Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
UMPAN


__ADS_3

Cit Cit


"Lihat Tante, burung ini sudah mulai lincah," riuh Tristan terlihat girang.


"Mungkin saja dia sudah lebih baik, makanya bersuara," tutur Belinda menatap sambil tersenyum.


Dibalik tembok.


"Apa yg sedang kau lakukan disini?" tanya Maria mengejutkan Leli ketika itu.


"Ah, ti- tidak nyonya ratu! saya hanya lewat saja," terang Leli gelagapan tidak berani melihat Maria.


"Apa kau tidak punya pekerjaan lain, sehingga kau bisa senggang disini?" tanya Maria lagi tampak tidak senang.


"Maaf nyonya ratu... saya akan kembali," jawabnya sambil tunduk perlahan.


"Kau sudah boleh pergi, lakukan tugasmu!" titah Maria dengan tegas.


"Baik nyonya ratu... saya pamit dulu," patuh Leli sesekali melirik Maria.


Leli pun pergi saat mendapat perintah dari Maria. setelah di penghujung jalan Leli menahan amarahnya karna Maria sudah berani menegurnya dan membuat hatinya tidak senang.


"Selama ada wanita gembel itu, istana ini jadi tidak enak lagi untukku! aku harus cepat menyingkirkan kau wanita gembel!!" gumam Leli sepanjang jalan penuh rasa jengkel.


Tatapan mata Maria mengarah pada kedua orang yg tengah sibuk memperhatikan seekor burung entah dari mana asalnya.


"Tante, burung ini kita letakkan dimana?" tanya Tristan sambil memetik jemari tangannya yg kecil seolah sedang bermain dengan burung itu.


"Dimana ya? saya juga bingung," jawab Belinda mengamati sekitarnya.


Tap Tap


Langkah kaki Maria mendekati Belinda juga Tristan.


"Kalian sedang apa?" sapa Maria dari balik punggung mereka.


"Oh. nyonya, kapan datangnya?" sahut Belinda sigap dengan bangkit dari duduknya.


"Aku baru saja datang! kalian dapat burung ini dari mana?" tanya Maria sambil menatap kearah kandang burung yg dipegang Belinda.


"Ah, tadi saya melihat dia terjatuh, ternyata sayap dan kakinya terluka, akhirnya saya obati, tapi... tidak mungkin dia bisa terbang dengan keadaan begini," tutur Belinda menjelaskan kejadian itu.


"Ini sudah hampir petang, kalian masuklah! Tatan, ayoo! kita mandi," pinta Maria seolah merasakan ada keganjalan setelah melihat burung itu.


"Nyonya, burung ini bagaimana? apa saya lepaskan saja?" tanya Belinda pula.


"Apa kau mau merawatnya?" balik bertnya.


"Saya hanya merasa kasihan saja, setelah sayapnya membaik. saya akan melepaskan burung ini," monolog Belinda tampak sedih.


"Yasudahlah! sekarang kau juga pergi bersiap," tutur Maria tidak bnyak berkata lagi.


"Bersiap? mau kemana nyonya?" tanya Belinda terheran.


"Nanti malam kau akan di jemput Haikal, kau sudah ku izinkan keluar. asal ada orang yg menjagamu," seru Maria pula.


"Jemput? saya tidak tau sebelumnya... kenapa tuan Haikal tidak memberi tahu saya?" tanya Belinda semakin bingung.


"Dia mungkin merasa tidak enak dengan mu! makanya dia menyuruhku untuk menyampaikan pesan ini padamu," beber Maria mencari alasan.

__ADS_1


"Saya...."


"Kenapa bel? apa kau menolak ajakan haikal?" tanya Maria melirik Belinda yg mengalihkan wajahnya.


"Bukan begitu! saya tidak punya baju yg pantas untuk pergi bersama tuan Haikal," ucap Belinda merasa tidak enak.


"Kau tidak perlu memikirkan hal itu! aku akan menyuruh Leli untuk menyiapkan baju yg akan kau pakai malam ini," bujuk Maria kembali.


"Apa itu tida merepotkan nyonya?" protes Belinda tampak sungkan.


"Kau sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. apapun yg kau butuhkan tidak akan membuatku repot," ungkap Maria mengelus rambut Belinda sesekali.


"Bu,Tatan boleh ikut dengan Tante cantik?" pinta Tristan pula saat mendengar Belinda akan pergi.


"Tidak sayang... ini urusan orang dewasa, Tatan sama ibu saja dirumah," ucap Maria lembut.


"Apa Tante pulangnya lama?" tanya Tristan lagi.


"Tidak akan lama," sambung Maria pula.


"Yuk bel. kita masuk," ajak Maria sambil memecah lamunan Belinda.


Tristan turun dari tempatnya dan langsung memegang tangan sang ibu, Belinda pun tampak cemas dari raut wajahnya saat Maria menyuruhnya pergi bersama Haikal.


Saat berjalan masuk mengarah kamar.


"Bel, burung itu aku berikan pada Leli saja! tidak mungkin berada di kamar kalian, biarkan Leli yg memberinya makan," pinta Maria meyakinkan Belinda.


"Baiklah nyonya, terimakasih nyonya sudah berbaik hati pada burung kecil ini," tutur Belinda langsung memberikan kandang itu pada Maria.


"Tatan... pergilah ke kamar mandi, nanti ibu akan menyusul," titah Maria.


"Baik ibu," patuh Tristan sambil bergegas dari tempatnya.


