
☘️☘️☘️☘️
Markas tersembunyi.
WUUSSHH
"Ada apa xel? aku harap kau memberikan kabar yg baik!" tanya Eron dari balik punggungnya.
"Aku sudah menemukan gadis itu, sekarang dia sudah berada di istana Marvel," beber Axel pula.
"Bagus! sekarang aku beri kau perintah untuk menangkap gadis itu hidup-hidup bagaimana pun caranya!" titahnya tampak mata yg membara.
Axel merupakan vampir yg bisa berubah wujud. dia bisa melakukan itu tanpa diketahui oleh Maria juga Erlando.
"Baiklah, aku akan berusaha untuk masuk ke dalam istana tanpa seorangpun yg tau," turut Axel pula dengan patuh.
"Aku tidak ingin kau ketahuan! kau juga harus waspada dengan musuh berat kita! aku juga sekarang sudah menemukan sebuah ide untuk menjatuhkan para bede*ah itu!" geram Eron saat mengingat atasannya telah dibunuh secara keji.
"Baik! aku akan segera pergi untuk menyelesaikan misi kita," ucap Axel langsung bergerak dari tempatnya.
"Kau lihat saja Erlando, aku akan membuat kalian menyesal!!" erang Eron tampak puas.
Setelah Axel berlalu pergi.
Taman bunga istana Marvel.
Tristan tampak berlari disebuah taman sekitaran istana yg sudah sekian lama dirawat oleh ibunya.
"Wah... Tatan nampak senang ya di sini," tegur Belinda dari jauh.
"Tante cantik! sini..." sahut Tristan dengan riuhnya menyapa Belinda.
Belinda hanya tersenyum melihat kegirangan Tristan saat dirinya hadir di taman itu. Belinda pun langsung menyusul Tristan untuk segera bermain bersama menebus janjinya pada Tristan.
"Tante cantik, apa tugasnya sudah selesai?" tanya Tristan sambil tersenyum manis.
"Aduh, manisnya Tatan," geram Belinda mencubit pipi Tristan perlahan.
"Hmm, jangan cubit pipi Tatan! krna Tatan bukan anak kecil lagi," ucapnya cemberut seolah memonyongkan mulutnya.
"Memangnya umur Tatan berapa?" tanya Belinda seakan senang melihat ekspresi Tristan padanya dan sengaja bertnya padahal sudah mengetahui lebih dulu.
"Enam tahun," balasnya masih terlihat cemberut.
"Wah... ternyata Tatan sudah besar ya?" antusias Belinda terlihat ingin membujuk Tristan.
"Benarkan, Tatan itu sudah besar! nanti kalau sudah besar. Tatan mau nikahnya sama Tante," ucapnya polos.
"Hahaha, Tatan siapa yg mengajari seperti itu?" tanya Belinda bergeleng kepala sambil tertawa.
"Bukankah setiap orang dewasa sudah waktunya menikah," kata Tristan menghentakkan batin Belinda.
Zlep!
Benar!! semua orang dewasa sudah waktunya menikah, apakah aku juga harus seperti itu? tapi... dengan siapa aku akan menikah nantinya... batin Belinda merasa tersindir.
"Tante, kenapa melamun? apa Tante lagi mikirin sesuatu?" tanya Tristan memegang kedua pipi Belinda.
"Tidak, saya hanya senang saja melihat Tatan tumbuh dengan sangat bijak," jawabnya dengan tenang.
"Ohya! Tante sudah makan?" tanya Tristan lagi.
"Belum, saya baru saja ingin mengajak Tatan makan," balasnya pula.
Tristan langsung menoleh ke sebuah meja yg sudah tersusun dengan dikelilingi oleh kursi berbahan perak. Tristan pun menarik lengan Belinda seketika itu juga.
"Kita mau kemana Tatan?" tanya Belinda bingung.
__ADS_1
"Mau makan dong Tante... tadi ibu sudah menyiapkan makanan untuk Tatan, kita makan bersama saja," riuhnya terus membawa Belinda.
Belinda pun terdiam dengan tingkah Tristan yg begitu banyak membuatnya merasa bahagia.
"Duduk Tante," pintanya dengan lembut.
"Tatan bisa naik sendiri?" tanya Belinda saat melihat sebuah kursi yg cukup tinggi.
"Bisa! Tante tidak perlu cemas, Tatan bisa naik dengan kaki sendiri," jawabnya dengan santai.
Disaat itu Belinda memperhatikan perawakan Tristan yg terlihat sudah seperti orang dewasa saja.
"Tante lihat saja," jawab Tristan terlihat bersemangat.
"Oke. saya akan lihat," balas Belinda mengiyakan.
Sejenak Belinda melihat Tristan yg sudah tengah duduk dengan sigapnya. Tristan melompat dengan kakinya yg masih terbilang sangat kecil, namun Tristan Mampu menggerakkan tubuhnya dengan cepat.
PROK PROK
"Waw! Tatan hebat sekali," riuh Belinda tidak berhenti menepuk tangannya.
"Tuh kan, sudah Tatan bilang kalau Tatan bukan anak kecil lagi," antusiasnya membenarkan.
Belinda menatap Tristan dengan tersenyum sambil menghembuskan nafas pelan.
"Ini Tante. makan dulu," suguhan Tristan mendorong piring di hadapan Belinda.
"Makanan apa ini Tatan?" tanya Belinda tampak heran krna belum pernah melihat makanan yg terlihat lezat baginya.
"Ini Bubble and Squek Tante," jawab Tristan perlahan.
"Oh, saya baru mendengarnya. nyonya Maria membuat makanan seperti ini? terlihat begitu lezat," seru Belinda pula.
