Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
KEBERSAMAAN


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Ibu Maria berharap akan ada kebahagiaan yg datang setelah pertemuan ini, dirinya sangat mendukung pilihan yg sudah ditentukan oleh Tristan. wajar saja dirinya sedikit kesal karna Tristan membuat keputusan sendiri memberikan dirinya sebagai hadiah. namun, setelah dia bertemu langsung dengan Rei wanita tercantik yg belum pernah dia temui sebelumnya membuat ibu Maria menghilangkan rasa marahnya begitu saja.


Rei, Tristan, maupun ibu Maria semuanya berbaur pada lamunan masing-masing. tidak ada yg membuka suara sedikitpun.


Ketika menit berlalu pergi.


"Apa ini kenyataan? ibumu menjadi hadiah yg kau berikan untukku?" membuka bicara serta mengulang kembali pertnyaannya.


"Iya Rei," jawabnya pula meyakinkan kembali.


Ya Tuhan.... calon mantuku cantik sekali?! kau tidak salah memilih Tristan? Batin Ibu Maria sembari menyentuh pundak Tristan.


"Dan satu lagi."


Terlepas dari perbincangannya dengan Rei dirinya segera meraih buket bunga yg baru saja dia beli, tentu saja untuk diberikan langsung pada Rei.


"Nih."


"Apa ini?" tanya Rei yg sudah disuguhkan sebuah bingkisan.


"Hadiahmu yg kedua," timpal Tristan tersenyum menatap Rei.


"Masih adakah yg kedua?" bertanya mengernyitkan dahi.


Bila perlu semua yg aku miliki kuberikan untukmu Rei... batin Tristan terkesiap.


"Buka saja Rei," titahnya pada Rei.


Tak lama rei perlahan membuka bingkisan yg diberikan Tristan untuknya dia melihat bingkisan itu terdapat kotak yg sangat mewah, dan dia mencoba membuka isi kotak itu dengan mata setengah tertutup krna sangking gugupnya. ternyata didalam kotak itu berisi bunga yg sudah tersusun rapi membentuk hati, dirinya sampai tercengang sungguh terkejut apalgi ditambah keharuan didalam hatinya, semua seakan bercampur aduk.


Tak habis-habisnya kau buat aku terkejut Tristan!!! aku masih tidak paham dengan semua pemberianmu ini... batin Rei mengamati bunga abadi itu.


"Indah sekali Tristan... sungguh indah," antusiasnya tampak mata berkilauan.


TOS. bunyi tepukan tangan antara ibu dan Tristan pelan agar tidak didengar oleh Rei.


Tentu saja mereka merayakan kemenagannya, karna Tristan dan ibu Maria telah berhasil membuat Rei bahagia dihari ulang tahunnya.


aku masih tak yakin, Tristan bisa berbuat seromantis ini !!! siapa yg sudah mengajarkan pada anak ini ?! apa dokter Rian??? batin Ibu Maria mencibirnya memicingkan mata pada tristan.


...***...


Ruang kantor


HAACCIIIHH


Kenapa aku jadi bersin begini?! apa anak breng*** itu sudah menyebut namaku !!! awas saja kau kalau ketemu denganku!! gumam Rian yg sedang mengingat kesialan dirinya saat dirumah Rei.


...***...


Tatapan mata Rei seolah menunjukkan rasa bahagia yg mendalam, tentu saja dia bahagia dengan adanya Tristan disampingnya, Tristan sahabat terbaik yg pernah dia temui semasa hidupnya. Gisele saja belum tentu mau membelikan dia bunga indah seperti itu.


"Apa kau suka Rei?" tanya Tristan yg berharap jawaban Rei.


"Aku suka! sangat suka.... kau sudah memberikan kebahagiaan untukku. kau sahabat terbaikku tristan! terimakasih banyak," timpalnya pula dengan merendah.


"A..."


*A*pakah dia tidak mengerti apa arti bunga abadi ini?! ya Tuhan... masihkah dia belum peka juga!!! batin Tristan memegang jidatnya.

__ADS_1


"Gisele saja belum tentu memberikan aku hadiah seperti ini... palingan dia kasih boneka,baju! gak pernah semewah pemberianmu Tristan," cerocosnya tidak memperhatikan kegalauan Tristan.


