
"Jon, ambilkan pesananku tadi!", titah Agum kepada Joni sembari mengikuti pak Dharma.
Agum duduk bersila menghadap arah kiblat. Di depannya telah ada tujuh buah pring kuning (bambu kuning) berukuran satu jengkal. Terlihat bibirnya membaca sesuatu sambil mengangkat kedua tangannya seperti orang yang sedang berdoa. Kemudian meniupkannya ke arah pring kuning itu. Setelah itu ia kembali menemui kelima temannya.
"Jon, Gus, Can, Sur, Ndra, tanam pring kuning ini di sudut sudut warung pak Dharma ya. Jangan lupa baca syahadat juga sholawat dulu", perintah Agum kepada teman-temannya. Mereka pun mengangguk.
Sambil menunggu mereka berlima menjalankan tugasnya, Agum duduk di ruang tamu di temani oleh pak Dharma.
"Jadi apa yang terjadi dengan warung saya mas Agum?", tanya pak Dharma
"Sepertinya ada orang yang memiliki niat jahat ke pak Dharma. Maksud saya iri terhadap usaha pak Dharma sehingga membuat ia berperilaku buruk", jawab Agum
"Bisa dijelaskan lebih detil mas?", tanya pak Dharma
"Jadi gini pak, di depan warung nasi sampeyan itu disebar tanah kuburan. Nah biasanya tanah ini berdampak ke warung bapak yang terlihat gelap. Yang lebih ekstrim lagi, orang- orang yang berniat membeli nasi tidak jadi karena mereka melihat warung sampeyan seperti tutup padahal posisi buka.
Nah ini nanti biasanya juga berdampak di menu yang bapak jual. Dalam kasus ini nasi yang bapak jual yang kena dampak dari tanah kuburan itu, jadi cepat basi dan berair ", jelas Agum panjang lebar.
"Oh seperti itu ya mas, makannya saya kok heran, beberapa kali melihat orang- orang sudah masuk ke halaman depan terus balik lagi, jadi itu pengaruh dari tanah kuburan itu" , ucap pak Dharma. Agum mengangguk
"Kalau boleh tau siapa ya mas, yang tega berbuat itu ke saya?", sambung pak Dharma penasaran
"Kalau untuk itu saya tidak bisa memberitahukannya pak, karena memang itu sebuah kode etik yang harus saya jaga ketika belajar ilmu ini", jawab Agum
"Lalu apa yang harus saya lakukan mas!?", tanya pak Dharma
"Halaman depan itu sering disapu saja pak, pas nyapu sambil baca sholawat. Lalu bekas air cucian beras yang biasanya dibuang mulai besok disiram ke halaman pak, Inshaallah warung bapak akan terhindar dari sesuatu yang buruk", jawab Agum
"Apa ada makhluk lain yang tinggal di sana juga mas?", tanya pak Dharma penasaran
Agum tersenyum "Ada sosok hitam juga besar di pojok kiri warung sampeyan itu pak, tapi tenang saja, anak- anak tadi sudah saya minta untuk membuat sosok itu pergi",
Pak Dharma mengangguk.
Kelima teman Agum telah selesai mengerjakan tugas mereka kemudian mereka masuk bergabung dengan Agum dan pak Dharma.
Mereka kembali berbincang- bincang. Dan obrolan mereka terpaksa berhenti ketika jam dinding sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Agum dan teman- temannya pun pamit undur diri.
"Kami pamit dulu ya pak", ucap Agum berpamitan
"Ini mas, ada sedikit dari kami untuk mas Agum juga teman- teman", ucap pak Dharma sembari memberikan sebuah amplop ke Agum
"Tidak usah repot- repot pak", ucap Agum berusaha menolak
"Tolong diterima mas, anggap saja ini uang bensin karena mas Agum sudah menyempatkan waktu untuk datang ke sini", pinta pak Dharma.
__ADS_1
"Terima kasih banyak pak", ucap Agum sembari menerima amplop itu.
Agum dan teman-temannya pun undur diri. Agum melajukan mobilnya menembus malam yang terasa begitu dingin. Selang setengah jam akhirnya mereka sampai di kontrakan Agum.
