
☘️☘️☘️
Sejak malam itu, Haikal dan Belinda selalu waspada terhadap siapa saja yg ingin mendekati mereka, begitupula dengan Haikal saat berada didalam kantor. dirinya sibuk mengurus perusahaan seorang diri tanpa adanya sekretaris semenjak Belinda tidak ia perbolehkan pergi ke kantor lagi.
Usai malam perjamuan Maria dan Erlando tidak lupa memberi pesan pada Haikal juga Belinda untuk memberikan informasi apa saja bila ada yg mengganjal dari siapa saja yg patut di curigai. krna Axel bukanlah vampir sembarangan, ambisinya untuk menghancurkan Maria beserta keluarganya sangatlah kuat. maka dari itu mereka semua tidak boleh lengah seperti sebelumnya.
Sementara itu bik Lis masih menunggu kehadiran Haikal dan Belinda, ia masih berada di rumah sakit sebagai kerabat dari Ricky semenjak beberapa hari kepulangan tuannya.
Beberapa hari kemudian di sebuah kamar milik Haikal dan Belinda.
"Bel, kau yakin tidak mau aku antarkan ke rumah sakit?" tanya Erlando tengah memakai jas menutupi kemeja hitamnya.
"Tidak perlu Ren, aku bisa pergi naik taksi saja," turut Belinda sambil mencari dasi di dalam lemari dan melirik Haikal untuk menyesuaikan warna jasnya.
"Aku hanya takut saja, terjadi hal buruk padamu," gelisah Haikal selangkah mendekati istrinya dan memeluk dari belakang punggung Belinda.
"Kau jangan khawatir! tuhan akan selalu menjagaku," cakap Belinda mengelus pipi Haikal dengan lembut.
"Cup." Haikal mencium tangan Belinda yg memegang pipinya itu.
"Balik lah, aku akan memasangkan dasimu." Belinda merasa menjadi wanita yg paling bahagia mendapatkan suami seperti Haikal, ia tersenyum kecil krna haikal bermanja dengannya.
Haikal pun melepaskan pelukan itu krna Belinda memintanya. dengan senyuman manis seperti anak kucing saat ingin meminta makan. begitulah tingkah Haikal setiap harinya sebelum berangkat kerja.
"Bisakah kau tunduk sedikit? aku tidak bisa meraihmu," keluh Belinda sesaat membuat Haikal menahan tawanya.
"Apa kau sedang mengejek tubuh ku yg kecil ini?" lontar Belinda tampak cemberut.
Setelah itu Haikal bergeleng kepala tidak mendengarkan celotehan istrinya. ia merundukkan kepalanya sedikit dan melengketkan keningnya tepat di kening Belinda. dengan tatapan itu Belinda merasa gugup saat memasangkan dasi Haikal.
"Kau masih takut padaku?" tanya Haikal merasa aneh dengan sikap Belinda.
"Buat apa aku takut, aku sudah terbiasa kalau kau begini," jawab Belinda dengan tenang tapi jantung terdengar berdegup.
Perbincangan romantis itu telah usai setelah dasi terpasang dengan benar.
"Kau istri yg bisa dihandalkan," kata Haikal pula seketika mencium bi*ir Belinda tanpa dia ketahui.
"Ren, kau selalu memancingku saat ingin bekerja," gerutu Belinda tidak terima kalau hatinya dipermainkan Haikal.
"Nanti malam aku akan memu**kan mu!" bisik Haikal membuat Belinda terkejut kalau sang suami bisa sangat bermanja dengannya.
Belinda tak dapat membuka suara lagi, karna permintaan dari suaminya. dia hanya terdiam melihat Haikal tersenyum lepas.
"Aku berangkat dulu, kalau kau mau pulang hubungi aku," titah Haikal sambil bergerak mau keluar dari kamar.
Begitu juga dengan Belinda mengikuti dari belakang untuk mempersiapkan bekal siang bik Lis dan untuknya.
