Titik Balik

Titik Balik
Bonus Chapter 4 -final-


__ADS_3

"Ayo dek kejar kakak. Kalau ketangkap nanti kakak belikan es krim!!", teriak Nana sambil berlarian di taman yang ada di kawasan candi Sambisari.


"Bunda, kakak larinya cepat sekali, Rafif tidak bisa nangkap kakak!!", celetuk Rafif masih sambil berusaha mengejar Nana.


Lintang hanya menggeleng melihat polah tingkah kedua anaknya itu. "Sayang, hati-hati!", teriak Lintang mengingatkan.


"Iya bunda!!", teriak keduanya.


Lintang hanya menatap mereka dengan perasaan bahagia tiada terkira. Melihat Nana yang sudah tumbuh semakin besar, dan Rafif yang kini juga sudah menginjak usia tiga tahun yang terlihat begitu aktif. Ia menoleh ke samping, terlihat sang suami juga menatap keceriaan mereka dengan wajah yang berbinar.


Setiap akhir pekan, Hanan selalu meluangkan waktu untuk mengajak keluarganya piknik. Meski hanya ke tempat yang tidak terlalu jauh, namun ia percaya jika dengan piknik akan menambah rasa bahagia anggota keluarganya. Satu minggu dihadapkan dengan rutinitas yang itu-itu saja, maka di akhir pekan lah merupakan waktu yang tepat untuk kembali merefresh pikiran sehingga kembali segar.


Hanan juga percaya satu hal. Seorang istri yang sering uring-uringan ketika berada di rumah bisa jadi bukan karena kekurangan uang belanja, namun bisa jadi karena kurang piknik. Oleh karena itu, sesibuk apapun, Hanan selalu menyempatkan untuk mengajak sang istri dan anak-anaknya untuk menikmati akhir pekan dengan berjalan-jalan seperti ini.


Lagipula dengan berpiknik, bisa mendekatkan anak-anak dengan alam, sehingga membuat mereka lebih cinta kepada lingkungannya dan lebih cinta kepada penciptaNya.


"Bun?!", ucap Hanan sambil menatap lekat kedua anaknya yang masih asyik berlarian.


"Ya mas?!", jawabnya sambil menyiapkan makanan untuk makan siang di tempat ini.


Hanan menatap lekat wajah Lintang. "Apakah bunda bahagia?".


Lintang menghentikan aktifitasnya. Kemudian ia tatap dengan teduh pula wajah suaminya itu sambil mengusap pipinya dengan lembut. "Masih haruskah aku jawab pertanyaanmu itu, mas?".


Hanan mengangguk. "Harus bunda, bunda harus menjawabnya".


Lintang hanya menyunggingkan senyumnya. Pertanyaan Hanan yang seperti itu sudah seperti makanan sehari-hari baginya. Tiga tahun menjalani bahtera rumah tangga bersama Hanan, pertanyaan seperti itu selalu ia tanyakan. Biasanya menjelang tidur, Hanan menanyakan hal itu, namun hari ini entah mengapa ia menanyakan itu di saat matahari masih terlihat jelas seperti ini.


Lintang mendekatkan tubuhnya ke tubuh Hanan. Dan menggelayut manja di pundak sang suami. "Tidak ada alasanku untuk tidak bahagia hidup bersamamu mas. Aku bahagia. Sangat-sangat bahagia".


"Bunda tidak bohong?", tanyanya sedikit ragu.


Lintang terkekeh pelan sambil sedikit mendongakkan wajahnya. "Apakah aku bisa membohongimu mas?, bahkan mas sendiri bisa tahu jika aku sedang berbohong. Saat ini, mas tidak melihat ada kebohongan dari sorot mataku kan?".


Hanan menatap mata Lintang, kemudian ia kecup pucuk kepala Lintang. Ia tersenyum tipis. "Aku hanya sedang memastikan, bahwa bunda merasa bahagia setiap hari".


"Aku bahagia mas, sangat bahagia hidup bersamamu!".


Lintang mengecup pipi Hanan yang seketika membuat Hanan terkejut. Tidak biasanya sang istri berani memperlihatkan kemesraannya di tempat umum seperti ini. Namun ia juga hanya bisa membalas kecupan pipi sang istri dengan mengecup pipinya juga.


Lintang juga tidak paham apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Akhir-akhir ini, ia selalu merasa ingin selalu berdekatan dengan sang suami. Ia merasa begitu senang mencium aroma tubuh sang suami. Bahkan saat pulang kerja, masih dalam keadaan berkeringat, Lintang malah semakin menyukainya.


