
☘️☘️☘️
Panjang lebar Ricky menjelaskan rencananya untuk menjebak Ambar, supaya bisa membuktikan bahwa keraguan Belinda benar adanya.
Belinda terus mendengarkan perintah dari Ricky, ia tak ingin berbuat kesalahan lebih lama lagi setelah Ricky menyadarkan dirinya. entah mengapa Belinda bertekad untuk melakukan semua yg Ricky katakan, seperti ada sebuah dorongan kuat darinya.
Setelah beberapa jam kemudian.
"Sepertinya saya harus segera kembali, karna sudah memakan waktu bnyk disini. saya harus menyerahkan skripsi saya," beber Ricky tersadar kalau dirinya sudah berbicara panjang.
"Kau melanjutkan kuliahmu yg tertunda?" tanya Belinda tampak senyum ceria.
"Ya, itu karna pertolongan dari kalian. makanya saya bisa sampai seperti ini," turut Ricky pula sambil menyibak rambut belakangnya.
"Wah, kau keren sekali. semoga kau selalu sukses Ricky," antusias Belinda memberi kedua jempolnya untuk Ricky.
"Terimakasih nyoya atas supportnya untuk saya," bungkuknya pula teramat senang mendengar ucapan Belinda.
"Saya pamit dulu," lanjutnya lagi.
"Aku akan mengantar mu sampai depan," kata Belinda pula.
Ricky melirik bik Lis yg menatapnya sedari tadi, ia pun tersenyum senang untuk memberikan semangat pada bik Lis supaya bisa menghadapi semua rasa sakitnya itu.
Mereka pun keluar secara bersamaan hingga sampailah didepan pintu rumah.
GEDEBUG
Terdengar suara hamparan keras dari arah depan pintu luar rumah. Belinda bergegas membukanya dan mendapati sang suami tengah terjatuh terkulai terlihat seperti tidak berdaya.
"Ren... Ren... hei... kau kenapa?" riuh Belinda merangkul kepala Haikal di lengannya menepuk sesekali pipi Haikal perlahan.
"Mmhh, sepertinya ini bau alkohol," kata Ricky pula setelah mendengus terasa bau menyengat, membelalakkan mata Belinda.
"Apa?! alkohol itu bukannya minuman keras?" panik belinda mendengar pernyataan Ricky barusan.
"Ya, saya tau bau ini karna setelah saya kembali ke rumah paman. saya mendapati sebuah botol minuman kosong dan baunya sangat tidak asing dari hawa mulut tuan," ungkap Ricky pula membuat Belinda semakin panik.
"Tidak! dia tidak pernah seperti ini sebelumnya," protes Belinda tidak membenarkan ucapan Ricky.
"Sekarang saya akan membawa tuan masuk, biarkan saya membopongnya," lontar Ricky pula meminta izin terlebih dulu.
Belinda hanya terbengong saat itu, ia tak menduga kenapa Haikal bisa meminum yg berbau alkohol, selama mereka bersama belum pernah sekalipun Haikal berbuat hal begitu.
"Nyonya, saya harus membawanya kemana?" tanya Ricky sambil meletakkan lengan Haikal di pundak lehernya.
Tetapi Belinda masih terduduk tanpa berkata apapun.
"Nyonya!!" sanggah Ricky kembali.
__ADS_1
"Ah, iya..." sahut Belinda tersadar seketika krna Ricky memanggilnya dengan suara lengking.
"Saya akan membawanya kemana?" mengulang pertanyaannya kedua kali.
"Letakkan saja di sofa," turut Belinda bergegas cepat masuk ke dalam rumah berlarian kecil menuju sofa empuk tempat mereka sering bercerita.
Sekian menit berlalu Haikal pun diletakkan di sofa itu oleh Ricky.
Begitupula dengan Belinda, yg sibuk sana kemari membuat air lemon hangat, melepaskan sepatu Haikal, jas, hingga dasi yg terlihat berantakan. Belinda juga masih bingung ada apa sebenarnya dengan Haikal saat ini, ia pulang dalam kondisi kurang baik.
"Nyonya, saya akan mengantar skripsi sebentar saja! setelah itu saya akan kembali lagi. oh ya, saya akan membuat sebuah ramuan penghilang pengar untuk tuan," seru Ricky membuat terkejut Belinda.
"Apa kau mengerti tentang ramuan?" tanya Belinda sambil mengaduk air lemon yg sudah ia letakkan di atas meja.
"Sedikit, tidak terlalu mengerti semuanya," turut Ricky pula mengedipkan sebelah matanya.
Rasa tenang terpancar dari wajah Belinda, Ricky membuatnya sedikit lebih lega karena dirinya memang sama sekali tidak mengetahui hal itu.
"Apa saya boleh memakai dapurnya?" tanya Ricky pula.
