Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
RUANG BISNIS


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Ruang dektor


TRISTAN ELARD


Sebuah nama yg masih belum diketahui oleh Rei, dia juga tidak tau siapa sebenarnya pria yg ada dihadapanya saat ini.


Tristan ELARD bukan seperti manusia pada umumnya, melainkan seorang "Vampir" bukan berarti itu menjadi hambatan baginya. Tristan menjalani kehidupan seperti layaknya seorang manusia, dia juga seorang dosen dengan karir yg sangat melegit. Dia juga mempunyai keluarganya sendiri, seorang ayah bernama Erlando, sedangkan sang ibu bernama Maria. Dari sudut pandang kebanyakan orang Tristan sosok pria yg sangat disegani dan juga terpopuler bagi kaum wanita krna wajahnya yg sangat tampan bak pangeran berkuda yg amat gagah dengan dada yg berbidang lebar.


Sebagai seorang dosen dia juga memiliki sebuah perusahaan yg sudah berkembang pesat, tetapi saat ini sang ayah yg telah melakoninya semenjak dia menginjakkan kaki di suatu universitas imperial college, baginya ilmu itu memang harus diberikan pada banyak orang bukan untuk dirinya sendiri, Dan bukan cuma ilmu saja, Tristan juga pintar dalam berbagai hal seperti memasak.


Jangan lihat,jangan lihat... batin Rei menggerutu.


"Tunggu," ucap Tristan.


Rei terus saja berjalan tanpa menoleh kearahnya karna dia tidak peduli lagi dengan panggilan itu, dia cuma tidak ingin harinya menjadi kacau seperti sebelumnya.


"Iya mas ganteng... mas panggil saya?" jawab gisele membalas panggilan itu.


Tetapi tristan tidak menjawab sahutan Gisele karenanya dia merasa ada yg aneh didalam dirinya, seolah merasa kesal krna panggilannya dijawab pada orang yg salah.


Tatapan tajam muncul Dimata Tristan yg mengarah pada Rei agar menyadarkan Gisele kalau dirinya tidak merasa telah memanggilnya.


"Rei... kamu dipanggil tuh." Gisele menyenggol badan Rei yg sedari tadi terdiam.


"Sudahlah gausah diladenin, biarkan saja..."


Rei mengarah kedepan tak melihat Gisele apalagi menoleh kebelakang.


"Maaf ni ya mas ganteng... orng yg dipanggil tidak mau nyahut, kami permisi dulu... soalnya kami masih ada urusan lain, Mari..." ujar gisele sembari membawa pergi rei buru-buru karna gisele menyadari apa yg telah terjadi ketika rei tidak lihat kebelakang.


Dingin.... batin gisele sembari menggeliat.


Gisele dan Rei berlalu begitu saja.


Apa!! batin Tristan berkata.


Rasa kesal mulai menggerogoti pikiran Tristan, dia tak habis fikir kenapa seolah seperti dia ditolak mentah-mentah oleh seorang wanita bernama Rei.


Mereka pergi begitu saja dengan perasaan yg amat kacau, yg satu teramat malu karna sudah salah sangka, yg satunya lagi males menggubris dan tak ingin bnyk bicara.


*****


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Kelas bisnis

__ADS_1


Ruang kelas dipenuhi bangku yg sudah tersusun rapi, terdengar juga suara keributan didalamnya. ada yg lagi mengobrol, membaca, mendengar musik, ada pula yg sedang berkumpul untuk berdiskusi mengenai tugas mereka.


Rei dan Gisele belum mengenal seorangpun yg ada di dalam ruangan itu, mereka hanya ditemani oleh seorang pegawai khusus bertugas untuk mengurus murid pindahan.


"Baiklah semuanya... dengarkan bapak dulu! bapak ada pemberitahuan untuk kalian..." mengetuk meja agar terdengar oleh semuanya.


Rei juga Gisel berdiri didepan kelas dengan sangat kaku karna semua orang hanya fokus melihat mereka berdua.


Salah seorang murid mengangkat tanganny seperti ingin bertnya.


"Pak," ucapnya.


"Iya..silahkan," jawab guru itu.


"Mereka berdua siapa pak," ucapnya lagi.


"Oh, baiklah... bapak perkenalkan langsung pada kalian, mereka adalah murid pindahan dari New York! mereka baru saja masuk di universitas ini. mohon kalian selalu kompak walaupun ada murid baru! bisa..." berkata dengan tegas.


"Bisa pak..." beo seluruh para murid serentak.


