Titik Balik

Titik Balik
SERATUS TIGA


__ADS_3

Sebuah tenda telah terpasang di depan rumah Lintang. Beberapa kursi telah berjejer dengan rapi. Sebuah meja panjang khusus catering juga sudah siap dengan berbagai aneka hidangan di atasnya. Dan sebuah panggung kecil dengan dekorasi yang nampak simpel namun elegan yang bernuansa putih juga telah siap untuk menjadi saksi dilaksanakannya serangkaian acara hari ini.


Sinar lembut matahari mulai menelusup menembus kain gordyn yang ada di kamar Lintang. Tetesan embun masih sedikit terlihat melekat di atas dedaunan yang membiaskan sinar matahari yang menampilkan sebuah kilauan cahaya yang begitu cantik. Tak lupa, hembusan angin pagi juga terasa begitu sejuk menyentuh kulit, dan membuat kain gordyn itu meliuk-liuk seiring seirama dengan hembusan angin itu.


Lintang tengah duduk manis di depan sebuah cermin. Ia nampak begitu anteng menikmati jemari-jemari MUA yang begitu telaten merias wajahnya.


"Wah mbak Lintang ini punya kulit yang bagus ya. Hampir tidak ada jerawat yang nempel", ucap MUA itu sambil mengoleskan foundation di wajah Lintang.


"Biasa saja mbak".


"Aku yakin, mas suami nanti akan pangling melihat wajah mbak Lintang".


Lintang terkekeh kecil. "Itu berarti yang handal mbak, karena bisa bikin orang pangling"


"Hihhihihi iya juga ya mbak. Tapi aku jamin mbak tidak akan kecewa menggunakan jasa rias pengantin dari saya, karena sudah kondang kualitasnya", jawab MUA itu sambil terkekeh.


"Iya kah mbak?, kualitas seperti apa itu?".


"Ya seperti make-up anti luntur alias tahan seharian, entah itu kena air, keringat dan lain sebagainya. Terus bulu mata anti badai, anti topan, anti gempa dan masih banyak lagi lah".


Lintang tersenyum simpul. "Wahh memang tidak salah pilih aku mbak".


Hampir dua jam penampilan Lintang di permak oleh MUA itu. Dan kini ia telah siap dengan penampilan sempurnanya.


"Alhamdulillah akhirnya selesai juga mbak", ucap MUA itu. "Silakan di lihat hasil akhirnya, mbak", sambung sang MUA pula.


Lintang mematutkan dirinya di depan cermin. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Riasan yang begitu nampak flawless dengan balutan hijab dan kebaya modern warna putih gading yang membuat ia semakin terkesima melihat pantulan dirinya sendiri di dalam cermin itu.


"Terima kasih banyak ya mbak".


"Sama-sama mbak Lintang. Kalau begitu saya keluar dulu ya mbak".


Lintang mengangguk, dan MUA itupun keluar dari kamar Lintang.


"Mashaallah, kamu cantik sekali ndhuk", ucap ibu Ratih tiba-tiba.


Lintang tersentak dengan kehadiran ibunya, kemudian ia sunggingkan senyum tipis di bibirnya. "Terima kasih bu, ibu juga terlihat cantik".


"Bunda, apa Nana sudah seperti princess?", ucap Nana pula yang tak kalah mengagetkan.


Ia kemudian menghambur di pangkuan Lintang, dan menggelayut manja di sana. Lintang pun mengusap pipi Nana yang juga dipoles dengan sedikit make-up. "Anak bunda cantik sekali".


"Bunda juga cantik, seperti ibu peri", ucapnya polos. Lintang dan ibu Ratih hanya terkekeh mendengarkannya.


"Semoga pernikahanmu kali ini langgeng ya ndhuk", ucap ibu Ratih sembari menggenggam tangan Lintang dan matanya terlihat sedikit memerah.


"Aamiin ya rabbal alamiin, Lintang mohon doanya ya bu".


Ibu Ratih menghela nafas panjang. "Sebentar lagi untuk kedua kalinya kamu akan jauh dari ibu, semoga kebahagiaan senantiasa membersamai keluargamu ndhuk".


Lagi, bulir bening lolos dari pelupuk mata Lintang. "Ibu....", ucapan Lintang tercekat di tenggorokannya. Jika seperti ini sungguh kepahitan yang pernah ia rasakan seolah kembali terlintas dalam benaknya. Tak ayal membuat dadanya terasa begitu sesak.


"Mbak Lin?!", panggil Friska yang saat itu juga masuk ke dalam kamarnya.


Friska kemudian memeluk tubuh Lintang yang masih terduduk di depan meja riasnya itu. Air matanya juga menetes. Menjadi saksi atas takdir yang digariskan untuk sang kakak, membuatnya tak sanggup menahan air matanya. "Semoga mbak Lintang berbahagia bersama mas Hanan ya".


