Titik Balik

Titik Balik
ENAM PULUH DUA


__ADS_3

Lintang dan Agum terduduk lemas di samping gundukan tanah pemakaman yang masih terlihat basah. Beberapa saat yang lalu, jenazah ibu Ranti dikebumikan. Dan saat ini hanya terlihat taburan bunga di atas tanah dengan sebuah papan dari kayu yang menjadi tanda kepemilikan makam itu.


"Ibu?!", ucap Agum lirih. Matanya terlihat sedikit sembab, karena menangisi kepergian ibunya.


Seketika, ingatannya tertuju pada sesuatu yang ia lakukan sesaat sebelum Lintang memberinya kabar. Apakah ini merupakan balasan yang langsung ia terima karena ia telah bermain-main di belakang keluarganya, dan mengkhianati keluarga besarnya?, jika mengingat hal itu ia merasa semakin bersalah. Namun seketika wajah Reni mengusik, dan membuatnya semakin yakin untuk berusaha mendapatkannya kembali.


Air matanya pun terlihat menetes dan itu tak luput dari pandangan Lintang. Lintang mencoba menguatkan suaminya itu.


"Ikhlaskan ibu ya mas. Aku yakin ibu sudah tenang di alam sana", ucap Lintang sambil memeluk lengan suaminya.


Agum pun masih terpaku melihat gundukan tanah itu. Pandangannya kosong seolah merasakan tekanan batin yang begitu dahsyat.


"Kita pulang yuk mas, hari sudah semakin sore", ajak Lintang.


Agum pun menurut. Ia kemudian berdiri begitu juga dengan Lintang kemudian melangkahkan kaki meninggalkan pemakaman ini. Sebelum Lintang keluar dari area pemakaman, ia membalikkan badannya dan kembali menatap makam ibu mertuanya.


Selamat beristirahat bu... semoga kali ini engkau tidak lagi merasa kesakitan. Terima kasih atas semua yang telah ibu ajarkan kepadaku. Terima kasih, setidaknya di akhir usia ibu, akulah yang diberi kesempatan untuk merawat ibu yang belum tentu didapatkan oleh wanita lain yang memiliki gelar sebagai seorang menantu. Maaf jika aku belum bisa menjadi seorang menantu yang sempurna untuk mu..


Ya seperti inilah sebuah roda kehidupan. Kita yang masih hidup, sejatinya hanya sedang menunggu giliran untuk kembali dipanggil ke pangkuanNya. Kelak di tempat yang begitu sepi seperti ini kita ditinggal sendirian, dan apalagi yang akan menjadi teman kita kalau bukan amal kebaikan?


*********


Suasana di kontrakan Lintang masih terlihat sedikit ramai di sore hari ini. Para tetangga masih terlihat membongkar tenda dan merapikan kursi plastik yang sebelumnya digunakan untuk upacara pemakaman ibu Ranti.


Tampak beberapa teman Agum pun juga masih berada di sana. Baru sepuluh menit yang lalu mereka sampai, dan tidak sempat mengikuti upacara pemakaman ibu Ranti.


Pak Ibra dan ketiga teman Agum terlihat duduk di atas tikar yang tergelar di ruang tamu Agum.


"Kami turut berduka cita atas meninggalnya ibu ya mas!", ucap Pak Ibra mewakili seluruh staf kantor tempat Agum bekerja.


"Terima kasih banyak ya pak", jawab Agum dengan mata yang masih terlihat memerah.


"Memang ibu sakit sudah berapa lama mas?", tanya pak Ibra.


Agum menarik nafas dalam mencoba untuk menahan sesak di dadanya. "Empat bulan yang lalu ibu terkena serangan kedua penyakit stroke yang dulu pernah dialaminya pak. Kemudian dua minggu terakhir ini kondisinya semakin drop".


Pak Ibra dan teman-teman Agum terlihat begitu sangat bersimpati atas musibah yang menimpanya. Tak selang lama, Lintang pun datang dengan membawa sebuah nampan yang terdapat empat kotak snack di atasnya.


Lintang duduk di sebelah Agum. "Mari silakan dinikmati pak"

__ADS_1


"Terima kasih mbak", jawab mereka bebarengan.


"Jadi tadi sampeyan izin tidak masuk kerja karena kondisi ibu drop, ya mas?", tanya Aan sambil meminum air mineral gelasnya.


Agum tersentak. "Eh?"


Deg!!!


Tetiba jantung Lintang berdegup kencang, ia menatap wajah Agum. Pandangannya tepat berada di kedua manik mata Agum yang kebetulan saat itu saling bertemu pandang. Mencoba untuk mencari tahu jawaban apa yang akan diberikan oleh Agum.