"Aku pergi, bye," lambaian tangan Haikal setelah memakai sepatu kantornya dan berjalan ke arah pintu rumah.
Belinda membalas lambaian tangan itu dengan tersenyum ceria.
Sementara itu, Belinda memasukkan semuanya ke dalam rantang untuk ia bawa ke rumah sakit. dirinya pun keluar dari rumah dan menguncinya dengan benar.
"Mau pergi kemana nyonya?" sapa pak Pon dari balik punggung Belinda.
__ADS_1
"Saya ingin ke rumah sakit Pon, ini sudah hampir siang," kata Belinda menoleh pada pak Pon yg menegurnya.
"Saya akan mencarikan taksi untuk nyonya," kata pak Pon lagi, bergerak cepat dari tempatnya.
Belinda tidak bisa menolak kebaikan pak Pon, mungkin saja Haikal sudah memberikan pesan pada pak Pon sebelum pergi.
Beberapa menit kemudian.
Pak pon tampak berlari mendekati Belinda yg asyik melihat tanaman bermekaran dihalaman rumahnya.
"Nyonya, taksinya sudah dapat," tegur pak Pon membuat Belinda terkejut.
"Ah, iya Pon! makasih banyak," sahut Belinda dengan melirik taksi tepat didepan pagar rumahnya.
"Saya pergi dulu, jaga rumah ya Pon," lanjutnya lagi dengan bernada rendah.
"Baik nyonya, hati-hati di jalan," kata pak Pon sambil bungkuk pelan.
Belinda melangkah sambil membawa rantang miliknya. dengan cepat pak Pon berlari meninggalkan Belinda di belakangnya untuk membuka pagar.
"Kalau ada apa-apa hubungi saja saya pon," ucap Belinda lagi setelah berada di dalam mobil.
"Baik nyonya," patuhnya sambil menutup pagar kembali.
"Jalan pak," turut Belinda tengah menutup kaca mobil.
"Baik nona," patuh pak supir sambil melajukan mobilnya.
Disepanjang perjalanan Belinda asyik melamun. dirinya sedang berfikir bagaimana seorang Axel bisa berubah wujud atas kemauannya. ia merasa takut tetapi tidak mungkin dia katakan pada Haikal, bisa saja itu menjadi beban untuknya.
CKIITT
"Ada apa pak?" tanya Belinda ikut terkejut saat taksi di rem mendadak.
"Sepertinya ada wanita yg menyetop nona, sebentar saya keluar dulu," jawabnya dengan membuka salt belt yg terpasang di badannya.
Belinda anggukkan kepala, ia pun melihat seorang wanita berpakaian rapi, terlihat cantik, putih, rambut pirang, mata yg indah. Belinda masih mengamati dari dalam taksi saat supir itu berbicara padanya.
Terlihat supir itu berlari untuk kembali masuk.
"Nyonya, wanita itu butuh tumpangan katanya. dia ingin pergi kerumah sakit," ucap pak supir setelah berbicara dengan wanita itu.
"Biarkan saja dia masuk, saya juga pergi kerumah sakit! mungkin saja satu arah," lanjut Belinda mengiyakan dengan cepat.
Pak supir balik keluar dan mengajak wanita itu untuk ikut bersamanya.
Blam
Pintu taksi di tutup dengan rapat setelah keduanya masuk dengan aman.
"Terimakasih nona, kau sungguh baik sekali. karna aku sangat terburu-buru, aku melihat tidak ada taksi lain selain ini," katanya pula tampak senyum melintasi bibirnya.
"Tidak masalah! memangnya kau ingin ke rumah sakit mana?" tanya Belinda membalas senyum wanita asing yg tidak pernah terlihat olehnya.
"Rumah sakit umum kejora," jawabnya lagi.