Agum membuka pintu depan menggunakan kunci cadangan karena ia tau akan pulang larut. Kelima teman- teman Agum duduk di ruang tamu.
"Ini kita bagi berenam ya", ucap Agum sambil membuka amplop pemberian pak Dharma.
Teman- teman Agum saling berpandangan
"Tidak usah mas, buat sampeyan aja", ucap Joni menolak
"Tapi kalian ikut kerja keras juga loh", sanggah Agum
"Sudahlah mas, buat mas Agum aja, anggap aja itu rezeki kakak ipar yang diberikan lewat sampeyan", tambah Candra
Akhirnya teman- teman Agum berpamitan.
***********************
Ceklek...
Terdengar suara pintu kamar Lintang terbuka. Agum menghampiri istrinya yang tengah tertidur lelap. Ia belai rambut istrinya itu kemudian ia kecup keningnya.
Alhamdulillah hari ini Allah ngasih rezeki yang banyak untuk kita sayang.
********************
Hooooaaammmm... Lintang menguap. Ia merasa tubuhnya berat. Ternyata kaki Agum tengah menindih tubuhnya.
"Mas, mas bangun, berat!", ucap Lintang
"Apa sayang?", tanya Agum sambil menggeliat
"Kaki mas Agum nindih tubuh adek", jawab Lintang
Agum pun membetulkan posisinya dan kembali terlelap.
"Loh ayo bangun mas, sholat subuh", ucap Lintang sambil mengguncang tubuh Agum.
"Sepuluh menit lagi ya sayang, mata mas masih berat banget", ucap Agum bernegosiasi.
Lintang pun beranjak kemudian melaksanakan sholat subuh. Tak lama setelahnya Agum menyusul kemudian melanjutkan tidurnya lagi.
**********************
__ADS_1
Lintang menyiapkan seragam kantor yang akan dipakai Agum hari ini. Setelah selesai memasak ia sibuk mempersiapkan segala keperluan Agum sebelum berangkat ke kantor.
"Sayang, sini sebentar", perintah Agum sambil mengancingkan kancing bajunya
"Iya mas, ada apa?", tanya Lintang
Agum mengambil amplop yang ada di saku celana yang ia pakai semalam.
"Ini untuk adek", ucap Agum sambil memberikan amplop itu ke Lintang
"Apa ini mas?", tanya Lintang bingung
"Buka aja sayang", ucap Agum
Lintang membuka amplop itu. Matanya terbelalak melihat beberapa lembar uang seratus ribuan.
"I-ini uang apa mas?", tanya Lintang bingung
"Hasil merdukun dek, hhaahaha", jawab Agum asal
"Iiihhhhh adek serius mas", ucap Lintang penasaran
"Itu rezekinya adek. Semalam mas dimintain tolong orang dek, terus dikasih itu", ucap Agum menjelaskan
"Mashaallah ini delapan ratus ribu loh mas, banyak banget", sanggah Lintang
"Ya mas juga gak tau sayang, mas juga gak pernah pasang tarif. Itu orangnya sendiri yang ngasih", jelas Agum
Lintang hanya melongo. Melihat lembaran- lembaran uang di depannya.
"Udah sayang gak usah diliatin terus. Mending adek simpen ya, buat simpanan", ucap Agum
Lintang mengambil lima lembar uang itu
"Ini kasihkan ke ibu mas, biar bisa untuk pegangan juga"
Agum menghitung ulang, kemudian dua lembar ia kembalikan ke istrinya
"Untuk ibu tiga ratus aja sayang, kalau ibu butuh apa-apa kan langsung minta ke mas"
Selesai berdiskusi di kamar pribadi, mereka pun menuju ruang makan. Di sana sudah duduk ibu Ranti juga Mimin. Kemudian mereka makan bersama.
Lintang mengantar suaminya ke depan. Ia cium punggung tangan suaminya itu, dan ia cium pipi suaminya. Agum pun mengecup pucuk kepala istrinya
"Mas berangkat dulu sayang", pamit Agum
__ADS_1
"Iya mas, hati- hati di jalan ya", jawab Lintang sembari tersenyum manis
****************************