Titik Balik

Titik Balik
SERATUS DUA


__ADS_3

Lintang mengendarai motor matic nya menuju stasiun Tugu Jogja dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Ia seperti berpacu dengan waktu untuk bisa segera sampai di stasiun. Di dalam hati, tak henti-hentinya ia merapalkan doa, semoga takdir masih berpihak kepadanya.


Lintang berhenti di lampu lalu lintas yang tengah menyala merah. Beberapa kendaraan seperti bus, mobil, motor, terlihat mengular, memadati salah satu jalan protokol Jogja. Tidak biasanya Jogja mengalami kemacetan seperti ini. Atau mungkin karena long weekend yang membuat banyak para pelancong berwisata ke kota ini.


Lintang melirik jarum jam yang ada di tangannya. Sesekali ia terlihat menghembuskan nafas kasar dan mengusap wajahnya. Terik matahari yang terasa membakar kulit, ia abaikan. Yang paling penting saat ini ia bisa segera sampai di stasiun.


Tinggal 10 menit lagi kereta mas Hanan berangkat. Mungkinkah aku bisa sampai di sana tepat waktu?


Lampu berganti warna. Kendaraan-kendaraan yang ada di depan motor Lintang mulai bergerak pelan. Diikuti oleh riuh suara klakson yang bersahut-sahutan seolah menjadi tanda ketidaksabaran para pengemudinya untuk segera lepas dari kemacetan ini.


Lintang juga mulai menarik gas nya perlahan. Namun sepertinya nasib baik belum berpihak kepadanya. Tepat berada di belakang marka jalan, lampu hijau pun berubah menjadi merah kembali.


Astaghfirullahal 'adziim...


Ya, tiga menit ia harus menunggu lampu itu berubah menjadi hijau lagi.


***


Lintang setengah berlari saat memasuki area dalam stasiun. Terlihat dua kereta berhenti di jalurnya masing-masing. Ia tidak paham kereta itu tujuan mana. Orang-orang terlihat berlalu lalang di stasiun itu. Mungkin mereka adalah yang akan melakukan perjalanan. Dan banyak orang juga terlihat duduk di kursi-kursi tunggu yang ada di sisi-sisi rel kereta.


Lintang mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru stasiun ini. Berharap menemukan sosok laki-laki yang ia cari.


"Permisi mas, kereta tujuan Jakarta apa sudah berangkat?", akhirnya Lintang pun memutuskan untuk bertanya kepada salah seorang yang ada di sana.


"Oh kereta tujuan Jakarta sepuluh menit yang lalu sudah berangkat mbak".


Lintang melirik jam di tangannya. Benar saja, ia telat sepuluh menit tiba di stasiun ini. Lintang pun tersenyum getir. "Terima kasih, mas".


Laki-laki itu hanya mengangguk sembari melenggang pergi. Lintang menghembuskan nafas kasar. Sendi-sendi dalam tubuhnya seolah melemas. Ia kemudian mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi tunggu yang ada di dekatnya.


Dadanya terasa bergemuruh hebat, ia menundukkan pandangannya. Tak terasa setetes air bening lolos dari pelupuk matanya.


Seharusnya semalam aku langsung menghubungimu mas. Tapi kenapa kamu tidak menungguku terlebih dahulu, bukankah kamu juga belum mendapatkan jawaban apapun dariku?


Lintang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Jika sudah seperti ini mungkinkah ada satu keajaiban jika Hanan tiba-tiba membatalkan keberangkatannya dan tiba-tiba ada di hadapannya?


"Jangan menangis mbak. Yang sudah pergi biarkan pergi", ucap seorang laki-laki yang duduk di sebelahnya.


Lintang mengernyitkan dahi masih dengan wajah menunduk.


Ya Allah ada apa denganku. Sampai-sampai aku merasa jika suara lelaki di sampingku ini mirip sekali dengan suara mas Hanan.


Lelaki itu tersenyum. Melihat Lintang yang masih menundukkan wajahnya itu. Ia pun kemudian mengambil tisu yang ada di saku celananya.


