
☘️☘️☘️☘️
Eron memergoki Haikal yg tengah melindungi Tristan tepat dibelakangnya, rencana Eron ialah mengambil anak dari kedua pasangan itu. Tristan sudah menjadi target untuk mengancam Maria juga Erlando. dikarenakan Haikal melindunginya, Eron harus berusaha agar Tristan tidak lepas darinya.
Sementara itu, Maria dan juga Erlando sudah sampai di istananya, mereka sangat terkejut saat melihat api yg begitu dahsyat melalap seluruh istananya.
Bruk!
"Tidak......." jerit Maria seketika melotot saat melihat kastil tempat dirinya berbagi kehangatan bersama keluarga kecilnya.
"Tenang Maria, kau tidak boleh gegabah begini," panik Erlando ketika itu.
Disaat yg bersamaan Belinda pun terbangun dari ketidaksadarannya.
"Mmmh," sejenak Belinda perlahan membuka matanya yg ternyata sudah berada didekat Maria.
"Nyonya, ini ada apa?" tanya Belinda tampak bangkit dari genggaman tangan Maria.
"Hiks, bel...." Isak tangis Maria yg tidak pernah terlihat oleh Belinda semenjak dirinya tinggal bersama Maria.
"Nyonya kenapa?" riuh Belinda masih belum sadar apa yg membuat Maria menangis.
Ketika Belinda melihat mata Maria yg tampak terpukul dirinya pun mengikuti kemana arah tujuan dari mata Maria tersebut.
"Ya tuhan..... kenapa bisa ada api?" kepanikan Belinda sambil terkejut bukan kepalang.
"Tatan, saya harus mencari Tatan!" paniknya saat mengingat Tristan tidak ada di sekitar mereka.
Maria dan Erlando tidak bisa berbuat banyak, tidak mungkin mereka masuk sementara api masih sangat membara.
"Nyo, nyonya tenang saja! saya akan menyelamatkan Tatan!" riuh Belinda tampak khawatir dirinya pun bergerak langsung tanpa mempedulikan diri sendiri.
"Bel, kau tidak bisa masuk dengan api yg sangat besar begini! kau bisa celaka bel..." cegah Maria pula menahan lengan Belinda.
"Tidak nyonya! saya punya Tuhan yg akan melindungi saya. maaf nyonya! saya tidak menuruti nyonya kali ini," ungkap Belinda seketika melepaskan tangan Maria.
"Bel....." teriak Maria dengan suara tangisnya.
Maria saja tidak bisa mencegah Belinda, apalagi Erlando. di saat itu Erlando hanya bisa menenangkan istrinya agar tidak mengambil tindakan yg gegabah.
Belinda berlari hingga mengelilingi tempat yg belum terkena api. dirinya sungguh di ambang rasa kecemasan karena Tristan mungkin saja masih berada di dalam.
"Ya tuhan, lingungi Tatan..." gumam Belinda terus memanjatkan doa di mulutnya.
Para vampir yg sedari awal mendukung Maria dan juga Erlando sekaligus mengangkat mereka sebagai raja dan ratu itu pun yg telah membakar istana mereka. karena hasutan dari Eron musuh berat dari kedua pasangan tersebut.
PROK PROK
Riuh tepuk tangan dengan senyuman puas dari para vampir yg mendatangi Maria juga Erlando.
"Kalian!!" sergah Maria dengan wajahnya yg terlihat membara.
"Kalian tidak pantas di sebut raja dan ratu!" dengus salah satu vampir membuka suara.
"Kenapa kalian membakar istana ku!!" teriak Maria bangkit dari tumpuan kakinya.
"Hahah, selama ini kami telah salah menilai kalian! ternyata kalian menghianati klan vampir yg sudah mendengarkan kalian sejak lama!" tandasnya sambil tertawa mencibir.
"Apa yg kalian maksud dari perkataan itu!!" bentak Erlando mulai angkat bicara.
"Kalian tidak perlu lagi bersandiwara di depan kami! semua yg ada disini sudah mengetahui akal bulus kalian!!" tampik vampir itu pula menjawab perkataan Erlando.
"Kami masih tidak memahami apa yg kalian maksud," ucap Erlando penuh penekanan.
