
ππππ
Pelajaran sesi pertama
Semua murid mengumpulkan tugas yg telah selesai diatas meja. yg duduk hanya Gisel juga Rei mereka menatap diam melihat pergerakan beberapa orang sedang menyerahkan tugasnya masing-masing.
Salah seorang murid perempuan yg ingin kembali ketempat duduknya menghampiri Rei juga Gisele.
"Hai.. kenalin, aku Liona..." memberi sapaan sembari ingin berjabat tangan.
Rei dan Gisele menyambut tangan yg menyapa mereka, serta membalas senyuman darinya. Mereka berpura untuk tenang agar tidak terlihat panik dihadapan murid yg baru mereka kenal.
Liona adalah murid yg terbilang cukup teladan dikampus, nilai yg di peroleh tidak jauh berbeda dari kebanyakan murid lainnya walaupun tidak selalu mendapat nilai yg baik. Liona asli berdarah Inggris, dia tinggal bersama kakaknya yg sekarang sudah sibuk pada pekerjaannya sendiri, kedua orangtua telah meninggalkan mereka ketika masih kecil, terkadang Liona hanya sendiri dirumah dikarenakan sang kakak tidak bisa betah dirumah mengurus semua bisnisnya.
"Kalian jangan panik... tak apa? kalian kan baru hari ini masuk, lagian pak Tristan sudah pasti tau kalian.." ujar Liona pula.
"Ah, kami tidak panik kok... heheh! oh iya, kursi kamu Dimana?" tanya Gisele mengalihkan topik.
"Aku dekat kalian kok! hanya satu langkah dari kalian..." menunjuk ke arah kursinya.
"Ooh...ya,ya." Gisele dengan cepat menjawab karna sudah risih.
"Kalau gitu aku kembali ke tempatku dulu ya..." tersenyum ceria.
Setelah Liona berlalu pergi.
"Rei, kamu denger kan dia bilang apa... nama dosen itu Tristan katanya." gisele membisikkan ketelinga rei.
"Denger kok," ucapnya singkat.
"Dan lagi. Apa'an tuh orang! sok tau banget bilangin kita panik..." tampak wajah Gisele yg tidak senang.
"Tapi bener juga sih! keliatan tuh wajah panik kamu tadi..." mengejek Gisele.
"Kamu tuh yg panik! bukan aku," mengejek Rei balik tidak ingin dikalahkan.
Setelah tugas telah selesai Tristan segera memeriksa absen yg akan memanggil nama murid satu persatu, absen berlangsung menyebutkan nama secara bergilir tapi tidak untuk Rei juga Gisele karna mereka belum terdaftar dibuku absen.
"Baiklah, seperti biasa...." ucapnya terhenti.
"Pak," seorang ketua kelas mengangkat tangannya yg sedang ingin bertanya.
"Ya, ada apa Leo?" jawabnya.
Leo Albert nama yg telah dikenal semua murid dikampus, karenanya dia seorang ketua kelas diruang bisnis. sedari dia masuk universitas sudah terpilih untuk mengatur semua kegiatan para murid dan sebagainya. Leo dikenal tegas tetapi dihadapan wanita terlihat lemah, seperti itulah kebanyakan murid melihat gelagatnya. Leo berdarah Belanda namun dia menetap di Inggris bersama orangtuanya, sang ayh bernama Theo, sang ibu bernama Winda. kedua orangtuanya memasukkan Leo kejurusan bisnis agar bisa mewarisi hak sebagai anak tunggal mereka.
"Murid pindahan kenapa tidak dipanggil pak?" tanya Leo pada Tristan.
"Oh, saya hampir saja lupa... nama kalian siapa?" bertanya sembari menatap kearah Gisele dan trei.
"Na- "
"Saya tidak bertanya pada kamu Leo," menyela ucapan Leo yg belum selesai.
"maaf pak..." ucap Leo tertunduk.
"Bisa kalian berdiri ditempat, kalian tidak perlu maju kedepan! cukup disitu saja... saya ingin tau nama kalian agar saya bisa tulis nama kalian dibuku absen, Silahkan! dimulai dari orang yg dekat jendela!" memberikan perintah dengan perasaan puas didalam hati.
__ADS_1
Pfftt ! batin Tristan menahan tawa padahal sudah tau dari awal.
"Em. saya pak," ucap Rei sembari menunjuk diri sendiri.
"Iya! kamu yg saya bilang," terlihat tenang dalam hati menahan tawa.
Rasanya Rei tidak sanggup lagi berdiri dia ingin segera pulang kerumah dan mengadukan kepada sang ayah apa yg terjadi hari ini, lutut Rei sudah sangat kaku mendengar suara pria yg membuat harinya jadi kacau balau.
Tetapi dia harus tetap bangkit mau tidak mau karna dia adalah mahasiswi diruangan itu.
"Na- nama saya... Reini pak," tertunduk tidak berani melihat kedepan.
"Jangan tunduk! saya tidak memakan orang, angkat kepala kamu! saya didepan, bukan dibawah," berpura-pura tenang sambil menahan senyum yg tak mungkin dia lepaskan.
Setelah mendengar perkataan Tristan, Rei tidak punya pilihan lain lagi karna dia tidak mau terlihat angkuh dan semua murid menganggap dirinya tidak patuh.
"..."
Rei menatap wajah Tristan tanpa berkedip tampak memalsukan senyumnya.
