Titik Balik

Titik Balik
SEMBILAN PULUH DUA


__ADS_3

"Waaaaahh ikannya besar-besar om!!", teriak Nana sembari membawa sebuah jaring yang di dalamnya ada beberapa ekor ikan nila. Kemudian ia letakkan ke dalam ember yang sudah disiapkan oleh Hanan.


Hanan tersenyum. "Nana suka ikan nila?"


Nana mengangguk. "Suka sekali om, apalagi kalau yang masak bunda, enak sekali!!".


Hanan mengusap rambut Nana pelan. "Ya sudah, nanti boleh Nana bawa pulang ke rumah, berapapun Nana mau"


Wajah Nana berbinar. "Benar om?".


Hanan terlihat sedang berpikir. "Ummmm boleh, tapi Nana harus janji dulu sama om".


Dahi Nana mengkerut. "Janji apa om?".


Hanan mengusap lembut pipi chuby Nana. "Nana harus makan yang banyak, dan tidak boleh mogok makan seperti tadi, gimana?"


Nana mengangguk patuh. "Iya om!".


Hanan mengangkat jari kelingkingnya. "Janji?"


Nana juga ikut mengangkat jari kelingkingnya kemudian mengaitkan ke kelingking Hanan. "Janji om".


Hanan tersenyum sembari mengusap kepala Nana. "Anak pintar".


Lintang duduk di gazebo kecil yang ada di sisi-sisi kolam ikan. Kolam ikan ini terletak di tengah sawah, dan dari tempat ia duduk saat ini selain bisa melihat beberapa kolam ikan dengan hamparan pematang sawah yang begitu menyejukkan mata, ia juga bisa menikmati sunset di senja seperti ini.


Lintang tersenyum lebar melihat keceriaan Nana bersama Hanan. Rasanya satu beban telah terlepas melihat Nana bisa tertawa lepas seperti itu. Perlahan air matanya menetes, dadanya masih saja terasa sesak jika mengingat peristiwa yang telah lalu.


"Mbak Lin!", panggil bu Nury sembari duduk di samping Lintang.


Lintang bergegas mengusap air matanya. Dan mencoba menyunggingkan senyumnya. "Ya bu?".


Ibu Nury tersenyum. "Menjelang maghrib seperti ini jangan sering melamun mbak, nanti bisa kesambet setan".


Lintang terkekeh. "Saya tidak melamun bu, hanya sedang menikmati suasana senja seperti ini". Lintang menghela nafas dalam kemudian ia hembuskan. "Oh iya, dari tadi saya kok tidak melihat pemilik kolam ini ya bu?"


Giliran ibu Nury yang saat ini terkekeh. "Masak sih mbak?". Hanya di jawab sebuah anggukan dari Lintang. Bu Nury kembali tersenyum. "Itu yang punya kolam", jawabnya sembari menunjuk ke arah Hanan.


Mata Lintang terbelalak. "M-maksudnya mas Hanan?".


Ibu Nury tersenyum sembari mengangguk. "Selain jadi arsitek, Hanan juga punya usaha kolam ikan, mbak. Sebelum menjadi kolam, ini merupakan sawah yang di wariskan oleh ayah Hanan. Karena Hanan tidak begitu tahu tentang ilmu mengurus sawah, akhirnya ia pun merubahnya menjadi kolam nila".


Lintang menganggukkan kepala mendengar cerita dari bu Nury. "Ini mas Hanan yang mengurus semuanya sendiri bu?".


Ibu Nury terkekeh. "Tidak mbak Lin, Hanan memperkerjakan beberapa orang untuk mengurus kolam ini. Dan biasanya tiga kali dalam seminggu ia datang kemari".


Lintang dan bu Nury kembali melanjutkan obrolannya. Hingga obrolan mereka terhenti ketika adzan maghrib berkumandang. Mereka pun bergegas ke musholla untuk menunaikan sholat maghrib berjamaah.


****


Hanan tiba di rumah Lintang tepat pukul delapan malam. Ia kemudian duduk di teras rumah Lintang sembari menikmati secangkir kopi yang dibikinkan oleh Lintang untuknya.


