
"Apa??!!!, jadi Kevin bukanlah anakmu ataupun anak Tomi??!!", tanya Danang dengan nada penuh keterkejutan.
Agum mengangguk pelan sembari mengusap air matanya. "Iya mas. Aku tidak menyangka jika sesempurna ini Reni membuat jebakan seperti ini. Dan bodohnya aku, aku yang bodoh karena terperangkap dalam permainannya".
Danang mendengus. "Benar-benar wanita ja**ng!!". Danang menghembuskan nafas kasar. "Bisa-bisanya dulu kamu tergila-gila dengan wanita seperti itu Gum?!!".
Agum menggeleng. "Aku juga tidak tahu mas. Saat itu aku seperti dibutakan oleh nafsu yang menyesatkan dan pada akhirnya nafsu itu sendirilah yang menghancurkan semuanya".
Danang menghela nafas dalam. "Lalu apa rencana kamu saat ini?".
Agum melirik ke arah bayi mungil yang sedang tertidur pulas itu. "Meskipun Kevin bukanlah darah dagingku, aku akan tetap merawat dan juga akan membesarkannya mas!".
"Kamu tidak berencana kembali ke Jogja?", tanya Danang.
Agum mengernyitkan dahi. "Maksud mas?".
"Menjelaskan semuanya kepada Lintang dan kamu kembali rujuk dengannya?".
Agum tersenyum getir. "Meski aku begitu mencintai Lintang, namun aku juga tidak mau egois mas". Agum mengusap wajahnya kasar. "Sejak aku kehilangan Lintang, aku berusaha untuk ikhlas menjalani kehidupanku saat ini. Bagaimanapun juga kesalahan yang telah aku lakukan teramat besar dan tidak mungkin aku memintanya kembali bersamaku".
Danang masih mencoba memahami tiap kata yang diucapkan oleh Agum.
Agum menatap dinding di depannya dengan tatapan kosong. "Ada seseorang yang mencintai Lintang dengan begitu luar biasa mas. Dan aku yakin, laki-laki itulah yang kelak akan menggantikan semua luka yang dirasakan oleh Lintang dengan sebuah kebahagiaan yang sempurna".
"M-maksud kamu?"
"Hanan, dialah laki-laki yang mencintai Lintang dengan luar biasa, mas pasti juga sempat bertemu dengannya ketika Lintang berada di rumah sakit waktu itu".
Danang mengerutkan keningnya berusaha mengingat siapa itu Hanan. Ya, laki-laki muda, tampan dan yang di wajahnya tergores dengan jelas garis-garis ke-sholehannya.
Danang menepuk-nepuk bahu Agum. "Ya sudah jika memang itu pilihanmu Gum. Aku hanya berharap semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang lain".
Agum menggeleng. "Bahkan hanya untuk sekedar berharap pun aku tidak pantas mas. Mungkin sudah menjadi suratan takdir jika sampai nanti aku akan menjalani kehidupanku dalam kesendirian. Inilah buah dari perbuatanku selama ini mas".
Danang tersenyum tipis. "Percayalah jika suatu hari nanti, Allah akan memberikan kebahagiaan untukmu Gum".
***
"Mbak Sarah?", ucap Agum sedikit terkejut ketika melihat wanita yang kemarin ia tolong, tiba-tiba ada di depan rumahnya.
Sarah mengulas sedikit senyumnya. "Maaf jika kedatangan saya mengganggu mas".
Agum menggeleng. "Tidak mbak, mari silakan duduk", ucap Agum mempersilakan Sarah duduk di depan teras rumahnya.
"Kok sampeyan bisa tahu rumah saya Mbak?", tanya Agum membuka pembicaraan.
Sarah tersenyum tipis. "Tadi saya tanya driver yang sering mangkal di warung kopi ujung jalan sana mas, alhamdulillah nya ada salah seorang dari mereka yang kenal sampeyan".
__ADS_1
Agum pun hanya mengangguk. Sarah mengambil sesuatu dari tote bag yang ia bawa. "Ini untuk sampeyan mas!".
Agum mengernyitkan dahi. "Apa ini mbak?".
"Saya tadi masak rawon kebanyakan, lalu saya bawa saja ke sini untuk sampeyan".
"Kenapa repot-repot mbak?".
Sarah menggeleng. "Tidak mas. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih dari saya karena tempo hari, mas sudah menolong saya".
Akhirnya Agum pun menerima pemberian dari Sarah. Ia menyunggingkan senyumnya. "Terima kasih mbak".
Sarah mengangguk. "Oh iya mas, saya boleh numpang ke kamar mandi sebentar?".
"Silakan mbak, tapi maaf rumahnya berantakan".
"Tidak apa-apa mas".
Sarah melangkahkan kaki menuju kamar mandi yang letaknya tidak jauh dari kamar Agum. Saat berada di depan kamar Agum, matanya terbelalak melihat ada bayi mungil sendirian di atas ranjang.
Bayi itu terlihat berguling-guling ke sana kemari mencoba untuk tengkurap. Sarah pun memberanikan diri memasuki kamar itu dan melihatnya lebih dekat.
Senyum manis tersungging di bibir Sarah melihat bayi laki-laki yang begitu menggemaskan itu. Namun seketika sebuah pertanyaan besar terbesit dalam pikirannya.
Apakah ini anak mas Agum?, jika iya, dimanakah istrinya?.
Sarah mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar ini. Ia tidak menemukan apapun yang menjadi tanda bahwa ia tinggal bersama istrinya. Setelah itu Sarah pun meraih Kevin ke dalam gendongannya.
Sarah sampai lupa jika tadi ia hendak ke kamar mandi, ia pun kembali ke teras depan.
"Loh, mbak?, kok Kevin bisa sama sampeyan?", tanya Agum sedikit terkejut melihat Kevin ada di dalam gendongan Sarah.
