
☘️☘️☘️
Sekitar pukul 8 malam di rumah Belinda.
Ting Tong
"Ya, tunggu sebentar," sahut Belinda dari dalam rumah yg baru saja keluar dari kamar bik Lis.
Kriet
Pintu terbuka lebar saat itu.
"Halo Belinda."
Ternyata seorang tamu yg tengah menyapa Belinda hingga ia terbengong dan sedikit menampakkan rasa senangnya.
"Ambar?" sambut Belinda langsung memeluk tubuh Ambar seketika.
"Ya, ini aku! maaf kalau aku mengganggu mu Belinda," turut Ambar dan menepuk punggung Belinda sesekali yg masih dalam dekapannya.
"Tidak! aku senang kau bisa singgah ke sini," riuh Belinda pula sejenak melepas pelukan itu.
"Yuk, kita masuk! banyak yg harus kita obrolkan," lanjut Belinda meraih tngan kiri Ambar dan membawanya masuk.
"Loh! ini apa?" tanya Belinda berhenti dari langkahnya saat melihat Ambar membawa bungkusan.
"Ini cupcake aku beli sebelum ke sini," turut Ambar memberikan bingkisan yg ia bawa.
"Wah, darimana kau tau aku suka yg manis manis?" antusias Belinda menyambut bingkisan itu dengan memegangnya erat.
"Kalau aku tidak tau, aku tidak pantas menjadi teman mu," monolog Ambar membuat Belinda terharu saat mendengar ucapan itu.
"Kau wanita yg baik Ambar, sekarang kau ikut denganku. banyak yg aku ingin tanyakan padamu," kata Belinda melontarkan senyum tipis dibalut sedihnya mengingat kondisi bik Lis.
Setelah perbincangan itu, mereka menuju ruang tamu untuk berbincang kembali.
"Duduklah, aku akan membuatkan minuman mu! kau mau minum apa?" tanya Belinda pula.
"Apa saja Belinda, kau tidak perlu terlalu repot repot! seperti aku orang lain saja," celoteh Ambar saat itu yg kian duduk manis.
"Sekejap Ambar! aku tidak akan lama," lontaran manis Belinda membuat Ambar merasa jijik melihatnya namun ia tak menampakkan wajah itu. ia berpura membalas senyuman Belinda supaya tidak mencurigakan.
Ketika Belinda berbalik arah dan melangkah ke arah dapur, Ambar berdiri dari kursinya dengan melipatkan kedua tangan di dada. dari kejauhan dia melihat foto bingkai berukuran besar terpampang jelas disorot matanya yg sangat tajam. ia melihat Haikal bersanding penuh bahagia disamping Belinda.
Setapak demi setapak Ambar menuju bingkai itu dan berhenti tepat didepannya.
"Cih. kau tak pantas menjadi nyonya rumah ini?!" gumam Ambar merutuki Belinda dengan sorot mata kebencian.
"Kau tunggu saja! karna aku akan pastikan kau hilang dari muka bumi ini selamanya, hahah?!" gumamnya lagi dengan terkekeh sendiri.
"Ambar? ada apa? kenapa kau tertawa didepan bingkai ku?" tanya Belinda sekilas mendengar tawa dari Ambar sambil memegang sebuah gelas berisi teh.
"Ah, hahah... ti - tidak Belinda, aku tertawa karna melihatmu disini sungguh sangat cantik," cakap Ambar dengan kelabakan dan menoleh kearah foto bingkai itu supaya tidak terlalu mencolok saat dirinya terpaksa tertawa.
"Oh! tetapi kenapa kau tertawa? harusnya kau cukup tersenyum saja! apa kau juga mengejek riasan ku itu?" protes Belinda membuat jantung Ambar terhentak.
__ADS_1
"Tidak Belinda! mana mungkin aku seperti itu padamu? kau itu sungguh cantik, aku sungguh iri padamu! karna kau memiliki wajah yg begitu rupawan," cerocos Ambar lagi mencari alasan yg membuat Belinda percya padanya dengan merangkul pundak Belinda.