__ADS_1
"Kita satu arah, aku juga akan kerumah sakit itu," lanjut Belinda tampak ceria setelah kemunculan wanita itu.
"Apa kita boleh berkenalan?" tanya wanita itu sambil memberi tangannya.
Belinda melihat gerak gerik wanita itu terlebih dulu, saat mengingat pesan Erlando padanya. dia takut akan mengulangi kesalahan yg sama. Belinda masih terdiam belum menyambut tangan itu dan melirik supir yg terlihat tenang saat mengemudi.
"Aku tidak jahat! kau tidak perlu takut. kau dan aku sama sama wanita! untuk apa kau takut," lontaran itu membuat lamunan Belinda terhentak.
Ia pun mencoba menggerakkan tangganya sambil terus menatap wajah wanita yg baru dia kenal itu.
"Aku Belinda," cakapnya pula menjabat tangan wanita itu.
"Ambarita Januarta," lanjutnya dengan tersenyum lebar.
Januarta?!! apakah?? batin Belinda merasa tidak tenang.
"Kau bilang Januarta?" timpal Belinda langsung melepaskan jabatan tangan itu.
"Iya, ada apa dengan Januarta?" tanya Ambar balik dengan santai.
"Ti - tidak ada! mungkin saja nama itu sama dengan apa yg ku pikirkan," gugup Belinda mengalihkan wajahnya membuat Ambar jadi ingin mengorek lebih dalam.
"Apa kau kenal dengan nama Januarta?" tanya Ambar lagi menatap serius Belinda.
"Tidak ada! mungkin aku salah menduga," jawab Belinda sambil bergeleng kepala takut salah menebak.
"Apa kita bisa menjadi teman? karna kau orang yg baik," monolog Ambar menutupi kebusukannya dengan balutan senyumnya.
Belinda belum menjawab permintaan Ambar, dia masih berfikir keras dengan perkataan silam ibunya yg memberi pesan untuknya sebelum meninggalkannya.
"Belinda," tegur Ambar memetik jemari tangan di depan wajah Belinda.
"Iya, maaf! kau berbicara apa barusan?" tanya Belinda menutupi kegelisahannya.
"Apa kita bisa berteman? aku orang baru di kota ini, tidak mempunyai sahabat ataupun keluarga," keluh Ambar membuat Belinda sedikit kasihan melihat tatapan matanya yg sendu.
"Keluargamu di mana?" tanya Belinda yg akhirnya terbawa arus Ambar.
"Ibu dan ayahku pergi meninggalkan aku di panti, sekarang aku harus menjalani hidupku yg keras," katanya pula menahan senyum di balik wajahnya.
"Ya tuhan, kasihan sekali kamu! apakah keluargamu juga tidak perduli?" balik tanya mengingat kisah hidupnya hampir sama dengan wanita yg dia kenal.
"Aku tidak butuh keluarga, aku hanya butuh orang yg menemani aku saat susah! bukan saat aku senang," celotehnya berpura sedih.
Belinda ikut terbawa suasana. dia pun melihat Ambar dengan rasa kasihan. dibandingkan dengan dirinya, ia sudah ada Maria yg siap menemaninya. sementara Ambar tidak ada seorangpun di sisinya. itulah pikiran Belinda yg terus melihat kesedihan Ambar.
"Baiklah, aku akan menjadi temanmu! karna kisahmu juga mirip sekali denganku," bebernya pula membuat Ambar tersenyum penuh ceria.
"Benarkah! terimakasih Belinda, kau teman pertamaku di sini," riuhnya langsung menangkap tubuh Belinda untuk ia peluk.
Langkah pertama!! selesa... batin Ambar berpura meneteskan air mata supaya Belinda merasa mengasihaninya.
Belinda tanpa tau menahu dia pun ikut bahagia mendapatkan teman selain Maria. sesekali menepuk punggung Ambar supaya bisa menenangkan dengan caranya.
.............
__ADS_1
Bersambung...
..............