
☘️☘️☘️
Jam menunjukkan pukul sembilan, tetapi Belinda masih belum keluar dari kamar mandi membuat Haikal gelisah mondar mandir. ingin masuk ke dalam, namun niat itu ia undurkan. sebab dia tidak mau membuat Belinda merasa tak nyaman dengan kehadiran dirinya.
Haikal kembali duduk di atas kasur dengan memangku dagu pakai sebelah tangannya.
"Belinda sedang apa di dalam sana? apa dia berniat tidur di dalam situ?" gumam Haikal terlihat cemas tetapi tidak bisa berbuat banyak.
Sekian menit berlangsung.
"Tidak bisa ku biarkan ini, aku harus bertanya! sudah satu jam aku menunggunya di sini," gumam Haikal lagi pada akhirnya bertekad untuk langsung bertanya dan beranjak dari tempatnya.
TOK TOK
"Bel... kau sedang apa?" ketuk Haikal secara perlahan agar tidak mengejutkan Belinda.
Setelah berulang kali mengetuk tetap tidak ada jawaban.
TOK TOK
"Bel, apa ada yg bisa aku bantu?" mengetuk terakhir kalinya.
Krek
Pintu kamar mandi terbuka separuh.
Ketika Belinda melangkahkan kakinya belum sampai di depan pintu membuat Haikal tercengang tidak berkedip sedikitpun melihat kaki Belinda yg begitu indah nan mempesona di pandang mata.
Sedikit demi sedikit Belinda menampakkan dirinya mencoba berusaha kuat apapun pendapat dari Haikal nantinya.
Zlep
Pedang tajam bagai tertancap di jantung Haikal ketika melihat sang istri berdiri tepat di depan matanya dengan memakai baju pemberian dari Maria.
Alangkah terkejutnya Haikal melihat begitu jelas tubuh Belinda dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Dag Dig Dug
Kedua pasangan itu beradu dalam suara detakan jantung, mereka sama sama terdiam tidak mengatakan apapun.
Beberapa detik berlalu.
"Be- bel, a- apa kau tidak salah memakai baju seperti ini?" tanya Haikal dalam suasana hati yg kacau dan suara jantung yg tak dapat dia kendalikan lagi.
"Ini pemberian dari nyonya," jawab Belinda tampak sangat malu tidak bisa menegakkan kepalanya lagi.
"Kalau kau tidak ingin, kenapa kau pakai juga?" tanya Haikal terlihat sedikit protes.
"Ini juga ada sesuatu dari nyonya," kata Belinda sambil memberi surat di depan Haikal.
Haikal pun meraih sepucuk surat di lapis pita warna merah bertuliskan untuk Haikal dan Belinda.
Seperdetik Haikal membaca surat itu dia bergeleng kepala seketika karna Maria sudah melakukan semua itu sampai sejauh ini.
__ADS_1
Haikal menarik nafas dalam dan mengeluarkan nafas perlahan sangking sesaknya melihat wujud Belinda memakai baju tidak berlapis kain sedikit pun.
Maria, kau ingin aku cepat mati ya?! apa yg kau lakukan?!! batin Haikal meremas surat itu terlihat geram pada temannya yg satu itu hingga tertunduk tidak bisa berkata apapun lagi.
BLEDAR
AAAAAAHHHH
Suara petir menyambar bersamaan dengan hujan yg begitu deras. di tambah lampu padam akibat kilatan petir itu.
Belinda menjerit sangking terkejutnya saat petir begitu keras terdengar ditelinganya.
Tanpa sadar Belinda memeluk Haikal sekuat tenaga dengan memejamkan matanya. kamar yg gelap membuat semua yg ada di dalam tidak terlihat.
Haikal membelalakkan matanya karna Belinda memeluknya secara tiba tiba.
Jantung Haikal sudah berada di ambang batas 100% akan segera meledak saat itu juga.
Haikal pun tidak ingin berbuat kesalahan fatal akibat jantungnya yg sudah tidak bisa ia kontrol lagi. saat dirinya ingin melepaskan pelukan itu dia coba berusaha walau Belinda masih erat memeluknya.
"Biarkan begini, aku takut petir," lirih Belinda dengan berbisik dan bertambah erat memeluk Haikal.
Namun Haikal tidak menyambut pelukan Belinda, dia sudah keringat dingin karna Belinda begitu dekat dengan tubuhnya. dia tidak tau harus berbuat apa.
BLEDAR
AAAAAAHHHH
Kedua pasangan itu terjatuh di lantai karna Belinda tidak sengaja mendorong tubuh Haikal begitu keras sangking takutnya dengan suara petir tersebut.
Bibir mereka menempel dengan lekat. Haikal melotot saat semua itu terjadi padanya.
Suasana yg gelap gulita tidak ada yg terlihat, tetapi bibir Belinda yg menempel di bibirnya begitu terasa manis baginya.
