Titik Balik

Titik Balik
ENAM PULUH LIMA


__ADS_3

Keceriaan terlihat jelas di ruang makan kediaman ibu Ratih malam ini. Lintang, ibu Ratih, Friska, dan juga Nana terlihat sedang menikmati hidangan makan malam ini dengan menu ayam kecap yang terlihat begitu menggugah selera. Sambil sesekali terdengar celotehan dari Nana yang sudah pandai bercerita apa saja.


"Gimana sekolahmu Fris?", tanya Lintang kepada Friska.


Friska meletakkan sendoknya di atas piring. "Lancar mbak, udah mulai ikut ekstrakulikuler juga, jadi sedikit lebih sibuk"


"Sering pulang sore?", tanya Lintang.


"Ya nggak sering sih mbak, ya itu tadi kalau ada ekstrakurikuler pulangnya agak sore", jawab Friska.


Lintang mengangguk. "Ya sudah, yang penting hati-hati saja kalau pas pulang sore. Banyak barengannya juga kan?"


"Iya mbak, yang satu kampung sama kita kan juga banyak yang sekolah di tempatku", jelas Friska. Lintang pun kembali mengangguk.


Pandangan Lintang beralih ke Nana yang tengah asyik menikmati ayam kecapnya sampai belepotan ke mana-mana.


"Sayang makannya kelihatan lahap sekali, enak ya?, tanya Lintang menggoda.


"Iya bunda, ayam buatan nenek enak banget, gurih-gurih nyooiiii, Nana boleh ambil lagi kan?", tanyanya polos.


Yang berada di ruang makan itupun tertawa melihat tingkah laku Nana.


"Gurih-gurih nyooiii itu apa sih sayang?", tanya Lintang penasaran sambil menahan senyumnya.


"Waaahhh bunda ketinggalan zaman. Itu loh bunda, yang jualan tahu bulat yang sering keliling di depan rumah nenek. Tahu bulat digoreng dadakan lima ratusan, gurih-gurih nyoii" jawab Nana sambil menirukan penjual tahu bulat yang sering keliling di depan rumah ibu Ranti.


Celotehan anaknya itu sontak membuat Lintang terbahak. Dan sedikit membuat ia mengalihkan beban pikiran yang tengah ia pikirkan.


Ibu Ratih juga Friska juga terdengar terbahak.


"Ya ampun, di sini keseringan beli tahu bulat, sampai hafal kata-kata promosi dari penjualnya", ucap ibu Ratih sambil geleng-geleng kepala.


**********


"Apa, jadi istrimu sudah mengetahui semuanya mas?", tanya Reni kepada Agum.


Agum mengacak rambutnya kasar. "Iya Ren, baru kemarin dia mengetahuinya, bahkan aku sempat menamparnya"

__ADS_1


Reni tersenyum tipis. "Bagus itu, kamu memang harus sedikit lebih keras terhadapnya mas, agar dia tidak berani mengganggu privasi mu!! "


Agum hanya menggeleng. Menjadi tanda bahwa ia tidak paham langkah apa yang harus di ambil. Ia memang merasa teramat bersalah kepada Lintang tapi hatinya juga berat ke Reni.


"Apa kita sudahi saja Ren hubungan kita ini?", ucap Agum.


Mata Reni terbelalak mendengar pertanyaan dari Agum. "Apa?!!, kamu mau kita mengakhiri ini semua mas?".


Agum masih terdiam tak menjawab sepatah katapun.


Reni mendekat ke arah Agum, dan menyandarkan kepalanya di pundak Agum. "Aku tidak mau mas, kamu juga bilang kan kalau kamu begitu mencintaiku, dan hanya aku yang bisa membahagiakanmu?"


"Lalu aku harus bagaimana Ren?", tanya Agum frustasi.


Reni menggenggam tangan Agum dengan erat. "Kau bilang akan memperjuangkan cinta kita kan mas?, dan kau juga bilang kalau kita akan hidup bersama di masa depan nanti?"


