Titik Balik

Titik Balik
DUA PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Cahaya mentari pagi mulai sedikit terlihat masuk melalui celah- celah gordyn kamar Lintang. Sinarnya terasa begitu hangat saat menyentuh kulit. Dan seolah menjadi sumber penyemangat baru bagi siapapun yang melakukan aktifitas pagi ini.


Agum masih terlihat berbaring dengan bertelanjang dada. Setelah aktifitas yang ia lakukan bersama Lintang selepas sholat subuh tadi seolah menguras tenaganya hingga ia kembali terlelap dalam tidurnya. Jam di dinding baru menunjukkan pukul enam pagi. Lintang mengikat rambutnya asal, kemudian ia kenakan kerudung instannya, dan bergegas menuju dapur.


Seperti biasa, Lintang sibuk dengan aktifitas paginya di dapur. Ia merebus air yang akan dipakainya untuk membuat teh hangat. Kemudian ia berjalan menuju kulkas, mengambil ikan tuna yang akan ia masak dengan bumbu kuah merah.


"Mas Danang sudah sampai mbak Lin?", tanya ibu Ranti


"Sudah bu, sekarang masih tidur di ruang tamu", jawab Lintang sambil membersihkan ikan tuna.


Lintang kembali sibuk dengan aktivitasnya. Dengan cekatan ia mengolah ikan tuna itu hingga menjadi sebuah hidangan yang menggugah selera. Aroma santan nan gurih sudah mulai tercium di indera penciuman dan setelah matang ia pun mematikan kompornya.


Seduhan teh yang ada di dalam teko, ia tuang ke dalam cangkir, tentunya untuk menyambut suasana pagi ini.


"Loh mas, udah bangun?", tanya Lintang ketika melihat suaminya ada di dapur.


"Udah dek. Oh iya, teh nya bawa ke depan ya. Itu mas Danang udah bangun juga", kata Agum. Lintang pun mengangguk.


Lintang pun berjalan menuju ruang tamu dengan membawa sebuah nampan yang berisikan dua cangkir teh, juga satu piring pisang goreng. Ibu Ranti juga turut serta, karena sejak kedatangan Danang, ia belum sempat bertemu.


"Assalamualaikum mas Danang", ucap Lintang memberi salam


"Wa'alaikumsalam Lin", jawabnya


"Loh bu Ranti?", seru Danang ketika melihat ibu Ranti ada di belakang punggung Lintang.


"Iya mas, gimana kabarnya mas Danang?", tanya ibu Ranti


"Alhamdulillah baik bu, ibu bagaimana? ", ucap Danang pula


"Alhamdulilah baik juga mas, ini sekarang udah mulai bisa jalan dikit- dikit", jawab bu Ranti dengan rona wajah yang bahagia

__ADS_1


Danang dan ibu Ranti pun melanjutkan obrolannya. Karena memang sudah sejak lama mereka tidak bertemu. Setelah beberapa saat, ibu Ranti pun beranjak dan meninggalkan ruang tamu.


"Mas, mandi dulu gih, udah jam tujuh loh", ucap Lintang mengingatkan Agum


"Iya dek. Sarapannya dibawa ke depan aja ya, kita sarapan bareng", jawab Agum sambil melenggang ke kamar mandi .


Danang terlihat sedang menggulung tikar yang semalam dipakai sebagai alas untuk tidur. Dan Lintang menyiapkan sarapan kemudian ia bawa ke ruang tamu. Tak lama setelahnya, Agum pun telah siap dengan seragam kantornya dan menyusul ke ruang tamu.


"Gimana kehamilanmu Lin?", tanya Danang di sela- sela sarapan mereka


"Alhamdulilah semua baik mas", jawab Lintang


"Kata Agum kamu gak pakai acara mual ataupun muntah?",


"Iya mas, alhamdulilah ",


"Bersyukur kamu Gum, dapet istri yang masih muda, cantik, pinter masak, dan gak rewel lagi pas hamil", ucap Danang kepada Agum


"Dijaga baik-baik Gum, jangan disia- siakan", sambung Danang pula


"Oh iya dek nanti motornya biar dipakai mas Danang ya. Dia mau jalan-jalan sama nanti mau mampir di kantor mas", ucap Agum


"Oh iya dipakai aja mas, Lintang juga jarang pakai", jawab Lintang.


Setelah selesai sarapan, Agum pamitan berangkat ke kantor. Meski sedang kedatangan tamu, ia tidak bisa meninggalkan tanggung jawabnya di kantor tempat ia bekerja.


***************


Semilir angin begitu terasa di teras rumah Lintang. Memberi satu kesejukan di siang hari yang sangat panas ini. Terlihat Lintang tengah mengangkat jemuran dan Danang duduk di teras yang di depannya terdapat botol air mineral.


"Gimana Lin, apa kamu bahagia menikah sama Agum?", tanya Danang di sela- sela aktifitas Lintang di siang hari.

__ADS_1


"Iya mas, Lintang bahagia menjadi istri mas Agum, dia memperlakukan Lintang secara baik", jawab Lintang sambil melipat baju yang baru saja ia angkat dari jemuran.


Danang tersenyum "Apa kamu tau soal ilmu yang dipelajari oleh Agum?", tanya Danang sambil meneguk air mineral.


"Eh ada apa dengan ilmu yang mas Agum pelajari mas?", tanya Lintang penasaran


"Tidak apa-apa Lin, mas cuma mau mengingatkan, semisal Agum mendapatkan ujian, kamu harus tetap kuat ya", jawab Danang


"A-apa yang dimaksud dengan ujian itu mengenai wanita mas?", tanya Lintang penasaran


Danang meyunggingkan bibirnya "Wirid yang kita amalkan ada juga yang bisa mengeluarkan aura menarik lawan jenis Lin"


Deg!!


Jantung Lintang seketika berdegub kencang. Ia tidak begitu paham dengan wirid yang diamalkan oleh Agum, namun hatinya seolah terlalu khawatir jika sampai Agum lengah jika ada godaan dari perempuan lain.


Danang seolah mengetahui kekhawatiran yang Lintang rasakan.


"Tapi kamu tidak perlu khawatir Lin, inshaallah kita bisa menjaga hati masing- masing", ucap Danang


"T-tapi.."


"Sudahlah Lin, tidak perlu berpikir yang macam- macam, tidak baik untuk kesehatanmu juga anak dalam kandunganmu", seru Danang.


"Apa mas Danang juga mengalami fase seperti itu?", taya Lintang


"Mas pun mengalaminya Lin, tapi istri mas juga paham, dan mengerti kondisinya", jawab Danang


"Lintang takut jika tidak bisa setangguh istri sampeyan mas", ucap Lintang dengan nada sedikit gusar.


"Sudahlah, aku yakin Agum pasti bisa menjaga hati", ucap Danang menenangkan.

__ADS_1


"Semoga saja mas", harap Lintang.


**********


__ADS_2