__ADS_1
"Apa kalian belum juga sadar dengan peraturan yg sudah kalian buat?" beber vampir itu lagi.
"Apa kalian ingin mengatakan kami masih meminum darah manusia?" tanya Erlando melangkah perlahan.
"Semua pelayan kalian sudah habis kami bakar hidup-hidup! siapa lagi manusia yg masih kalian sembunyikan!!" tuduh salah satu vampir lain.
"Apa kalian sudah menemukan bukti kalau kami meminum darah manusia?" tanya Erlando masih menahan amarahnya.
"Kami berfikir kalau klan Vero yg haus akan darah manusia! ternyata kami semua sudah salah! kalian berdua lah kehausan darah manusia!!" tampiknya melototi Erlando.
"Apa kalian mempunyai bukti? kalau kami meminum darah manusia?" tanya Erlando lagi mulai geram.
"Kemana Eron! panggil dia kesini, karna dia lah yg membawa kita untuk menemukan bukti bahwa mereka sudah meminum darah manusia," sambung salah satu vampir itu.
"Kau! pergi cari Eron sekarang!!" bisik salah satu vampir kepada kerabatnya.
Vampir itu manggut dan langsung bergerak untuk menjalankan perintah dari klannya.
"Otak kalian sudah di cuci oleh Eron! klan Vero tidak akan pernah berubah!! mereka lah yg gila akan darah manusia," berang Erlando tampak tidak terima dengan semua tuduhan yg tidak berdasar.
"Hahahah, dasar kalian bede*ah!!" geram vampir itu menatap tajam Erlando.
"Serang mereka berdua!!" teriaknya memberi perintah untuk melenyapkan Maria juga Erlando.
Beberapa dari klan itu maju mengikuti perintahnya.
BUK,DHUAK
Erlando pun langsung bergerak cepat untuk melawan, sehingga Maria juga ikut bekerjasama dengan sang suami karna dirinya tidak mungkin membiarkan Erlando berada dalam bahaya.
Kekompakan kedua pasangan itu tidak perlu di ragukan lagi, sebenarnya di dalam hati Erlando dia tidak ingin beradu kekuatan dengan para klan yg sedari awal mendukung mereka. namun, dirinya juga tidak bisa menghentikan ancaman yg akan membahayakan Maria juga dirinya.
"Maria, kau harus berhati-hati... konsen mu jangan hilang!" bisik Erlando sejenak saat mengumpulkan semua kekuatannya.
Maria manggut saat mendengarkan perintah dari sang suami. dia hanya perlu bergerak cepat dari lawannya sehingga bisa membunuh para klan itu melalui leher dengan begitu akan gampang memutuskan kepala para musuh.
Di satu sisi lain.
"Terima kasih Tuhan. ternyata masih ada pintu yg belum terkena api," kata Belinda setelah menemukan sebuah ruangan yg masih aman.
Di saat itu pula Belinda langsung menggerakkan gagang pintu yg terasa begitu keras hingga membuat dirinya keringatan.
"Kenapa dengan pintu ini? susah sekali untuk di buka," gumamnya mulai panik kembali.
"Tidak bisa begini! aku harus menemukan sesuatu untuk mendobrak pintu ini," gumamnya lagi celingukan mencari sesuatu yg bisa dia gunakan.
Akhirnya Belinda menemukan sebuah besi berukuran sedang tergeletak di bagian sudut yg tersembunyi.
Blam!
Sesekali Belinda memukul pintu itu dengan sepenuh tenaganya. dia tidak berputus asa sampai dirinya bisa menghancurkan pintu itu dan segera mengeluarkan Tristan.
Dengan kegigihan Belinda akhirnya dia bisa menghancurkan pintu itu walau tidak seluruhnya rusak, hanya tubuhnya saja yg bisa masuk melalui lubang kecil yg berhasil dia buat.
"Syukurlah! aku bisa masuk melalui ini," gumamnya merasa sedikit senang.
Belinda pun masuk dengan penuh kehati-hatian. dirinya perlahan melangkah hingga berlari kecil sambil berteriak memanggil nama Tristan.