"Boleh, tentu saja boleh," riuh Belinda bereaksi dengan cepat.
"Sebelum itu saya ingin keluar untuk membeli bahannya," kata Ricky lagi.
"Apa tempatnya jauh?" tanya Belinda sambil berdiri dari tumpuannya.
"Tidak, beberapa menit saja dari sini," jawab Ricky seketika melangkah bergerak dari tempatnya.
Sejenak setelah Ricky berlalu, Belinda menatap wajah Haikal yg begitu kusut.
"Ada apa denganmu Ren? apa yg tidak kau ceritakan padaku?!" gumam Belinda mengelus kening Haikal dengan berkata lirih.
Sekian menit berlalu.
Ricky terlihat sudah kembali dengan membawa sebuah bungkusan. ada dedaunan kering, air kelapa, dan juga sup penghilang pengar.
"Nyonya, saya akan merebus ini dulu, kalau tuan sudah bangun langsung minumkan air kelapa ini," cakap Ricky sambil memberikannya langsung ke tangan Belinda.
"Apa yg bisa aku bantu?" tanya belinda merasa tidak enak merepotkan Ricky.
"Saya bisa sendiri Nyonya, sekarang tuan lebih membutuhkan nyonya," lontar Ricky terselip senyum kecil di bibirnya.
Belinda hanya menghembus nafas pelan krna Ricky membuatnya tak mampu menolak perkataannya.
Perbincangan pun selesai dan Ricky melangkah ke arah dapur untuk merebus ramuan yg sudah ia beli sebelumnya.
Sungguh bersyukur menjadi Belinda, banyak orang yg selalu ada disaat dirinya membutuhkan bantuan.
...°°°°...
__ADS_1
Pagi hari di kantor Grand Cord.
Tap Tap
Langkah kaki yg tenang memasuki ruangan kantor saat itu.
Semua mata tertuju pada sosok orang yg membuat semua karyawan berdiri seketika.
"Selamat pagi nyonya..." kompak memberi sapaan dengan membungkuk sambil melirik kearah orang itu.
Setelah penyambutan itu, semua karyawan pada berbisik dikarenakan seorang wanita hamil begitu tegas saat berjalan memasuki ruangan Haikal.
"Eh, eh, bukan kah itu istri dari bapak Haikal?" terdengar bisikan yg membuat mereka terheran.
Brak
Suara pukulan keras dari arah dalam ruangan Haikal membuat mata karyawan hanya tertuju dibalik pintu yg masih tertutup rapat.
"Rasel?!" panggil Belinda dengan nada tinggi.
Rasa takut menghantui Rasel saat itu, ketika ia mendengar namanya dipanggil oleh Belinda.
Semua karyawan sangat menyegani posisi Belinda, mereka sadar kalau Belinda mempunyai hak didalam kantor itu.
Tok Tok
"Masuk!!" lontar Belinda dengan tegas.
"Maaf nyonya. apa nyonya memanggil saya?" tanya Rasel sambil melirik ke arah meja Haikal, sementara Fidya sedang duduk di kursi Haikal saat itu.
"Apa kau bisa menjelaskan semua ini?" berbalik tanya sambil menunjuk ke arah Fidya yg asyik bermain hp mengangkat kedua kakinya di atas meja Haikal.
"Nyonya, apa nyonya tidak tau?" turut Rasel pula dengan wajah yg takut.
"Apa yg tidak saya ketahui di kantor ini?!" berang Belinda merasa kesal dengan sikap Fidya acuh tak acuh itu.
"Ba... ba- pak Haikal sudah merekrut nona Fidya sebagai sekretaris pribadinya," beber Rasel kelabakan melihat tatapan tajam Belinda.
"Apa?! wanita sinting ini menjadi sekretaris? apa semuanya sudah tidak waras?" hardik Belinda merasa sesak dan mengelus sesekali perutnya itu.
"Haduh!! wanita hamil itu baiknya dirumah, tidak baik marah marah di kantor," kekeh Fidya membuat pitam Belinda semakin membludak.
"Hei kau Fidya!! aku mengenal siapa dirimu?! pasti kau sudah menggunakan trik licik pada suamiku!! aku tau itu," amuk Belinda berkata keras dengan Fidya. namun sama sekali tidak terpengaruh malahan dia mencungkil telinganya pertanda tidak mau mendengar.
"Rasel, ikut saya ke ruang rapat SEKARANG!!" geramnya memberi penekanan pada rasel.
"Saya mau semuanya berkumpul!! jangan ada yg tidak hadir di ruang rapat!!" sambungnya lagi melangkah dengan rasa yg begitu teramat marah melihat reaksi Fidya santai saja.
"Hah, dasar wanita hamil tidak berguna!!" gumam Fidya setelah Belinda keluar dari ruangan Haikal membanting keras pintu itu.
__ADS_1
...........
Bersambung...