
Antrian pasien dokter spesialis syaraf di salah satu rumah sakit di Jogja terlihat membeludak. Agum, Lintang, beserta ibu Ranti terlihat berada di antara antrian itu. Mereka bertiga masih setia duduk manis di ruang tunggu, untuk menunggu nomor antriannya dipanggil.
Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya nomor ibu Ranti dipanggil. Agum mendorong kursi roda ibunya di dampingi Lintang yang berada di sampingnya. Mereka bertiga memasuki sebuah ruangan yang merupakan poli syaraf di rumah sakit itu.
Dokter Anwar, dokter yang selama ini menangani penyakit ibu Ranti . Dari dokter Anwar lah semua progres untuk kesembuhan ibu Ranti selalu diupdate ke Agum. Dokter paruh baya yang sangat sabar dalam menghadapi semua keluhan pasiennya, yang teramat mengerti akan kondisi psikis pasien yang terkena stroke yang terkadang naik- turun. Tak heran jika banyak penderita stroke mengalami perkembangan yang luar biasa setelah ditangani oleh dokter Anwar. Baik melalui obat- obatan maupun therapy.
"Alhamdulillah kondisi ibu Ranti mulai membaik pak. Tekanan darahnya juga sudah mulai normal. Dan syaraf- syaraf yang ada di tangan dan kaki beliau sudah bisa sedikit memberikan respon" ucap dokter Anwar
"Lalu apalagi yang harus kami lakukan di rumah, dok?", tanya Agum
"Obat masih tetap diminum ya pak, di rumah juga silakan diajari berjalan, sambil dipegangi tentunya, biar syaraf-syaraf di kaki ibu Ranti tidak terlalu kaku" jawab dokter Anwar menjelaskan
"Inshaallah kalau rajin latihan jalan, pelan- pelan ibu akan bisa berjalan kembali", sambungnya pula
Agum pun mengangguk tanda mengerti. Agum terlihat berbincang- bincang dengan dokter Anwar. Tentunya berkonsultasi mengenai penyakit ibunya. Agum merekam semua saran dari dokter diingatannya, tak lain dengan tujuan agar ibunya bisa segera pulih.
Setelah dirasa cukup berkonsultasi dengan dokter Anwar, mereka pun meninggalkan ruang poli syaraf itu.
Agum mendorong kursi roda ibunya menuju parkiran mobil. Agum menggunakan mobil box kantor untuk membawa ibunya ke rumah sakit. Dan mereka berdesak-desakan duduk di kursi mobil box itu.
"Sempit ya dek?", tanya Agum ke Lintang, sambil menyalakan mesin mobil.
Lintang tersenyum "Ndak apa-apa apa mas, masih muat kok, ya kan bu?" Ibu Ranti mengangguk
"Adek doain rezeki mas lancar, biar bisa beli mobil, jadi kalau pergi ramai-ramai gak dempet- dempetan sperti ini", sambung Lintang
"Aamiin, makasih doanya sayang", ucap Agum.
Agum pun melajukan mobilnya. Berjalan pelan menyusuri sudut- sudut kota Jogja yang terlihat sudah mulai menampakkan suasana yang indah petang ini. Setengah jam kemudian mereka tiba di kontrakan.
**********************
Shodaqallahul'adziimm...
Suara Lintang mengakhiri tilawahnya. Ia cium kitab suci itu, kemudian ia melipat mukena yang masih menempel di badannya sejak sholat isya' tadi.
Setelah sholat isya' berjamaah dengan Agum, ia memilih melanjutkan dengan tilawah. Sedangkan Agum terlihat membaringkan tubuhnya di atas kasur. Terdengar hembusan nafasnya yang sudah beraturan, pertanda ia tengah lelap dalam tidurnya.
__ADS_1
Di usapnya dahi Agum, kemudian ia berikan sebuah kecupan di dahi suaminya itu dengan lembut. Ia memperhatikan wajah suaminya itu dengan lekat. Senyum tipis pun tersungging di bibir tipis Lintang, mensyukuri segala kebaikan Tuhan karena telah mempertemukannya dengan laki-laki ini.
"Sudah puas memandang wajah suamimu ini kah dek?", ucap Agum tiba-tiba sambil membuka matanya. Yang ditanya hanya menampakkan ekspresi keterkejutannya.
