
Agum memberhentikan mobilnya di depan rumah Lintang. Setelah puas menikmati suasana di pantai Klayar, Lintang dan keluarganya memutuskan untuk pulang, dan kini tepat pukul sembilan malam mereka tiba di rumah.
Ibu Ratih membenahi posisi Nana yang tertidur di gendongannya. "Ndhuk, Nana biar tidur di rumah ibu saja ya. Kamu kalau mau pulang ke kontrakan, pulanglah"
Lintang mengernyitkan dahi. "Gak apa-apa bu?"
Ibu Ratih mengangguk. "Tidak apa-apa nak. Pulanglah bersama nak Agum juga mas Danang, Nana biar di sini"
Lintang pun mengangguk. "Baiklah kalau begitu bu. Kami pamit pulang ya bu"
Ibu Ratih tersenyum. "Iya ndhuk"
Ibu Ratih dan Friska pun kemudian masuk ke dalam rumah. Tentunya ada Nana di gendongan ibu Ratih. Sedangkan Lintang, Agum dan Danang masih berdiri di halaman rumah.
Seketika wajah Agum berbinar. Dalam hati ia berterima kasih pada ibu mertuanya karena dengan Nana berada di sini, ia bisa menghabiskan malam-malam panjang dengan bermesraan bersama istrinya. Sebuah malam yang begitu di nantikan oleh Agum untuk mendapatkan sesuatu yang sudah hampir empat bulan ini tidak ia dapatkan dari istrinya. Seutas senyum tipis terukir di bibirnya.
Wajah Agum yang berbinar itu tak luput dari pandangan Lintang dan Danang. Keduanya saling mengernyitkan dahi.
"Kamu kenapa Gum, senyum-senyum sendiri kayak gitu?", tanya Danang penasaran.
Agum tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Hehehe enggak apa-apa mas. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang indah untukku juga Lintang"
Lintang yang sedari tadi diam, seketika tersentak. "Maksud mas?"
Agum kemudian menghampiri Lintang dan memeluk pinggangnya. Ia membisikkan sesuatu di telinga Lintang. "Kamu sudah suci kan sayang?, jadi malam ini aku boleh mendapatkan hak ku kembali kan?"
Bola mata Lintang membulat. Ia kemudian mencubit pinggang Agum.
"Aadduuhhh dduuhh duuhhh sayang sakit!!", pekiknya.
Lintang hanya tersenyum kecil. "Gak perlu diomongin di depan mas Danang juga kali mas!!",
Agum hanya terkekeh. Sedangkan Danang terlihat seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa ketika mendengar obrolan dua orang di depannya itu.
"Kalian itu ngomongin apa sih?", tanya Danang penasaran.
Agum tersenyum. "Akhirnya setelah hampir empat bulan, aku bakal da____________"
"Ayo kita balik ke kontrakan mas!!", ucap Lintang memangkas perkataan Agum. Ia khawatir jika Agum akan meneruskan kalimatnya dan pastinya akan membuat ia malu setengah mati di depan Danang.
Agum, Lintang dan Danang masuk ke dalam mobil. Agum menarik pedal gas nya perlahan, dan mereka bertiga pun keluar dari pekarangan rumah Lintang menuju ke kontrakan.
__ADS_1
*****
Sementara itu, di sebuah rumah di waktu yang sama, terlihat seorang laki-laki sedang berdiri di depan jendela. Entah apa yang menarik dari jendela yang ada di kamarnya ini, yang membuatnya begitu nyaman untuk berlama-lama berdiri di depannya. Tentunya sembari menikmati suasana malam dengan melihat orang-orang yang sedang berlalu lalang di komplek perumahan yang begitu nampak jelas dari jendela kamarnya.
Pandangannya menerawang. Sejak pertemuan tidak sengaja yang beberapa kali terjadi antara ia dengan seorang wanita, seolah membuatnya tidak bisa berhenti untuk selalu memikirkan wanita itu. Ia pun menghembuskan nafas pelan.
"Ya Allah, apa maksud dari ini semua?, mengapa akhir-akhir ini Engkau justru lebih sering mempertemukan aku dengan Lintang?"
Tok.. tok... tok....
Terdengar suara pintu kamarnya diketuk. Dan seketika membuat lelaki itu tersadar dari lamunannya "
"Nan, kamu udah tidur?", ucap seorang wanita dari luar kamar.
Lelaki itu mengacak rambutnya kasar. "Belum tante, masuk aja!"
Terlihat seorang wanita berusia empat puluhan masuk ke kamar Hanan, yang tak lain adalah bu Nury. Ya, Hanan merupakan keponakan ibu Nury. Sejak kedua orang tua Hanan meninggal tiga tahun yang lalu, akibat sebuah kecelakaan mobil, kini ia tinggal bersama bu Nury yang merupakan adik dari ayah Hanan.
