
☘️☘️☘️
Pada malam hari.
Usai berbelanja kebutuhan di supermart tidak jauh dari rumah, Haikal mempersiapkan segalanya untuk melatih dirinya dalam memasak. Haikal sedari dulu belum pernah masak buat menjamu siapapun, dirinya hanya memasak ringan saja yg tidak terlalu berat. tetapi kali ini Haikal mencoba dengan usahanya sendiri supaya bisa melatih dirinya kalau saja bik Lis sedang ada keperluan atau hal lainnya dialah yg menggantikan posisi itu di sisa kesibukannya. itulah tekad Haikal setelah mengetahui Belinda mengandung.
Seng Seng
Bunyi suara tongsengan mengarah dari dapur membuat Belinda tersentak seketika.
"Erhm..." geliat Belinda membuka perlahan matanya.
Belinda mencium bau harum dari arah dapur menembus masuk ke dalam kamar. ia pun bangkit dari kasur dan melangkahkan kaki keluar kamar.
"Biik, apa bibik sudah pulang?" panggil Belinda sambil berjalan menuju dapur.
Tetapi panggilan itu belum ada sahutan sama sekali, ia pun berulang kali memanggil dengan terus mengarah pintu dapur yg sudah terbuka lebar.
"Loh! Ren, apa yg sedang kau lakukan?" tanya Belinda melihat seluruh ruangan dapur begitu berantakan.
"Bel, kau sudah bangun?" balik bertnya tampak belepotan krna sangking sibuknya.
"Aku baru saja tersentak karna mendengar suara ribut dari arah dapur," ucap Belinda melangkah mendekati Haikal yg tidak fokus padanya.
"Apa yg kau buat Ren?" sambung Belinda lagi dengan mendekatkan dirinya di samping Haikal.
"Kau tunggu saja di depan. kalau Maria datang kau bisa langsung membuka pintunya." Haikal terus meracik semua bahan yg ingin dia masak dengan menu lainnya.
"Kau masak sebanyak ini sendirian?" tanya Belinda mengamati hasil usaha sang suami, apalagi dia melihat beberapa kertas terletak di atas meja dapur.
"Pfft, ya tuhan! kau melakukan ini dengan melihat semua kertas ini Ren? sungguh hebat sekali, kau bisa membuatnya dengan tanganmu sendiri," lontar Belinda lagi dengan menepuk kedua tangannya krna merasa bangga.
"Bel, aku sedang sibuk. kau jangan ajak aku bicara lagi, sekarang kau siapkan diri," lanjut Haikal dengan langkah yg cepat saat memasak.
"Apa kau yakin, tidak ada yg bisa aku bantu?" tanya Belinda pula menatap bahagia suaminya.
"Tidak bel, aku bisa menyelesaikannya sendiri," tolak Haikal dengan halus.
Belinda pun anggukkan kepala dan melangkah menuju ke luar dapur, tetapi sesaat mau meninggalkan Haikal dia menghentikan langkahnya.
"Ren, dapur ini biar aku saja yg membersihkannya! kau tidak perlu memegang apapun selain hal yg satu itu," pesan Belinda menatap suaminya yg masih serius memasak.
"Ren...!" panggil Belinda lagi karna Haikal tidak menjawab pesannya.
"Iya sayang! kau pergilah, aku akan mendengarkan pesan mu," sahut Haikal sedikit gerutu karna Belinda selalu membawanya bicara, sedangkan dia sibuk melihat kertas yg susah payah ia tulis sebelumnya.
Dengan bergeleng kepala Belinda beranjak pergi dari dapur kembali ke kamar untuk membersihkan diri. seusai pulang dari rumah sakit Belinda belum bertukar pakaian.
__ADS_1
Beberapa menit setelahnya.
TIng Tong Ting Tong
Tepat bel berbunyi, Belinda pun sudah siap mempersiapkan dirinya untuk menjamu tamu yg sudah kian lama tidak datang.
Krek
Pintu terbuka lebar, terlihatlah sepasang suami istri dan juga anaknya Tristan dengan senyuman yg hangat.
"Hai bel, apa kabar mu?" tanya Maria dengan antusianya memeluk tubuh mungil Belinda.
"Aku baik Maria! apa kabarmu? sudah lama kita tidak bertemu," sambut Belinda dengan girangnya dan memeluk erat tubuh Maria.
"Hai Tatan?" sapa Belinda dengan riuhnya saat terlepas dari pelukan Maria menoleh pada Tristan.
"Baik Tante, apa Tante tidak rindu Tatan?" tanya Tristan tampak matanya berkaca penuh kerinduan.
"Rindu sekali, Tante rindu dengan Tatan," peluknya dengan hangat.
Tristan begitu nyamannya saat di peluk oleh Belinda krna dirinya sudah beberapa bulan tidak melihat wajah Belinda.
"Kenapa kalian masih di luar, ayo masuk! Lan, masuklah! kenapa kau hanya berdiri saja," panggil Haikal dari arah dalam rumah.
"Yuk kita masuk," ajak Belinda sambil memegang jemari tangan Tristan yg masih melekat di tangannya.