"Apalagi kau memberikan ibumu padaku, mana mungkin Gisele memberikan ibunya padaku," ujarnya lagi terus berbicara.


"Ta..."


"Nak...."


Ibu Maria hanya menahan pundak Tristan agar tidak melanjutkan pertnyaannya pada Rei, krna dia sudah melihat saat ini Rei hanya menganggap dirinya sebatas sahabat.


Sabar Tristan. tuhan bersamamu!! kau pasti akan mendapatkan kebahagiaan mu... ibu yakin itu, krna ibu juga seorang wanita. batin Ibu Maria mengamati perawakan Rei.


Karna ibu Maria menahan bahu Tristan sedari itu Tristan mengundurkan niatnya untuk berbicara lebih bnyak lagi pada Rei, dirinya tidak mungkin berterus terang. sementara Rei masih menganggap dirinya sahabat baik.


Apapun akan kuberikan untukmu Rei asal kau bahagia. batin Tristan menghela nafas pendek.


"Kau mau bicara apa tadi? kenapa tidak dilanjutkan?" tanya Rei menatap wajah keduanya.


*A*ku sudah tidak sabar lagi rasanya ingin melihat mereka segera bersanding bersama, aku harus bisa menyatukan mereka secepatnya. krna kalau tidak, akan ada pria lain yg menginginkan wajah cantik itu. antusias Ibu Maria juga terlihat was-was.


"Ini...." Rei mendapati sebilah kertas yg belum sempat dibukanya.


"Ah. itu tidak perlu kau buka disini Rei? saat dirumah kau bisa membukanya," sekilas wajah Tristan tampak tersipu malu.


Apa lagi yg dibuat anak nakal ini?! tidak ada habisnya dia membuat kejutan untuk Rei !!! perjuanganmu sungguh diluar pemikiran ibu.batin Ibu Maria menggeleng kepalanya.


Rei memasukkan kembali kertas itu kedalam kotak dengan wajah yg sangat penasaran, sebenarnya dia ingin sekali membukanya. namun, tetap tidak ingin membantah Tristan saat ini, pada akhirnya dia mengalah untuk mengikuti kemauan Tristan saja.


Tak lupa juga Rei memindahkan buket bunga itu tepat disebelahnya agar terlihat olehnya ketika pulang nanti.


"Tristan... ayo duduk," pintanya melirik wajah Tristan yg terlihat sedang malu.


Suasana hangat yg tak pernah terjadi didalam hidup Rei selama ini, ternyata dia rasakan setelah mengenal Tristan. mungkin saja kebahagiaan akan mulai datang dalam hidupnya satu persatu setelah pertemuan berlangsung.


"Silahkan dimakan Bu," seru Rei membuka pembicaraan dalam suasana yg terlihat canggung.


Tentu saja Mereka menikmati hidangan pembuka secara bersamaan. tetapi kesempatan datang untuk Tristan yg sesekali mencuri pandanganya terhadap Rei tanpa berkedip.


Semua pada sibuk dengan urusan sendiri, namun dia tetap saja melirik kearah Rei sampai dirinya tidak sadar sudah diperhatikan oleh sang ibu.


Ya tuhan.... mereka Cocok sekali?! batin Ibu Maria senyum sendiri teringat masa mudanya dahulu bersama sang suami.


"Ibu... apa ibu dirumah sendirian?" tanya Rei membuyarkan lamunan Ibu Maria.


"Iya Rei... ibu dirumah selalu sendirian," sahutnya dengan lembut.


"Apa yg ibu lakukan dirumah?" tanyanya lagi agar rasa canggungnya bisa teratasi dengan terus membawa bicara Ibu Maria.


"Ibu hanya asyik merawat tanaman," jawab Ibu Maria kembali sembari menikmati hidangan.


"Wah... tanaman?" antusiasnya girang.


"Iya? apa kamu suka tanaman Rei?" timpal Ibu Maria langsung merespon reaksi bahagia Rei.


"Suka Bu! Rei memang sangat menyukai tanaman," sarkasnya lagi tampak mata berbinar.


"Kita punya kesamaan sayang.... ibu akan membawamu ketaman ibu. apa kau mau Rei?" tanya Ibu Maria memegang punggung tangan Rei.


