
Ibu Ratih dan Friska terlihat antusias menikmati makanan yang dibawa oleh Lintang dan Agum tadi. Hidangan seafood yang dibawa oleh anak dan menantunya tersebut nyatanya membuat ibu Ratih berselera untuk makan kembali. Padahal belum lama sebelum kedatangan Agum dan Lintang, ia bersama Friska sudah makan malam.
"Kalian tidak ikut makan sekalian?", tanya ibu Ratih
"Enggak bu, kita tadi udah makan", jawab Lintang. Ibu Ratih melanjutkan makannya. Sesaat kemudian terlihat menu yang ada di piring ibu Ratih tandas tak tersisa.
"Bu, Lintang pamit pulang ya", ucap Lintang berpamitan
"Loh, kalian tidak menginap di sini?", tanya ibu Ratih.
"Besok lain waktu kita menginap di sini bu, atau ibu sama Friska yang mau menginap di kontrakan kami?", tawar Agum
"Besok kapan- kapan aja nak Agum. Lain waktu ibu sama Friska tak nyobain tidur di kontrakan kalian", jawab ibu Ratih.
Lintang dan Agum pun berpamitan. Mereka berboncengan. Seperti biasa, Lintang memeluk tubuh suaminya dengan erat dari belakang. Agum pun memacu motor matic nya membelah dinginnya angin malam.
********************
"Sayang, kamu pengen punya anak berapa?", tanya Agum masih dengan posisi mendekap tubuh Lintang di sisinya.
Lintang dengan posisi terlentang sambil melihat langit- langit kamarnya, tersentak kaget tiba-tiba suaminya menanyakan hal itu. Lintang memiringkan posisinya. Pandangan keduanya saling bertemu.
"Kalau mas pengen punya anak berapa?", tanya Lintang balik
"Kalau mas pengen punya banyak anak dek. Tiga, empat, atau mungkin lima, biar rame.", jawabnya sambil tertawa
"HAH, gak salah itu mas?", ucap Lintang terkejut.
"Hahahaha, bercanda sayang, tiga aja udah cukup kayaknya", jawabnya sambil terbahak
"Hemmmm, manut Allah mau ngasih berapa aja ya mas, yang penting kita sudah siap menjadi orang tua", ucap Lintang
Agum pun mengangguk sambil mengecup pucuk kepala istrinya dan memeluknya dengan erat. Lintang kembali merasakan kehangatan setiap kali Agum melakukannya, yang membuatnya semakin mencintai suaminya itu.
"Sayang, kita lanjutkan lagi yuk!", ucap Agum menyeringai
"Aaaaaaa massss!!!!! , udah tiga kali, masih mau nambah lagi?", teriak Lintang lemas
__ADS_1
"Hihihihihihihiiihihi, bikin nagih sih. Biar bisa cepet punya anak tiga sayang", jawabnya enteng
Yang diajak bicara pun kemudian beranjak, lalu berlari menuju kamar mandi, meninggalkan suaminya. Khawatir kalau suaminya itu minta jatah lagi.
***********************
Beberapa orang terlihat sibuk di atas meja kerjanya masing- masing. Ada yang membuat laporan harian, ada yang merekap data keluar masuk paketan, dan ada yang sedang sibuk melayani customer yang akan menggunakan layanan jasa perusahaan ekspedisi itu.
"Gum, denger- denger pak Sungsang mau dipindah tugaskan ke Semarang. Terus posisi KaOp di sini kosong", ucap pak Yono tiba- tiba
"Ya gak mungkin kosong toh pak, pasti pusat juga akan cari pengganti pak Sungsang, sebelum dia pindah, lagipula masih lama kan? ", jawab Agum
"Kamu udah siap gantiin posisi pak Sungsang Gum?", tanya Pak Yono, Agum hanya memandang wajah Pak Yono dengan penuh tanda tanya
"Biasanya posisi driver itu bisa langsung naik ke KaOp kalau kerjanya bagus", sambung pak Yono menjelaskan
"Di sini yang lebih senior banyak pak, takut dikira ngelangkahi", jawab Agum
"Soal pekerjaan itu gak ada istilah senior, junior, ngelangkahi atau apapun itu. Yang penting kerja bagus ya bisa cepat naik jenjang", jawab pak Yono.
Agum pun hanya mengendikkan bahunya. Kemudian ia bergegas ke masjid yang letaknya di belakang kantornya untuk melaksanakan shalat Asar.
