
Agum juga Lintang terlihat sedang berbaring di atas ranjang. Setelah menyantap siomay spesial dari Agum tadi, mereka melanjutkan obrolan mereka di atas tempat tidur . Seperti biasa mereka saling bercengkerama hangat dan melakukan pillow talk untuk semakin mengeratkan lagi hubungan juga komunikasi diantara mereka.
Lintang memeluk tubuh Agum dengan posisi miring saling berhadapan. Bagi Lintang dada Agum merupakan tempat paling nyaman. Di sana ia merasakan sebuah kebahagiaan dan kehangatan yang tak terkira. Sebuah kebahagiaan yang ingin ia miliki selamanya.
Agum meraih pergelangan tangan Lintang. Dan menyusuri jemarinya. Ia terkejut karena melihat ada plester yang membungkus jari telunjuk istrinya itu.
"Loh, ini kenapa sayang?", tanya Agum sambil memperhatikan jari Lintang
Lintang hanya tersenyum tipis "kena pecahan gelas mas"
Agum menatap Lintang dengan sorot mata penuh tanya "pecahan gelas?, kok bisa sayang?, gimana ceritanya?"
"Tadi sebelum aku menghubungi mas, tiba-tiba gelas yang aku pegang terjatuh mas, dan pecah seketika. Nah pas aku mau bersihkan, telunjukku ini terkena serpihan beling itu", jawab Lintang
Deg!!!
Jantung Agum tetiba berdegup tak beraturan. Mungkinkah gelas yang pecah itu sebagai firasat buruk yang dirasakan oleh Lintang saat ia berciuman dengan Reni di taman kota tadi?, ataukah hanya sebuah kebetulan semata?,
Agum memandang dinding dengan pandangan kosong. Perasaan bersalah menyelimuti hatinya karena ia telah bersikap yang tidak semestinya dilakukan oleh seorang laki-laki yang telah beristri.
Maafkan atas apa yang sudah aku lakukan tadi sayang, aku janji, ini terakhir kalinya aku berhubungan dengan Reni. Setelah ini aku akan menjaga jarak juga menjaga hubunganku dengannya agar tidak terlalu dekat. Maafkan aku yang sempat berhianat sayang.
Mata Agum terlihat berkaca. Dalam dadanya masih bergejolak sebuah rasa bersalah yang berkobar dan menghanguskan perasaannya. Tak ia sadari air matanya pun menetes perlahan.
"Loh, mas kenapa menangis?", tanya Lintang ketika melihat air mata Agum membasahi pipinya.
"Eh?", Agum tersentak. "Enggak apa-apa sayang. Mas cuma merasa ikut merasa sedih melihat kamu terkena pecahan gelas itu", jawab Agum berbohong.
Mata Lintang berbinar melihat kesedihan yang Agum rasakan. Itu pertanda jika suaminya itu begitu mengkhawatirkannya.
Lintang mengecup pipi Agum "mas tidak perlu khawatir, ini tidak terlalu sakit kok mas. Besok pasti sembuh"
"Tapi mas begitu cemas sayang", ucap Agum berbohong lagi.
"Ini gak apa-apa mas. Dengan adanya mas di sisiku saja bisa menjadi obat dari rasa sakit ini", ucap Lintang sambil menunjukkan telunjuknya yang terbungkus plester.
Agum memeluk tubuh Lintang dengan erat. Ia begitu bersyukur memiliki seorang istri seperti Lintang. Lintang tak pernah menuntut apapun di luar kemampuannya, dan hal sekecil apapun yang diberikan olehnya pasti selalu diterima Lintang dengan penuh rasa syukur. Dan tadi, ia sempat bermain api dengan Reni? sungguh itulah kesalahan terbesar yang ia buat.
"Mas?", panggil Lintang
__ADS_1
"Ya sayang?"
"Mas gak laper kah?, dari tadi aku belum lihat mas makan", tanya Lintang
"Mas memang belum makan sayang, tapi mas udah merasa kenyang", jawab Agum
Lintang memutar bola matanya "kok bisa seperti itu mas?"
Agum memandang lekat wajah Lintang dan mengangkat dagu istrinya itu. "Kenyang oleh cinta dan kasih sayang dari kamu sayang"
"Iihhhh mas sukanya gombal loh", ucap Lintang dengan wajah yang sudah memerah.
"Gombalin istri sendiri kan gak salah sayang. Dapet pahala lagi, hehehe", jawab Agum.
"Tapi aku kan jadi malu mas", ucap Lintang tersipu.