"Iya nyonya," balas Belinda dengan manggut.


Disaat yg bersamaan Belinda dan Maria terpisah berbeda jalan. tepat dikamar Tristan Belinda sejenak berhenti terlihat termenung memikirkan sesuatu.


Kenapa dia tidak berbicara padaku saja? mengapa harus melalui nyonya... apa yg harus ku lakukan?? kalau sudah begini pasti aku akan merasa sangat canggung... batin Belinda merasa jengah serta khawatir.


"Leli..." panggilan Maria sepanjang menelusuri dalam istana.


"Nyonya ratu memanggil saya?" sahut Leli muncul entah dari mana.


"Kau dari mna saja?" tanya Maria tampak heran dengan kemunculan Leli sesaat.


"Saya baru saja selesai mengawasi pekerjaan para pelayan yg lain nyonya..." jawab Leli pula.


"Kau bawa burung ini, jangan biarkan dia mati kelaparan! setelah sayapnya sembuh, kau bebaskan saja dia," titah Maria langsung menyerahkan kandang itu ke tangan Leli.


"Baik nyonya," patuhnya terlihat terpaksa.


Kenapa jadi aku yg harus merawat burung wanita gembel itu!!! memangnya aku pengurus binatang?!! batin Leli melototi burung itu.


"Setelah kau meletakkan burung itu, kau segera pergi ke kamar Belinda... siapkan baju yg bagus untuknya," sambung Maria memecah lamunan Leli.


"Ah! kau pilihkan gaun yg cantik untuknya," titah Maria lagi.


Gaun?? memangnya gembel cocok memakai gaun?? hahah... waktunya membalaskan dendam ku pada wanita sial*n itu!!! batin Leli merasa senang mendengar perintah dari Maria.

__ADS_1


"Baiklah nyonya... akan saya pilihkan gaun yg bagus untuk nona Belinda," lontar Leli pula dengan tersenyum yg terselip kebencian.


"Baguslah! kau kerjakan tugasmu," ucap Maria sambil bergerak pergi dari hadapan Leli.


Sesaat Maria berlalu.


"Kau tunggu saja! akan ku buat kau cantik. ya... kecantikan yg tak pernah kau bayangkan! haha," gumam Leli sambil berjalan menuju kamarnya dengan membawa kandang Burung itu.


Sesampainya Leli di dalam kamar tengah meletakkan burung itu diatas mejanya.


"Aku harus merencanakan sesuatu agar wanita itu tidak akan balik lagi kedalam istana ini, tapi bagaimana ya?" gumam Leli tampak memikirkan sebuah cara sambil mondar-mandir.


Bruk


Wushh


"Ka- kau, kau siapa?" tanya Leli sangking terkejutnya hingga gelagapan membuat dia terjatuh seketika.


"Kau tidak perlu tau aku siapa," jawabnya.


Loh, burung itu kemana perginya? bukankah tadi sudah terkurung?!! atau jangan-jangan.... burung ini.... siluman?? batin Leli merasa ketakutan hingga dirinya mundur sedikit demi sedikit.


"Tujuan kita sama," sambungnya pula meyakinkan Leli.


"Ma- maksud kau apa? aku tidak mengerti. kau berasal dari mana? apa kau berasal dari burung itu?" tanya Leli tidak percaya.


"Apa kau takut?" balik bertnya melangkah mendekati Leli.


"Ka, kau. jangan berbuat macam-macam! atau aku akan teriak supaya kau ditangkap pengawal istana kami," geram Leli sesekali mundur sangat gugup.


"Kau jangan teriak! atau rencana yg akan kau jalani jadi sia-sia," tuturnya perlahan.


"Rencana? apa kau mendengarkan aku bicara? berarti...."


"Ya, sekarang kau sudah mengetahui siapa aku," selanya memotong perkataan Leli.


"Ti- tidak, tidak mungkin kau burung itu! aku tidak percaya," erang Leli mulai kesal.


"Kali ini aku akan memberikan sedikit tujuanku padamu, karna aku merasa tujuan kita sama! yaitu, menyingkirkan wanita yg ada didalam istana ini," ungkapnya sambil mendekati Leli dengan berbisik.


"Wanita gembel itu maksudmu?" tanya Leli sedikit senang.


"Ya, mungkin kita ditakdirkan untuk saling membantu," lontarnya sambil memberikan tangannya untuk Leli supaya bangkit.


"Terimakasih!" seru Leli tanpa fikir panjang meraih tangan itu.


"Sekarang apa rencanamu?" sambung Leli pula.


"Kau tenang saja, apapun tujuan mu akan aku bantu! tapi... kau harus berhati-hati," pesannya pada Leli.


"Oh! aku Axel, sekarang kita akan saling bekerja sama," bebernya dengan rasa puas mendapatkan umpan yg pas.


"Aku Leli, kau katakan saja apa yg harus aku lakukan pada wanita gembel itu," kembali bertnya sudah tidak sabar ingin melenyapkan Belinda.


"Kau harus dengarkan aku, karna rencana ini hanya kau yg bisa melakukannya," ucap Axel memberi titahnya.


"Kemarilah!" isyarat Axel meminta kuping Leli untuk membisikkan rencana yg sudah dimilikinya.


Leli pun bergerak dengan patuh mendekatkan telinganya mengarah pada Axel. begitu antusiasnya Leli saat mendengar rencana cemerlang dari Axel.

__ADS_1


...............


Bersambung....


__ADS_2