
...^^^...
Setelah bergerak dari meja cctv monitor, Ricky bergegas untuk melangkah menuju kamar Fidya. namun, beberapa saat dia berfikir bagaimana caranya mengeluarkan Fidya dari dalam rumah kalau satpam itu berada tepat didepan gerbang mereka.
Ceklek
Suara pintu rumah berbunyi menyentak pergerakan Ricky, ia langsung buru buru berlari kembali lagi balik ke arah tirai/gorden yg menutupi jendela mereka. ternyata pak satpam yg berjaga tampak menuju ruang dapur entah sedang mencari apa.
"Hoam!! Enaknya bikin kopi ini, biarpun jomblo tapi masih ada yg menemani hingga pagi. uhuuyy," gumam pak satpam dengan canda tawanya sendiri sambil bergerak seperti megol megol.
Disamping itu Ricky menahan tawanya dengan membungkam mulutnya sendiri ketika mendengar suara yg terdengar dekat dari telinganya, ia mengintip dari celah gorden terlihat pula pak satpam menggerakkan pinggulnya. seolah dia merasa lucu saja dengan tingkah pak satpam itu, apalagi dia juga seorang jomblo seperti merasa tersindir hingga bergeleng kepala menepuk jidatnya sendiri.
Mengingat pak satpam sebagai penjaga rumah, tentu saja Ricky harus membuatnya tertidur juga. tidak mungkin ia bisa keluar kalau pak satpam masih menjaga ketat rumah itu. dari saku celananya, Ricky mengeluarkan sisa bubuk obat tidur untuk pak satpam tadi.
Ricky terus memperhatikan pergerakan pak satpam dari kejauhan, ia melihat satpam itu sedang menuangkan kopi kedalam gelas yg sudah ia campur kedalam air.
"Ahh, serasa ingin buang air kecil. sudah tidak tahan," ia menggeliat saat sedang memegang gelas yg ingin ia bawa keluar, akhirnya ia letakkan gelas itu di atas meja dan berlalu pergi ke kamar mandi.
Biasanya satpam itu tidak pernah memakai kamar mandi didalam rumah, tapi kali ini dia sudah tidak sanggup menahannya lagi. Yap, itulah kesempatan bagi Ricky untuk mencapur obat tadi. dia bergerak dengan cepat hingga mencampur sisa obat tidur kedalam gelas dengan mengaduknya perlahan. setelah aksinya selesai, ia kembali lagi bersembunyi ke arah tirai itu.
Maaf pak! aku bukan sengaja untuk mencelakai mu!! itu hanya obat tidur, kau tidak akan mati karena obat yg kuberikan. batin Ricky berkata seakan merasa bersalah dalam dirinya.
Usai beberapa menit, pak satpam kembali dengan segar sediakala. ia mulai melenggok lagi menggerakkan pinggulnya saat berjalan arah pintu rumah. ya, begitulah keseharian pak satpam tadi yg setia menjaga rumah Fidya sudah terhitung lama.
Terpintas dibenak Ricky untuk mengambil alih satpam itu untuk menjaga rumahnya. tetapi itu tidaklah mudah baginya.
Sorotan mata Ricky terus mengarah pada pak satpam yg sudah berlalu pergi, pintu yg kian tertutup rapat membuat Ricky keluar dari gorden secepat mungkin, sambil celingukan melihat situasi kembali. dirinya bergerak menuju kamar Fidya dengan menggenggam gagang pintu dan membukanya perlahan.
Fidya sudah tergeletak dibawah lantai terbujur lemas terlihat tak sadarkan diri. kini Ricky berhasil membuat Fidya tertidur pulas. dirinya segera menggendong Fidya untuk dibawa pergi dari rumah itu. dengan sekuat tenaganya, ia mengangkat Fidya memakai kedua tangannya.
Ternyata wanita ini berat juga!! atau aku saja yg lemah?!! batin Ricky ngedumel sendiri.
Terlihat sebuah kursi sofa berwarna abu tua bertengker dibalik sebuah ruangan yg tertutup. Ricky meletakkan Fidya di atas sofa tersebut. ia menuju pintu rumah untuk memastikan pak satpam sudah tertidur. apa yg menjadi dugaanya benar, pak satpam sudah tidur pulas dengan kepala yg masih diatas meja, ponsel saja terus hidup tanpa ada yg menonton.
__ADS_1
Secepat kilat Ricky keluar dari pintu rumah untuk mengambil kunci gerbang yg tergantung di tali pinggang pak satpam. dengan senyum kecil dan rasa bersalahnya Ricky mematikan ponsel itu barulah ia kembali untuk membawa Fidya keluar dari rumahnya.
Sambil menggendong Fidya, ia berlari dengan pandangan yg terus melihat sekitar. ia tak ingin di anggap maling ataupun perampok. ia hanya memberikan efek jera pada Fidya saja dan ingin membawanya ke suatu tempat.
Fidya dimasukkan ke dalam mobil belakang, dan Ricky menggeletakkan Fidya perlahan hingga menutup kembali pintu mobilnya. satu langkah berhasil ia dapatkan, tetapi kedepannya akan menjadi sulit baginya untuk meyakinkan Fidya. itulah pikirnya, Ricky bertekad supaya Haikal terbebas dari ancaman Fidya yg nantinya sudah pasti merusak semua kebahagiaan Belinda juga Haikal.