"Eh, mas gak tidur?, keliatannya tadi udah nyenyak banget?", tanya Lintang balik
Agum tersenyum, kemudian menarik lengan Lintang, hingga ia terbaring di sisi tubuh Agum. Agum memiringkan posisi tubuh istrinya kemudian memeluknya dari belakang.
Ia letakkan kepalanya tepat di belakang tengkuk Lintang. Ia kecup leher Lintang itu, dengan maksud agar Lintang memberikan respon apa yang ia berikan. Tubuh Lintang menegang, merasakan senyar aneh yang mengaliri darahnya, seolah memberi sinyal ke otaknya untuk merespon balik sentuhan Agum itu dengan sebuah desahan lirih.
"Eeemmmpphhhh..." suara Lintang parau
"Saat ini aku menginginkanmu sayang", ucap Agum sambil mendaratkan sebuah ciuman di bibir Lintang. Lintang pun tersenyum, ia mengerti apa yang diinginkan suaminya itu.
Agum melanjutkan aktivitasnya di atas tubuh Lintang. Ia memberikan sentuhan- sentuhan lembut yang membuat bulu kuduk Lintang meremang dan berdiri.
Tok... tok... tok...
"Assalamu'alaikum"
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan ucapan salam dari ruang tamu di kontrakan Lintang. Seketika Agum dan Lintang terkejut dan saling berpandangan. Mereka menghentikan aktifitas di atas tempat tidur mereka. Lintang mengangkat bahunya, tanda tidak mengerti siapa yang berkunjung jam sembilan malam seperti ini.
Lintang tertawa, melihat wajah suaminya yang terlihat sedikit kesal
"Sssttt.... gak boleh seperti itu mas, udah keluar dulu sana, siapa tahu penting", ucap Lintang sambil beranjak dari posisi berbaringnya
"Tapi tanggung sayang", jawab Agum seolah tidak rela.
Lintang menggelengkan kepalanya sambil memakai kerudung instan di kepalanya.
"Nanti kita lanjutin lagi mas", jawab Lintang singkat
Agum berjalan gontai menuju ruang tamu.
"Wa'alaikumussalam", jawab Agum sambil membuka pintu.
"Waahhhh kami mengganggu ya mas malam- malam gini datang?", ucap salah seorang tamu
__ADS_1
Terlihat ada lima orang sudah berada di teras kontrakan Agum. Ia adalah Indra, Joni, Agus, Surya, dan Candra.
"Eh hari ini kita ada jadwal latihan?", tanya Agum
"Ini kan malam minggu mas, biasanya kita latihan kan?", jawab Joni
"Wah wah wah sudah mulai lupa hari nih, setelah punya istri", timpal Indra
Agum hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kenapa dia bisa lupa kalau hari ini ada latihan. Agum pun mempersilakan mereka masuk.
"Dek, ada tamu nih", teriak Agum dari ruang tamu. Lintang berjalan menyusul suaminya
"Assalamu'alaikum kakak ipar", sapa Joni ketika melihat Lintang sudah berada di ruang tamu
"Waalaikumussalam mas", jawab Lintang sambil menyalami seluruh tamu suaminya itu
"Dek tolong bikinkan kopi ya", ucap Agum. Lintang mengangguk sambil berlalu menuju dapur.
Ia mengambil air ke dalam panci lalu ia panaskan di atas kompor. Sebenarnya sudah ada air panas di dalam termos. Tapi kata orang kalau membuat kopi itu harus dengan air yang mendidih yang bisa membuat rasanya jauh lebih nikmat.
Ia menuangkan air panas ke dalam cangkir yang di dalamnya sudah ada serbuk kopi hitam dengan gula. Ia aduk, kemudian ia cicipi. Rasanya sudah pas menurut Lintang.
Sebelum beranjak ke ruang tamu dengan kopi yang ia bawa. Tiba-tiba ibu Ranti muncul di dapur
"Ada tamu mbak? ", tanya ibu Ranti
"Iya bu, teman-teman mas Agum. Hari ini jadwal latihan", jawab Lintang
"Ibu, Lintang antar ini ke depan dulu ya", sambung Lintang. Ibu Ranti mengangguk
*************************
Bersambung yaa... 😁
Kira-kira latihan apa yang akan Agum lakukan bersama teman- temannya?, nantikan di part selanjutnya ya...
Jangan lupa tinggalkan jejak like juga komentarnya.. terima kasih
__ADS_1
Love, love, love💗💗💗