Mengenai hal yang kemarin aku utarakan, apakah aku benar-benar sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk memperjuangkan hatimu?", tanya Reni langsung pada point utamanya.
Agum menggeleng pelan "maaf Ren, lebih baik kamu mundur. Aku sudah berkeluarga dan aku bahagia menjalani kehidupan bersama Lintang"
Reni tersenyum sinis "aku tidak percaya mas, aku masih melihat cinta dari sorot matamu untukku, dan aku yakin, kamu belum bisa sepenuhnya melupakan apa yang pernah terjadi diantara kita"
Agum menghembuskan nafas kasar. Ia tidak percaya jika Reni belum mau menyerah juga. Dia tetap kekeuh ingin kembali bersamanya.
"Terserah kamu Ren, yang pasti aku sudah bahagia hidup bersama Lintang. Tolong, kita jangan saling mengganggu yang akan berdampak buruk untuk keluarga kita masing-masing", jawab Agum sambil melenggang pergi.
Reni hanya melihat punggung Agum dengan tatapan nanar. Ia sendiri juga tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Kali ini rasa ingin memiliki Agum terasa begitu besar, dan ia benar-benar ingin hidup bersama Agum.
"Aku tidak akan menyerah hingga berhasil memilikimu seutuhnya mas!!", ucapnya lirih.
************
Tok.. tok.. tok...
__ADS_1
Terdengar suara pintu ruangan Agum diketuk oleh seseorang dari luar ruang kerjanya.
"Iya silakan masuk!", seru Agum mempersilakan.
Terlihat Aan memasuki ruangan Agum. "Mas ada yang ingin bertemu", ucap Aan
"Siapa An?", tanya Agum sedikit heran, karena ia merasa tidak memiliki janji dengan siapa-siapa.
"Pak Halim mas, pemilik online shop di dekat sini", jawab Aan
"Baiklah, suruh beliau masuk", ucap Agum.
Tak lama kemudian seorang laki-laki yang berumur sekitar 35 tahun memasuki ruangan Agum.
"Selamat siang mas", sapa laki-laki yang bernama pak Halim itu.
"Siang juga pak, mari silakan duduk", jawab Agum sembari mempersilakan tamunya untuk duduk. "Bagaimana pak, apa ada yang bisa saya bantu?", sambung Agum.
"Begini mas Agum, saya itu memiliki usaha online shop. Biasanya barang-barang yang saya kirim seperti baju-baju batik dan juga kerajinan tangan khas kota Jogja mas. Nah sebenarnya saya sudah punya jasa ekspedisi yang sering saya pakai, tapi akhir-akhir ini kiriman selalu telat ke tangan customer. Maka dari itu saya ingin beralih jasa ekspedisi, dan saya memutuskan untuk menggunakan ekspedisi ini", jawab pak Halim.
Agum mengangguk "boleh pak, bapak sangat boleh berlangganan menggunakan jasa ekspedisi kami. Untuk kepuasan pelanggan, saya bisa menjamin pak, baik itu ketepatan waktu pengantaran dan juga keadaan barang ketika sampai ke tangan customer"
Pak Halim tersenyum "untuk biayanya bagaimana mas?, apa ada diskon?"
"Waahh ternyata banyak nilai plus nya ya mas. Tau gitu, dari dulu saya memakai jasa ekspedisi ini", ucap pak Halim sambil tersenyum simpul.
Agum pun ikut tersenyum "biasanya kiriman lebih banyak ditujukan ke daerah mana pak?"
"Lebih banyak di kirim ke Jawa Timur mas. Tapi sering juga sampai Kalimantan dan Sulawesi", jawab pak Halim.
"Ternyata sudah melanglang buana ya pak, sampai luar pulau juga?", tanya Agum
"Ya alhamdulillah mas, setiap hari ada saja permintaannya" jawab pak Halim sambil tersenyum tipis
Mereka melanjutkan obrolan yang terdengar begitu menarik, hingga akhirnya obrolan mereka terhenti saat adzan Asar berkumandang. Dan pak Halim pun undur diri meninggalkan ruangan Agum.
***********
"Ada job besar kah mas?", tanya Aan saat Agum kembali masuk ke dalam kantor setelah selesai melaksanakan sholat Asar.
"Mulai besok pak Halim jadi customer tetap kita An", jawab Agum. "Tolong diberi pelayanan yang baik ya An, mengingat barang yang sering beliau kirim merupakan barang dengan nilai jual yang tinggi" sambung Agum.
__ADS_1
"Siap mas, berarti besok kita mulai jemput bola di tempat pak Halim?", tanya Aan.
"Kita tunggu kabar dari pak Halim saja An, yang penting kapanpun beliau menghubungi, kita siap untuk menjemput paketannya", jawab Agum.
"Oke mas", jawab Aan mantap
********
"Assalamualaikum" ucap Agum mengucap salam ketika sampai rumah
"Wa'alaikumsalam mas", jawab Lintang sambil menghampiri Agum dan mencium punggung tangannya.
"Loh ada tamu toh?", tanya Agum ketika melihat Budhe Yani duduk di kursi ruang tamunya.
"Baru pulang mas?, maaf ya jam segini saya mengganggu waktu istirahat mas Agum", ucap Budhe Yani
Agum duduk di kursi dan berhadap-hadapan dengan Budhe Yani. "Tumben Budhe ke sini jam segini, ada yang bisa saya bantu Budhe?", sambung Agum.
Budhe Yani pun menceritakan hal-hal yang dialami oleh bapak mertuanya. Agum terlihat begitu seksama mendengarkan penjelasan dari budhe Yani. Dan ia pun hanya mengangguk pertanda mengerti.
"Jadi seperti itu mas ceritanya", ucap budhe Yani setelah selesai bercerita.
"Ya budhe, saya paham. Mendengar cerita dari budhe, sepertinya simbah memang punya sesuatu, dan itu dipakainya sejak dulu saat simbah masih muda", jawab Agum
"Lalu saya harus bagaimana mas?", tanya budhe Yani pula
"Untuk menghilangkan itu semua kita bisa memakai pantangannya budhe. Maksud saya, yang memakai cekelan seperti itu biasanya punya pantangan sesuatu yang tidak boleh dimakan. Kalau setau saya seperti pisang mas juga daun kelor. Nah kita bisa menggunakan pisang ataupun daun itu untuk menghilangkannya, jika tidak bisa hilang setidaknya cekelan itu tidak berfungsi maksimal" jawab Agum menjelaskan. Budhe Yani mengangguk.
"Apa mas Agum bisa menengok keadaan bapak mertua saya?", tanya budhe Yani.
"Untuk sementara coba gunakan pisang mas juga daun kelor dulu budhe, sambil kita lihat perkembangan selanjutnya", jawab Agum.
"Baik kalau seperti itu mas. Terima kasih ya", ucap budhe Yani. Agum pun mengangguk.
.
.
.
. bersambung
__ADS_1
Hai-hai para pembaca tersayang... jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak like, komentar, vote, juga rate bintang lima yaahh biar author lebih semangat dalam menulis. Terima kasih...
Salam love, love, love💗💗💗