Lintang mengusap-usap punggung Friska. "Aamiin, terima kasih dek. Mbak titip ibu ya dek".


Friska pun mengangguk. "Iya mbak".


Seketika suasana kamar Lintang berubah menjadi sebuah keharuan yang luar biasa. Mereka bertiga terlihat menangis bersamaan. Menangis karena haru juga bahagia yang bercampur menjadi satu.

__ADS_1


"Lin, Hanan dan keluarganya sudah datang. Penghulu juga sudah hadir. Setelah ijab-qabul kamu bersiap keluar ya", ucap om Toni menghentikan keharuan yang begitu terasa.


"Baik Om".


Om Toni menghampiri Lintang. "Jangan menangis lagi. Percayalah jika Hanan pasti bisa menjadi imam yang baik untukmu".


"Aamiin, inshaallah om".


***


Saya terima nikah dan kawinnya Lintang Mahendrasti binti Haris Sutikno dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan Al-Qur'an dibayar tunai.


Bagaimana saksi?, sah?


Sah!!!!


Alhamdulillah...


Suara Hanan begitu terdengar jelas melalui microphone yang ada di teras di mana merupakan tempat dilaksanakannya prosesi akad nikah. Tamu tamu undangan yang ada di halaman rumah Lintang juga terlihat begitu khidmad menyaksikan prosesi ijab-qabul itu.


Lintang yang saat ini masih ada di dalam kamarnya terlihat menitikkan air mata. Setelah mengalami berbagai bentuk ujian pernikahan, akhirnya hari ini, untuk kedua kalinya ia mendengar kembali ijab qabul itu dari laki-laki yang berbeda. Yang menjadi tanda hari ini ia resmi menyandang gelar sebagai nyonya Hanan Al-Majid.


"Ndhuk, ayo kita keluar", ucap ibu Ratih meraih tangan Lintang.


Lintang berdiri dan menghapus air matanya, ia tersenyum simpul kemudian mengalungkan lengannya di lengan sang ibu.


Lintang berjalan diapit ibu Ratih juga ibu Nury. Dan Nana juga terlihat berjalan di depan Lintang.


Saat keluar dari pintu, tak henti-hentinya Hanan memandang wanita yang saat ini telah sah menjadi istrinya itu. Ia memandang dengan tatapan penuh takjub. Cantik!!, ya hari ini Lintang terlihat begitu cantik. Senyum pun merekah di bibirnya.


Lintang duduk di samping Hanan. Dengan suasana hati yang dipenuhi dengan kebahagiaan.


Lintang dan Hanan mengangguk bersamaan. "Baik, pak".


"Nah silakan mas Hanan memasangkan cincin kawin di jari mbak Lintang", sambung penghulu itu.


Hanan mengambil cincin berlian yang ada di meja kecil yang ada di depannya kemudian memasangkannya di jari manis Lintang.


"Terima kasih sudah bersedia menjadi istriku, sayang", ucap Hanan lirih.


Lintang mencium punggung tangan Hanan. Kemudian mendongakkan wajahnya. "Terima kasih juga untuk semuanya mas. Bimbing aku, untuk bisa meraih Jannah Nya bersamamu".


"Inshaallah sayang".


Dengan lembut Hanan mengecup kening Lintang. Lagi, air mata jatuh membasahi pipi Lintang. Ada sebuah kedamaian dan kesejukan yang terasa mengalir dalam hatinya..


Untuk kedua kalinya aku memohon, semoga Engkau memberikan keberkahan dalam pernikahanku ini ya Rabb. Semoga ini merupakan pernikahan terakhirku. Dan semoga kelak Engkau mengumpulkan kami di dalam jannah-Mu.


***


Rona bahagia nampak jelas di wajah kedua mempelai. Setelah berganti kostum dari kebaya modern menjadi gaun pengantin dengan model ball gown warna gold, Lintang nampak begitu anggun duduk di atas kursi pelaminan. Di sampingnya duduk lelaki tampan yang saat ini telah sah menjadi suaminya dengan senyum yang tak henti-hentinya mengembang dari bibirnya.


Ya, Hanan begitu bahagia hari ini. Ia tidak pernah menyangka jika penantiannya berakhir begitu indah seperti ini. Lintang Mahendrasti, seorang wanita yang menjadi cinta pertama dan juga cinta terakhir untuknya kini benar-benar bisa ia miliki seutuhnya.


Tak lupa, Nana juga terlihat begitu bahagia duduk dipangkuan laki-laki yang saat ini menjadi ayah sambungnya itu.


"Om ganteng, hari ini Nana seneng sekali", ucap Nana tiba-tiba.


Hanan tersenyum sembari mengusap kepala Nana. "Sayang, mulai hari ini Nana jangan panggil om dengan om ganteng lagi ya".