Setelah menidurkan Nana di dalam kamar, Lintang menyusul Hanan yang saat ini ada di depan teras rumah. Lintang duduk di kursi yang ada di sebelah Hanan dengan sekat sebuah meja di tengah-tengahnya.


"Nana sudah tidur, dek?", tanya Hanan mencoba memecah keheningan di antara keduanya.

__ADS_1


Lintang tersenyum. "Sudah mas". Lintang menatap wajah Hanan. "Mas?!"


"Ya dek?!".


Lintang menghela nafas dalam. "Terima kasih banyak untuk hari ini".


Hanan mengernyitkan dahinya. "Untuk?".


"Untuk semua usaha mas Hanan membuat Nana ceria seperti sedia kala", jawab Lintang.


Hanan tersenyum simpul. "Tidak perlu berterima kasih dek, aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan". Ia menghembuskan nafas perlahan. "Dek, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?".


"Apa itu mas?".


"Apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam pernikahanmu?".


Lintang menarik nafas dalam. Seketika memory otaknya kembali memutar peristiwa kemarin. Sekuat tenaga ia mencoba menahan sesak dalam dadanya. "Aku akan bercerai dari mas Agum, mas".


Hanan terbelalak. "K-kamu di talak oleh suamimu?".


Lintang menggeleng. "Aku akan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan mas. Mas Agum tidak mau menceraikan aku, sehingga harus aku yang mengambil langkah".


"Kamu yakin dengan keputusanmu ini dek?".


Lintang mengangguk sembari menatap ke sembarang arah dengan pandangan kosong. "Inshaallah ini yang terbaik untuk kami mas. Bagaimanapun juga mas Agum harus bertanggung jawab atas anak yang sedang dikandung oleh Reni. Dan aku memilih untuk melepaskan semua".


"Yang kuat ya dek, aku tidak bisa melakukan apa-apa untukmu. Aku hanya akan__________"


Lintang mengernyitkan dahinya karena Hanan menggantung ucapannya. "Akan apa mas?".


Hanan tersenyum simpul. "Ah.. tidak dek, maksudku aku akan mendukung apapun jalan yang kamu ambil asalkan itu yang terbaik untukmu juga Nana".


"Sama-sama dek".


Lintang kembali dengan pandangan kosongnya ke segala arah. Hanan mencoba mencuri pandang ke arah wanita yang masih begitu ia cintai itu. Senyum tipis tersungging di bibir Hanan.


Aku akan memberimu waktu untuk mencoba sembuh dari luka yang kamu rasakan saat ini Lin. Jika memang sudah waktunya, aku akan mendatangi ibumu, memintamu untuk aku jaga lahir juga batinmu.


***


"Om ganteng!!!!", teriak Nana sembari menghambur ke pelukan Hanan yang masih berada di halaman rumah Lintang.


Hanan memeluk Nana kemudian menggendongnya. "Assalamualaikum anak cantik, sudah makan?"


"Waalaikumusalam om ganteng. Iya, Nana sudah makan".


Hanan dan Nana masuk ke dalam rumah Lintang dan terlihat ibu Ratih juga Lintang sedang packing pesanan catering untuk siang hari ini.


"Assalamualaikum ibu, dek Lintang!".


"Wa'alaikumsalam", jawab ibu Ratih juga Lintang bersamaan.


Lintang mengamati Nana yang terlihat nyaman di dalam gendongan Hanan sembari mengalungkan tangannya ke leher Hanan. "Sayang ayo turun, masak minta gendong terus sama om Hanan, nanti om Hanan nya capek".


Nana malah semakin menggelayut manja di gendongan Hanan sembari menggelengkan kepalanya. "Tidak mau bunda. Om ganteng tidak capek kok, iya kan om?".

__ADS_1


Hanan terkekeh sembari mengusap-usap kepala Nana. "Pastinya dong sayang, kalau cuma gendong anak cantik seperti ini sih, om Hanan juga kuat gendong seharian".


Nana melirik ke arah Lintang. "Tuh kan, om ganteng tidak capek kan bunda".