"Tapi ini terbuat dari apa ya?" sambung Belinda sangat penasaran saat menatap makanan itu.
"Waa.... sepertinya tidak sulit ya untuk membuat makanan ini," antusias Belinda tampak mata berbinar.
"Tante minta ajarin ibu saja bagaimana cara membuatnya! sekarang kita makan. krna Tatan sudah lapar," bebernya dengan jujur.
"Maaf ya, saya banyak bertanya. mari kita makan," ajaknya merasa tidak enak sedari awal sudah membuat Tristan menunggu.
"Tidak apa Tante, jangan sungkan sama Tatan! Tante sudah menjadi bagian keluarga ini," katanya dengan bijak membuat Belinda terkejut.
"Iya Tatan, terimakasih sudah mau menerima saya di istana ini," ungkap Belinda dengan merendah.
"Yuk kita makan," ajak Tristan dengan sigap.
Belinda mengikuti ajakan dari Tristan, mereka tampak menikmati makanan yg sudah disediakan oleh Maria untuk Tristan. namun karena Belinda belum makan, makanya Tristan membaginya menjadi dua. sungguh mulia hati Tristan pada orang yg sudah dia anggap seperti keluarganya sendiri.
Kpak Kpak
Bruk
"Loh! itu apa yg jatuh?" riuh Belinda sekilas terkejut.
"Kenapa Tante?" balik bertanya.
"Saya juga tidak tau, Tatan lanjutkan saja makannya! saya ingin melihat sebentar," titah Belinda pula.
"Baik Tante, jangan lama-lama ya..." patuhnya sambil menyantap makanan.
Belinda merasa penasaran, dia pun segera bangkit dari tempat duduknya untuk melihat sesuatu yg jatuh di saat itu. dirinya terus berjalan mengikuti arah yg terlihat olehnya sekilas tadi.
"Lo, inikan seekor burung! kenapa burung ini bisa jatuh? tapi... sepertinya sedang terluka," terheran sambil memungut burung itu.
Belinda membawanya untuk kembali ke meja sebelumnya bersama Tristan.
__ADS_1
Sesampainya di meja.
"Itu apa Tante?" tanya Tristan mengamati yg dibawa oleh Belinda.
"Saya juga tidak tau kenapa burung ini bisa terjatuh," jawab Belinda sambil meletakkan burung itu diatas meja.
"Perhatikan, sepertinya burung ini terjatuh karena sayap dan kakinya terluka," seru Tristan saat melihatnya dengan seksama.
"Kalau begitu saya akan ambilkan kotak obat dulu," kata Belinda dengan cepat.
Tristan manggut menjawab perkataan Belinda, dia pun menunggu di meja sambil mengelus kepala burung itu.
Sesaat Belinda pergi tidak berapa lama kembali dengan membawa sebuah kotak obat.
"Sini, biar saya yg akan mengobatinya," ucap Belinda pula.
Tristan langsung memberikan ke tangan Belinda dengan patuhnya.
"Darahnya masih terus keluar," kata Belinda merasa kasihan.
"Cepat Tante obati burung itu, nanti akan semakin parah," lontar Tristan pula.
"Baiklah," balas Belinda dengan sigap mencari obat yg diperlukan untuk menghentikan darahnya saat dirinya di obati oleh Haikal.
Perlahan Belinda memberi perhatian khusus untuk burung itu, dirinya juga merasa sedih saat ada yg terluka walaupun hanya seekor burung.
"Tante, kita harus memberikannya kandang! tidak mungkin kita biarkan dia terbang di saat luka begini," kata Tristan sambil mengelus kepala burung itu.
"Tatan benar! tapi... dimana kita akan mencari kandangnya?" tanya Belinda celingukan.
"Hem, Tante tunggu disini. Tatan akan segera kembali," sigapnya turun dari kursi.
Belinda tersenyum saat melihat Tristan turun dari kursinya dan dengan cepat dia berlari entah kemana.
"Hai, kenapa kau diam saja?" sapa Belinda membawa bicara burung itu.
"Apa kau sudah baikan?" tanya lagi dengan memegang kaki burung itu yg sudah dia balut dengan perban.
Belinda berbicara sendiri saat Tristan belum juga kembali.
"Tuan muda, kenapa kamu ingin sebuah kandang?" tanya Leli saat Tristan menghampirinya.
"Berikan saja padaku!" jawabnya seakan malas berbicara.
"Saya ingin tau, tuan muda mau melakukan apa dengan kandang burung?" tanya lagi tampak tersenyum.
"Apa aku menyuruhmu untuk banyak bertanya?" sergah Tristan tampak jengkel.
Apaan anak kecil ini, apa sudah mulai terhasut oleh si gembel itu!!! batin Leli merasa kesal.
"Kenapa malah terdiam? ayo cepat!" tegas Tristan lagi.
"Baiklah tuan muda! akan saya ambilkan," seru Leli sambil menundukkan kepala pelan.
"Cepatlah sedikit," ucap Tristan dari jauh saat Leli sudah bergegas pergi.
Seiring waktu berjalan beberapa menit.
"Ini tuan kandangnya," tegur Leli memberikan langsung pada Tristan.
Tristan pun meraih kandang yg diberikan Leli namun tidak mengucapkan sepatah katapun. krna memang Tristan tidak banyak berbicara ataupun bercanda dengan para pelayan istananya. dia hanya ingin berbicara pada orang yg benar-benar tulus mendekatinya.
Disaat Tristan melangkah pergi dari hadapan Leli, dengan rasa penasaran Leli juga mengikuti langkah Tristan tepat didepannya. dirinya sungguh merasa jengkel kalau sudah menyangkut wanita bernama Belinda.
.............
Bersambung....
__ADS_1