"Bun, bunda baik-baik saja kan?", tanya Hanan dengan dahi sedikit mengkerut.


"Iya mas, aku baik-baik saja".


Tak selang lama, Nana dan Rafif menghampiri Hanan dan Lintang. Nafas mereka terdengar terengah-engah, mungkin karena lelah berlarian. Mereka pun duduk mengapit Lintang dan menggeser sedikit tubuh Hanan.


Lintang tersenyum. "Sudah capek lari-lariannya sayang?".


"Sudah bunda, dedek Rafif masak tidak bisa nangkap Nana, padahal Nana larinya sudah pelan loh".


"Enggak bunda, kakak larinya cepat sekali. Rafif sampai capek", celotehnya sambil meneguk air mineral.


Hanan terkekeh. "Ya sudah sekarang makan dulu yuk, pasti sudah lapar kan?".


"Iya yah, Rafif mau makan yang banyak".


"Kakak mau makan yang banyak juga?", tanya Hanan ke arah Nana.


"Iya, Pa".


"Oke, sekarang kita makan bareng, tapi tetap papa yang suapin!", ucap Hanan.

__ADS_1


Nana dan Rafif menggeleng. "Tidak mau yah, Rafif sudah besar, tidak mau disuapin!".


"Nana juga Pa, sudah besar masak masih disuapi, malu!".


Hanan menggeleng. "Tidak boleh ada yang menolak, bahkan bunda pun juga harus disuapin ayah".


Akhirnya mereka menurut. Dimulailah ritual Hanan menyuapi seluruh anggota keluarganya.


"Untuk lomba menggambar minggu depan apa sudah siap semua, Kak?", tanya Hanan di sela-sela suapannya.


Nana mengangguk. "Sudah, Pa. Sudah siap semua".


"Alhamdulillah, jangan lupa berdoa ya sayang, semoga pulang-pulang bawa piala lagi".


"Iya Pa!".


"Kalau dedek, besok pengen juara apa?", tanyanya ke arah Rafif.


Rafif terlihat memutar dua bola matanya. "Rafif juga pengen seperti kakak, yah. Pengen pinter gambar".


"Oke, mulai besok belajar sama ayah ya?".


"Siap ayah!".


"Kalau bunda pengen juara apa?", sambungnya ke arah Lintang.


"Emmmmm juara di hati ayah sama anak-anak saja deh", jawab Lintang sekenanya.


Mereka pun larut dalam obrolan-obrolan ringan seperti ini namun terasa begitu hangat. Di iringi dengan gelak tawa yang terdengar begitu menentramkan jiwa.


Seketika Lintang memberhentikan tawanya saat kepalanya terasa sedikit pusing, matanya terasa berkunang-kunang dan akhirnya tubuhnya lunglai....


"Bundaaaaaaa!!!!!", teriak ketiganya.


***


"Bunda kenapa yah, huhuhuhu", tanya Rafif dengan isak tangisnya.


"Tenang sayang, bunda tidak apa-apa!", jawab Hanan sambil mengusap kepala Rafif.


"Dedek Rafif tenang ya, kalau dedek nangis, nanti bunda tidak bisa beristirahat", sambung Nana yang ikut menenangkan Rafif.


Ceklek...


Pintu ruang rawat Lintang terbuka, dan terlihat seorang dokter masuk. Dokter itupun menyunggingkan senyumnya.


"Bu dokter, kenapa bunda tidak bangun-bangun?", rengek Rafif sambil mengguncang lengan sang dokter.


Hanan meraih tubuh Rafif kemudian menggendongnya. "Dok, sebenarnya istri saya kenapa?, kok tiba-tiba pingsan?, padahal sejak tadi ia sehat-sehat saja".


Dokter itupun kembali menyunggingkan senyumnya. "Tenang ya pak, anak-anak. Ibu Lintang baik-baik saja. Mungkin karena faktor kehamilan yang membuat kondisi ibu Lintang menjadi lemah seperti ini".


Mata Hanan terbelalak. "H-hamil, dok?".


"Iya, pak. Saat ini ibu Lintang sedang hamil dan usia kandungannya memasuki lima minggu".


Dengan cepat Hanan menurunkan tubuh Rafif. Kemudian ia sujud syukur di lantai. "Alhamdulillah".


