Titik Balik

Titik Balik
DUA PULUH TIGA


__ADS_3

Terik sinar matahari masih terasa begitu menyengat kulit. Namun sama sekali tidak membuat orang- orang di luar sana memilih untuk berdiam diri di rumah. Mereka tetap saja memadati jalanan kota Jogja dengan kendaraan mereka masing-masing untuk menghabiskan weekend ini.


Lintang dan Agum terlihat masih terjebak dalam kemacetan di salah satu jalan protokol di kota Jogja. Terlihat jam di handphone nya menunjukkan pukul tiga sore.


"Mas, kita mampir masjid dulu ya, udah masuk waktu Asar nih", ucap Lintang


"Oke sayang. Seratus meter setelah lampu merah ada masjid kok, kita nanti sholat di sana", jawab Agum.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di pelataran sebuah masjid. Lintang dan Agum bersegera mengambil air wudhu kemudian melaksanakan sholat Asar.


Empat rakaat telah selesai mereka tunaikan. Lintang memilih duduk di bangku yang terbuat dari semen yang ada di halaman depan masjid itu, sambil menikmati semilir angin yang terasa begitu sejuk.


"Minum sayang?", ucap Agum sambil menyodorkan air mineral ke arah Lintang.


"Makasih mas", jawab Lintang sembari menerima botol dari Agum.


"Sayang capek, setelah muter-muter supermarket tadi?" " tanya Agum


"Hehehe enggak mas, cuma kaki rasanya pegel aja. Gak kerasa kita udah muter- muter hampir tiga jam", jawab Lintang sambil terkekeh.


"Oh iya sayang, minggu depan mas Danang mau ke Jogja. Jadi selama mas Danang di Jogja, gak apa-apa kan kalau tinggal di kontrakan kita?", tanya Agum


"Iya mas gak apa-apa. Mas Danang kan saudara kita, jadi sudah seharusnya tinggal di tempat kita", jawab Lintang.


*******************


Mobil yang dikendarai oleh Lintang juga Agum memasuki halaman rumahnya. Mereka sedikit terkejut melihat beberapa orang yang sudah ada di depan teras rumah mereka. Dari beberapa orang itu Joni juga Candra ada di antaranya. Dan yang menarik perhatian mereka, ada anak yang berumur kisaran satu tahun yang tidak henti-henti menangis.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum mas, kakak ipar", sapa Joni ketika Lintang juga Agum melintas di teras.


"Wa'alaikumsalam Jon", jawab Agum


"Maaf mas, ini ada orang mau minta tolong", ucap Joni sambil menunjuk tiga orang yang ada di depannya.


"Oh iya, mari silakan masuk dulu pak, bu", ucap Agum mempersilakan.


Lintang, Agum, dan juga tamunya masuk ke dalam. Karena mengetahui ada tamu yang sedang berkepentingan dengan suaminya, Lintang pun memilih untuk ke kamar.


"Ada yang bisa saya bantu, pak, bu?", tanya Agum kepada tamunya.


"Begini mas, anak saya ini sudah tiga hari ini rewel. Maksud saya, setiap memasuki waktu maghrib selalu menangis. Padahal posisi perut kenyang. Tapi selalu saja menangis. Dan bisa sampai dua jam baru berhenti mas", jelas tamu Agum. Anak yang ada di gendongannya pun juga masih terlihat menangis.


Agum memperhatikan tubuh anak itu. Kemudian ia hanya tersenyum. Ia langkahkan kakinya ke arah anak itu. Sambil mengangkat kudua tangannya seperti orang yang sedang berdoa dan membaca sesuatu, kemudian ia usapkan tangannya ke wajah anak itu sembari meniup ubun-ubunnya.


"Itu biasa terjadi pada anak seusia adik ini pak. Di usia seperti ini penglihatan mereka jauh lebih peka", jawab Agum


"Maksudnya seperti apa ya mas?", tanyanya pula


Agum tersenyum "Anak bapak melihat makhluk yang tidak bisa orang lain lihat pak. Tapi tenang saja, makhluk yang ia lihat tidak menimbulkan sesuatu yang buruk kok, mungkin hanya adik ini sering menangis tanpa sebab di jam-jam tertentu. Tapi saya sudah mencoba menutup penglihatannya jadi Inshaallah ia tidak akan melihat makhluk itu lagi"


"Jadi saya harus melakukan apa mas?", tanya laki-laki itu.


"Tidak perlu melakukan apa-apa pak, setelah saya tutup penglihatannya Inshaallah anak bapak tidak akan pernah melihat makhluk itu lagi. Dan kalau bisa, menjelang maghrib, adik ini di bawa ke dalam rumah ya pak sambil digendong atau dipangku, jangan dibiarkan berada di luar rumah", jelas Agum.


Lelaki itupun mengangguk. Kemudian ia mengambil amplop dari saku jaket nya kemudian diberikan kepada Agum sebagai ucapan terima kasih. Tak lama setelahnya, tamu Agum itupun pamit undur diri. Sedangkan Joni dan Candra tetap berada di kediaman Agum.

__ADS_1


"Waahh sekarang makin laris ya mas buka prakteknya, hhehehe", ucap Joni sambil terkekeh.


"Hahahaha kamu ini Jon", jawab Agum singkat sambil tertawa.


"Dek, tolong bikinkan minum buat Joni juga Candra ya", teriak Agum dari ruang tamu kepada Lintang.


Tak lama kemudian Lintang pun datang dengan membawa sebuah nampan yang terdapat tiga gelas teh hangat di atasnya.


"Apa kabar kakak ipar?", tanya Joni


"Alhamdulillah baik mas Jon", jawab Lintang


"Kok kelihatan capek banget mbak Lin, emang tadi dari mana?", tanya Candra


"Ke supermarket mas Can, belanja kebutuhan bulanan", jawab Lintang


"Sama cari susu untuk ibu hamil Can", timpal Agum tiba-tiba.


"Waaaaahhh kakak ipar hamil?", tanya Joni sedikit terkejut. Lintang pun hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Selamat ya mbak Lin, jadi bentar lagi aku bakalan punya keponakan", seru Joni


"Doain ya Jon, Can, biar mbak juga bayi dalam kandungannya ini sehat, udah jalan dua bulan usianya", ucap Agum sambil mengelus perut Lintang.


"Aamiin, semoga sehat selalu ya mbak Lin", ucap Candra.


Mereka pun larut dalam obrolan hangat. Sambil membahas rencana kedatangan Danang minggu depan. Obrolan mereka pun terhenti ketika terdengar suara adzan maghrib menggema.

__ADS_1


__ADS_2