
ππππ
Tristan masih dalam keadaan tertunduk.
Dirinya tak mampu melihat paras yg begitu membuat jantungnya seakan berdebar tidak bisa terkendali lagi, semakin dekat jaraknya menuju Rei semakin pekat pula aroma keharuman dari tubuh Rei.
"Kenapa tunduk! kamu punya musuh disini?" tanya sang ibu melirik kearah Tristan yg tak menatap dirinya.
*K*enapa dengan bocah ini? apa dia tak sadar wajahnya merah sekali?! batin Ibu Maria yg terus melirik merasa aneh.
Mau apapun yg dikatakan ibunya dia tak akan mendengar. krna yg ada didalam otaknya berusaha sedang mencari cara bagaimana agar tidak gugup ketika ngobrol sma rei nantinya. langkah demi langkah berjalan tertunduk seperti ayam sakit, Namun dia tetap merangkul tangan sang ibu agar berkurang rasa paniknya.
"Angkat kepalamu! kau terlihat seperti orangtua yg sedang dipapah," titah Ibu Maria sudah mulai jengah dengan sikap Tristan.
Dan pada akhirnya dia memantapkan hati untuk menatap kearah depan dengan jantung yg sudah tak bisa dia kendalikan lagi, bahkan suaranya semakin menggebu-gebu.
Dak,Dig,Dug
Aku harap ibu tak mendengarnya!!! ayo Tristan!! kamu bisa!! gumamnya memejamkan mata sambil melangkah menuju meja Rei.
Setelah mendekati meja reservasi.
"Re- rei..." sapa Tristan menguatkan dirinya.
"Hai... sudah sampai?" sahut Rei yg langsung berdiri dengan tersenyum manis.
Tristan tampan sekali memakai jas!! apa dia sengaja pergi ke salon??? atau sudah terbiasa berpenampilan begini untuk kekasihnya?! Akh.. apa sih Rei!! emang kamu siapanya, kepo banget!! pasti aku nular gisele nih !!! batinnya mencibir diri sendiri.
"Waahh.... ini Mantu ibu?" tanya Ibu Maria histeris melihat wanita yg berdiri didepannya saat itu.
Ada bidadari .... batin Ibu Maria mengedipkan mata berulangkali.
"Maaf... Tante siapa?" tanya Rei mengernyitkan dahi dilanda bingung.
*A*pa yg dikatakan dengan Tante ini barusan? mantu? batin Rei terkaget.
"Sudah.... kita duduk dulu! nanti saja kita bicarakan." Ibu Maria meraih lengan Tristan untuk ikut duduk bersama.
Karna tarikan tangan ibu Maria maka dirinya tak bisa menolak. namun, ketika dia ingin menarik kursi disebelah ibu Maria malah ibunya menahan kursi itu. dan juga memberikan isyarat mata pada Tristan agar dirinya duduk disebelah wanita yg dicintainya.
"Bu. aku masih gugup Bu," ujarnya membisikkan ketelinga sang ibu perlahan.
"Kau jngn seperti anak kecil. kendalikan gugupmu itu," membalas bisikan Tristan.
Mereka membisikkan apa?! terlihat sangat rahasia!!! batin Rei mengamati mereka.
Rei yg masih sedari tadi berdiri sangat kebingungan kenapa mereka berbisik seperti agen gelap tidak boleh siapapun mendengarnya.
"Nak.... duduk lah," pinta Ibu Maria pada Rei sambil menolak lengan Tristan pelan.
"Baik Tante..." patuhnya menundukkan kepala perlahan.
__ADS_1
"Tristan kamu tidak duduk?" timpal Rei melirik wajah Tristan.
Sekilas Tristan menoleh ibunya karna ibu Maria sudah memberikan isyarat mata padanya dan memberikan kesempatan supaya bisa lebih dekat pada mantunya. namun, buket bunga pun masih dia pegang dengan menyembunyikan dibelakang badannya.
"Tristan.... ayo duduk," pinta Rei memecah lamunan Tristan.
"Iya Rei...."
"Rei... perkenalkan ini ibuku," setelah Tristan menyembunyikan buket bunga disebelah kursi sang ibu dia memegangi kedua pundak ibunya pula.
"Ah, iya..." singkatnya tengah mengamati perkataan Tristan.
Kenapa Tristan membawa ibunya? apa yg ingin dilakukan Tristan? apa dia ingin lamar anak orang??? batin Rei yg nampak panik.
"Oh. ha- hai Tante... aku Rei," sapa Rei berdiri dari kursi memberikan tangannya pada Ibu Maria.
"Panggil ibu nak... jangan panggil Tante," timpalnya meraih tangan Rei dan langsung memegang pipi Rei lembut.
Seketika Rei membeku saat itu krna sentuhan tangan dari seorang wanita yg baru ini dia temui serasa hangat seperti sentuhan yg sudah lama tidak dia rasakan.
Dalam suasana yg terbilang masih baru, Rei malah meneteskan air matanya tanpa dia sadari, hatinya merasakan kenyamanan saat disentuh oleh seorang wanita yg bernama ibu.
"Nak... kenapa kamu nangis? ibu menyakiti hati mu?" seru Ibu Maria mengusap air mata yg keluar membasahi pipi Rei.
"Rei... kau kenapa?" tanya Tristan mendekati Rei dengan wajah cemas.
"Tidak ada... aku senang saja kalau ibumu menyentuh pipiku," ujarnya tampak air mata yg berkilauan.
Ibu Maria langsung bangkit dari kursi melangkah untuk mendekati tubuh Rei dan memeluknya kedalam dekapan tubuhnya.
