Titik Balik

Titik Balik
SEMBILAN PULUH


__ADS_3

Agum mengeluarkan pakaian-pakaian nya dari dalam lemari. Satu per satu ia mulai menyusunnya masuk ke dalam koper. Tak lupa, sebuah bingkai foto kecil juga masuk ke dalam koper itu. Matanya memanas saat ia melihat foto dalam bingkai itu. Sebuah foto dengan gambar Agum, Lintang, dan Nana yang sedang berlibur ke kebun binatang saat Nana berusia dua tahun. Sebuah foto yang menggambarkan betapa dulu hidupnya begitu bahagia bersama istri dan anaknya itu. Dan kini bisa jadi semua hanya akan menjadi sebuah kisah yang hanya layak untuk sekedar dikenang. Dan pastinya tidak akan pernah kembali terulang.


Lagi, setetes air bening lolos dari pelupuk mata Agum. Lihatlah, saat ini ia benar-benar berada di titik penyesalan paling dalam. Akibat keserakahannya, membuat hidupnya hancur seperti ini. Memang benar apa yang di katakan di dalam ajaran agamanya. Jika kita senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah Allah beri, maka Allah akan menambah nikmat itu lagi. Namun jika kita kufur, maka adzab lah yang akan menanti.


Inilah buah dari kekufuran Agum selama ini. Ia tidak pandai bersyukur memiliki seorang istri seperti Lintang dan malah justru rela menukarnya dengan seorang wanita seperti Reni. Berkali-kali ia mengusap wajahnya kasar dan memukul-mukul dadanya berusaha menghilangkan sesak yang teramat menyiksa jiwa.


"Sudah siap semua Gum?", tanya Danang.


Agum mengangguk. "Inilah waktunya untuk aku melepaskan semuanya mas". Agum menghela nafasnya dalam. "Melepaskan semua untuk kebahagiaan istriku".


Danang menghampiri Agum dan menepuk-nepuk pundaknya. "Biarkan Lintang bahagia dengan jalannya Gum, karena dia memang layak untuk bahagia".


Agum mengusap air mata yang membasahi di pipinya. "Iya mas. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menebus semua dosa-dosaku yang telah aku lakukan terhadapnya, selain pergi dari kehidupannya dan melepaskannya".


Danang mengangguk. "Sudahlah Gum, percayalah jika ini semua memang yang terbaik untukmu juga untuk Lintang".


"Gak usah lebay deh. Bukankah ini yang kamu inginkan mas?", sahut seseorang yang tak lain adalah Reni.


Agum dan Danang menatap Reni dengan tatapan tajam.


Reni tersenyum sinis. "Akhirnya aku lah yang jadi pemenangnya, dan istrimu itu kalah telak".


Mata Danang membulat. "Apa yang ada di otak kamu itu hanya ada menang dan kalah saja?, apakah kamu tidak pernah menyesali akan perbuatan yang sudah kamu lakukan?!!"


Reni masih tersenyum dengan sinisnya. "Aku tidak peduli mas, yang terpenting saat ini aku sudah mendapatkan apa yang seharusnya aku miliki. Dan aku pasti akan hidup bahagia bersama mas Agum di Surabaya nanti".


Danang hanya memandang Reni dengan tatapan penuh tanda tanya. Melihat watak Reni, Danang tidak percaya jika wanita itu mau diajak hidup susah. Padahal nanti di Surabaya posisi Agum hanya sebagai cleaning service, bukan sebagai atasan lagi. Dan sampai saat ini Reni belum tahu akan hal itu.


Danang menghembuskan nafas kasar. "Terserah apa katamu saja Ren!!"


Reni tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Agum hanya menatapnya dengan tatapan nanar.


Apa yang selama ini membutakan mataku ya Allah, hingga aku bisa menukar sebuah berlian dengan batu kerikil seperti ini??


"Gum, ayo kita berangkat sekarang. Taxi online kita sudah menunggu di depan", ucap Danang.


"Baik mas, sebelum ke terminal, kita ke rumah Lintang dulu. Aku ingin melihat istri dan anakku untuk terakhir kalinya. Dan tentunya untuk membuka jalan kebahagiaan untuk Lintang".