"Pakailah ini mbak, jika tidak, jilbab mbak akan basah dengan air mata".


Ya Allah, kenapa kata-kata lelaki ini sama persis dengan perkataan mas Hanan saat aku di pengadilan. Tapi tidak mungkin kan ini mas Hanan? , kereta mas Hanan sudah berangkat. Ini pasti hanya halusinasi ku saja kan?


Lintang menerima tisu dari lelaki di sampingnya itu. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah lelaki itu bermaksud untuk berterima kasih.


"Teri........ Mas Hanan?!!!!!", pekik Lintang saat pandangannya bersiborok dengan lelaki yang ada di sampingnya itu.


Lintang menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, tidak, ini pasti halusinasi ku !!".


Lelaki itu terkekeh kecil. "Kamu tidak sedang berhalusinasi dek. Ini aku, Hanan!!".


Lintang terperangah, bibirnya terkatup. Mendengar lelaki itu memanggilnya dek, semakin menguatkan jika ia memang tidak sedang berhalusinasi. Ia tatap lekat netra milik Hanan itu. Ya, dia memang Hanan.


Lintang mulai menyadarkan diri dari keterkejutannya. "Mas Hanan tidak jadi ke Jakarta?"


Hanan tersenyum simpul. "Ada sesuatu yang tertinggal. Jadi aku putuskan untuk menunda keberangkatanku".


Lintang sedikit merasa heran. "Sesuatu?, apa itu mas?".


Hanan menatap lekat mata Lintang dan menyunggingkan senyum manisnya. "Perasaanku kepadamu".


"Maksud mas?".

__ADS_1


"Aku belum mendapatkan jawaban apapun dari kamu. Jadi aku tidak bisa pergi meninggalkan kota ini dengan tenang".


Lintang tersenyum simpul. Ia kemudian mengambil kotak merah beludru yang ada di dalam tas nya.


Lintang menyerahkan kotak itu kepada Hanan. "Ini mas, aku kembalikan".


Hanan menautkan kedua alisnya. "Apakah ini berarti untuk kedua kalinya kamu menolak aku dek?".


Lintang terdiam, tidak mengeluarkan sepatah katapun.


Hanan mengusap wajahnya kasar kemudian menunduk. "Apa lagi yang harus aku lakukan untuk membuatmu menerima aku, dek?, tidakkah kamu merasakan jika aku begitu mencintaimu?"


Lintang masih terdiam dengan sedikit menahan tawa.


"Aku mencintaimu, aku mencintaimu", ucap Hanan sedikit parau.


Isak tangis Hanan mulai sedikit terdengar.


"Mas?!".


"Aku harus bagaimana lagi, agar kamu bisa menerima keberadaanku?".


"Mas?!"


"Aku sangat i___________".


"Mas, stop. Dengarkan aku dulu!".


Hanan mengusap wajahnya yang sudah dipenuhi dengan air mata. Ia mendongakkan wajahnya kemudian menatap wajah Lintang dengan teduh.


Lintang tersenyum. Jika saat ini ia boleh mengusap air mata Hanan, sungguh ia akan melakukannya. Namun belum, saat ini ia belum boleh melakukan itu.


"Pakaikan cincin yang ada di dalam kotak ini di jariku di depan penghulu juga waliku mas".


Hanan terperangah seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "M-maksud adek?".


Hanan terkejut setengah mati mendengar jawaban dari Lintang. "Adek serius?".


"Apakah wajahku ini menampakkan ketidakseriusan mas?"


Dengan gerakan cepat Hanan menundukkan badannya di lantai dengan kedua lututnya menjadi tumpuannya. Ia bersujud di sana. "Alhamdulillah ya Allah".


Lintang terperangah melihat Hanan yang tengah sujud syukur itu yang membuat orang-orang di sekitar memperhatikannya. "Mas sudah, malu dilihatin orang".


Hanan kembali duduk di samping Lintang dengan raut wajah berbinar. "Satu minggu lagi".


