
Ibu Ranti terlihat sedang duduk di kursi ruang tamu menunggu kepulangan Agum. Ia berusaha menahan kantuknya, karena di jam sembilan malam seperti ini, biasanya ia sudah tertidur. Namun tidak untuk malam ini karena ia merasa harus ada yang diselesaikan bersama Agum.
"Bu, tidak istirahat?", tanya Mimin
"Aku nungguin Agum Min, kamu tidurlah dulu", jawab ibu Ranti.
"Baiklah bu, saya tidur dulu ya", ucap Mimin kemudian melenggang pergi.
Ibu Ranti masih dengan sabar menunggu Agum. Ia merasa harus berbicara kepada anaknya itu agar perselisihannya dengan Lintang tidak berlarut-larut. Beberapa saat kemudian, terdengar suara mobil Agum memasuki halaman depan.
Ceklek....
Agum membuka pintu yang kebetulan belum terkunci. Ia terkejut melihat ibunya duduk di salah satu sofa ruang tamu.
"Kenapa belum tidur bu?", tanya Agum heran.
"Apa menurutmu ibu bisa tidur nyenyak, melihat menantu ibu seharian menangis dan tidak keluar kamar?", tanya ibu Ranti balik.
Agum tersentak kaget mendengar cerita dari ibunya. Ia tak menyangka hari ini Lintang akan mengurung diri di dalam kamar.
"Apa yang sudah kamu lakukan terhadap istrimu Gum?", tanya ibu Ranti memecah keheningan.
"Maksud ibu apa?", tanya Agum kebingungan.
"Lintang sudah menceritakan semuanya kepada ibu. Ibu tidak menyangka kamu akan bersikap seperti ini kepada istrimu. Kau benar-benar telah membuatnya terluka", ucap ibu Ranti.
Agum menundukkan kepalanya. Mencoba untuk menguasai gejolak yang ada di dalam dadanya. Ia merasa menjadi manusia paling jahat jika bersikap seperti ini kepada Lintang. Karena bagaimanapun juga, jenis kelamin sebuah janin dalam kandungan manusia merupakan hak mutlak Allah yang diberikan kepada manusia.
Ibu Ranti membuang nafas kasar. "Kau tahu, istrimu sedang memikul tanggung jawab berat sebagai seorang istri, dan sekarang kamu tambah dengan sikapmu yang seperti anak kecil ini, kamu benar-benar keterlaluan Gum!!!"
Akhirnya sebutir air mata pun berhasil lolos dari pelupuk mata Agum, ia bersimpuh di pangkuan ibunya, dan menangis di sana.
"Maafkan aku bu!", ucap Agum lirih
Ibu Ranti menggelengkan kepalanya. "Bukan kepada ibu kamu harus meminta maaf, minta maaflah kepada istrimu, tolong jangan lukai ia dengan sikapmu yang seperti ini"
************
Perlahan Agum membuka pintu kamarnya. Ia melangkahkan kakinya menuju ranjang. Terlihat Lintang tengah tertidur pulas dengan posisi miring menghadap dinding. Agum duduk di tepi ranjang. Ia melirik wajah istrinya tengah tertidur itu. Lintang terlihat begitu tenang dalam tidurnya setelah seharian Agum berhasil memporak porandakan hatinya, dan kini ia terlihat begitu damai dalam lautan mimpinya meski kedua matanya masih terlihat sembab.
Pelan, Agum mengusap kepala Lintang, sambari berharap kehadirannya tidak mengganggu tidurnya. Lama ia membelai rambut istrinya itu sambil memandang ke sembarang arah. Tak ayal membuat Lintang menggeliat, merasakan kehadiran seseorang. Ia mengerjapkan matanya. Dan melihat Agum sudah ada di dekatnya.
__ADS_1
"Sayang?", panggil Agum lirih.
Lintang memperhatikan wajah Agum. Matanya terlihat berkaca-kaca seperti menahan tangis. Kemudian ia menjatuhkan bobot tubuhnya di samping tubuh Lintang dan memeluknya erat.
"Sayang, aku minta maaf!",
Itulah kata pertama yang keluar dari mulut Agum setelah ia mendiamkan Lintang sejak kemarin sore. Lintang masih terdiam terpaku, ia tidak tahu harus memberikan respon seperti apa karena memang hatinya masih terasa sakit.
"Maafkan aku atas sikapku sayang. Aku minta maaf", imbuh Agum pula. Agum tidak tahu lagi kata apa yang harus ia ucapkan, karena ia merasa sudah terlalu melukai hati istrinya itu.