"Ada lagi yang ingin saya sampaikan pak!".


Hanan terlihat sedikit cemas, ia takut terjadi apa-apa dengan kehamilan istrinya. "A-apa itu dok?".


"Untuk kehamilan ibu Lintang saat ini, kemungkinan janin yang ada di dalam rahim ibu Lintang adalah kembar. Karena dari hasil USG, ada dua kantong amnion di sana. Jadi mohon dipantau terus kesehatannya ya pak!".

__ADS_1


Mata Hanan kembali membulat. "Kembar?"


"Iya, pak."


"Alhamdulillah ya Allah atas semua berkah Mu.." lagi, Hanan sujud syukur di lantai.


"Kita, akan punya adik lagi, Pa?", tanya Nana sesaat setelah mendengar ucapan dari dokter.


Hanan tersenyum kemudian memeluk kedua anaknya. "Iya sayang, sebentar lagi kalian akan punya adik".


"Horeeee!!!", teriak Rafif kegirangan.


***


"Pokoknya mulai sekarang, bunda tidak boleh terlalu capek", ucap Hanan sambil menyuapi Lintang di atas ranjangnya.


Lintang mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya. "Iya, ayah!"


"Pokoknya setiap hari, suasana hati bunda harus selalu bahagia!".


"Iya ayah!"


"Pokoknya mulai hari ini bunda tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah".


Lintang mengernyitkan dahi. "Lalu yang akan mengerjakan pekerjaan rumah siapa, yah?".


Hanan menghela nafas dalam. "Kita pakai jasa ART saja ya bun. Aku tidak mau melihat bunda terlalu capek mengerjakan pekerjaan rumah sendiri".


"T-tapi yah_______"


Cup


Sebuah kecupan lembut mendarat di bibir Lintang. "Bunda kalau masih bawel, aku cium lagi nih, mau?!"


Lintang menyeringai. "Uuuuuhhh pastinya mau banget dong, yah!!"


Hanan mencubit gemas hidung Lintang yang tidak terlalu mancung itu. Entah mengapa, rasa cintanya kepada sang istri setiap hari bertambah semakin besar. Apalagi saat ini, saat ada dua nyawa yang sedang bertumbuh di dalam rahim Lintang. Rasanya ia teramat bahagia atas semua karunia ini.


"Bundaaaaaaaa!!", teriak Nana dan Rafif bersamaan kemudian menghambur di sisi Lintang.


Lintang tersenyum kemudian merentangkan kedua tangannya. Dan memeluk kedua anaknya dengan hangat.


"Bunda mau minum?, biar Nana ambilkan ya?", tawar Nana.


"Tidak sayang, bunda tidak haus".


"Bunda mau dipijit kakinya?, biar Rafif yang pijit?", Rafif ikut menawarkan jasanya.


"Tidak sayang, bunda tidak capek".


"Lalu, bunda pengen apa?", ucap Nana pula.


Lintang terlihat sedikit berpikir. "Emmmmmm, bunda pengen dipeluk sama kesayangan-kesayangan bunda ini!!".


Seketika Nana juga Rafif kembali memeluk tubuh Lintang dengan erat. Tak ketinggalan, Hanan yang berada di sisi Lintang pun juga ikut memeluknya. Dan mereka berempat terlihat begitu hangat dalam pelukan itu.


Lintang mendongakkan wajahnya ke arah Hanan. Tanpa basa-basi Hanan mengecup bibir Lintang, yang seketika membuat rasa hangat mengaliri tubuhnya. Lagi, setetes air bening lolos dari pelupuk mata Lintang. Sebuah air mata kebahagiaan atas semua rahmat dan karunia yang telah Allah berikan kepadanya.


Ia tidak pernah menyangka jika jalan hidup yang ia lalui mengantarkannya pada titik ini. Sebuah titik di mana ia sembuh dari semua rasa sakit yang pernah ia rasakan. Sebuah titik yang mempertemukannya dengan seorang laki-laki yang begitu luar biasa mencintainya. Dan sebuah titik di mana ia kembali meneguk arti sebuah kebahagiaan.


Hanan mengusap lembut bibir Lintang. "Aku mencintaimu bunda, sangat mencintaimu".


Lintang menatap teduh dua bola mata Hanan. Diusapnya pipi suaminya itu dengan lembut. "Terima kasih. Aku juga sangat mencintaimu mas..... HANAN......"

__ADS_1


-FIX TAMAT-😘😘


__ADS_2