"Ya daripada aku gombalin istrinya tetangga, hayooo", jawab Agum menggoda.
"Awas aja ya mas kalau kamu berani gombalin istri tetangga, aku sunat kamu untuk kedua kalinya", ucap Lintang memberikan ancaman.
"Aaaaaawwww takuuttttt, hahahaha!!!", timpal Agum mengejek. Lintang pun juga ikut terbahak
"Sudah larut malam sayang, tidurlah", ucap Agum lirih. "Selamat tidur sayang, mimpi indah ya", sambung Agum. Lintang mengangguk.
"Selamat tidur juga mas", ucap Lintang sembari mengeratkan pelukannya di tubuh Agum.
**************
Matahari mulai menampakkan wajahnya. Sedikit awan tipis menghiasi langit di pagi hari ini. Diiringi dengan kicauan burung yang terdengar nyaring, seolah membuat siapapun bersemangat melakukan aktifitas di pagi ini.
"Sayang, mas berangkat kerja dulu ya", ucap Agum berpamitan.
Lintang meraih tangan Agum dan mencium punggung tangannya. "Iya mas, hati-hati di jalan ya, semoga pekerjaan mas hari ini lancar"
"Aamiin sayang", jawab Agum sambil mencium kening isterinya. "Ayah berangkat kerja dulu ya nak, baik-baik di perut bunda ya", sambung Agum sambil mencium dan mengusap perut Lintang.
Agum melangkahkan kakinya menuju mobil box yang sudah terparkir di depan kontrakannya. Ia duduk di balik kemudi, menyalakan mesin mobilnya kemudian menarik pedal gas nya pelan. Perlahan bayangan Agum pun mulai menghilang dari pandangan Lintang.
Lintang masuk ke dalam untuk mengambil cucian yang ia keringkan di mesin cuci. Kemudian membawanya keluar untuk dijemur di halaman depan.
__ADS_1
"Sibuk nyuci ndhuk?", tanya Budhe Yani yang terlihat sedang menyapu halaman rumahnya.
"Ini tinggal jemur saja kok Budhe", jawab Lintang.
"Ndhuk, mas Agum punya waktu luang ndak?", tanya Budhe Yani tiba-tiba.
"Ada apa Budhe?, apa ada perlu sama mas Agum?", tanya Lintang balik.
Budhe Yani hanya tersenyum tipis "budhe mau minta tolong suamimu untuk melihat bapak mertua budhe ndhuk",
"Melihat?, maksudnya gimana itu budhe?", tanya Lintang penasaran.
"Gini ndhuk, bapak mertua budhe itu umurnya sudah tua sekali, tapi masih terlihat sangat bugar. Pernah kritis karena penyakit jantungnya tapi sampai sekarang masih bertahan. Berkali-kali jatuh pun tapi masih tetap punya kekuatan penuh", jawab budhe Yani.
Lintang mencoba mencerna ucapan budhe Yani. "Bukankah seharusnya malah bersyukur ya budhe, karena simbah masih diberikan kesehatan dan kekuatan di umur beliau yang telah senja ?", akhirnya pertanyaan itu lolos juga dari mulut Lintang.
Budhe Yani malah terkekeh "iya ndhuk, budhe sangat bersyukur di usia yang sudah terlampau sepuh itu bapak mertua budhe masih sehat. Tapi budhe cuma takut kalau beliau punya cekelan yang mungkin malah membuatnya tersiksa menjalani hari tuanya"
"Cekelan?, maksudnya apa itu budhe?", tanya Lintang makin penasaran.
"Namanya orang zaman dulu ndhuk, mereka sering menggunakan sesuatu untuk membuat tubuh mereka lebih kuat. Mungkin mereka menggunakan sesuatu yang ia percayai bisa menambah kekuatan dalam dirinya", jawab budhe Yani.
"Semacam jimat seperti itukah budhe?", tanya Lintang pula.
"Ya mungkin semacam itu ndhuk, tapi budhe juga tidak begitu paham. Maka dari itu mau budhe tanyakan sama suami kamu", jawab budhe Yani.
Lintang pun mengangguk tanda mengerti. "Baiklah budhe, nanti Lintang sampaikan ke mas Agum ya"
"Terima kasih ndhuk!", ucap budhe Yani
.
.
.
. bersambung
Hai-hai para pembaca tersayang. Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak like, komentar, vote juga rate bintang lima nya yaa... terima kasih...
__ADS_1
Salam love, love, love 💗💗💗