"Eh, mbak Reni. Iya mbak, ini mau sholat dulu", jawab Agum
"Oh iya silakan mas", jawab wanita itu yang ternyata bernama Reni. Agum pun menuju tempat wudhu, setelah itu masuk ke masjid melaksanakan shalat Asar.
**************************
Agum bersama kelima temannya menuju sebuah rumah di pinggiran kota Jogja. Malam ini ia telah berjanji jika akan mendatangi kediaman tetangga Surya yang beberapa hari yang lalu meminta tolong perihal warung nasi yang ia buka.
Mereka menggunakan mobil box kantor Agum. Karena mobil box itu selalu di bawa pulang ke rumah, jadi Agum bisa turut menggunakan untuk hal pribadinya sekalipun (aji mumpung) 😁. Tapi tetap untuk uang solar, ia menggunakan uang pribadinya.
Di bagian depan ada Joni juga Surya yang menemani Agum. Sedangkan Candra, Agus, dan Indra ada di dalam box.
"Jon, udah kamu siapin pring kuning nya?", tanya Agum
"Sudah mas, mas minta tujuh kan", jawab Joni. Agum pun mengangguk.
__ADS_1
"Kira- kira kena apa ya mas, warung nasi tetanggaku itu?", tanya Surya pula
"Nanti di sana aku jelasin ke kalian", jawab Agum pula.
Tak lama setelah itu, mereka tiba di depan sebuah rumah yang cukup besar. Model rumah itu terlihat model rumah zaman dulu. Dalam bahasa Jogja di sebut limasan. Kayu jati yang menjadi tiang- tiang penyangga bangunan itu juga masih terlihat kokoh tak lapuk dimakan waktu.
Di depan rumah itu berdiri dua orang laki-laki dan seorang wanita paruh baya. Kemudian mereka terlihat menyambut kedatangan Agum dan kawan- kawan.
"Selamat datang mas Agum", sapa salah seorang laki-laki itu.
"Terima kasih pak", jawab Agum sambil menyalami tuan rumah
"Mari silakan masuk mas!", ucap laki-laki itu mempersilahkan
Agum dan kawan- kawan pun masuk ke ruang depan yang ada di rumah itu. Nampak kursi- kursi kayu tua yang juga masih terlihat kokoh. Di sisi- sisi temboknya juga terpasang berbagai gambar tokoh pewayangan. Tak lama kemudian, wanita paruh baya yang tadi ikut menyambut kedatangan Agum itu pun datang dengan membawa beberapa cangkir kopi juga kudapan.
"Sebelumnya, kenalkan nama saya Dharma, lalu yang itu bapak saya namanya pak Suparno, dan itu ibu saya namanya bu Darmi", ucap laki-laki yang bernama Dharma. Agum pun menundukkan kepala tanda memberi hormat.
"Jadi gini mas Agum, warung nasi saya beberapa hari ini, sepertinya terkena sesuatu yang tidak baik. Karena lima hari berturut- turut selalu sepi, dan anehnya nasi yang biasanya bisa tahan hingga sore, ini belum ada jam sebelas siang sudah bau dan berair, kira- kira kenapa ya mas?", tanya Dharma pada pokok permasalahan.
Agum mengangguk tanda mengerti.
"Jon, kamu melihatnya?", tanya Agum kepada Joni. Joni mengangguk sambil melihat sekeliling warung nasi yang ada di depan rumah itu.
"Sur, Can, Gus, Ndra, kalian melihatnya juga?", tanya Agum bergantian ke arah teman- temannya yang lain. Yang ditanya melihat-lihat sekeliling rumah itu juga. Mereka pun mengangguk bersamaan.
"Maaf pak, boleh saya pinjam salah satu ruangannya sebentar?", tanya Agum ke pemilik rumah.
"Oh silakan mas, mari saya antar", jawab Dharma sambil beranjak
"Jon, ambilkan pesananku tadi", perintah Agum sambil mengikuti langkah pak Dharma
************************
Nah nah nah kira-kira apa ya yang akan dikerjakan Agum??, nantikan di episode selanjutnya yaaa...
Jangan lupa tinggalkan jejak like juga komentarnya ya, biar author lebih semangat dalam menulis. 😁
__ADS_1
Happy Reading para pembaca tersayang..
Salam love, love, love💗💗💗