Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
GUDANG


__ADS_3

...^^^...


Ddrrtt


Bunyi getaran ponsel didalam tas Fidya begitu jelas terasa, ia terhentak dan memberhentikan langkahnya saat itu.


"Siapa sih!" gumam Fidya menggerutu.


Dengan rasa kesal ia terpaksa meraih ponsel di dalam tasnya dan mengangkat telepon dari Rasel yg sudah menghubunginya.


Ternyta Rasel ingin Fidya segera kembali karena Haikal dan Belinda sudah pulang ke rumah. singkatnya Fidya mengatakan itu bukanlah urusanny, karena dia juga memiliki urusan lebih penting lagi.


Ia pun menutup ponselnya sebelum Rasel selesai berbicara. sungguh Fidya tidak mempunyai etika sedikit pun jika itu tak menyangkut keuntungannya.


Baru ingin melangkah, pria misterius itu memanggilnya dari kejauhan.


"Apa yg ingin kau cari di situ? kemarilah! ada sesuatu yg ingin aku katakan padamu," imbuhnya dengan menoleh ke arah Fidya yg menjauh darinya.


Fidya pun mendengar suara itu, dan menyahutnya dengan cepat. entah kenapa Fidya curiga dengan bayangan yg jelas terlihat oleh matanya. tetapi karena sudah kian dipanggil ia pun berbalik arah kembali pada pria tadi.


Kini Ricky menghela nafas kasar karena Fidya sudah menjauh darinya. setidaknya ia tertolong oleh panggilan dari Rasel barusan. tanpa pikir panjang lagi, Ricky langsung bergegas pergi dari tempatnya sebelum semuanya menjadi runyam. sigapnya Ricky berlari tanpa bersuara. dengan kewaspadaan yg penuh, Ricky berhasil keluar dari sangkar yg pengap itu.


Yap, dirinya sekaligus berhasil merekam semua pembicaraan dari Fidya walaupun sebenarnya ia juga merasa penasaran dengan wajah lelaki tersebut yg bersama dengan Fidya.


Ricky mengulang langkahnya sejak awal ia masuk mengendap ke bangunan itu, begitu pula saat ia keluar dan terbebas dari mereka semua. dia selalu memperhatikan gerak gerik dari tatapan mata penjaga yg masih berdiri dengan tegap.


Bagaimana pun caranya Ricky harus bisa kabur tanpa ketahuan oleh siapapun juga. ia menutup dirinya dibagian sisi mobil yg sedang berhenti tanpa adanya pemilik. secepat kilat dia berlari menuju mobilnya tanpa menoleh ke belakang lagi. selain pintar, Ricky juga termasuk orang yg gesit dan dapat di handalkan.


Saat dirinya masuk kedalam mobil, ia memutar balikkan badan mobil itu supaya tidak mengundang perhatian dari kedua orang tersebut. dengan cepatnya Ricky melajukan mobil kembali ke arah kantor mencari sesuatu yg dia perlukan untuk rencana berikutnya.


Beberapa saat kemudian.


Sesampainya di dalam kantor Ricky mencari seseorang yg bernama Rasel. dikarenakan Ricky tidak mengenalinya makanya ia bertnya pada salah satu karyawan yg sedang bekerja. ternyata Rasel sedang berada di ruang cctv untuk mengecek keamanan kantor.


Ceklek


Rasel keluar dan seketika terkejut.


"Apa kau Rasel?" tanya Ricky sontak membuat Rasel mengelus dadanya.


"Maaf aku membuatmu terkejut!" lanjut Ricky pula bungkuk pelan.


Rasel melihat Ricky dengan sinis. ia juga merasa aneh tiba tiba saja seorang lelaki berdiri didepan pintu cctv.


"Hanya sedikit terkejut saja! apa yg tuan lakukan disini? sedang mencari apa?" tanya Rasel sambil membenarkan kaca mata minusnya.


"Aku mencari orang yg bernama Rasel," cakap Ricky sambil celingukan.


"Ya, itu saya! ada apa mencari saya tuan?" tanya Rasel bertmbah bingung.

__ADS_1


"Bisakah kau menunjukkan ruang data pribadi semua karyawan disini? terutama yg bernama Fidya," lontar Ricky menatap serius pula.


"Apa yg ingin tuan cari dengan data pribadi nona Fidya?" tanya Rasel menaikan sebelah alisnya.


"Ada sesuatu yg ingin aku lakukan! bisakah kau menunjukkannya?" tanya Ricky kembali.


"Saya tidak bisa sembarang memberi data pribadi karyawan kantor ini," imbuh Rasel bergerak dari tempatnya meninggalkan Ricky begitu saja.


"He.. hei..."


Rasel tak menggubris sedikitpun karena dia tidak mengenal Ricky sama sekali dan begitu saja meminta data pribadi membuat Rasel jengkel seketika.


"Halooo, kenapa kau tidak mendengar panggilan ku? aku hanya ingin meminta datanya saja," ucap Ricky dengan merentangkan kedua tangannya menghalangi jalan Rasel.


"Bisakah anda minggir tuan? atau saya panggil satpam untuk mengusir anda keluar?" kesalnya pula seolah Ricky memaksa dirinya untuk berkata kasar.


Dasar!! wanita itu sama saja!! keras kepala!! batin Ricky menghembus nafas kasar.


"Aku sudah meminta izin oleh pemilik kantor ini, atas nama bapak Haikal! apa kau sudah puas dengan ucapanku?" katanya lagi sambil melipat tangan didada.