Lintang hanya tersenyum kecut. "Tidurlah mas, istirahatkan tubuhmu!", seru Lintang.
Agum menatap wajah Lintang, dan Lintang pun hanya tersenyum sambil mengangguk. Entah apa maksudnya. Lintang memang sengaja tidak ingin membahas masalah yang tengah ia hadapi saat ini karena tubuhnya terasa begitu lelah.
************
Mentari pagi mulai menaiki singgasannya. Menggantikan malam yang sudah lelah bertahta. Terlihat Agum sedang sibuk berkutat di depan kompor ditemani oleh ibu dan Mimin. Minggu pagi ini, ia berencana akan membuatkan sarapan pagi untuk Lintang yang saat ini kembali terlelap setelah sholat subuh tadi.
Agum bersegera menuju kamar pribadinya. Dengan membawa sebuah nampan yang berisikan, nasi, sup ayam, pisang, dan segelas susu khusus ibu hamil, kemudian ia letakkan di atas nakas.
"Sayang, sarapan dulu yuk?!", ucap Agum sambil membangunkan istrinya.
"Ya sayang, bangun terus sarapan dulu yuk!",
Agum mengecup kening juga pipi Lintang. Kemudian ia juga mendaratkan ciumannya di perut Lintang sambil mengusapnya pelan.
"Selamat pagi malaikat kecil ayah juga bunda, kita sarapan dulu yuk!", ucap Agum.
Lintang terperangah tidak percaya Agum melakukan hal itu setelah perselisihannya kemarin. Apakah itu berarti ia sudah bisa menerima kehadiran seorang anak perempuan?, dan melupakan keinginannya yang menggebu untuk memiliki anak laki-laki?
"Mas?", panggil Lintang sambil meneteskan air mata.
Agum tersenyum. "Ya sayang, aku bersalah, maafkan aku. Kini apapun yang Allah berikan untukku, akan selalu aku syukuri"
"Syukurlah jika kamu memang sudah bisa mengalahkan egomu mas",
Agum mengangguk. "Ya sudah sarapan dulu yuk sayang, kasihan dari kemarin anak kita di dalam sini belum makan", ucap Agum sambil mengusap perut Lintang.
"Suapin!!", jawab Lintang manja
Agum pun mengambil piring yang ada di atas nakas. Kemudian ia suapi Lintang dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Setelah ini siap-siap ya sayang!", perintah Agum.
Lintang mengernyitkan keningnya. "Siap-siap ke mana mas?",
Agum pun tersenyum. "Kita belanja keperluan anak kita"
******************
Di sebuah toko perlengkapan bayi, Lintang tengah sibuk berkeliling untuk mencari semua keperluan untuk menyambut kelahiran buah hatinya. Sebelum berangkat, ia memang lebih dulu berkonsultasi dengan ibunya, barang apa saja yang harus ia beli.
Pertama yang Lintang tuju adalah popok bayi. Bagaimana pun juga popok merupakan barang primer yang dibutuhkan oleh bayi yang baru lahir. Dua lusin popok berhasil masuk ke keranjang belanjaannya.
Ia bergeser ke bagian baju, kaos tangan, juga kaos kaki, juga celana bayi panjang maupun pendek. Ia terlihat gemas memperhatikan benda-benda mungil itu, terasa ingin ia masukkan semua ke dalam keranjang belanjaannya.
"Kenapa banyak didominasi warna biru sayang?, bukankah kalau anak perempuan itu cenderung ke warna pink ya?", tanya Agum.
Lintang tersenyum. "Tidak harus pink mas, biru justru lebih netral"
Agum pun mengangguk. "Ini masih kurang apa lagi sayang?", tanyanya pula.
"Tinggal nyari bedong, selimut, sama perlengkapan untuk tidurnya saja mas", jawab Lintang.
"Mau beli box bayi sekalian sayang?", tanya Agum.
"Emmmm ndak usah mas, anak kita nanti biar tidur di tempat tidur kita saja. Jadi tinggal beli kasur kecil sekalian bantal juga gulingnya", jawab Lintang.
"Mau ambil ini sekalian?", tanya Agum sambil menunjuk stroller yang ada di sampingnya.
Lintang pun terkekeh. "Anak kita belum butuh itu mas. Dia lebih butuh di gendong langsung sama ayah dan bundanya"
.
.
.
. bersambung
Hai-hai para pembaca tersayang. Terimakasih banyak sudah berkenan mampir di novel pertamaku ini ya... jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentarnya.. terima kasih
Salam love, love, love💗💗💗
__ADS_1