Agum melangkahkan kakinya perlahan hingga sampai ke taxi online yang telah menunggu di halaman kontrakannya. Danang dan Reni sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Sedangkan Agum masih berdiri terpaku di samping pintu mobil. Ia tetap lekat rumah kontrakan yang ada di depan matanya itu. Kenangan itu kembali berputar dalam ingatannya. Sebuah kebahagiaan yang selalu ia rasakan saat bersama istri dan anaknya dan kini hanya tinggal menjadi sebuah cerita yang telah usai.


Agum mengusap wajahnya kasar. Air mata itu kembali jatuh tanpa permisi. Ia pun masuk ke dalam taxi dan perlahan taxi itu melaju meninggalkan kontrakan. Ia menghela nafas dalam.


Selamat tinggal bahagia, dan selamat datang sesal yang tak akan pernah ada ujungnya.


*****

__ADS_1


"Agum mohon ampun bu, Agum mohon ampun", ucap Agum sesenggukan sembari bersimpuh di pangkuan ibu Ratih.


Ibu Ratih juga berlinang air mata. Meski Agum pernah menorehkan luka di hatinya, namun tetap saja ia tidak begitu tega melihat kondisi Agum saat ini. Ibu Ratih mengusap-usap kepala Agum. "Nak, ibu sudah memaafkanmu. Ibu sudah ikhlas memaafkanmu. Bangunlah nak!"


"Ampun bu, ampun!!", tambahnya.


"Iya nak, bangunlah!!".


Lintang hanya bisa terpaku melihat Agum yang tengah bersimpuh di pangkuan ibunya. Tak bisa dipungkiri, dadanya juga terasa sakit melihat keadaan Agum saat ini. Dan air matanya satu per satu mulai membasahi pipi.


Agum mengangkat kepalanya. Kemudian ia duduk di samping ibu Ratih. Pandangannya tertuju pada Lintang yang saat ini tengah berdiri di sisi ruang tamu yang menghubungkan langsung dengan ruang tengah. Agum pun beranjak dan menghampiri Lintang.


"Mas?!"


"Sayang?!"


Lintang kemudian menghambur ke pelukan Agum. Di peluknya dengan erat laki-laki yang masih sah menjadi suaminya itu. Sesakit apapun rasa sakit yang Lintang rasakan namun tetap saja Lintang pernah begitu mencintai Agum.


Agum merenggangkan pelukan Lintang. Ditatapnya lekat wajah istrinya itu. Kemudian ia dekatkan wajahnya ke wajah Lintang. Semakin lama semakin dekat. Dan akhirnya sebuah ciuman lembut mendarat di bibir Lintang.


Lintang tidak menolak ciuman yang diberikan oleh Agum. Ciuman yang begitu dalam namun tetap terasa begitu lembut. Lama mereka hanyut dalam ciuman itu seperti menandakan bahwa keduanya tidak ingin saling melepaskan. Dan adegan itupun berakhir ketika Lintang mulai kehabisan nafas.


Diusapnya bibir Lintang dengan lembut. Dan ia tatap dua bola mata Lintang dengan teduh. Agum mencoba tersenyum. Meski dalam dadanya terasa begitu bergemuruh.


Agum kembali memeluk tubuh Lintang sembari mengusap-usap kepalanya. "Terima kasih untuk cinta juga bakti yang telah kamu berikan untukku juga ibuku, sayang. Maafkan aku karena justru luka yang malah aku berikan untukmu. Jika waktu bisa terulang, aku pasti akan menjagamu baik-baik sayang, dan tidak akan pernah menghianatimu. Namun semua sudah terlambat, aku pantas untuk kehilangan ini semua".


Agum menggeleng. "Kamu terlalu sempurna untukku sayang. Yang tidak seharusnya memiliki pendamping seperti aku ini. Kamu terlalu baik untuk aku miliki sayang".


"Mas, sudahlah".


Agum merenggangkan pelukannya. Diusapnya pipi Lintang itu dengan lembut.


"Kita akan bercerai?", tanya Agum.


Lintang mengangguk. "Iya mas".


"Kamu ingin aku mengucapkan kalimat talak di depanmu saat ini?"


Lintang mengangguk. "Iya mas, ucapkanlah!".