Sarah tersenyum tipis. "Oohhh namanya Kevin?". Ia pun duduk di kursi di sebelah Agum sembari memangku Kevin. "Saya lihat Kevin sendirian di dalam kamar mas, saya takut kalau sampai terjatuh soalnya aktif banget. Maka dari itu saya bawa ke sini".
Agum tersenyum kikuk. "Tadi pas saya tinggal, dia tidur mbak. Eh tahunya udah bangun aja!".
"Ini anak sampeyan yang ke berapa mas?, terus saya kok tidak melihat ibunya?", akhirnya pertanyaan yang dari tadi terbesit di dalam pikiran Sarah, ia lontarkan juga kepada Agum.
Raut wajah Agum yang semula sumringah, perlahan mulai meredup. Tiba-tiba matanya memanas, dadanya terasa kembali terhimpit. Dan terlihat air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Hal itu tidak luput dari pandangan Sarah. Ia sedikit terkejut melihat raut wajah Agum yang seperti menahan kesedihan itu. "M-mas?!, sampeyan kenapa?, apakah ada yang salah dari perkataan saya?".
Agum menggeleng sambil mengusap matanya. Ia kembali tersenyum getir. "Ceritanya panjang mbak. Saya pun tidak tahu harus memulai dari mana, rasanya ini merupakan sebuah beban yang begitu berat untuk saya tanggung".
Sarah terlihat begitu bersimpati dengan laki-laki yang ada di hadapannya ini. Ia semakin yakin jika di rumah ini, ia tinggal sendiri. Ia pun tersenyum manis di hadapan Agum sembari menatap matanya. "Jika mas berkenan, mas bisa membagi beban itu kepada saya!"
Agum terperangah mendengar ucapan Sarah, ia tidak mengerti apa maksud dari ucapannya itu. Sarah menghela nafas dalam, kemudian kembali menyunggingkan senyumnya. "Apapun kesalahan yang pernah kita lakukan di masa lalu, percayalah jika Allah masih tetap mengharapkan kita untuk kembali dalam dekapanNya mas".
__ADS_1
***
Wanita itu terlihat sedang men touch up sedikit bedak, dan lipstick yang mulai luntur. Berkali-kali ia melihat tampilan wajahnya melalui cermin kecil dalam kemasan bedak itu. Senyum sumringah tersungging di bibirnya.
"Sempurna!!", ucapnya lirih.
Diedarkannya pandangan matanya ke setiap penjuru mall ini. Ia terlihat sedikit gugup karena hari ini, untuk pertama kalinya ia akan bertemu dengan laki-laki yang sejak beberapa hari yang lalu mengusik pikirannya. Tentunya laki-laki gagah, tampan, dan pastinya mapan.
Ya, semalam Reni menghubungi Jonas untuk bertemu. Dan hari ini, di salah satu food court yang ada di mall ini, Jonas menjanjikan akan menemui Reni.
Tenanglah Ren, sebentar lagi laki-laki tampan dan juga mapan itu akan masuk ke dalam pelukanmu. Lihatlah, kamu begitu sempurna dan terlihat menggoda jadi laki-laki manapun akan terpikat oleh pesonamu.
Sembari menunggu kedatangan Jonas, Reni sibuk bermonolog. Ia selalu percaya diri jika laki-laki manapun pasti akan terpikat dengan pesonanya. Di usianya yang hampir kepala empat itu, ia selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia masih terlihat cantik dan menarik seperti wanita usia dua puluh lima tahun.
"Hai Ren?!, sudah lama menunggu?", ucap seorang laki-laki yang datang tiba-tiba dan membuyarkan lamunannya.
Reni terperangah melihat begitu tampannya laki-laki di hadapannya ini. Dan lihatlah dari baju yang ia pakai, sepatu, jam tangan, semua merupakan barang-barang branded semua.
Reni mengerjapkan mata. "Eh, mas Jonas. Mari silakan duduk mas!"
Jonas pun tersenyum tipis kemudian duduk di kursi yang ada di hadapan Reni. "Jadi, mau ngobrol sekarang atau kita jalan-jalan sambil belanja dulu?".
"T-tapi aku______"
"Tidak perlu khawatir, kamu bisa belanja semua barang yang kamu mau. Aku yang akan bayar", ucap Jonas memangkas ucapan Reni.
Mata Reni membulat dan bibirnya melongo. Ia tidak menyangka jika Jonas akan mudah terpesona dengan kecantikannya. Nyatanya baru beberapa menit ketemu, ia langsung memanjakan dirinya dengan mengajak belanja.
"M-mas Jonas serius?!", tanya Reni memastikan.
Jonas hanya tersenyum simpul. "Ya, untuk wanita secantik seperti kamu, apa sih yang tidak?!".
Wussssshhhhh...
Reni seperti terbang tinggi mendengar pujian dari Jonas. Seketika pipinya merona merah melebihi warna blush on yang ia pakai. Dan membuatnya sedikit tersipu.
Reni beranjak dari duduknya. Ia kemudian meraih lengan Jonas. Jonas kemudian berdiri dan Reni pun menggelayut manja di lengan Jonas.
"Aku ingin belanja dulu Mas!"
.
.
. bersambung...
Menjelang episode-episode akhir... yuk, yuk, yuk yang pengen lihat Reni dapat balasannya jangan lupa vote, vote, vote, hihihihihi😘 emmm kira-kira bakal dapat balasan apa yah si suket teki itu??, hihihi tunggu episode selanjutnya yaahh...
__ADS_1
Terima kasih banyak untuk semua yang sudah setia menunggu kelanjutan novel titik balik ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya yah... happy Reading kakak... 😘😘
Salam love, love, love💗💗💗