"Kamu belum tidur Nan?", tanya bu Nury.
Hanan menggeleng. "Belum tante, aku masih belum bisa tidur"
Bu Nury mengulas sedikit senyumnya. "Oh iya Nan, kamu tahu yang punya Az-Zahra catering?"
Bu Nury mengangguk. "Iya"
"Memang ada apa tante?"
"Ummmm, tante itu dari tadi menghubungi nomer dia tapi gak aktif Nan. Tante mau pesan catering untuk rapat besok hari Selasa pagi"
Hanan terlihat berpikir. "Apa mau Hanan antar ke rumah Lintang saja, tante?"
Bu Nury melongo. "Kamu tahu rumahnya?"
Hanan mengangguk. "Bahkan Hanan juga tahu siapa nama ibu nya, siapa nama adiknya, siapa nama anaknya dan makanan apa yang dia suka"
Bu Nury tersentak. "M-maksud kamu?, jangan bilang kamu punya hubungan khusus dengan Lintang, Nan. Tante tidak sudi punya keponakan yang suka merusak rumah tangga orang!!"
Hanan tersenyum getir. "Bahkan aku lebih dulu mengenal Lintang daripada yang sekarang jadi suaminya, tante"
Bu Nury membulatkan bola matanya. "M-maksud kamu?"
__ADS_1
Hanan menghembuskan nafas pelan. "Lintang adalah orang pertama yang aku cintai, tante". Hanan kemudian mengusap wajahnya kasar. "Aku sempat memiliki hubungan dengan Lintang, saat kita duduk di bangku SMA. Aku berencana akan menikahinya setelah aku lulus kuliah. Tapi ternyata Allah berkehendak lain"
Bu Nury terlihat serius mendengarkan perkataan Hanan. "Jadi karena Lintang adalah cinta pertama kamu, yang membuatmu hingga saat ini masih betah dalam kesendirianmu?"
Hanan mengangguk pelan. "Aku tidak tahu apa yang telah Allah rencanakan tante, tapi entah mengapa aku selalu memiliki keyakinan jika suatu hari nanti aku bisa bersama dengan Lintang"
Ibu Nury menghembuskan nafas dalam. Terbesit kerisauan dalam hatinya, ia takut kalau keponakannya itu berbuat nekat merebut Lintang dari suaminya. "Tapi kamu sadar kan, kalau Lintang itu sudah bersuami?"
Hanan mengangguk. "Hanan sadar tante. Tapi biarlah seperti ini dulu. Hanan belum mau membuka hati untuk wanita lain. Hanan masih begitu mencintai Lintang"
"T-tapi itu salah Nan!"
Hanan menggeleng. "Selama aku tidak merusak ketentraman rumah tangga Lintang, aku rasa tidak ada yang salah dengan cinta yang masih aku miliki untuk Lintang tante. Aku akan senantiasa mencintai Lintang dengan cara terhormat"
Bu Nury pun hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Bagaimanapun juga ia tidak bisa memaksa Hanan berhenti untuk mencintai Lintang.
"Jadi, apa besok kamu mau mengantar tante ke rumah Lintang?", tanya bu Nury.
Hanan mengangguk. "Besok Hanan antar tante"
Ibu Nury mengangguk. Ia kemudian keluar dari kamar Hanan. Hanan masih memandang ke arah luar jendela. Berkali-kali ia mengusap wajahnya kasar.
Kau tahu Lin, di sini di tempat ini, ada seorang lelaki yang begitu luar biasa mencintaimu. Aku bahkan tidak tahu kapan harus berhenti. Namun aku akan berhenti jika Tuhan memang telah mengatakan waktunya untuk berhenti.
*****
Mobil yang dikemudikan oleh Agum memasuki halaman kontrakan. Seketika Agum, Lintang juga Danang begitu terkejut melihat ada sebuah mobil telah terparkir di sana. Terlihat ada beberapa orang juga berdiri di depan teras. Lintang, Agum, dan Danang terlihat begitu terkejut melihat salah satu dari orang itu. Seseorang yang begitu mereka kenal. Mata mereka terbelalak. Dan bibir mereka sama-sama membentuk huruf O.
"D--dia______"
"D--dia______"
"D--dia______"
.
.
. bersambung.....
Kesel?, kesel?, sampai part 81 pun belum cerai juga??, hiihihihi sabar ya kakak-kakak tersayang, tapi ini udah mau sampai part itu kok... jadi sabar yak... untuk mengobati kekesalan yang dirasakan, author kasih ke-uwu-an Hanan dalam mencintai Lintang tuh.. uluh-uluh.... author juga mau dong disisain satu orang laki-laki macam Hanan itu.. 😍hihihiihihi... terima kasih banyak ya sudah berkenan mampir ke novel pertamaku ini.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya yah.. dan yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik vote.. hihihihi happy Reading kakak...
__ADS_1
Salam love, love, love💗💗💗