Titik Balik

Titik Balik
DELAPAN BELAS


__ADS_3

Lintang memarkirkan motor matic nya di sebuah apotek. Ia memutuskan untuk mencoba melakukan test pribadi untuk menjawab semua kegelisahannya.


"Siang mbak, mau cari apa?", tanya salah seorang karyawan apotek


"Mau cari testpack mba", jawab Lintang


Karyawan apotek itu memandang Lintang dengan pandangan yang agak aneh. Lintang pun paham dengan maksud karyawan itu.


"Saya sudah menikah mbak", ucap Lintang sambil mengeluarkan buku nikah dari tas yang ia bawa


Karyawan itupun tersentak kemudian tersenyum merasa tak enak


"Maaf ya mbak, oh iya mau testpack merk apa?",


"Hemmm yang biasa orang beli saja mbak", jawab Lintang. Karyawan apotek itu mengangguk.


Tak lama karyawan itupun menghampiri Lintang dengan membawa testpack merk sen****f.


"Untuk cara penggunaannya ada di balik kemasan ya mbak", ucap karyawan itu pula.


"Terima kasih mbak", jawab Lintang


Lintang meninggalkan apotek itu sambil membuang nafas kasar.


Untung aku bawa buku nikah, kalau enggak pasti udah disangka yang bukan- bukan.


*******************


Agum tengah sibuk di atas meja kerjanya setelah selesai mengantar paket. Membuat laporan harian keluar masuk paketan yang ia antar hari ini. Ditemani pak Yono yang turut mengecek ulang.


"Sudah semua pak?", tanya Agum ke pak Yono


"Sudah Gum, semua sudah masuk ke laporan", jawab pak Yono


"Gum, di panggil pak Ibra ke ruangannya tuh", cetus Aan sambil membawa beberapa dokumen di tangannya.


"Ada apa An, kok tumben pak Ibra manggil aku?", tanya Agum heran


"Kurang tau juga aku, udah masuk aja barangkali ada hal penting", jawab Aan.


Agum berdiri dari tempat duduknya, kemudian melenggang pergi. Agum menaiki anak tangga menuju ruangan pak Ibra yang terletak di lantai dua.


Tok..tok...tok... Agum mengetuk pintu ruangan pak Ibra.


"Masuk", jawab seseorang yang ada di ruang itu yang tak lain adalah pak Ibra


"Bapak memanggil saya?", tanya Agum


"Duduk dulu Gum!", perintah pak Ibra


Agum pun mendudukkan tubuhnya di kursi. Dan berhadapan langsung dengan pak Ibra.


"Ada keperluan apa pak?", tanya Agum langsung pada poin utamanya.


"Kamu tau Gum, kalau bulan ini pak Sungsang dipindah tugaskan ke Semarang?", tanya pak Ibra

__ADS_1


"Iya pak, saya sudah mendengar berita itu sejak tiga bulan yang lalu", jawab Agum


"Berhubung saat ini posisi KaOp di kantor wilayah Jogja kosong, maka kamu yang akan menggantikan posisi pak Sungsang, Gum", ucap pak Ibra


"Kenapa saya pak, kenapa bukan yang lain?, di sini yang lebih senior banyak kan?", tanya Agum dengan nada sedikit terkejut


"Ini bukan soal senior atau junior Gum, tapi tentang etos kerja. Saya lihat kamu selama ini seorang pekerja keras, jadi saya mempromosikan kamu untuk naik jabatan, dan kantor pusat menyetujuinya", jelas pak Ibra


"Ini SK kamu Gum, tolong diterima, dan semoga kamu bisa mengemban amanah ini dengan baik", sambung pak Ibra sembari menyerahkan SK kepada Agum.


Agum menerima SK itu. Ia tertegun seolah tidak percaya kalau mulai hari ini ia akan naik jabatan. Dan pastinya kerjaan akan lebih ringan namun tanggung jawabnya akan bertambah semakin besar.


"Selamat ya Gum!", ucap pak Ibra sambil mengulurkan tangannya


"Terima kasih banyak pak", jawab Agum sembari menjabat tangan pak Ibra


Agum keluar ruangan pak Ibra masih dengan perasaan yang kurang percaya. Ia melihat SK yang ada di tangannya. Seberkas senyum terlukis di bibirnya kemudian ia mencium SK itu.


Alhamdulillah wa syukurillah.. ucapnya dalam hati


**********************


Lintang masih sibuk di dalam kamar mandi. Sejak tadi ia hanya membolak- balik kemasan tespack yang ada di tangannya. Bukannya ia tidak mengerti cara menggunakannya tetapi ia masih takut jika telat datang bulannya hanyalah telat biasa dan bukan karena faktor kehamilan.


Lintang pun menarik nafas dalam. Tak perlu berlama- lama lagi pikirnya. Semakin cepat maka akan semakin baik. Ia menampung air seni-nya ke dalam wadah kecil. Ia pastikan alat penguji kehamilan itu tidak terbalik, kemudian ia celupkan ke wadah penampung itu. Sepuluh detik ia celupkan alat itu, kemudian ia tempatkan di tempat yang datar, untuk menunggu hasilnya.


