
Sorot lampu kota berjejer menerangi jalanan beraspal kota Jogja petang ini. Hiruk pikuk aktifitas anak-anak muda mulai terlihat di sudut kawasan Malioboro. Ada yang ber-swafoto (selfie) , ada yang berjalan- jalan sambil menikmati suasana malam kota Jogja, dan ada juga yang hanya sekedar duduk- duduk manis di pinggiran trotoar jalan Malioboro yang memang di khususkan untuk para pemburu suasana malam kota ini.
Lintang dan Agum berhenti di sebuah lesehan kaki lima di kawasan tersebut. Setelah dari klinik, Agum memang berencana mengajak istrinya untuk jalan- jalan malam. Dan kawasan Malioboro lah yang menjadi tujuannya.
"Adek mau pesen apa?", tanya Agum sambil membolak- balikkan daftar menu yang ada di tangannya.
"Emmmm nila bakar sama sambel bawang aja mas", jawab Lintang
"Mas, nila bakar satu, bebek goreng kremes satu, sambelnya bawang sama tomat, es teh satu, jeruk anget satu ya mas", ucap Agum kepada karyawan lesehan itu.
"Siap mas!", jawabnya.
Sembari menunggu pesanannya, Lintang memperhatikan orang- orang yang sedang berlalu lalang. Sungguh sebuah pemandangan yang begitu romantis melihat anak-anak muda dengan pasangannya masing- masing yang terlihat begitu kontras dengan suasana malam seperti ini.
"Mas Agum?", ucap seorang wanita seusia Agum. Agum tersentak.
"Loh Ren... eh mbak Reni", jawab Agung
Lintang ikut terkejut melihat ada seorang wanita yang mengenal suaminya. Lintang memperhatikan wanita yang ada di hadapannya itu. Wanita seusia suaminya, yang terlihat sexy dengan hotpant juga kaos tipis yang membalut tubuhnya.
"Ini istri kamu mas?", tanya wanita itu memecah keheningan.
"Iya mbak", jawab Agum
"Dek, kenalkan, ini mbak Reni. Mbak Reni ini tinggalnya di belakang kantor mas. Jadi sudah lama mas kenal sama mbak Reni", sambung Agum memperkenalkan wanita itu
Lintang tersenyum kecut "Lintang mbak", ucap Lintang memperkenalkan diri
"Reni Widiastuti", ucapnya pula.
"Oh iya, sekalian pesan makanan saja mbak, kita makan bareng di sini", ucap Agum menawarkan
Reni pun menyetujuinya. Ia kemudian memesan menu untuk dirinya sendiri. Lintang mengernyitkan dahi. Bingung dengan sikap suaminya yang justru mempersilakan orang lain mengganggu acara makan malam mereka. Seharusnya ini bisa menjadi makan malam yang istimewa untuk Lintang meski hanya di lesehan kaki lima. Tapi malah ada orang luar yang mengganggu. Lintang menghembuskan nafas kasar yang justru terdengar oleh Agum juga Reni.
"Adek kenapa?", tanya Agum
"Eh?", Lintang tersentak
"Kok buang nafas kasar gitu?", tanya Agum
__ADS_1
"Hehe gak apa-apa mas, ini tadi cuma merasa sedikit sesak", jawab Lintang sambil terkekeh.
Tak lama kemudian pesanan mereka pun jadi. Karyawan lesehan kaki lima itu pun menyajikan hidangan di meja kecil yang ada hadapan mereka bertiga.
Lintang mulai menyantap makanannya. Begitu pula Agum juga Reni. Lintang tidak terlalu banyak bicara karena ia memang belum terlalu mengenal Reni jadi tidak tahu harus memulai obrolan dari mana.
"Aku dengar kamu naik jabatan ya mas?", tanya Reni di sela-sela makan malam mereka
"Hehe iya mbak, baru bulan ini aku menggantikan posisi pak Sungsang", jawab Agum sambil terkekeh.
"Wah, selamat ya mas. Itu berarti kerjaan kamu jadi lebih enteng, gak keliling- keliling lagi", ucap Reni memberi selamat
"Iya mbak, tapi tanggung jawab lebih besar lagi", jawab Agum.
Agum dan Reni malah terlihat asyik dalam obrolan mereka. Membahas orang- orang di kantor Agum juga usaha yang dibuka oleh orang tua Reni. Hal itulah yang membuat Lintang ingin segera mengakhiri makan malam ini.
Hei, mengapa suamiku justru malah asyik ngobrol dengan wanita tetangga kantornya itu?, aku sedari tadi hanya didiamkan dan tidak diajak ngobrol sama sekali. Mereka itu menganggap aku ini apa sih?, obat nyamuk?