"Yasudah, kau minumlah ini. aku sudah membuatkan teh hijau untukmu," lanjut Belinda langsung melangkah dan tampak percaya dengan alasan dari Ambar.
Ambar manggut setelah dirinya di ajak kembali mengarah ruang tamu.
Astaga!! hampir saja si bodoh ini mengetahui maksud dari tawaan ku!! aku harus lebih berhati hati lagi menghadapinya!! batin Ambar sekilas menatap jauh Belinda tepat berjalan didepannya.
Setelahnya mereka duduk dan sedikit berbincang mengenai masa lalu saat masih kecil. Ambar terlihat sangat bosan menunggu Haikal yg belum juga kembali dari kantor.
"Oh ya, di mana bibikmu? aku tidak melihatnya sedari tadi, apa dia pulkam?" tanya Ambar celingukan dengan sengaja, biar tampak bingung.
"Ah, bibik..."
"Ada apa Belinda? kenapa dengan bibikmu?" riuh Ambar dibalik topengnya melihat reaksi sedih Belinda.
"Apa kau ingin menjenguk bik Lis? dia sedang sakit," ungkap Belinda terlihat sangat murung.
"Bawa aku pergi melihatnya," turut Ambar terkejut mendengar pernyataan dari Belinda.
"Baiklah, mari ikut denganku," ajak Belinda meraih jemari tangan Ambar dan membawanya ke kamar bik Lis.
Apa ini?!! bukankah seharusnya... batin Ambar terlihat gelisah.
Pintu kamar yg kian terbuka lebar, dan saat mereka sampai langsung masuk mendekati tempat dimana bik Lis terbaring dengan mata yg terbuka tanpa berbicara. bik Lis tengah bangun dari koma beberapa hari, tetapi ia selalu berusaha mengeluarkan suaranya. namun masih tetap tidak bisa ia lakukan.
"Beginilah keadaan bik Lis saat ini Ambar," kata Belinda menatap sendu bik Lis membuang nafas pelan.
"Oh tuhan, kenapa bisa sampai seperti ini? bukankah hanya tidak enak badan saja? apa yg membuat bibikmu terbujur lemas begini?" cocot Ambar tampak terheran dan syok melihat bik Lis baik baik saja.
"Aku juga tidak mengerti kenapa bibik bisa sampai seperti ini," turut Belinda menjawab Ambar yg diambang rasa kemarahan.
"Astaga Belinda, aku tidak percaya bibikmu bisa separah ini," lanjut Ambar yg sempat meneteskan air mata buaya nya.
"Tetapi setelah aku mengingat kembali, bukankah sebelum bibik sakit kau memberikan obat yg ditelan oleh bik Lis ya?" tanya Belinda mengingat akan hari itu, dan melirik Ambar yg membuatnya sempat terharu.
"Aku memberikan obat penenang rasa sakit di tubuhnya saja, karna aku juga minum obat itu! aku tidak mungkin mencelakai bibikmu Belinda," jawab Ambar dengan rasa gelisahnya saat Belinda menyinggung masalah itu.
"Aku tidak bermaksud begitu Ambar! aku hanya bertanya saja, para dokter tidak bisa mengetahui penyakit bik Lis. dan aku mengatakan pada dokter kalau kau pernah memberikannya obat," perjelas Belinda pula seketika Ambar mengalihkan pandangan tidak ingin menatap wajah Belinda.
"Apa aku salah bertanya Ambar?" lanjut Belinda lagi yg mulai terheran dengan sikap Ambar.
"Kau tidak salah Belinda, tetapi aku hanya memberikan obat biasa saja!" jawab Ambar penuh percaya diri dan mencoba tenang.
Terlalu lama aku di sini, pasti akan ketahuan!! aku harus cepat pergi sebelum manusia bodoh ini menyadari kegelisahan ku!! batin Ambar merasa jengkel dengan pertanyaan dari Belinda, ia pun terus melihat ke arah bik Lis.