Nana mengernyit. "Terus Nana harus panggil om ganteng apa?".

__ADS_1


Hanan setengah berpikir. "Ummmm panggil papa saja gimana?".


"Papa?".


Hanan mengangguk. "Iya, papa!".


"Papa ganteng!!".


Hanan dan Lintang pun terkekeh kecil mendengarkan celotehan Nana itu. Mereka kemudian berdiri bersisihan menyalami satu per satu para tamu undangan yang hadir dengan menyisipkan doa, semoga pernikahan mereka sakinah, mawadah, warahmah. Dan lihatlah, Nana masih terlihat menggelayut manja di gendongan Hanan.


Deg!!!!


Tiba-tiba jantung Lintang berdegup kencang, saat melihat seorang lelaki yang berjalan menuju tempat ia dan Hanan berdiri saat ini. Lelaki itu semakin dekat ke arah Hanan. Dan kini tepat berada di hadapannya.


"Ayah?!", ucap Nana seketika saat melihat Agum berada di depannya.


Agum mengulas senyum. "Sayang, hari ini Nana bahagia kan?".


Nana mengangguk. "Iya ayah, karena hari ini Nana punya dua ayah. Ayah Agum sama Papa Hanan".


Agum membelai rambut Nana. "Nana turun dari gendongan papa Hanan dulu ya, ayah pengen bicara sama papa Hanan".


Nana menurut. Ia kemudian turun dari gendongan Hanan dan menghambur ke arah Friska yang ada di dekat meja catering.


Pandangan Hanan dan Agum saling bertaut. Agum kemudian mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Hanan. Dan kini keduanya saling berjabat tangan.


"Selamat atas pernikahanmu, Nan. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah, warahmah", ucap Agum.


Hanan tersenyum. "Aaminn, terima kasih untuk doanya, mas!!"


Agum tersenyum getir dan dadanya tiba-tiba terasa sesak dan ia pun memeluk Hanan. "Tolong jaga Lintang baik-baik, Nan. Jangan pernah kamu sakiti Lintang seperti apa yang sudah pernah aku lakukan terhadapnya".


"Inshaallah aku akan menjaga Lintang baik-baik mas".


Agum mengangguk, masih dengan memeluk Hanan. "Aku titip Nana juga, Nan. Tolong didik dia agar ia tumbuh menjadi anak sholehah dan tolong sayangi ia sama seperti kamu menyayangi anakmu sendiri".


"Pasti mas, aku pasti akan menjaga Nana baik-baik juga".


Agum merenggangkan pelukannya. "Terima kasih, Nan!"


Hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Hanan. Agum bergeser ke arah wanita yang dulu pernah menjadi pendampingnya itu. Di tatapnya wajah Lintang dengan teduh.


Air mata Agum menetes. "Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi dek. Aku hanya bisa mendoakan semoga kamu selalu bahagia bersama Hanan".


Lintang juga berusaha menahan rasa sesak yang tiba-tiba menyerang dadanya. Bagaimana pun juga, Agum adalah laki-laki yang pernah mengisi hari-harinya selama hampir lima tahun lamanya. Sebisa mungkin ia mengulas senyum, meski senyum itu terasa begitu getir. "Aamiin, terima kasih untuk doa-doanya mas. Semoga mas Agum juga selalu bahagia ya".


Agum mengangguk dan tersenyum. Bibirnya terasa begitu kelu. Hingga tak ada lagi yang bisa ia ucapkan di depan mantan istrinya itu. Ia kemudian melangkahkan kaki dan menuju kursi yang memang di khususkan untuk para tamu undangan.


Dari kejauhan Agum mengamati wajah cantik Lintang dengan gaun pengantinnya itu. Ia tersenyum getir. Dengan sebuah gejolak rasa yang begitu menyiksa jiwa. Rasa sesal di dasar hati yang tidak pernah mau pergi.


Kamu pantas mendapatkan ini semua dek. Lelaki yang begitu luar biasa mencintaimu, tulus menyayangimu, yang begitu menghormatimu, dan lelaki yang begitu memanjakanmu. Lihatlah, bahkan untuk pernikahanmu yang kedua ini jauh lebih mewah daripada yang dulu pernah aku hadirkan untukmu. Aku hanya bisa terus berdoa, semoga engkau bahagia selalu.


.


.


. bersambung...


Satu part lagi author sambung besok ya kak.. sekaligus menjadi episode terakhir novel ini. Terima kasih banyak untuk semua yang sudah setia menunggu kelanjutan novel titik balik ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like, juga komentar di setiap episodenya yah.. jangan lupa juga untuk vote, vote, vote biar author lebih semangat lagi untuk menulis. Happy reading kakak...


Salam love, love, love💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2