
Tiga bulan berlalu. Setelah badai itu menerjang nyatanya Lintang masih tetap berdiri tegap, bertahan, untuk mempertahankan apa yang semestinya ia pertahankan. Meski bagi sebagian orang ia dianggap sebagai seorang wanita yang bodoh, namun ia masih memiliki keyakinan jika Tuhan memang belum menyuruhnya untuk berhenti sampai di sini.
Bagaimana dengan Agum?, ya ia benar-benar telah menemukan titik baliknya. Kembali kepada keluarganya yang sempat ia tinggalkan. Jika tidak ada urusan kantor, ia lebih sering menghabiskan waktu bersama Lintang dan juga Nana, mungkin sebagai upaya untuk menebus kesalahan-kesalahan yang ia lakukan karena telah mencurangi keluarganya. Dan kini ia seolah mendekap erat keluarganya agar tidak terlepas dari pelukannya.
Bagaimana dengan Reni?, Lintang bahkan tidak pernah tahu apa yang terjadi kepada wanita itu. Semenjak Agum memutuskan untuk mengakhiri semuanya dan ia sibuk dengan usaha catering nya, semua kejadian buruk yang pernah ia alami, seakan hilang ditelan bumi. Lintang seolah dibuat lupa oleh takdir jika ia pernah jatuh ke dalam sebuah lubang yang sangat dalam.
Lintang semakin menjadi sosok seorang wanita yang lebih kuat dari sebelumnya. Meski hanya lulusan SMA, kegigihannya membangun usaha kecil-kecilan yang ia rintis bersama sang ibu, kini justru berkembang semakin besar. Setiap hari ada saja yang menggunakan jasa catering nya. Dari pesanan partai kecil hingga besar. Ia memutuskan menambah beberapa crew untuk membantu menjalankan usahanya ini, tentunya dengan mengajak para tetangga yang memang membutuhkan pekerjaan. Saat ini ia pun memutuskan menambah satu bangunan di depan rumahnya khusus untuk usaha catering nya.
Di hari Minggu ini Lintang juga beberapa crew nya, disibukkan dengan pesanan nasi kotaknya. Pesanan dari ibu Nury yang ternyata menjadi pelanggan tetap untuk catering Lintang. Untuk saat ini pesanannya pun mencapai 250 box yang tentunya membuat ia bekerja lebih keras dari sebelumnya.
"Sayang, ada lagi yang bisa aku bantu?", tanya Agum setelah selesai memotong timun untuk lalapan. Ia pun menyusul Lintang yang terlihat sibuk dengan nila gorengnya di depan kompor. Agum berdiri di belakang tubuh Lintang lalu memeluknya dari belakang.
Lintang terkejut hampir saja sotil yang ada di tangannya terjatuh. "Mas, jangan seperti ini ah. Lihat tuh banyak ibu-ibu yang ngeliatin kita"
Tiga orang tetangga Lintang yang melihat kemesraan mereka pun terdengar riuh.
"Waahh mas Agum itu sayang banget ya sama mbak Lintang, sampai-sampai nempel terus kayak perangko", ucap salah seorang tetangga Lintang.
Agum hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Iya bu ibu, saya memang sayang banget sama istri saya ini, sampai-sampai gak mau pisah"
Lintang hanya menggelengkan kepalanya. Tiga bulan terakhir ini Agum memang memperlakukan Lintang dengan istimewa. Sikapnya seolah menggambarkan jika ia benar-benar tidak mau kehilangan Lintang.
__ADS_1
Akhirnya gorengan terakhir Lintang selesai. Ia melepas celemek yang melekat di badannya. Kemudian menghampiri ibu-ibu yang ada di sana.
"Ibuk-ibuk, setelah selesai packing jangan lupa untuk makan ya. Itu tadi Lintang juga goreng ikannya lebih, jadi nanti bisa ibuk bawa pulang ke rumah masing-masing" ucap Lintang.
Lintang mengambil tiga amplop dari dalam tas nya, kemudian ia berikan kepada ketiga tetangganya itu.
"Terima kasih untuk bantuannya ya buk, maaf jika Lintang belum bisa ngasih banyak", sambung Lintang pula.
Tetangga Lintang itupun terlihat berseri menerima amplop dari Lintang. Di mata mereka inilah salah satu kelebihan Lintang, ia selalu memberi upah di depan, sebelum keringat mereka mengering, mereka sudah bisa merasakan hasil kerja kerasnya.
"Terima kasih banyak ya mbak Lin, semoga usaha mbak Lintang semakin berkah ya", ucap salah seorang ibu yang membantunya.
"Pasti betah mbak Lin, jarang ada bos sebaik mbak Lintang. Selama saya kerja bareng mbak Lintang, saya sama sekali belum pernah melihat mbak marah-marah, apalagi memarahi pegawainya", timpal ibu-ibu itu lagi.
Lintang hanya terkekeh. "Untuk apa saya marah-marah bu, kalau saya saja juga sangat memerlukan bantuan dari ibu-ibu semua. Sekali lagi terima kasih banyak ya bu"
Ibu-ibu itupun mengangguk bersamaan. Agum semakin dibuat takjub oleh kebaikan istrinya itu. Ia pandai menempatkan dirinya sendiri. Meski saat ini ia telah berhasil dengan usahanya, ia tetap rendah hati bahkan tidak sedikitpun menyombongkan diri atas keberhasilannya.
Hati Agum seperti tercubit kembali. Ia memang telah buta, karena selama ini ia tidak dapat melihat jika istrinya begitu sempurna. Agum menundukkan kepalanya. Malu, menyesal, tapi mau bagaimana lagi. Semua itu terlanjur telah terjadi dan kini ia hanya bisa memperbaiki apa yang sudah terlanjur hancur meski tak akan lagi sempurna.
Lintang mengamati wajah Agum. "Mas, ada apa?"
__ADS_1
Agum tersentak kemudian menggeleng. "Ti-tidak sayang". Ia menarik nafas dalam. "Oh iya sayang, nanti gak usah pakai grab untuk nganter pesanannya. Nanti biar mas nganter kamu pake mobil box kantor"
Lintang berbinar. "Beneran gak apa-apa mas?"
Agum mengangguk. "Iya gak apa-apa sayang"
"Aku perlu bayar berapa mas untuk biaya antar nya?", sambung Lintang pula.
Agum terlihat menyeringai nakal. Ia mendekati Lintang kemudian membisikkan sesuatu di telinganya. "Kamu hanya perlu membayar aku dengan sesuatu untuk nanti malam sayang"
.
.
. bersambung....
Tuhhh kan, Lintang sama Agum malah mesra lagi. Gimana sih thor kok gak cerai-cerai... hhihihiihihi sekali lagi author hanya bisa mengatakan sabar ya kakak-kakak semua...
Hehehe terima kasih sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini ya.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya. Dan yang punya kelebihan poin bolehlah disumbangin ke author.. hihhihihi... oh iya maaf ya kakak-kakak, mungkin episode ini terlalu pendek, tp inshaallah nnti aku up lagi (kalau tidak sibuk), hehehe.... terima kasih
Salam love, love, love💗💗💗
__ADS_1