Titik Balik

Titik Balik
EMPAT PULUH DUA


__ADS_3

Agum memberhentikan mobil box yang ia kendarai di depan gerobak penjual siomay yang ada di pinggir jalan yang ia lewati. Meski hanya menggunakan gerobak, siomay ini selalu ramai oleh para penikmat makanan asli kota Bandung itu. Selain enak, harganya pun juga murah meriah jadi sesuai dengan biaya hidup kota Jogja yang terkenal begitu terjangkau ini.


"Mari silakan mas!, mau pesan berapa?", tanya akang-akang penjual siomay itu dengan ramah.


"Pesan tiga porsi ya mas. Ndak usah pakai pare, juga tahu. Cukup siomay, kentang, sama kol nya saja", jawab Agum


Penjual siomay itu pun mengangguk "siap mas!, mohon ditunggu sebentar"


Agum duduk di kursi plastik yang tersedia di sisi gerobak itu. Beberapa kursi terlihat berjejer di sana yang memang sengaja disediakan untuk para pembeli yang sedang menunggu pesanannya.


"Kok tumben antriannya gak banyak mas?", tanya Agum basa-basi


Penjual siomay itu pun hanya tersenyum kecil "ini sudah hampir jam sembilan malam mas, ini kita sudah siap-siap untuk closing juga"


Agum melihat jam tangannya. Benar saja ini hampir jam sembilan malam, jadi wajar jika tidak ada antrian di penjual siomay itu.


"Tapi tidak perlu khawatir mas, pesanan mas masih tersedia kok, hehehe", sambung penjual siomay itu.


Agum ikut tertawa kecil. Tak lama kemudian pesanan Agum pun jadi. Tiga porsi siomay lengkap dengan bumbu kacang diserahkan kepada Agum.


"Terima kasih mas, selamat datang kembali", ucap penjual siomay itu. Agum pun mengangguk. Ia melangkahkan kaki ke mobil box nya, kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.


************


Tok... tok.. tok.. "Assalamualaikum"


Lintang mendengar suara pintu diketuk. Ia yang sedari tadi menunggu kepulangan Agum berlari kecil menuju ruang tamu kemudian membukakan pintu untuk Agum.


"Wa'alaikumsalam mas!!" , seru Lintang sambil memeluk Agum dengan tiba-tiba. "Mas darimana saja sih mas?, kenapa pulangnya lama sekali?", tanya Lintang beruntun.


Agum hanya tersenyum kikuk. Ia merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan bersama Reni tadi.


"Sayang, masuk dulu yuk, masak kita mau lama-lama berdiri di depan pintu seperti ini?", ucap Agum

__ADS_1


Lintang melepaskan pelukannya "hehehe maaf ya mas, saking khawatirnya aku sama mas, jadi kayak gini deh"


Agum menggandeng tangan Lintang dan membawanya ke dalam. Diletakkannya siomay yang ia beli tadi di atas meja makan.


"Ibu sama Mimin udah tidur sayang?", tanya Agum sambil membuka jaket yang ia kenakan.


"Sudah mas, ibu sudah dari jam tujuh tadi beristirahat", jawab Lintang. "Itu apa mas?", tanya Lintang melihat kantong plastik yang tadi diletakkan Agum di atas meja makan.


"Siomay sayang. Punya ibu sama Mimin ditaruh di kulkas saja biar besok bisa dipanasin. Punya kamu mau dimakan sekarang atau besok sayang?", tanya Agum.


Mencium aroma ikan tengiri yang merupakan komposisi utama siomay dan bumbu kacang yang terlihat begitu jelas di balik kantong plastik yang transparan, membuat air liur Lintang seolah ingin keluar. Wajahnya pun berbinar.


"Aku mau makan sekarang mas!", jawab Lintang mantap.


Agum tersenyum "ya sudah sekarang kamu duduk di sini, biar mas yang nyiapin untuk kamu sayang" ucap Agum sambil mendudukkan tubuh Lintang di atas kursi makan.


Agum mengambil piring, sendok, juga garpu dari dalam rak. Ia letakkan siomay yang tadi ia beli kemudian ia tuang di atasnya dengan bumbu kacang.


Agum duduk di samping Lintang. Ia potong siomay itu menjadi potongan-potongan kecil agar lebih mudah masuk ke dalam mulut Lintang. Agum menyuapi Lintang dengan pelan, seolah menandakan betapa ia mencintai istrinya itu.


"Kamu itu istriku sayang, jadi sudah sepatutnya aku memperlakukan kamu seperti ini", jawab Agum


"Terima kasih banyak suamiku", ucap Lintang sambil mengecup pipi Agum.


Agum tersenyum kecil. Sesaat sebelumnya pipinya itu telah disentuh oleh bibir Reni, dan kini bekas sentuhan bibir Reni yang masih tertinggal dalam ingatannya seolah dihapus oleh kecupan dari Lintang.


"Hemmmm ini enak sekali mas. Ikan tengirinya kerasa banget sama bumbu kacangnya juga mantap banget!!", seru Lintang dengan mata berbinar.


"Kamu suka sayang?", tanya Agum.


"Iya mas, suka banget", jawab Lintang.


Agum pun memperhatikan wajah istrinya yang begitu bahagia hanya dengan satu porsi siomay pemberiannya. Ia semakin merasa bersalah atas apa yang tadi telah terjadi bersama Reni. Seutas senyum pun tersungging di bibir Agum.

__ADS_1


"Mas kenapa ngeliatin aku seperti itu?, apa bumbu kacangnya belepotan di mulutku?", tanya Lintang penasaran sambil mengusap area mulutnya.


Agum terkekeh "enggak sayang, gak ada yang belepotan kok. Mas cuma sedang banyak bersyukur memiliki seorang istri yang istimewa seperti kamu ini"


Seketika wajah Lintang bersemu merah. Antara malu juga bangga karena suaminya melontarkan sebuah pujian kepadanya 😂.


"Aaahh mas ini bisa aja bikin aku besar kepala seperti ini", ucap Lintang malu.


"Lah memang benar sayang, kamu itu adalah wanita yang sempurna yang aku miliki", lanjut Agum.


"Iiiiihhhhh sudah lah mas, bisa-bisa kepalaku ini tambah besar mas, hehehe!", jawab Lintang sambil terkekeh.


Agum melanjutkan suapannya. Satu per satu potongan siomay itu masuk ke mulut Lintang hingga habis tak bersisa dan hanya menyisakan piring, sendok dan garpunya saja.


"Alhamdulillah, kenyang aku mas!, makasih banyak untuk siomay nya ya mas", ucap Lintang


"Iya sayang, bareng-bareng" jawab Agum


"Eh bareng-bareng?, maksudnya gimana mas?"


"Maksudnya sama-sama sayang, itu loh kayak yang main di sinetron tukang ojek prapatan hehehe", jawab Agum asal


"Hahahaha mas ini ada-ada saja, itu yang namanya bang Judin, yang bekerja sebagai tukang bersih-bersih kos-kosan sama yang sering bantuin emaknya nyetrika baju itu kan?", sambung Lintang


"Hahahaha nah itu kamu tahu yank!", jawab Agum terbahak.


.


.


. bersambung


Hai-hai para pembaca tersayang.. jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, vote, juga rate bintang nya yaaa... terima kasih...

__ADS_1


Salam love, love, love 💗💗💗


__ADS_2