"Kerumah ibu," singkatnya melirik Tristan.


Tristan menjadi pihak ketiga yg tidak mendengar pembicaraan mereka sedari tadi, dia hanya sibuk untuk mencuri pandangannya terhadap Rei ketika mereka sedang berbincang.

__ADS_1


"Tristan! kau harus membawa Rei melihat tanaman ibu," titah sang Ibu sengaja membuat Tristan sadar dari lamunannya menatap Rei.


"I- iya Bu..." sudah buyar lamunan Tristan krna panggilan sang Ibu.


"Tapi... apa Rei mau Bu, kalau aku membawanya ketaman ibu," timpalnya pula yg ingin mendengar jawaban langsung dari Rei.


"Sayang? kau mau kan?" tatapan mata ibu dengan Rei penuh harapan.


"Ma- mau Bu..." menjawab karna tak bisa menolak dengan tatapan yg diberikan Ibu Maria.


"Baiklah! ibu tunggu kamu datang sayang...." menyentuh pipi Rei dengan kasih sayangnya.


Rei menikmati kehangatan yg diberikan ibu Maria padanya, tanpa adanya paksaan dia pun meraih tangan ibu Maria yg memegangi pipinya seolah Rei sudah bisa menerima keberadaan ibu maria untuknya.


Aku bahagia sudah memiliki seorang ibu, aku bahagia tuhan... kau sudah mendengar do'aku. batinnya memejamkan mata merasakan kelembutan yg dia sebut sebagai ibu.


"Maaf tuan, nyonya... saya akan menghidangkan main coursenya, saya meminta waktu tuan sebentar," sapa seorang pelayan restoran yg membungkuk meminta izin menghidangkan makanan untuk mereka.


"Silahkan..." sahut Tristan pula.


Main course disebut juga main dish atau groce piece, Main course (hidangan utama) yang dihidangkan dengan baik biasanya merupakan hidangan yang paling mengenyangkan dan padat komposisinya.


Pelayan restoran menghidangkan main course berupa steak, pasta ataupun sejenis sayuran yg sudah diolah ialah sayuran continental. tak lupa juga menghidangkan Lemonade(air lemon) Umumnya dicampur dengan simple syrup, madu dan air soda.


"Maaf sudah menyita waktu tuan, silahkan dinikmati hidangannya... saya pamit dulu, mari..." ucap pelayan itu menundukkan kepala ingin pamit pergi.


"Terimakasih." kata Tristan membalas dengan sopan.


"Rei... nikmati makanan mu," seru Tristan menyuguhkan steak dihadapan Rei.


"Terima kasih Tristan," balas Rei melirik Ibu yg menatap mereka.


"Bu! ayo dimakan..." beradu kompak.


"Iya nak..." sarkas Ibu Maria tersadar dari lamunannya karna mengamati keindahan tepat didepan mata.


"Tunggu Rei," seketika meraih steak yg belum dipotong oleh Rei.


"Kau makan yg ini saja," titahnya memberi steak yg sudah terpotong kecil.


"Ti- tidak! kau saja yg makan Tristan? aku bisa memotongnya sendiri," menahan piringnya agar tidak diambil oleh Tristan.


"Sudah! kau ambil sekarang atau aku akan marah!" celetuknya dengan melotot agar Rei patuh.


"Ba- baiklah..." akhirnya Rei menyerah dengan tatapan mata Tristan.


*K*enapa kelakuannya membuatku sedikit risih ya?? batin Rei menunduk kaku.


*H*ihihi... manisnya ??? batin Tristan terkekeh sangking gemasnya.


*H*aaahh.... bahagia sekali aku melihat mereka yg seperti suami dan istri ini??? harmonis sekali.... batin Ibu Maria terlihat seperti berbunga-bunga mengedipkan mata berulang kali.


Kenapa tingkah ibu jadi begini ?!! Seperti ibu saja yg sedang jatuh cinta, aneh!!! batin Tristan melirik kearah sang ibu terheran.


............


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE DAN KEN YA 😚🀭


πŸ₯°πŸ˜ MAMAK SAYANG KALIAN πŸ₯Ίβ€οΈ

__ADS_1


__ADS_2