
Tangan Agum pun mengusap bagian belakang kepala Reni, berusaha untuk menenangkan segala gejolak rasa yang dialami wanita yang sangat ia cintai dulu. Reni mendongakkan kepalanya, dan kepala Agum pun menunduk ke bawah, kemudian.....
Cup...
Sebuah kecupan mendarat di bibir Reni. Melihat respon Agum yang seperti itu tidak ia lewatkan untuk membalas ciuman dari Agum. Semakin lama ciuman itu semakin dalam. Beruntung, mereka duduk di kursi taman yang letaknya paling pojok dan tertutup oleh pohon trembesi yang terlihat rimbun. Tangan Agum menyusuri pipi Reni, mengusapnya dengan lembut. Agum seolah kehilangan kewarasannya, dan...
Ingat pesan-pesanku Gum, ada Lintang dan anakmu yang harus jaga baik raga juga hatinya, jangan sampai perilakumu melukai keduanya
Deg!!!
Seketika pesan yang Danang ucapkan ketika mengantarkannya di terminal tadi kembali terekam dalam otak Agum. Dengan cepat Agum menghentikan ciuman dalam yang ia lakukan dengan Reni, dan kemudian mencoba menjauhkan tubuhnya dari Reni.
Reni terperangah melihat Agum yang tiba-tiba menghentikan ciumannya. Baru saja ia merasakan sebuah tetesan embun yang sudah lama tak ia dapatkan dari Agum, kini seketika berhenti begitu saja.
"Ada apa mas?", tanya Reni
Agum mengacak kasar rambutnya "maaf Ren, aku tidak bisa seperti ini, aku tidak mungkin melukai perasaan Lintang juga anak yang ada dalam kandungannya"
Reni hanya menyunggingkan senyum tipisnya "tidak apa-apa mas, aku mengerti. Tapi jangan paksa aku untuk membunuh perasaanku ini. Aku telah jatuh cinta kepadamu untuk kedua kalinya"
***********
Pyarrrrr!!!!!
Lintang terperanjat, melihat gelas yang ada di tangannya tiba-tiba jatuh dari genggamannya.
"Mbak Lin, kenapa mbak??", tanya Mimin sambil berlari ke dapur ketika mendengar suara pecahan gelas.
"Enggak apa-apa dek", jawab Lintang sambil jongkok memunguti pecahan gelas di depanya. "Aduuuhhhhh!", seru Lintang mengaduh, dan seketika telunjuknya mengeluarkan darah ketika terkena serpihan gelas itu.
Mimin mendekat ke arah Lintang "ya ampun, ini berdarah mbak, sini Mimin bantu bersihkan lukanya"
Lintang hanya memandang luka di tangannya yang sedang dibersihkan oleh Mimin dengan pandangan kosong. Hatinya berdegup kencang, seolah merasakan sebuah firasat buruk yang tengah terjadi. Ada apa ini?, kenapa?, pertanyaan-pertanyaan itu seolah berputar-putar di benak Lintang.
__ADS_1
"Sudah mbak Lin", ucap Mimin membuyarkan lamunan Lintang.
"Eh?, sudah ya dek?", tanya Lintang sedikit terkejut.
Mimin hanya mengangguk pelan "sekarang mending mbak Lintang kembali ke kamar, istirahat. Ini sudah jam delapan malam mbak. Biar Mimin yang bersihin pecahan gelas ini"
Jam delapan malam?, kenapa jam segini suaminya belum pulang juga?, apakah terjadi hal buruk yang menimpa suaminya di tengah perjalanan?
Lintang menggelengkan kepalanya, berusaha menepis segala pikiran buruknya.
"Makasih ya dek. Mbak ke kamar dulu ya", ucap Lintang sambil beranjak meninggalkan Mimin
"Iya mbak!", jawab Mimin sambil memungut serpihan-serpihan gelas yang berceceran di mana-mana.
Sampai di kamar, benda pertama yang ia cari adalah ponsel. Ia mencari nama kontak Agum kemudian ia pencet tombol calling di ponselnya.
"Hallo dek", sapa Agum dari seberang
"Mas?, Mas ada di mana?, jam segini kok belum nyampe rumah? mas baik-baik saja kan?"
Lintang menarik nafas lega. Setidaknya tidak terjadi hal buruk terhadap suaminya.
"Syukur Alhamdulillah kalau begitu mas, aku cuma sedikit cemas jam segini mas belum nyampe rumah"
"Ya sudah, mas selesaikan urusan mas sebentar ya. Setelah ini mas pulang. Kamu mau dibawain apa sayang?"
Lintang menyunggingkan senyumnya "tidak usah bawain apa-apa mas. Yang penting mas segera pulang"
"Iya sayang, tunggu mas di rumah ya. Kalau gitu mas tutup teleponnya ya sayang"
"Iya mas, *assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam*"
__ADS_1
Tuut....tuuttttt... Panggilan berakhir
************
Agum meletakkan ponselnya di saku celananya setelah menerima panggilan telepon dari Lintang. Reni hanya menatap wajah Agum dengan tatapan yang sulit diartikan. Tak bisa dipungkiri, dalam hatinya terbesit sebuah perasaan cemburu melihat Agum memperlakukan istrinya dengan sangat mesra.
"Kamu terlihat begitu mencintai istrimu mas", ucap Reni dengan sedikit nada yang tidak terima
Agum kembali menghembuskan nafas kasar "bagaimanapun sekarang Lintang adalah istriku, Ren. Jadi sudah semestinya aku memperlakukan dia dengan baik dan istimewa"
Reni tersenyum sinis "betapa bodohnya aku yang dulu meninggalkanmu ya mas?, seharusnya saat ini akulah yang ada di posisi Lintang dan yang memilikimu seutuhnya, bukan dia"
"Sudahlah Ren, aku minta sekarang kita jalani hidup kita masing-masing. Aku bersama keluargaku dan kamu bersama keluargamu", ucap Agum memohon
"Aku akan melakukannya mas, tapi jawab satu pertanyaanku terlebih dahulu, apakah kamu sudah sepenuhnya menghapus rasa cintamu untukku?", ucap Reni lantang
Agum dibuat bingung oleh pertanyaan Reni. Di satu sisi ia dulu begitu mencintai Reni dan teramar sulit menghapus segala ingatan tentangnya. Namun di sisi yang lain ia telah memiliki Lintang yang saat ini telah menjadi istrinya. Ia pun hanya terdiam tak bergeming sedikitpun.
Agum beranjak dari duduknya "aku pulang dulu Ren, aku rasa segala urusan kita telah selesai"
Agum melangkah, meninggalkan Reni yang kini terlihat terpaku melihat punggung Agum yang semakin menjauh darinya. Semakin lama tubuh Agum tak nampak lagi di pandangannya. Ia tersenyum sinis
Aku akan berusaha merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku mas....
.
.
.
.bersambung
Hai-hai para pembaca tersayang... jangan lupa untuk tinggalkan jejak like juga komentar kalian semua yaa... terima kasih
__ADS_1
Salam love, love, love 💗💗💗