Belinda terdiam saat itu, mereka sama sama membelalakkan mata tanpa adanya cahaya yg menerangi. hanya kilatan petir lah yg membuat sesekali cahaya masuk ke dalam kamar mereka.
Saat Belinda ingin melepaskan dirinya. Haikal langsung menahan tubuh Belinda supaya tetap dekat dengannya.
Ya, Haikal juga seorang lelaki yg tidak bisa menahan hasrat ketika sesuatu sudah memancingnya terlebih dulu.
Haikal menangkap bibir Belinda dengan cepat, Belinda menggeliat dan Haikal tetap menahan tubuh Belinda dengan begitu eratnya sampai perlawanan dari Belinda terhentikan.
Haikal menyelubuhi tubuh Belinda yg begitu lembut seperti sudah terawat sejak lama, buih cinta timbul di antara keduanya.
Begitu menikmatinya mereka sehingga lupa kalau masih berada di lantai.
Setiap sentuhan tangan haikal ke tubuh Belinda membuat wanita itu mend**ah tiada henti krna merasakan sentuhan yg begitu nyata dari Haikal.
Haikal langsung membopong Belinda untuk naik ke atas kasur, setelah dia menyadari bahwa dirinya masih berada di lantai sedari tadi.
Dengan begitu Perlahannya Haikal meletakkan tubuh Belinda di atas kasur, dan tangan Belinda masih saja menggenggam pundak leher Haikal.
Di saat yg bersamaan, lampu pun hidup kembali seperti semula membuat keduanya menatap begitu dekat satu sama lainnya.
__ADS_1
Haikal melontarkan senyuman yg memiliki arti untuk Belinda malam itu, bagi Belinda Haikal seorang pria lembut membuat dirinya merasa nyaman saat di sentuh oleh Haikal.
Belinda menganggukkan kepala untuk menjawab senyuman dari Haikal.
Krna sudah dapat persetujuan dari Belinda, maka Haikal melanjutkan aksinya untuk menghabiskan malam pertamanya pada sang istri yg dia cintai.
Haikal tidak ingin membuat Belinda kecewa, dia berusaha untuk membuat Belinda merasa menikmati adik kecilnya yg sudah membuatnya mende**h tanpa ada perlawanan.
Kedua pasangan di mabuk kepayang melewati malam yg indah di kelilingi bunga hingga suara hujan yg menemani mereka bercumbu dengan penuh hasrat membludak di jiwa.
...❤️🌺🌺🌺❤️...
Setelah berlangsung beberapa saat.
"Bel, minum dulu teh nya," ucap Haikal membangunkan Belinda perlahan.
Belinda membuka matanya perlahan dan melihat Haikal sudah memegang gelas teh hijau yg belum sempat dia minum.
"Ukh," desis sakit saat Belinda bangkit dari tempatnya.
Tubuhnya terasa ngilu saat melakukan malam pertama dengan Haikal. seketika Haikal membantu Belinda untuk duduk dengan tubuh yg sudah di balut dengan selimut tebal.
"Nah, minum dulu supaya kau fresh kembali," bujuk Haikal pula.
"Ya, aku akan minum," turut Belinda meraih gelas itu.
Glek Glek.
Dalam sekali minum Belinda menghabiskan teh nya, Haikal juga tampak memijat sebelah bahu Belinda seolah merasakan sakit yg dialami oleh Belinda.
"Apa sesakit itu?" tanya Haikal merasa bersalah.
Sejenak Belinda tersenyum bahagia mendengar perhatian dari Haikal, dia meletakkan kembali gelas yg sudah kosong di atas meja tepat disebelah tempat tidur.
Seketika itu Belinda kembali memeluk Haikal begitu hangatnya. dia merasa Haikal sudah sangat menyatu dalam jiwanya.
"Kau suamiku, apapun yg kau lakukan padaku semua bukan salah mu. krna kewajiban istri memanglah seperti ini, itulah yg di ajarkan nyonya Maria padaku Ren," jawab Belinda mengelus punggung Haikal dan menciumi pundak Haikal dengan rasa cintanya.
"Terimakasih bel, kau istri yg sangat baik, terimaksih kau sudah menerima aku menjadi pendamping hidupmu," sambut Haikal dengan menciumi pipi Belinda.
Keromantisan itu terus berlangsung sekian menit. akhirnya Belinda tertidur di pelukan Haikal.
Dengan perlahan Haikal membaringkan Belinda krna dia menyadari kalau Belinda sudah lelap di pelukannya.
"Aku berjanji akan terus mencintaimu bel, maksih sayang," kecup Haikal di kening Belinda yg sudah tertidur pulas.
Tak lupa juga Haikal mencium bibir Belinda dan mengucapkan selamat tidur dengan berbisik perlahan.
"Good night sayangku," bisik Haikal dengan suara pelan.
.............
Bersambung..
__ADS_1