Ricky melajukan mobil dengan terus melihat situasi sekitarnya. sesekali Ricky menatap ke arah belakang untuk mengamati Fidya yg sedang tertidur memakai baju piyama katun corak, rambut terurai, bibir tanpa polesan benar benar terlihat orang yg sedang tidur didalam kamar saja.
Ricky membawa Fidya ke rumahnya, karena ia ada sebuah kamar kosong untuk meletakkan Fidya disitu.
.
.
.
Menjelang pagi hari matahari yg begitu cerah memasuki cahayanya dari pantulan kaca rumah Ricky.
Kriet
Perlahan Ricky melangkah ke dalam kamar itu, dengan membawa roti yg ia panggang serta susu putih untuk Fidya mengisi perutnya.
Tentu saja sorotan mata Fidya begitu tajam melihat Ricky ketika itu, ia juga merasa bingung kenapa dirinya bisa ada bersama Ricky sesaat sadar dari bangunnya.
"Aku tau, kau sedang mengutuk aku didalam dirimu!! tapi aku tidak sejahat dirimu?!!" lontar Ricky sambil melangkah mendekati Fidya dan membuka kain yg ada didalam mulut Fidya.
"Agh, bede*ah kau!! apa yg kau mau?!! ha!!" jeritnya pula hingga berusaha bergerak dari tempatnya.
Kedua kaki Fidya diikat dan tangannya di ikat mengarah ke belakang. dia sama sekali tidak dapat bergerak dengan bebas.
Ricky dengan santainya mengambil makanan yg ia bawa tadi sempat meletakkan di atas meja. Ricky meraih piring berisi roti dan segelas susu putih untuk Fidya.
"Kau makan dulu, Jangan sampai kau mati disini," ucap Ricky tampak memotong roti dan berniat untuk menyuapi Fidya saat itu.
__ADS_1
"Cuih!! aku tak Sudi menerima makanan dari mu?!" berang Fidya pula hingga meludah ke arah samping.
"Ckk, kau jangan buat ini menjadi sulit. aku tak ingin menyiksa mu disini," bujuk Ricky lagi yg masih memegang sebuah garpu berisi roti yg telah ia potong tadi.
"Apa kau tidak mengerti?! aku tak Sudi menerima makanan dari mu?!" teriaknya hingga membuat Ricky sejenak menahan jengkel.
Ricky mengelus pundak lehernya hingga memejamkan mata, dirinya mulai kesal dengan sikap Fidya. bahkan sedikitpun dia tidak ada niat untuk menyiksa Fidya. kalau saja dia mau, mungkin Fidya akan dibiarkan kelaparan.
"Aku tau siapa dirimu! jadi, sekarang kau tidak bisa lari dariku lagi?! aku ingin membersihkan nama tuan Haikal dari kau dan bos mu itu!!" ucap Ricky penuh penekanan membuat mata Fidya melotot seakan terkejut.
"Kau?! dasar breng*ek!! berani sekali kau melawan ku?!" serangnya lagi dengan menggeliat ingin berontak.
"Percuma kau berteriak disini?! tak akan ada yg mendengar suara mu!! sekarang kau hanya menuruti perintah ku?! atau tidak, kau akan menjalani semua hidupmu di dalam penjara. apa kau mau?!!" imbuh Ricky menatap tajam Fidya seolah memberi peringatan yg tegas.
"Lepaskan aku!! cepat!! kalau tidak, kau akan menyesal seumur hidupmu?!" teriaknya lagi dengan meronta ronta.
"Sssttt, percuma saja! sekarang kau harus mendengar perkataan ku. jika kau mau bebas dari tahanan ku, apa kau mengerti?!" cakap Ricky dengan begitu tegasnya.
"Cih, tak sudi aku mendengar dan menuruti perintah mu?!" berangnya lagi.
"Kau ternyata wanita yg cukup keras kepala juga ya?!" kata Ricky sambil melipat kedua tangannya di dada.
Teringat sebuah perkataan di dalam benaknya kalau semua wanita itu memanglah keras kepala. Rasel salah satu wanita yg sudah memukulnya karena perkataan itu.
Seketika Ricky tertawa lepas mengingat kejadian Rasel memukulnya karena sebuah kata keras kepala.
"Apa yg kau tertawakan!! apa aku badut, ha?!" jerit Fidya hingga merasa begitu emosi melihat ekspresi Ricky sesaat tertawa tanpa ia ketahui.
"Kau tidak perlu tau aku sedang menertawakan apa! yg jelas, sekarang semua keputusan ada ditangan mu! jika kau mau bekerjasama denganku, kemungkinan kau bisa lepas dari semua jerat pasal yg akan menghukum mu," perjelasnya lagi hingga berbalik meninggalkan Fidya yg tampak begitu sadis melihat Ricky saat dirinya keluar dari kamar.
"Dasar sialan kau!! aku tak sudi, lepaskan aku...?!" teriaknya dengan sekuat tenaga, namun pintu kian tertutup rapat dan dikunci oleh Ricky dari luar.
Kini Ricky bersiap untuk kerumah Haikal dan Belinda untuk memberi kabar pada mereka. ia bersiap dengan memakai jaket berwarna biru, kaus putih, celana hitam, tak lupa sepatu sneakers favoritnya. style yg sungguh rapi membuat mata wanita seakan tertuju padanya.
__ADS_1