Agum membuang nafasnya kasar. Ia merasa begitu kalut. Reni seolah mengerti kekalutan Agum. Ia kemudian memeluknya.


"Ayo kita berjuang sama-sama untuk cinta kita mas. Untuk sementara kita tetap seperti ini dulu. Atau kalau perlu aku menjauh dulu dari kamu. Dan kamu coba untuk meyakinkan Lintang, bahwa kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi" ucap Reni memberi usul.


Agum terlihat berpikir keras. Ada benarnya juga yang ucapkan Reni. Agum paham jika Lintang pasti akan kembali percaya kepadanya jika ia berusaha merubah sikapnya lebih manis di depan Lintang.


*********


Tok.. tok... tok....


Ibu Ratih berjalan ke ruang tamu kemudian membukakan pintu.


"Nak Agum?", ucap ibu Ratih


Agum mencium punggung tangan ibu mertuanya. "Selamat malam bu, dek Lintang sama Nana sudah tidur bu?"


Bu Ratih semakin yakin bahwa telah terjadi sesuatu antara Lintang dengan menantunya itu.


"Ayo masuk dulu nak!", ucap ibu Ratih mempersilakan. Agum pun mengekor di belakang ibu mertuanya. Ia Kemudian duduk di kursi ruang tamu.


"Lintang sama Nana sudah tidur, nak. Apa mau ibu bangunkan?", tawar ibu Ratih.

__ADS_1


"Boleh bu?", tanya Agum.


Ibu Ratih mengangguk. "Sebentar ya nak, biar ibu bangunkan Lintang", ucap ibu Ratih sambil melenggang ke kamar Lintang.


Agum memperhatikan sekeliling ruang tamu rumah ibu mertuanya. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah bingkai foto yang ada di sudut ruangan itu. Ya, foto yang tiga tahun yang lalu di ambil sesaat setelah berlangsungnya akad nikah di rumah ini. Tanpa sadar air mata Agum menetes.


Maafkan aku dek, aku telah terjebak oleh masa laluku yang sangat sulit untuk aku lepaskan. Aku akan tetap mempertahankanmu namun aku juga tidak akan melepaskan Reni.


Agum segera menghapus butiran air matanya setelah melihat Lintang dan ibu Ratih berjalan ke arahnya.


Lintang hanya tersenyum kecut melihat kedatangan Agum. Ia kemudian duduk di hadapan Agum begitu pula dengan ibu Ratih.


Suasana hening yang tercipta hanya detikan jarum jam yang terdengar begitu jelas di ruangan itu. Ibu Ratih semakin yakin, bahwa Lintang dan Agum sedang bersitegang.


"Ndhuk, ibu tidak tahu apa yang sedang terjadi antara kamu dengan nak Agum. Tapi ibu minta tolong segera diselesaikan, kasihan Nana jika melihat ayah dan ibunya seperti ini"


Lintang tersentak. Benar saja, jika terlalu lama seperti ini pasti akan berdampak buruk untuk Nana.


"Dek, kita pulang yuk?!", ucap Agum


Lintang menoleh ke arah ibunya, bermaksud meminta pendapat. Ibu Ratih pun tersenyum dan mengangguk. "Pulanglah bersama nak Agum, ndhuk. Selesaikan masalah yang tengah kalian hadapi, biarkan Nana di sini terlebih dahulu"


"Kami pamit ya bu", ucap Agum sambil berdiri, diikuti oleh Lintang.


Agum mencium tangan ibu mertuanya kemudian keluar. Sedangkan Lintang terlihat masih berada di dalam rumah.


Ibu Ratih tersenyum. "Yang sabar ya ndhuk, setiap rumah tangga pasti akan ada ujiannya masing-masing. Tapi ibu yakin, semua ada jalan keluarnya. Kamu harus kuat ndhuk"


Lintang mengangguk pelan. "Inshaallah bu"


.


.


. bersambung


Hai-hai para pembaca tersayang. Terima kasih banyak ya sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar kalian semua ya.. terima kasih...

__ADS_1


Salam love, love, love💗💗💗


__ADS_2