
Sang malam hadir menggantikan surya yang mulai lelah memancarkan sinarnya. Goresan awan tipis yang terlihat begitu jelas di sela hamparan langit luas dengan bantuan pantulan cahaya bulan. Bintang- bintang pun mulai bermunculan seakan menambah ramainya malam ini.
Lintang juga Agum masih terbaring di atas tempat tidur mereka. Setelah melewati adegan- adegan yang menguras banyak tenaga akhirnya mereka menyerah dengan posisi lemas di atas kasur.
"Sayang, besok mau periksa ke dokter?", tanya Agum sambil memeluk tubuh istrinya.
"Iya mas, besok adek mau cek ke dokter kandungan. Ini pengalaman pertama adek, jadi banyak hal yang harus adek tahu", jawab Lintang.
"Kalau sudah dua bulan ini adek tidak datang bulan dan jika memang itu karena hamil, kenapa adek tidak mual ataupun muntah seperti kebanyakan orang ya dek?", tanya Agum penasaran
"Adek juga kurang paham mas. Tapi berbaik sangka sajalah, barangkali anak di dalam perut adek ini tidak ingin merepotkan bundanya", jawab Lintang.
"Besok mas antar ya sayang", ucap Agum menawarkan
"Baik mas", jawab Lintang singkat.
*******************
"Assalamu'alaikum", ucap seseorang dari arah teras kontrakan Lintang
"Wa'alaikumsalam", jawab Lintang sambil membukakan pintu
Lintang terkejut melihat ibunya sudah ada di depan rumah
"Ibu?!", pekiknya sambil mencium punggung tangan ibunya. Ibu Ratih hanya tersenyum.
"Kok gak ngabari Lintang kalau mau kesini, kan bisa Lintang jemput bu", sambung Lintang protes
"Gak apa-apa ndhuk, ini tadi ibu sekalian dari pasar", jawab ibu Ratih
Lintang mempersilakan ibunya masuk lalu mereka mengobrol di kamar Lintang.
"Ibu Ranti ke mana Lin?", tanya ibu Ratih
"Ada di kamar sama Mimin buk, biasanya jam segini ibu istirahat", jawab Lintang
"Ibu menemui mertuamu dulu Lin, gak enak", ucap ibu Ratih. Lintang pun mengangguk
"Mari Lintang antar bu", tawar Lintang
Ibu Ratih mengekor di belakang badan Lintang. Menuju kamar ibu Ranti. Terlihat kontrakan yang ditempati anak dan menantunya begitu nyaman. Meski tidak terlalu luas tapi sangat apik penataan ruangannya.
Tok..tok..tok.. Lintang mengetuk pintu kamar ibu Ranti.
"Ibu, ini Lintang" seru Lintang
"Iya mbak", jawab ibu Ranti sambil membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
"Loh bu Ratih", ucap ibu Ranti melihat besannya sudah berdiri di balik badan Lintang
"Apa kabar bu?", tanya ibu Ratih sambil berjabat tangan dengan besannya
"Alhamdulilah baik bu, ini pelan-pelan sudah bisa jalan", jawabnya.
"Alhamdulilah, semoga makin membaik ya bu", jawab ibu Ratih.
Lintang, ibu Ratih juga ibu Ranti pun menuju ruang tamu. Mereka berbincang- bincang mengenai berbagai hal menyangkut kehidupan berumah tangga. Banyak wejangan- wejangan yang mereka berikan kepada Lintang, yang pastinya akan sangat bermanfaat untuk kehidupan Lintang ke depannya.
"Lin, bagaimana pernikahan kamu dengan nak Agum?", tanya ibu Ratih sambil menyeruput jus apel nya.
"Alhamdulilah baik bu, mas Agum memperlakukan Lintang dengan sangat baik", jawab Lintang
"Emmmm apa sudah ada tanda- tanda kamu hamil ndhuk?", tanya ibu Ratih tiba-tiba
Lintang pun tersenyum. Karena sejak tadi ia berencana ingin membuat kejutan untuk ibu juga mertuanya, tapi malah sudah ditembak terlebih dulu oleh pertanyaan dari sang ibu.
"Ibu...", ucap Lintang sambil menatap ibu juga mertuanya. Yang ditatap hanya memasang wajah bingung.
"Sebenarnya Lintang sudah isi. Lintang hamil bu", sambung Lintang dengan wajah berbinar.
Ibu juga mertuanya terbelalak, terkejut sekaligus bahagia mendengar kabar dari Lintang.
"Alhamdulillah", ucap ibu Ratih juga ibu Ranti bersamaan. Sembari memancarkan rona wajah yang begitu bahagia.
"Belum bu, rencananya baru nanti sore Lintang mau ke dokter sama mas Agum", jawab Lintang
"Jaga kesehatan ya ndhuk, bagaimanapun juga saat ini kamu sudah diberi amanah sebuah nyawa yang tumbuh di rahimmu, jadi jaga kesehatan untuk dirimu sendiri juga anak yang ada di perutmu", nasihat ibu Ratih
"Iya bu, inshaallah Lintang akan menjaga baik-baik kesehatan Lintang juga anak ini" jawab Lintang sambil mengusap perutnya.
"Apa kamu merasa mual atau pengen muntah- muntah gitu Lin?", tanya ibu Ratih pula
"Alhamdulilah sampai saat ini Lintang tidak mengalami itu bu", jawabnya. Ibu Ratih pun hanya mengangguk.