Sesiapun yg melihat keakraban mereka pastinya sangat terharu melihat kejadian itu, apalagi Tristan begitu bahagia melihat sang ibu dengan hangat memeluk orang yg dicintainya. Karna terbawa suasana dia pun mengelus lembut kepala Rei secara perlahan, seolah ingin berada ditengah kehangatan itu.
Memang inilah keinginan Tristan sebenarnya dia ingin menyatukan Rei dengan ibu yg sudah merawatnya, agar ibunya juga memberikan kasih sayang pada Rei sama seperti dirinya.
"Jangan nangis lagi ya nak..." pinta Ibu Maria membelai lembut kepala Rei.
"Terimakasih Tristan," timpalnya sembari menyeka air mata.
Setelah kehangatan berlalu beberapa menit maka Tristan segera memegang pundak ibunya agar dia bisa membawa kembali ibu maria ketempat duduknya lagi setelah pelukan mereka terpelas.
"Rei... dengarkan aku! kau harus mendengarkan perkataanku dengan baik," titahnya memegang kedua pundak Ibu Maria dari belakang.
"Ini hadiah dariku untukmu," hikmadnya menepuk kedua pundak Ibu Maria perlahan.
"Apa maksudmu? hadiah..." wajah Rei terlihat panik mencerna perkataan Tristan.
"Apa yg kau maksud? ibu tak paham," sarkas Ibu Maria mengernyitkan dahi.
"Dengarkan aku lagi Rei... ini hadiah dariku untukmu! apa kau tak paham Rei?" mengulang untuk menjelaskan pada Rei.
"Maksudnya kau - "
__ADS_1
"Ya! aku memberikan ibuku untukmu," hikmad Tristan menyela perkataan Rei.
"Apa ibu mau?" tanya Tristan menatap wajah Ibu Maria.
Pantas saja anak ini membelikanku perhiasan!!! ternyata ini yg diinginkannya?! dasar anak nakal !!! batin Ibu Maria ngomel.
"Tristan.... ini ibumu, kenapa kau memberikan ibumu sebagai hadiah?" tanya Rei yg tak menyangka Kado pemberian Tristan.
"Rei... aku akan memberikan semua yg ada didalam hidupku! semua yg berharga bagiku akan kuberikan padamu," hikmadnya memantapkan hati.
"Apa maksudmu Tristan?" wajah Rei memucat saat mendengarnya.
"Kau bisa melakukan apa saja dengan hadiah mu ini... kuberikan padamu! karna ibuku orang yg paling aku sayangi," menjelaskan agar Rei bisa peka terhadapnya.
kau menembaknya secara langsung!!! waw... kau hebat nak?! batin Ibu Maria merasa bangga.
"Ibumu akan marah Tristan... kalau kau mengatakan hal itu," timpal Rei melirik wajah Ibu Maria.
Bu!!! sekarang sudah waktunya tugasmu?! memberi isyarat menggerakkan matanya pada sang ibu.
"Rei... ibu bersedia kalau Tristan memberikan ibu sebagai hadiah untukmu! ibu akan menjadi ibumu juga..." menjelaskan pada Rei bahwa dirinya sudah jelas tidak akan menolak.
Bagus Bu!!!
memberi isyarat jempol tangan yg tidak diketahui oleh Rei.
Dari Tatapan Rei yg tak lepas mengarah pada ibu Maria seolah membuat dirinya semakin tidak percaya dengan kenyataan yg akan dia terima.
Bagaimana bisa ibu kandung diberikan pada orang lain??? aneh banget !!! batin Rei menggigit bibir bawahnya.
Hadiah yg tidak akan pernah dilakukan oleh siapapun selain Tristan dengan mudahnya memberikan sesuatu yg paling berharga dari hidupnya, hanya untuk seorang wanita biasa seperti Rei. bagaimanapun ini sesuatu hal yg sangat sulit ditebak dan sulit dipahami oleh akal pikiran manusia.
Namun Selama dia mengenal Tristan tidak pernah seharipun merasakan kesedihan. malah sebaliknya, Rei menerima cukup perhatian yg selalu diberikan Tristan padanya. ada saja hal tidak terduga yg dilakukan Tristan untuknya.
"Nak... apa kau tidak mau menerima hadiah dari Tristan?" tegur Ibu Maria sengaja menyadarkan Rei yg sudah menatap dirinya sedari tadi tidak berkedip.
"I- ibu..." pekiknya merasa canggung.
"Iya nak? mulai sekarang aku ibumu..." seru Ibu Maria tampak senyum bahagia.
"Rei... aku tidak bercanda memberikan ibuku padamu! kau bisa berbagi cerita pada hadiahmu ini, sekarang kau punya teman Rei..." timpalnya melirik Rei dengan mata yg berbinar.
Hasrat ku ingin sekali memelukmu Rei... sedari tadi aku menahan gejolak ini dengan susah payah!!! batinnya hanya bisa tertunduk.
Tristan merupakan lelaki yg terhebat dari segala penjuru dunia, hanya dirinya yg bertahan untuk tidak melebihi batasnya. dia mampu menahan hasratnya hanya untuk wanita yg dia kasihi. betapa dia sangat menghargai Rei sebagai wanita, hanya waktu yg akan menentukan kapan dirinya siap untuk mengungkapkan semua perasaanya terhadap Rei.
Andai saja Rei lebih peka, mungkin saja aku tidak akan menahan perasaan ini lebih lama lagi !!! kuharap tuhan memberikan jalannya untukku. batin Tristan menatap Rei hangat.
..............
Bersambung...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA π€π
π₯°πMAMAK SAYANG KALIAN π₯Ίβ€οΈ