Disetiap sudut kamar tidak hentinya Belinda memanggil nama Tristan.
Ditengah menuju ruang gaun dia melihat asap yg sedikit tebal. dirinya tidak mungkin mundur sebelum menemukan Tristan.
Uhuk Uhuk.
__ADS_1
Suara batuk yg di keluarkan Belinda membuat dirinya susah untuk bernafas. asap yg mengepul tebal menyelimuti tubuhnya. dalam bayangan dia melihat semua pelayan tampak tidak sadarkan diri lagi.
"Hei... hei... kalian bangun..." teriak Belinda menggoyangkan semua pelayan yg terkapar pingsan.
"Aku harus apa? dimana Tatan?" gumam Belinda sambil berlari menuju kamar Tristan.
Saat dirinya membuka kamar Tristan dia tidak melihat wajah Tristan, namun dia melihat seorang pelayan bernama Sisil tengah tertimpa benda berat terlihat berlumuran darah.
"Ya tuhan, Tatan dimana?" gumamnya panik mencari di seluruh kamar Tristan sambil terus memanggil tiada henti.
"TATAN...... " jeritan Belinda sambil terduduk lemas.
"Tidak! aku tidak boleh lemah. mungkin saja Tatan ada di ruangan lain," gumamnya lagi bangkit dengan memegang sebuah jendela kaca. dirinya pun sedikit memegang sebuah kain yg terlilit dari dalam kamar.
"Loh! ini apa?" gumam Belinda sambil menutup mulutnya karena asap yg semakin banyak.
"Tuhan... ternyata Tatan sudah ada di bawah bersama tuan Haikal," riuh Belinda saat melihat keberadaan Tatan membuat dirinya bahagia ketika itu.
"Aku harus keluar dari sini Sekarang," ucapnya lagi sambil melangkah dengan cepat.
Crack!
Bruk!
Sebuah kayu besar tepat di hadapan Belinda jatuh yg sudah dibalut dengan api. dirinya pun terkejut dan rasa takut mulai muncul di wajahnya.
"Aku harus mencari sesuatu untuk menutup apinya," tuturnya bangkit dari tempatnya yg sebelumnya terjatuh krna terkejut.
Akhirnya Belinda menemukan sebuah kain yg tebal dari beldu yg terletak dibagian sudut lemari, dia pun meraih hingga menutup seluruh api yg membalut kayu tersebut.
Dengan kelincahan Belinda, dirinya mampu melewati bahaya yg menghampirinya.
Belinda keluar dari kamar dengan selamat tanpa terluka.
Uhuk Uhuk
Suara batuk terdengar oleh Belinda ketika itu, dia juga terheran ada suara tetapi orangnya belum terlihat.
"To.... Tolo....Ng!!" lirihnya memohon.
"Siapa di situ? keluarlah," teriak Belinda celingukan mencari di mana arah suara itu.
"Aku, aku di sini..." jawabnya dengan sesak.
Belinda terus mencari di setiap sudut yg tersembunyi sekalipun. yg pada akhirnya Belinda menemukan seorang yg terhimpit di sebuah sofa sehingga tidak bisa keluar karena tertimpa beton yg besar.
"Madam?" riuh Belinda melihat wajah Leli dengan sangat jelas.
"To...long!!" mohonnya dengan memberi sebelah tangan supaya Belinda bisa meraihnya.
"Sebentar madam! saya akan mengeluarkan madam dari sini," panik Belinda sambil menyingkirkan sofa yg telah menghimpit Leli.
Uhuk Uhuk
Batuk yg terus terdengar di telinga Belinda membuat dirinya semakin berusaha untuk mengeluarkan Leli saat itu.
"Sedikit lagi madam! bertahanlah!" riuh Belinda lagi sambil berusaha sekuat tenaganya.
"Aaaaaahhhh," erangnya sambil mendorong beton yg menghalangi sofa itu.
Dengan usaha yg tidak sia-sia Belinda pun bisa menyelamatkan Leli saat itu, Belinda juga menggendong Leli dari balik punggungnya.
"Bertahanlah! kita akan keluar dari sini," kata Belinda dengan nafas sepenggal.
__ADS_1
................
Bersambung.....