Lintang dan bu Ratih hanya terkekeh melihat tingkah Nana yang begitu manja di depan Hanan. Hati Lintang sedikit tercubit melihat Nana yang terlihat begitu ceria di depan Hanan. Mungkinkah gadis kecil itu benar-benar rindu akan kehadiran sosok seorang ayah?


Lunch box terakhir sudah masuk ke dalam kantong plastik besar. Dan selesai sudah pekerjaan Lintang siang hari ini.


"Sudah ready semua dek?", tanya Hanan masih setia mendekap Nana di dalam gendongannya.


Lintang tersenyum tipis. "Alhamdulillah sudah mas. Lintang masukin ke bagasi ya mas?".


"Biar aku saja dek!", ucap Hanan.


Lintang terkekeh. "Sepertinya kamu sedang dikuasai oleh Nana mas, jadi biar Lintang saja yang bawa ke bagasi".


Hanan tersenyum simpul. Benar saja, Nana seperti tidak ingin lepas dari Hanan, sudah seperti kena lem alteco saja.


"Sayang, sini bunda gendong. Sudah waktunya om Hanan mengantarkan pesanan", ucap Lintang setelah selesai menaruh box nasi ke dalam bagasi.


Nana menggeleng. "Tidak mau bunda, Nana mau ikut sama om saja".


Mata Lintang terbelalak. Ia tidak menyangka jika Nana sebegitu inginnya bersama Hanan. "Tapi sayang, om Hanan sudah harus mengantarkan pesanan, nanti kalau telat bagaimana?".


Nana tetap kekeuh menggelengkan kepalanya. Hanan mengulas sedikit senyumnya. "Ya sudah, Nana ikut sama om ngantar pesanan saja gimana?", sambungnya ke arah Nana.


Seketika wajah Nana berbinar dan mengangguk. "Mau om, mau!!, horeeee!!!"


"T-tapi mas______"


Hanan menggelengkan kepalanya. "Sudah tidak apa-apa dek, lagipula setelah ini aku juga tidak ada kerjaan kok jadi bisa sedikit santai".


Akhirnya drama hari ini diakhiri dengan Nana ikut menemani Hanan mengantar pesanan. Meski tanpa Lintang.


"Hati-hati ya mas, maaf sudah merepotkan", ucap Lintang tak enak hati saat Hanan sudah duduk di kursi kemudinya. Dan Nana duduk di samping Hanan.


Hanan menggelengkan kepalanya. "Tidak dek, aku justru seneng ada yang nemenin, jadi tidak ngantuk di jalan".


Lintang mengedarkan pandangan ke arah Nana yang sedang asyik dengan boneka barbie di tangannya. "Sayang, jangan bikin repot om Hanan ya".


Nana tersenyum. "Siapp bunda!!".


Akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Hanan melaju perlahan meninggalkan halaman rumah Lintang. Hingga tak terlihat lagi dari pandangan Lintang. Ia menyunggingkan senyumnya. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Rasanya begitu bahagia melihat kedekatan putrinya dengan Hanan.


"Hanan laki-laki yang baik ya ndhuk!!"


Lintang terkejut karena tiba-tiba ibunya ada di sampingnya. Ia sedikit mengulas senyum. "Iya bu, mas Hanan memang laki-laki yang baik"


.


.


. bersambung....


Hai-hai para pembaca tersayang... untuk beberapa part ini sengaja author kasih kedekatan yang terjalin antara Hanan juga Nana terlebih dahulu ya... sebenernya ini sudah part-part akhir menjelang novel ini tamat. Jadi author kasih part-part manis yang tidak terlalu banyak menghabiskan banyak tisu 😅 Emmmm adakah yang kangen sama Agum dan Reni?? Tunggu episode selanjutnya yah....

__ADS_1


Terima kasih banyak sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini ya kak... jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episode nya.. jangan lupa juga untuk vote, vote, vote, biar author lebih semangat lagi nulisnya.. hihihihi... happy Reading kakak...


Salam love, love, love 💗💗💗


__ADS_2