"Kalian duduklah, aku sudah buatkan makanan khusus untuk kalian," kata Haikal tengah sibuk mondar mandir.
"Ren, apa yg bisa aku bantu?" tanya Belinda ikut merasa sibuk saat suaminya berlalu lalang.
"Kau duduk saja! kau tidak boleh terlalu lelah," titah Haikal membuat Maria dan Erlando saling bertatapan.
"Ekhem," dehem Erlando pula.
"Maria, duduklah! Tatan, kau juga ya duduk di sini," ajak Belinda tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Erlando.
"Kal, aku akan membantumu!" ucap Erlando ikut serta mempersiapkan hidangan yg akan disajikan Haikal.
"Tidak perlu Lan! kau duduk saja, kau tamu ku! tidak mungkin aku membiarkan mu repot," lanjut Haikal lagi yg masih berada di dalam dapur dengan celingukan melihat Erlando.
"Kau tidak perlu sungkan padaku Kal! aku ini bukan orang lain lagi. kau saudaraku," cakap Erlando tidak mendengarkan perkataan Haikal, diapun langsung ke dapur melihat apa yg bisa ia lakukan.
Akhirnya Haikal tidak bisa berkata apapun lagi, krna Erlando orang yg tidak bisa di tolak sama sekali.
"Hufh, selesai," hembus nafas pelan dari mulut Haikal setelah berada di ruang meja makan yg tampak cukup luas.
"Sekarang kita sudah bisa nikmati hidangan ini," lanjut Haikal lagi menarik kursinya di sebelah Belinda yg tertunduk malu krna keromantisan sang suami yg memanjakannya.
__ADS_1
"Tunggu dulu!" ucap Maria membuat semuanya melihat ke arahnya.
"Ada apa Maria? apa kau belum lapar?" tanya Haikal pula mengamati wajah Maria yg terlihat ada sesuatu yg ingin di tanyakan.
"Apa di rumah ini akan kedatangan seorang bayi?" tanya Maria setelah sadar saat Belinda memeluknya ketika hendak masuk ke rumah.
"Ternyata kau bisa merasakan tanpa kami katakan terlebih dulu ya Maria?!" seloroh Haikal tersenyum jahil.
"Tentu saja! aku tau apapun dalam diri Belinda, apa kau lupa siapa aku?" tanya Maria dengan angkuhnya menaikkan satu alis matanya.
"Yaaa... aku tau kau! mata mu itu bisa melihat sesuatu yg mengganjal," balas Haikal pula merasa di kalahkan.
"Apa itu benar Tante?" riuh Tristan menangkap pembicaraan di tengah mereka.
"Iya Tatan. Tante sedang mengandung, dan didalam perut Tante ada dede bayinya," angguk Belinda meraih tangan Haikal untuk mengelus perutnya.
"Waaaah, sebentar lagi Tatan punya teman dong," antusianya terlihat senang saat Belinda membiarkan tangannya menyentuh perut Belinda.
"Sudah! kita makan dulu! nanti sambung lagi ceritanya," ajak Haikal pula sudah tidak sabaran melihat reaksi mereka saat mencicipi masakannya sendiri.
Belinda mengambilkan nasi dan menuangkan lauk untuk Haikal di atas piring yg sudah di siapkan oleh Haikal sendiri.
Mereka pun sibuk mengambil menu yg sudah tertata rapi di atas meja.
"Emmmm, ini kau yg masak kal?" riuh Maria saat menyantap masakan Haikal.
"Apa rasanya tidak enak? krna aku baru saja membuatnya," keluh Haikal merasa panik dengan reaksi yg lainnya.
"Kal, kau hebat sekali. aku saja tidak bisa memasak sebanyak ini sendirian!" sambung Erlando menepuk pundak Haikal yg terlihat tidak percaya diri.
"Benarkah? apa itu enak?" riuh Haikal masih belum percaya, sejenak dia menoleh pada istrinya yg sudah tersipu malu.
"Bel, apa itu enak?" sambung Haikal pula bertnya kejujuran dari sang istri.
Belinda anggukkan kepala tanpa berkata apapun lagi dan tak lupa melontarkan senyum indahnya.
"Om ikal hebat! Tatan ingin di ajari masak sama om, ini enak om. rasa masakan om seperti di restoran saja," kata Tristan dengan bijaknya membuat Haikal tertegun.
"Terimakasih Tristan! karna kau memuji ku," ucap Haikal sedikit mengacak rambut Tristan yg terlihat menggemaskan itu.
Setelah perbincangan hangat itu, mereka semua begitu sangat menikmati hasil olahan dari Haikal. apalagi mereka sudah membuat julukan master koki untuk Haikal. dirinya juga sungguh tidak menduga bahwa masakannya akan di terima oleh lidah semua orang yg merasakannya.
.................
Bersambung...
...❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1
LIKE,KOMEN,VOTE JIKA KALIAN SAYANG MAK🙏🙏 EMAK MINTA DUKUNGAN KALIAN SUPAYA MAK LEBIH BERSEMANGAT LAGI🙏💕