
"Mbak Lin, ibu mau pipis", ucap ibu Ranti dengan gaya bicara yang sedikit pelo khas seseorang yang menderita stroke.
Lintang yang baru saja selesai menyuapi ibu mertuanya makan siang, kemudian bergegas mengambil pispot yang ia letakkan di bawah ranjang rumah sakit tempat ibu mertuanya terbaring.
"Sebentar ya bu",
Lintang pun mengangkat sedikit b****g ibu mertuanya dan ia letakkan pispot itu tepat dibawahnya. Setelah selesai, Lintang membersihkan di area sensitif ibu mertuanya dan kemudian membuangnya ke closet.
Ya seperti inilah keseharian Lintang. Sudah empat hari Lintang tidur di rumah sakit menunggu ibu mertuanya. Dan selama empat hari itu juga Lintang tidak bertemu dengan Nana. Dan Agum juga jarang menemaninya tidur di rumah sakit. Pulang dari kantor ia memang menyempatkan menjenguk ibunya, namun setelah itu ia pulang.
Lintang mencoba memahami, karena mungkin Agum memang lelah, dan tidak bisa beristirahat dengan tenang jika berada di rumah sakit. Oleh karenanya Lintang tidak pernah protes jika Agum memang tidak bisa menemaninya tidur di rumah sakit.
Prihatin, itulah yang ia rasakan saat menatap wajah ibu mertuanya. Lintang tidak menyangka jika ia akan melihat ibu mertuanya berada di titik paling lemah seperti saat ini. Badannya tidak dapat digerakkan sama sekali. Bicaranya pun juga terkesan kesulitan. Lintang mengurut tangan dan kaki ibu mertuanya menggunakan minyak gosok agar terasa hangat. Tak terasa setetes air mata Lintang pun lolos dari pelupuk matanya.
"Maaf mbak", ucap ibu Ranti lirih.
Lintang tersentak kemudian menghapus air matanya. "Eh kenapa minta maaf bu?"
"Ibu sudah bikin kamu kerepotan, mbak"
Lintang menggeleng dan tersenyum simpul. "Tidak bu, Lintang tidak merasa direpotkan. Ini sudah menjadi kewajiban Lintang. Dan Lintang justru merasa senang karena bisa ikut berbakti kepada ibu"
__ADS_1
Mata ibu Ranti terlihat memerah, kemudian beliau pun ikut menangis.
"Sudah bu, jangan menangis. Yang terpenting sekarang ibu harus punya semangat untuk sembuh ya. Karena dengan semangat itu bisa semakin mempercepat proses kesembuhan ibu", sambung Lintang pula.
***********
Di sebuah warung soto, terlihat Agum dan Reni tengah menikmati makan siangnya. Mereka memang membuat janji untuk bertemu di jam makan siang seperti ini. Entah, apa karena cinta atau apa, sehingga membuat keduanya saling merindu setiap hari dan ingin selalu menghabiskan waktu untuk bersama.
Agum terlihat memasukkan sesendok soto ke dalam mulutnya. "Bagaimana dengan Tomi, sayang?, apa dia masih tinggal serumah sama kamu?",
Reni menyeruput es jeruk yang ada di depannya. "Masih sayang, tapi sumpah aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi dengannya. Justru aku selalu kepikiran oleh kamu, otakku serasa dipenuhi oleh namamu"
Agum terpana mendengar ucapan Reni. Hatinya terasa berbunga-bunga. Tangannya kemudian menggenggam tangan Reni. "Aku juga sayang, aku merasa sudah tidak berhasrat lagi dengan Lintang, setiap aku melakukan kontak fisik dengannya, wajahmu lah yang selalu terbayang dalam pikiranku"
Agum menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya. "Kita jalani seperti ini dulu sayang, tanpa diketahui oleh siapapun"
Reni terlihat memutar kedua bola matanya. "Tapi aku pengennya selalu bareng sama kamu sayang"
Agum tersenyum kemudian mengelus pipi Reni. "Kamu tenang sayang, besok aku akan cari kontrakan kecil di dekat-dekat kantor, dan kita bisa menghabiskan waktu di sana"
"Bener sayang?",
__ADS_1
Agum mengangguk mantap. "Benar dong sayang. Aku akan memilih hidup bersama kamu jika memang kamu sudah benar-benar pisah dari Tomi, tapi jangan sekarang dulu ya...."
"Memang kenapa sayang?"
Agum kembali tersenyum. "Ibuku begitu mencintai Lintang, dan saat ini Lintang lah yang mengurus ibuku yang sedang sakit. Jika saat ini aku bercerai dari Lintang, otomatis kamulah yang akan merawat ibuku, aku tidak mau sayang. Karena jika kamu terlalu sibuk mengurus keperluan rumah dan mengurus ibuku, pasti kamu lupa merawat dirimu sendiri dan pasti akan membuat keindahan tubuh dan kecantikan wajahmu luntur"
Reni semakin bahagia tak terkira. "Jadi menurutmu aku lebih pandai merawat tubuh daripada istrimu itu sayang?
"Itu sudah pasti sayang. Kamu lihat kan bagaimana penampilan Lintang?, dia terlihat jauh lebih tua melebihi usianya, beda sekali dengan kamu, yang semakin tua malah terlihat semakin menggoda", jawab Agum.
Reni terlihat begitu bahagia mendapat pujian dari Agum, tak henti-hentinya ia menyunggingkan senyum tercantiknya. Sedangkan Agum, ia sesekali terlihat tersenyum getir.
Aku tidak tahu kenapa aku menjadi begitu tergila-gila dengan wanita ini. Aku tahu ini salah tapi aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku sudah jatuh cinta untuk kedua kalinya dengan wanita ini. Cinta yang terasa lebih dahsyat dari sebelumnya. Dan membuatku semakin ingin memilikinya, seutuhnya.
.
.
. bersambung
Hai-hai para pembaca tersayang. Terima kasih banyak ya sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar kalian semua yaa... terima kasih..
__ADS_1
Salam love, love, love 💗💗💗