Agum menarik nafas dalam. Ia kemudian memeluk tubuh Lintang dengan erat. "Aku tidak bisa melakukan itu sayang, aku tidak bisa".


Agum sesenggukan di pelukan Lintang. Lintang terperangah karena Agum tetap kekeuh tidak ingin menceraikannya. "Mas, jangan menambah rumit semuanya"


"Tidak sayang, aku tidak akan bisa melakukannya", jawab Agum. Ia kembali menatap teduh kedua bola mata Lintang. "Kamu boleh menggugat ke pengadilan sayang, dengan begitu kamu bisa menjemput kebahagiaanmu".

__ADS_1


"Mas?!"


"Lakukanlah sayang, jemputlah kebahagiaanmu. Semoga Allah mengganti semua luka yang aku ciptakan dengan sebuah kebahagiaan yang luar biasa dari laki-laki lain".


"Mas?!"


"Aku mencintaimu sayang, aku mencintaimu. Biarlah saat ini aku pergi dengan penyesalanku, asal aku bisa kembali melihat kebahagiaanmu".


"Ayah, bunda?!, kenapa ayah sama bunda menangis?", ucap Nana yang tiba-tiba keluar dari dalam kamarnya.


Agum tersenyum tipis, ia mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Nana, kemudian memeluknya. "Sayang, ayah pamit ya nak".


Nana mengernyitkan dahinya. "Memang ayah mau ke mana?".


Agum merenggangkan pelukannya, ia menghela nafas dalam mencoba menahan sesak dalam dadanya. Suaranya pun sudah terdengar sedikit sumbang. "Ayah akan pergi jauh dan untuk waktu yang lama nak. Nana baik-baik di rumah sama bunda, nenek dan tante Friska ya".


Mata Nana mulai memerah, dan air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya. "Huhuhuhu ayah mau pergi ke mana?, kenapa Nana sama bunda tidak ikut. Ayah jangan pergi... huhuuhuuhu"


Agum mengusap air mata Nana dengan lembut. "Sayang, maafkan ayah ya nak, maafkan ayah. Jika Allah mengizinkan, suatu hari nanti ayah pasti akan bertemu kembali dengan Nana".


Agum beranjak mendekat ke arah Lintang. Ia kecup kening Lintang. "Aku pamit sayang, maaf untuk semua kesalahanku. Berjanjilah kalau kamu akan bahagia sayang".


"Mas.. ?!!"


Agum pun kemudian melangkahkan kaki keluar dari ruang tamu. Dan menuju taxi online yang ada di depan rumah. Ia kemudian masuk ke dalam taxi itu.


"Ayaaaahhhhhhhhhh......., jangan pergi!!!", teriak Nana sembari berlari kecil mengejar Agum hingga ke teras. Dan seketika ibu Ratih menyusulnya kemudian menggendongnya.


Tangis Lintang pecah sejadi-jadinya. Tubuhnya merosot di samping sofa yang ada di ruang tamu. Inilah puncak dari rasa sakit yang ia rasakan. Sebuah ikatan pernikahan yang sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Dan kini tangisan Nana juga terdengar begitu menyayat hati. Sebuah tangisan yang menjadi awal dia akan kehilangan sosok seorang ayah dari dalam hidupnya.


Perlahan taxi itu mulai melaju. Lintang hanya bisa menatapnya dari tempat ia terduduk saat ini. Semakin lama taxi itu hilang dari pandangan Lintang, Nana, juga dan ibu Ratih.


"Mas!!!!!!!".


"Aayaaaaahhhhhhhhhh!!!!".


.


.


. End.... tapi bo'ong...


Yuk vote, vote, vote!!!!!... ini part yang bikin author kehabisan banyak tisu... 😭 huhhh nyesek banget rasanya....


Gimana nih, masih mau lanjut lagi?? Dan apa yang akan terjadi setelah ini? Hehehe tunggu di episode selanjutnya yah.. terima kasih banyak ya kak sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episode nya yah.. dan jangan lupa vote, vote, vote biar author lebih bersemangat nulisnya.. hiihihihi.. happy Reading kakak..

__ADS_1


Salam love, love, love💗💗💗


__ADS_2