Satu menit berlalu, Lintang melirik ke testpack itu. Betapa terkejutnya ia melihat garis merah yang tadinya hanya ada satu, kini berubah menjadi dua, namun satu garisnya tidak terlihat terlalu mencolok. Tapi ia yakin, bahwa saat ini ia sedang hamil. Ia bergegas keluar kamar mandi


"Alhamdulillah ya Allah", ucap Lintang lirih sambil menempelkan wajahnya ke lantai seperti orang yang tengah sujud.


**********************


Agum kembali ke meja kerjanya dengan perasaan yang bahagia. Rasa terkejut yang ia rasakan di ruang pak Ibra tadi kini berganti menjadi rasa syukur juga bahagia yang tak terkira.


"Ada apa Gum?", tanya pak Yono


Agum tersenyum sambil menunjukkan SK nya. Pak Yono mengamati dengan seksama. Kemudian ia tersenyum.


"Waaahhh selamat ya Gum, akhirnya naik jabatan juga kamu", ucap pak Yono sambil menjabat tangan Agum


"Makasih pak", jawabnya.


"Berkah setelah menikah itu namanya Gum, semoga amanah ya", sambung pak Yono. Agum mengangguk


Karyawan yang lain pun telah mendengar kabar diangkatnya Agum menduduki posisi KaOp, dan mereka mengucapkan selamat kepada Agum atas keberhasilannya.


**********************


"Assalamu'alaikum sayang", ucap Agum ketika sampai rumah


"Wa'alaikumsalam mas", jawab Lintang sambil mencium punggung tangan suaminya


Agum mencium pucuk kepala istrinya tak lupa pipi kanan juga kiri Lintang juga ia kecup. Kemudian melangkahkan kaki menuju kamar pribadi mereka.


"Sayang, mas punya kabar gembira untuk kamu", ucap Agum sambil memeluk tubuh Lintang dari belakang.

__ADS_1


"Apa itu mas?", tanya Lintang sedikit terkejut padahal ia berencana ngasih kabar kehamilannya tetapi malah didahului oleh kabar dari Agum.


"Sebentar", ucap Agum sambil berlari menuju mobil box yang ia parkirkan di halaman mengambil sesuatu. Lintang pun hanya terbengong.


Tak lama kemudian Agum pun kembali ke kamar.


"Ini sayang, bukalah", perintah Agum sambil memberikan amplop cokelat ke Lintang.


Lintang membuka amplop itu. Ia keluarkan isinya. Ada satu lembar kertas yang ada tulisan juga sebuah tanda tangan yang terbubuh di sana. Ia baca dengan teliti, mencoba memahami apa yang tertulis di kertas itu. Bibirnya pun tersungging membentuk sebuah lengkungan senyum.


"I-ini mas Agum naik jabatan kah?", tanya Lintang memastikan. Agum pun mengangguk.


"Alhamdulillah ya Allah", sambung Lintang dengan menitikkan air mata


Agum pun memeluk tubuh istrinya kemudian mengusap air mata Lintang. Sembari memberikan sebuah senyuman manis.


Lintang mencoba merenggangkan pelukan Agum. Ia tatap lekat kedua bola mata suaminya itu.


"Adek juga punya sesuatu untuk mas", ucap Lintang.


Agum mengernyitkan dahinya "Apa itu sayang?"


Lintang mengambil sesuatu yang sejak tadi ada di saku gamisnya, kemudian ia serahkan kepada Agum.


"Apa ini sayang?", tanya Agum sambil menunjukkan testpack ditangannya


"Mas lihat ada berapa garis merah di situ?", tanya Lintang balik


"Dua" jawab Agum


"Iya dua", ucap Lintang membuat penasaran Agum


"Lalu kalau dua kenapa sayang?", tanya Agum gemas


Lintang tersenyum kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Agum


"Kalau garisnya dua, itu berarti sebentar lagi, mas akan jadi seorang ayah",


Mata Agum terbelalak mendengar ucapan Lintang.


"Adek hamil?", tanya Agum memastikan


"Iya mas, adek hamil", jawab Lintang berbinar


Agum kemudian menundukkan tubuhnya. Mencium lantai kemudian mengusapkan tangan ke wajahnya. Setetes air matapun lolos dari kelopak matanya.


"Alhamdulillah atas semua nikmat yang Engkau berikan kepada kami hari ini ya Allah", ucapnya setelah melakukan sujud syukur.


Agum kemudian menghampiri istrinya. Memeluknya dengan erat seolah mengatakan bahwa ia begitu bahagia.


"Terima kasih sayang. Terima kasih kamu bersedia mengandung anak mas. Jaga kesehatanmu sayang", ucap Agum. Lintang pun mengangguk.


Agum meletakkan tangannya ke perut Lintang yang masih datar. Sambil memandanginya dengan lekat


"Baik- baik di dalam perut bunda ya sayang", ucapnya

__ADS_1


***********************


__ADS_2