"Anda harus lebih detail lagi, kalau hanya ucapan saja! maling juga lebih pintar dari itu?! apa anda bisa minggir sekarang?!" amuk Rasel mendorong tubuh Ricky yg sudah kian terbengong mendengar perkataan dari Rasel.


Apa barusan dia mengatakan aku ini maling?!! batin Ricky melamun seketika.


"Hei, Rasel!! aku sangat terburu buru?! baiklah, aku ini Ricky! sekarang kau bisa menghubungi tuan Haikal dan bertanya padanya langsung!! lekas lah! aku tidak punya banyak waktu di sini," keluh Ricky berusaha berhenti didepan Rasel yg sudah mengurut keningnya menghadapi Ricky.


Setelah Rasel menghubungi Haikal, tersambunglah percakapan mereka membuat Haikal juga kebingungan kalau Ricky sedang ada dikantornya. Ricky pun berbicara pada Haikal dan akan menjelaskan semua maksud dari permintaannya itu. ia benar benar tidak bisa berbicara terlalu banyak saat berada di kantor.


Usai telepon ditutup, Ricky dengan bangganya mengikuti langkah Rasel karena sudah dapat izin dari Haikal langsung.


"Aku kan sudah katakan tadi?! tapi kau begitu keras kepala!!" selorohnya dengan memasukkan kedua tangan didalam saku celananya.


Bruk


Seketika Rasel berhenti tepat didepan Ricky.


"Kenapa kau berhenti?!" cetus Ricky mengelus keningnya karena terhantuk kepala Rasel yg spontan berhenti.


"Tuan tadi mengatakan apa?" tanya Rasel bernada aneh sama sekali tidak menoleh padanya.


"Keras kepala?!" celetuknya pula tanpa sadar kalau Rasel sudah mulai jengkel.


"Aaaaaa....." pukulan dan jambakan Rasel melayang ketubuh Ricky.


Jelas Ricky tidak menduga kalau Rasel bisa semarah itu.


"Hei, hei... apa apaan kau! kenapa memukulku!!" berusaha menghindar dengan berteriak karena Rasel masih menjambak rambutnya.


"Karena anda pantas dipukul!! enak saja anda berkata saya keras kepala?!" serang Rasel membabi buta.

__ADS_1


Karena Ricky teringat akan perkataannya itu, ia meraih kedua tangan Rasel dan mengikatnya dengan erat. ia sudah tidak bisa menerima pukulan itu lagi walaupun hanya sebatas nyeri yg dia rasakan.


"Apa karna aku mengatakan kau keras kepala? makanya kau memukulku?!" ucap Ricky yg masih memegang tangan Rasel dan spontan menatap Rasel dengan jarak yg dekat.


"Tuan fikir saja sendiri?! jangan banyak bertanya! ikuti saya," cakap Rasel menghempas kuat tangan Ricky dan terlihat rona merah dipipinya saat Ricky berhasil membuatnya menatap dari dekat.


Rasel berbalik badan dan berlalu pergi dari hadapan Ricky. begitupula pada Ricky yg mengikuti dari belakang dengan senyuman manisnya ia melihat Rasel memerah entah karena malu atau karena marah padanya.


Sampailah mereka pada suatu tempat seperti gudang khusus para karyawan meletakkan barang barang penting.


Rasel membuka kunci gudang dengan cepat dan menghidupkan lampu terlebih dulu.


"Inilah tempatnya," imbuh Rasel melangkah masuk ke dalam gudang itu.


Ricky celingukan melihat isinya. terasa pengap karena tertumpuk barang dan begitu banyak berkas yg tersusun rapi.


"Jadi, dimana letak berkas data itu?" tanya Ricky pula mengelus pundak lehernya melihat berkas yg sama warnanya.


"Apa anda tidak ingin mencari dulu? apa segini saja sudah menyerah?" kekeh Rasel melihat reaksi Ricky yg kebingungan setelah masuk ke gudang itu.


"Tidak! aku akan membantu mencari berkas itu, setidaknya yg aku butuhkan hanya satu nama saja," turut Ricky sambil mencari berkas dengan nama Fidya.


"Apa yg ingin anda perbuat dengan nona Fidya?" tanya Rasel yg juga ikut mencari.


"Aku ingin memberikan dia rumah yg baru dan nyaman," celetuk Ricky dengan santai.


"Untuk apa tuan memberikannya? bukankah dia sudah memilikinya?" bertnya lagi sambil terus mencari.


"Rumah yg sebenarnya!!" sambut Ricky yg sedang terus mencari tanpa celah.


"Saya tidak mengerti maksud tuan." Rasel menatap Ricky yg sedang serius mencari berkas itu.


"Kau masih kecil?! ini urusan orang dewasa!! Heheh," selorohnya pula membuat Rasel naik pitam lagi.


"Tuan mengatakan apa?!" berang Rasel mengepalkan tangannya.


"Tidak! tidak! bisa benjol ini kepala ku kalau kamu pukuli terus," protes Ricky membuat Rasel mengurungkan niatnya.


Rasel malah tertawa hebat saat ucapan itu terlontar dari mulut Ricky. ia tak menduga ada seorang lelaki yg berhasil membuatnya tertawa lepas.


Ricky juga bingung kenapa Rasel bisa begitu sensitif, makanya dia mencoba menarik perhatian Rasel dengan berkata demikian.


Setelah beberapa saat, akhirnya Ricky berhasil mendapatkan berkas milik Fidya. lengkap dengan alamat rumah, nomor ponsel, alamat email, dan juga fotonya.


Dari situlah awal mula Ricky berteman dengan Rasel, karena Ricky juga orangnya mudah bergaul dan ramah terhadap siapa saja yg baik terhadapnya.


...........


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2