"Oke, sudah cukup! kamu boleh kembali duduk. selanjutnya yg disebelah... perkenalkan nama kamu!" tersenyum bangga pada dirinya karna bisa langsung berikan perintah pada wanita yg dari tadi melarikan diri darinya.
"Nama saya Gisele pak," memaksakan tersenyum walau sudah keringatan.
"Silahkan duduk kembali, baik semuanya... kita lanjut pelajaran baru kita! saya akan..."
"Pak." Gisele angkat tangan tanpa pikir panjang.
"iya... Kenapa?" tanya Tristan menatap Gisele dari jauh.
"Leo, tolong ambilkan buku salinan materi diatas meja ruangan saya..." perintahnya pada Leo.
"Baik pak," tegas Leo.
Tak berapa lama Leo bergegas keluar untuk menjalankan perintah yg diberikan padanya.
Beberapa menit kemudian.
TOK.TOK..
Leo yg baru saja kembali dari ruangan Tristan sudah berada didepan pintu kelas.
"Iya masuk saja Leo... tolong berikan bukunya pada Gisele," bicara tanpa melihat Leo karna sedang fokus menulis soal dipapan tulis.
Leo berlari bergegas menghampiri Gisele dan Rei, sesampainya Leo ditempat mereka dia bukan langsung memberikan buku itu malah berfokus pada kecantikan Rei yg membuatnya terpesona.
Oh tuhan... cantik sekali ciptaanmu? benak Leo sembari menganga.
"Hei," suara Gisele yg memanggilnya agar cepat sadar.
"Oh, maaf... " wajah Leo yg tersipu malu melihat kecantikan Rei.
Rei tidak menggubris keberadaan Leo didepannya, malah pandangan Rei menatap kearah luar jendela. Rei bukan seperti kebanyakan wanita yg mudah untuk didekati.
"Mau berapa lama lagi kamu berdiri disitu Leo?" langsung memutarkan badannya dan menatap tajam leo karna melihat tingkah leo membuatnya risih.
"Iya pak? maaf...." sahut leo bergegas pergi sembari meletakkan buku yg dia pegang dimeja karna dia sudah bisa merasakan ada hawa yg sangat dingin di pundaknya.
__ADS_1
"Baik, saya ingin bertanya pada Reini," ucap Tristan menoleh kearah Rei.
"Iya, ada apa pak..." sahutnya dengan sopan.
"Kamu pindahan dari new York bukan?" tanya Tristan menatap jarak jauh.
"Betul pak," mengernyitkan wajahnya karna pertnyaan itu.
"Oke! berarti kamu sudah paham materi yg ada dibuku ini bukan... apa betul yg saya katakan?" ucapnya sembari melangkah mendekati Rei.
"I- iya pak..." jawab Rei gugup sembari mengepalkan tangan dibawah meja.
"Sekarang saya mau kamu maju kedepan! kamu saya minta menjawab soal yg sudah saya buat disini, bisa?" ucap Tristan terus menatap kearah Rei.
Apalagi sih ini orang? maunya apa cobak! kenapa aku yg harus menjawab soal itu... dari sekian banyak org diruangan ini, masa aku sih. batin Rei dengan menggerutu yg tanpa sadar telah membuat Tristan menunggu jawaban darinya.
"Kenapa Reini... kamu tidak bisa?" mengulang pertnyaannya kembali.
"Bisa pak... baik, saya akan kedepan," dengan berat hati Rei berusaha bangkit dari bangkunya.
Gisele mengelus pundak Rei agar bisa sedikit lebih tenang.
Langkah kaki perlahan membuatnya terlihat sangat gugup, Semua Mata diruang kelas hanya tertuju padanya.
Sampailah Rei dihadapan Tristan dengan susah payah dia memantapkan hatinya untuk berjalan kedepan.
Mereka saling bertatapan tidak berbicara sama sekali dan juga terhanyut dalam lamunan pikiran masing-masing.
Apa sih! tadi nyuruh kedepan, sekarang malah diem aja! batin Rei menahan sabar.
"Ada apa pak? kenapa bapak dari tadi liatin saya," membuyarkan lamunan Tristan yg terus menatapnya dari jarak dekat.
"Ah, tidak ada... kamu hanya terlihat mirip dengan seseorang saja," ucapnya terburu-buru agar tidak kelihatan bahwa dia sangat canggung.
"Maksud bapak..."
"Tidak ada. silahkan kamu jawab soal ini," menyela pertnyaan Rei sembari menyerahkan spidol.
TUK.TUK.TUK
Suara ketukan meja yg terdengar jelas ditelinga Rei membuat bulu kuduknya berdiri, seakan dia merasa sedang diawasi oleh malaikat pencabut nyawa.
Serem banget sih... batin Rei sembari menggigit bibirnya.
Tristan hanya menatap Rei dari arah samping, dia juga tidak menyangka kalau wanita yg terus melarikan diri darinya itu berada tepat disampingnya saat ini.
Mata cantik, hidung mungil, kulit seperti susu, dengan polesan sedikit warna dibibir rambut yg dibiarkan terurai berwarna seperti ke'emasan diberikan jepit rambut yg kecil.
Pandangan Tristan hanya tertuju pada Rei dia tidak bisa memalingkan wajahnya sedetikpun karna sungguh Rei adalah wanita yg sangat sempurna bagi Tristan.
...............
Bersambung....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA π€π
ππ₯°MAMAK SAYANG KALIANπ₯Ίβ€οΈ
__ADS_1