"Apa aku boleh tau, obat apa itu? biar dokter bisa mengetahuinya," lontaran Belinda kembali membuat tangan Ambar gemetaran.
"Ah ya... itu oba-"
Ting Tong
"Oh, tunggu sebentar ya! aku ingin membuka pintu, mungkin saja Haikal sudah pulang," kata belinda memotong perkataan Ambar, membuat dirinya seketika merasa lega.
"Bel, kau ingat janji mu kan? kau jangan mengatakan nama ku pada siapapun," ucap Ambar menghentikan langkah Belinda.
__ADS_1
"Iya, itu pasti. aku akan mengingat janji itu," turut Belinda dengan senyum simpulnya.
Rencana kedua harus tetap berjalan!! tetapi aku harus berhati hati pada kedua manusia ini?!! batin Ambar menatap tajam bik Lis yg terus membuka matanya tanpa berkedip.
Ting Tong
Kriet
Terbuka lah pintu dengan lebar.
"Sudah pulang Ren," sambut Belinda meraih punggung tangan Haikal dan mengecupnya.
"Maaf aku telat pulang! banyak masalah di kantor yg harus aku selesaikan," turut Haikal terlihat begitu acak acakan, baju kusut, mata sayu.
"Apa begitu berat masalahnya Ren?" tanya Belinda sekilas melihat keadaan suaminya yg tak seperti biasanya.
"Panjang ceritanya bel," jawab Haikal pula.
"Masuklah! aku akan menyediakan air hangat untukmu, supaya tubuhmu bisa rileks lagi," pinta Belinda meraih tas bawaan Haikal dan diikuti pula oleh sang suami.
Ia kembali menutup pintu rumahnya dengan rapat.
Sempat Haikal menoleh ke arah ruang tamu yg sudah tersedia secangkir teh hijau diatasnya.
"Bel, kau ada tamu?" tanya Haikal pula mengernyitkan dahi.
"Ah, iya... kau mandi saja dulu! nanti aku akan kenalkan kau dengannya," seru Belinda mendorong tubuh Haikal sampai mengarah ke kamar.
Tanpa bertanya lagi, Haikal mengikuti perintah istrinya. mereka berdua masuk kedalam kamar. begitu pula dengan Belinda yg tengah menyiapkan air hangat diatas bathtub. sungguh Haikal merasa lega memiliki istri super strong itu. ia memeluk Belinda dari belakang saat Belinda asyik dengan pekerjaannya.
"Acem! mandi dulu, heheh!" seloroh Belinda mengacak rambut Haikal.
"Aku rindu padamu bel," kata Haikal sesaat mengecup leher Belinda.
"Bukan kau saja! aku juga sama halnya," ujar Belinda membalas kecupan itu dikening Haikal.
"Mandilah, setelah itu kau pakai baju yg sudah aku siapkan! aku keluar dulu, tidak enak dengan tamu yg menungguku," pesan Belinda berusaha melepas genggaman tangan Haikal saat itu.
Dengan patuhnya Haikal manggut seolah tidak sabar menunggu tamu itu pergi dan menikmati malam indahnya bersama sang istri.
Belinda bergegas keluar dari kamar dan menuju kembali ke kamar bik Lis. sebelum itu ia membuat air lemon hangat dahulu untuk Haikal. bagi Belinda air lemon dipercaya mengembalikan mood seseorang. makanya Belinda membuatkan khusus untuk Haikal.
..............
Bersambung...
...NEXT AKAN ADA KELANJUTAN SETELAH INI♥️😍 TETAP DUKUNG KARYA OTHOR YA RIDER YG SETIA🙏🙏...
...BILA ADA KESALAHAN DALAM PENULISAN MOHON DIMAKLUMI KARNA OTHOR LAGI HALU😄😂🙏...
...JANGAN LUPA JUGA KASIH OTHOR SEMANGAT DENGAN LIKE,KOMEN,VOTE,RATE BINTANG 5...
...SALAM HANGAT OTHOR...
...🥰☺️🙏...
__ADS_1