"Maksud mas?"


"Satu minggu lagi aku akan menghalalkanmu dek!".


"Apa?!!!"


****


"Ibu, Hanan mohon restu untuk menjadikan dek Lintang sebagai istri Hanan, bu", ucap Hanan sambil bersimpuh di pangkuan ibu Ratih.


Seketika air mata ibu Ratih menetes. "Ibu merestui kalian, nak. Semoga niat baik nak Hanan selalu mendapatkan keberkahan dari Allah".


"Aamiin, ibu. Doakan agar semuanya diberi kelancaran ya bu".


"Inshaallah semua akan berjalan lancar nak".


Hanan mencium punggung tangan ibu Ratih kemudian ia beranjak dan duduk di sofa yang ada sebelah ibu Ratih.


"Om ganteng?!", panggil Nana tiba-tiba dari arah ruang tengah.


Hanan tersenyum lebar melihat kedatangan Nana.

__ADS_1


"Sayang, sini nak!"


Nana kemudian menghambur ke pangkuan Hanan. Kemudian memeluk erat tubuhnya. "Kata ayah Agum, om Hanan akan jadi ayah Nana juga ya?".


Hanan tersenyum mendengar kepolosan Nana itu. "Boleh, kalau om Hanan menjadi ayah Nana juga?".


Nana mengangguk mantap. "Boleh om ganteng. Berarti tiap hari om ada di sini kan?,


Hanan mengangguk. "Tentu sayang".


"Nemenin Nana makan?"


"Iya sayang".


"Nemenin Nana belajar?".


"Tentu sayang".


"Nemenin Nana main?".


"Iya sayang"


"Ummm nemenin bunda bobok?".


Hanan mengernyit. "Kok cuma bunda?, Nana tidak ikut bobok sama bunda juga?".


Nana menggeleng. "Nana sudah TK om ganteng. Kata bu guru di sekolah, Nana harus belajar bobok sendiri".


"Nana tidak takut?".


"Nana sudah besar om ganteng, jadi berani bobok sendiri".


Hanan menyunggingkan sedikit senyumnya. "Kalau Nana sudah besar, mau tidak kalau punya adik?"


Mata Nana membulat. "Waahhh adik kecil?".


"Iya sayang".


"Mau om mau!!".


"Coba bilang ke bunda sayang!"


Nana menautkan pandangan ke Lintang. "Bunda, bikinkan adik kecil untuk Nana ya".


"Mas?!", ucapnya kepada Hanan. Hanan pun hanya tersenyum simpul. Lintang membelai rambut Nana yang ada di pangkuan Hanan. "Iya sayang, besok Nana pasti punya adik kecil".


"Nana pengen punya adik kecil banyak, biar ramai bunda!!".


Hanan, Lintang dan ibu Ratih pun hanya terkekeh mendengar celotehan gadis kecil itu. Mata Lintang tiba-tiba memanas. Rasa haru menguasai jiwanya. Namun seketika senyum tipis tersungging di bibirnya.


Terima kasih atas segala ketetapan yang sudah Engkau pilihkan untukku ya Rabb. Engkau pasti lebih mengetahui apa-apa saja yang memang terbaik untukku. Semoga ini merupakan awal yang baik untuk semuanya.


Hanan menautkan pandangannya ke arah Lintang. Ia tersenyum tipis kemudian lirih ia berkata. "Aku mencintaimu".


Pipi Lintang menghangat dan membuat rona merah di sana. "Aku juga mencintaimu mas Hanan".


.


.


.bersambung...


Lanjut lagi gak nih??, hihihihi... inshaallah tinggal satu part lagi novel ini tamat ya kak (tapi kalo kepanjangan, ya author bikin dua part lagi) 😆


Terima kasih banyak untuk semua yang sudah setia menunggu kelanjutan novel titik balik ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episode nya yahh.. jangan lupa vote, vote, vote biar author lebih semangat lagi dalam menulis. Happy Reading kakak..


Salam love, love, love💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2