Bukankah tadi pagi mas Agum pamit berangkat ke kantor?, tapi kenapa saat ini teman satu kantornya mengatakan bahwa dia izin tidak masuk kantor?, ada apa ini?, dan ada di mana dia saat aku memberi kabar soal ibu tadi?


Hati Lintang dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin membuatnya risau. Mungkinkah saat ini Agum membohonginya?


Suasana sempat hening sejenak. Agum pun kemudian tersadar. "Eh iya pak, tadi saya izin tidak masuk kantor karena kondisi ibu drop".


Pak Ibra tampak memaklumi alasan Agum. "Tenang saja mas, hari ini urusan kantor aman semua kok"


Lintang semakin tidak paham dengan apa yang telah terjadi. Mengapa suaminya harus berbohong, apa yang sebenarnya telah ia sembunyikan? Lintang hanya menatap tembok yang ada di depannya dengan tatapan kosong. Hatinya bergejolak dan pikirannya buyar. Seolah menenggelamkan hatinya ke sebuah dasar jurang prasangka buruk terhadap suaminya.


*********


Lintang melirik ke arah Nana yang saat ini ada di gendongan ibunya. "Nana bobok di tempat nenek mau?"


"Mau bunda, Nana juga pengen main sama tante Friska" , jawab Nana.


Lintang tersenyum kecil. Ia merasa badannya memang teramat lelah, dan dengan bantuan dari ibunya mungkin bisa sedikit mengurangi lelah yang terasa.


"Ya sudah, hari ini Nana bobok di tempat nenek Ratih dulu ya", sambung Lintang.


"Iya bunda"


Beberapa saat kemudian Agum terlihat masuk ke dalam kamar.


"Ndhuk, ibu pulang sekarang ya", pamit bu Ratih.


"Iya bu, makasih banyak ya", jawab Lintang.


"Nak Agum, ibu pamit pulang sama sekalian bawa Nana juga ya", sambung ibu Ratih.

__ADS_1


"Eh iya bu, terima kasih banyak ya", jawab Agum.


"Ayah, Nana bobok di tempat nenek Ratih dulu ya. Ayah jangan nakal sama bunda, nanti bunda sedih", ucap Nana polos.


Seketika yang ada di ruangan itupun hening. Mencoba menerka-nerka maksud celotehan Nana itu. Tapi mereka tidak dapat menemukan jawaban apa-apa. Mungkinkah sebuah pertanda atau firasat seorang anak terhadap ibunya atau apa itu, tak ada satupun yang tahu. Tak lama kemudian ibu Ratih pun meninggalkan kamar dan pulang ke kediamannya dengan membawa Nana dalam gendongannya.


"Mas?", panggil Lintang. Hatinya sudah tidak bisa menahan untuk tidak menanyakan pertanyaan yang sejak kedatangan teman kantor Agum tadi mengusik pikirannya.


Agum terlihat merebahkan tubuhnya di atas kasur tempat ia dan Lintang tidur sambil sibuk memainkan ponsel nya. "Ya, ada apa?"


"Apa maksud dari pertanyaan yang disampaikan oleh Aan tadi?",


Agum mengernyitkan kening seperti orang yang sedang berpikir keras. "Maksud kamu?"


Lintang menarik nafas dalam. "Tadi pagi kamu pamit bekerja, tapi kenapa Aan bilang kamu ijin tidak masuk kerja?"


Agum malah terlihat tidak menggubris pertanyaan dari istrinya dan ia malah terlihat senyum-senyum saat melihat ponselnya.


Lintang merasa gemas karena Agum seolah tidak memperdulikannya. Ia kemudian berdiri dan menyusul Agum. Saat berada di dekatnya ia rebut ponsel yang ada di tangan Agum.


Agum tersentak kaget. Sedangkan mata Lintang terbelalak saat melihat foto yang ada di wallpaper ponsel Agum. Foto sepasang manusia yang saling menempelkan bibir masing-masing yang terlihat begitu mesra dan bergairah. Seketika tubuhnya bergetar dan tubuhnya lunglai di atas lantai.


"Apa-apaan kamu, berani-beraninya kamu mengganggu privasiku!!", bentak Agum sambil berusaha mengambil ponsel yang ada di tangan Lintang.


Lintang tetap kekeuh menggenggam ponsel Agum dan mencoba menjauhkan dari jangkauan tangan Agum.


Darah Agum terasa mendidih di ubun-ubunnya. Entah merasa takut atau malu karena hubungannya dengan Reni akan segera terbongkar, ia pun mengangkat tangannya dan...


Plaakkkkkkk!!!!!


.


.


.


. bersambung


Hai-hai para pembaca tersayang. Terima kasih banyak ya sudah berkenan mampir di novel pertamaku ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar kalian semua yaa... terima kasih..

__ADS_1


Salam love, love, love 💗💗💗


__ADS_2