Lintang menggerutu di dalam hati. Sedangkan mereka masih terlihat asyik dalam obrolannya sambil ketawa- ketiwi, membuat hati Lintang semakin gusar dan ingin cepat- cepat pulang.
Hampir satu jam acara makan malam Lintang dan Agum ditemani oleh orang luar. Sungguh Lintang merasa mood baiknya menguap seketika melihat ke akraban wanita itu dengan suaminya.
Hei mas, dari tadi sama sekali gak melibatkan aku dalam obrolan kamu dengan wanita itu, dan sekarang tetiba ngajak pulang?, fix aku cuma jadi obat nyamuk untuk kalian mas!!
Lintang terdiam kemudian berdiri dari posisi duduknya.
"Makasih untuk traktirannya ya mas Agum, besok lain kali gantian aku yang traktir deh, gak apa-apa kan mbak Lintang kalau lain kali saya yang mentraktir?", ucap Reni dengan senyum manisnya ke arah Lintang
"Eh iya mbak, inshaallah saya akan menemani mas Agum pas dapat undangan traktiran dari mbak Reni", jawab Lintang basa- basi. Reni pun mengangguk.
Setelahnya Agum dan Lintang memasuki mobil box nya. Hati Lintang seolah panas melihat suasana yang tercipta antara Reni dengan suaminya.
Ya Tuhan, mengapa mereka terlihat begitu akrab?, atau jangan- jangan Reni itu mantan pacar suaminya atau cinta pertama suaminya?
"Adek mau jalan- jalan ke mana lagi?", tanya Agum membuyarkan lamunan Lintang
"Adek mau pulang mas!", jawab Lintang singkat
*********************
__ADS_1
Mobil box yang dikendarai Agum memasuki halaman rumahnya. Ia matikan mesin kemudian masuk menyusul Lintang yang terlihat terburu- buru masuk ke dalam kamar. Di perjalanan pulang tadi, Lintang memang lebih banyak diam. Dia masih belum bisa berdamai dengan hatinya sendiri melihat keakraban suaminya dengan wanita lain.
Padahal mungkin saja yang ada dipikirkan Lintang hanya sebuah prasangka buruk, tapi tetap saja ia merasa terabaikan ketika makan malam di lesehan tadi.
"Sayang kenapa kok mukanya ditekuk gitu?", tanya Agum sembari memeluk tubuh Lintang.
Hei lepasin mas, aku sedang kesal sama kamu. Gak usah peluk- peluk seperti itu dah!
"Sayang?!", panggil Agum lagi sembari mencium pipi Lintang. Yang dicium tersentak
"Eng... enggak apa-apa mas. Adek mau ganti baju mas!", jawab Lintang sambil berusaha lepas dari pelukan Agum. Agum malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Adek marah, karena mas tadi ajak Reni makan sekalian?", tebak Agum
Iya mas, aku marah, aku marah!
"Sayang, jangan berpikir macam- macam. Reni itu cuma tetangga kantor mas", ucap Agum sambil mengusap pipi Lintang.
"Ta.. tapi kok mas sama mbak Reni itu terlihat akrab banget?", tanya Lintang ingin tahu
Agum tersenyum "Sayang, kamu tahu kan, sudah berapa lama mas tinggal di Jogja?", tanya Agum. Lintang mengangguk
"Mas hampir tujuh tahun kerja di Jogja, dan hampir tiap hari mas ketemu dengan Reni, jadi wajar kan kalau mas akrab sama dia?", jelas Agum.
Lintang masih terdiam. Masih belum terlalu puas oleh jawaban dari suaminya.
"Sayang, Reni itu sudah punya suami dan anaknya sudah dua, jadi gak mungkin kan kalau mas ada apa-apa sama dia", sambung Agum sambil mengecup bibir Lintang.
Hati Lintang luluh. Yang sedari tadi dipenuhi dengan mood yang begitu buruk, kini berubah menjadi sebuah kelegaan setelah mendengar bahwa Reni juga sudah berkeluarga dari bibir suaminya. Lintang merasa Reni juga akan tahu batasan dalam berteman dengan suaminya karena ia sendiri juga telah berkeluarga.
Agum menghujani Lintang dengan ciuman- ciuman panas. Seolah menyapu semua kekesalannya dan berganti dengan sebuah kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Sayang, aku menginginkanmu malam ini!", ucap Agum dengan deru nafas yang mulai memburu
*********************
Hai, hai, hai para pembaca tersayang...
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, juga vote nya yah.... terimakasih
__ADS_1
Salam love, love, love💗💗💗