"Oke! perkenalkan diri kalian langsung," perintah guru itu menoleh pada rei juga gisele.


"Nama aku Gisele Frisilia, salam kenal semua..." membungkuk badan perlahan tampak gugup.


"Ha-hai... nama saya Reini. panggil saja Rei, salam kenal untuk kalian..." tersenyum kecil yg melintas dibibirnya.


"Terimakasih pak...." sahut Rei dan Gisele membungkung secara serentak.


"Baiklah, bapak tinggal dulu..." menundukkan kepala tanda pamit.


Setelah selesai memperkenalkan diri, mereka bergegas pergi untuk segera mengisi tempat yg telah disediakan.


Masih Setengah perjalanan, mereka dikejutkan oleh langkah kaki yg memasuki ruang kelas. terdengar juga sapaan oleh seorang murid padanya, bisa dibilang sudah tidak asing lagi dalam pendengaran mereka.


Suara ini... batin Rei juga Gisele tampak mata melebar.


Tetapi Gisele dan Reini tidak ingin menoleh kebelakang, mereka terus saja berjalan selangkah demi selangkah.


"Tunggu," tegas Tristan.


"Apasih... kenapa lagi ini? oh, Tuhanku... kalau memanggil pasti yg dibilang tunggu!" gerutu rei dan gisele dalam benak mereka masing-masing.


Gisel cuma bisa terpaksa menoleh kebelakang, terpampang senyuman seperti masa bodoh dan tidak kenal.


Tidak Untuk Reini yg masih diam berdiri serasa tubuhnya tidak bisa berkutik lagi.


"Eh, Mas ga- egh, maksudnya bapak..." senyum secara mengangguk pelan, menandakan rasa malu yg ada pada diri gisele.

__ADS_1


"Kalian... ah- kalian boleh duduk." Tristan mengernyitkan dahinya.


Seisi ruangan itu fokus pada ketiganya, Semua pada bingung melihat ekspresi masing-masing.


Mereka melanjutkan langkah yg sempat terhenti barusan, Rei duduk didekat jendela terbuka sementara Gisele tepat berada disebelahnya.


Rei menghembuskan Nafas perlahan yg sejak tadi dia tahan, sampai dia juga tidak menyangka kenapa bisa terus bertemu dengan pria yg sedari pagi tak dikenalnya malah berdiri seperti seorang dosen.


"Oh tuhan... apa salahku," gumam Rei pelan.


"Rei, kamu tadi bilang apa?" tanya Gisele pula terdengar samar ucapan Rei barusan ditelinganya.


"Tidak ada," menghela nafas kecil.


"Selamat pagi semua," sapa Tristan berdiri tegap.


"Selamat pagi juga pak..." beo murid membalas sapaan tristan terkecuali Rei yg masih mengarah ke luar jendela dengan menopang dagunya.


"Ekhem,Hem," menatap Rei berdehem.


"Rei, kamu diliatin loh." Gisele menyadarkan Rei sembari menyenggol dengan kakiny.


"Ah, sia- ," ucapnya terhenti ketika Rei sekilas melihat Tristan menatapnya dari jauh.


Spontan Rei mengalihkan pandangan kearah tas miliknya dengan berpura-pura sibuk mencari perlengakapan yg dibawanya.


"Baiklah! semuanya... sebelum saya melanjutkan pelajaran baru, saya ingin bertanya satu hal. apakah kalian masih mengingat tugas yg saya berikan kemarin?" tanya tristan tegas.


"Masih pak...." sahut serentak para murid.


Rei dan Gisele cuma bisa membelalakkan matanya. mereka terkejut mendengar perkataan pria itu yg masih belum mengerti dengan situasinya, mereka saling bertatapan satu sama lain hingga tidak percaya diri bahwa mereka bukan murid lama.


Dan lagi apa katanya! pelajaran baru? itu berarti.... batin Rei dan Gisele tampak panik.


"Rei... apa kau dengar dia bilang apa barusan?" bicara secara berbisik.


"Dengar," jawab Rei singkat.


"jangan-jangan...." Gisele panik bukan kepalang menebak isi pikirannya sendiri.


"Ya... dari cara penyampaiannya, Mungkin saja dia seorang dosen! kita hadapi saja bersama." Rei hanya bisa pasrah jikalau itu memang benar adanya.


............


Bersambung....


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA😚🀭

__ADS_1


πŸ₯°πŸ˜ MAMAK SAYANG KALIAN❀️πŸ₯Ί


__ADS_2