Obrolan mereka bertiga terhenti ketika Mimin datang memberitahukan bahwa makan siang sudah terhidang di meja makan. Dan mereka pun beranjak menuju ruang makan untuk menyantap menu makan siang yang disiapkan oleh Mimin.
***********************
"Sayang sudah siap?", tanya Agum sambil memakai kemejanya.
"Sudah mas, adek udah siap", jawab Lintang
Agum melenggang keluar menuju mobil box Kemudian bersiap di balik kemudinya. Lintang terbengong
"Loh mas, gak naik motor aja kah?", tanya Lintang
__ADS_1
"Naik mobil aja sayang, kalau naik motor nanti kamu capek", jawab Agum
Lintang pun masuk ke dalam mobil. Duduk di sebelah Agum. Agum menarik pedal gas nya perlahan, kemudian mobil box yang dikendarai Agum pun melaju meninggalkan halaman rumah.
"Adek malu kalau kita pergi naik mobil box?" tanya Agum di tengah perjalanan mereka
"Eh, enggak mas. Tadi itu adek kira kita mau naik motor", jawab Lintang
"Hemmm doain ya sayang, biar mas bisa beli mobil jadi kalau pergi gak pakai mobil kantor ini", ucap Agum
"Aamiin, iya mas adek doain, semoga bisa cepet beli mobil ya", ucap Lintang mengaminkan
Agum kembali fokus dengan kemudinya. Sore ini ia akan mengantar Lintang ke klinik tempat praktek dokter kandungan yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah mereka.
Lima belas menit kemudian akhirnya mereka sampai. Agum memarkirkan mobilnya di pelataran sebuah klinik. Di sana terdapat sebuah plakat dari kayu dengan tulisan Praktek Dokter kandungan dr. Maharsiwi SpOg. Kemudian ia bersama Lintang menuju ruang pendaftaran.
Selesai mendaftar Lintang dan Agum kemudian menunggu di ruang tunggu. Selang setengah jam kemudian akhirnya nomor antrian Lintang dipanggil.
Lintang beserta Agum memasuki ruang praktek dokter itu. Layaknya sebuah ruang praktek, di ruangan itu terdapat berbagai macam alat- alat kesehatan. Mulai dari stetoskop, alat USG, sfigmomanometer (tensimeter), dan masih banyak lagi. Di sana juga terlihat sebuah rak yang terdapat berbagai macam obat di dalamnya.
"Selamat sore bunda, ayah", sapa dokter yang bernama dokter Siwi itu. Dokter dengan perawakan tinggi berkacamata dengan balutan jilbab di kepalanya, yang terlihat begitu ramah.
"Selamat sore dok", jawab Lintang
"Bagaimana bunda, ada yang bisa saya bantu?", ucap dokter Siwi dengan ramah.
Lintang pun menceritakan semua mengenai awal ia melakukan tes menggunakan testpack. Dokter itu pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Mendengar cerita dari bunda, bisa dipastikan saat ini bunda tengah hamil, dan dihitung dari hari pertama haid terakhir, saat ini usia kandungan bunda memasuki tujuh minggu", ucap dokter Siwi. Lintang dan Agum pun berbinar.
"Untuk memastikan silakan berbaring di sini bun", sambung dokter Siwi sembari mempersilakan Lintang berbaring di hospital bed yang ada diruangan itu.
Lintang berbaring. Kemudian dokter Siwi mengoleskan sebuah gel ke perutnya. Kemudian menggunakan alat USG yang langsung tersambung di monitor.
"Nah ini kondisi janin di perut bunda ya bun. Perkembangan janin tujuh minggu memang masih sangat mungil, seukuran buah kersen tapi otaknya sedang berkembang dalam kecepatan yang luar biasa, menghasilkan sel-sel baru setiap menit. Ia juga sedang mulai membentuk gigi, langit-langit mulut, dan sendi", jelas dokter Siwi
Air mata Lintang menetes, ia tidak menyangka melihat secara langsung janin yang sedang bertumbuh di rahimnya. Begitu pun Agum, ia juga tampak berbahagia.
"Tapi kenapa saya tidak merasakan mual seperti kebanyakan ibu hamil ya dok?", tanya Lintang ingin tahu
Dokter Siwi tersenyum "Wanita yang tidak mengalami morning sickness biasanya menjadi tanda bahwa tubuhnya mungkin “istimewa”. Tidak mengalami mual muntah bukan berarti kadar hormonal dalam tubuh tidak normal, namun bisa jadi orang tersebut memiliki kadar hormon yang sedikit lebih rendah bun", jelas dokter Siwi
"Bisa juga hal ini terjadi karena tubuh dapat menolerir kehamilan dengan baik. Selain itu, wanita yang sebelumnya pernah hamil juga mungkin tidak mengalami morning sickness. Bisa jadi ia telah mengalaminya pada kehamilan pertama, sehingga tubuh menjadi sedikit terbiasa dan dapat menyesuaikan", sambungnya pula.
Lintang dan Agum mengangguk tanda mengerti. Dilanjutkan dengan konsultasi kehamilan yang pastinya akan sangat bermanfaat untuk Lintang.
"Bulan depan bunda bisa datang ke sini lagi untuk mengetahui perkembangan janin bunda. Saya jadwalkan sebulan sekali ya bun, nanti kalau sudah menginjak usia 30 Minggu ke atas bisa saya jadwalkan setiap dua minggu sekali", ucap dokter Siwi sembari memberikan resep vitamin untuk Lintang.
__ADS_1
Mereka pun beranjak meninggalkan ruang praktek dokter Siwi.