
☘️☘️☘️☘️
Setelah kejadian malam itu dokter yg menangani Belinda sudah memperbolehkan Belinda untuk pulang ke rumah. di karenakan kondisi Belinda semakin membaik tidak ada yg perlu di cemaskan lagi. kini Belinda tengah bersiap untuk keluar dari rumah sakit.
Namun sebelum itu mereka masih sibuk mengurus persiapan untuk penguburan Leli.
"Belinda... apa kau sudah siap?" tanya Haikal yg baru saja masuk ke dalam ruangan Belinda.
"Sudah," jawabnya singkat.
"Baiklah, sekarang kita akan ke pemakaman Leli," ungkap Haikal pula.
Belinda manggut dan langsung keluar dari ruangannya tanpa dipegang oleh Haikal.
"Apa kau bisa berjalan sendiri?" tanya Haikal sambil mendekat pada Belinda.
"Bisa, kamu jangan cemas," lontar Belinda dengan tersenyum menoleh ke belakang.
Haikal tidak ingin bertanya lagi, dia hanya membalas senyuman Belinda yg terlihat sangat berbeda. mungkin saja Belinda masih syok dengan kepergian Leli. karena Belinda lah yg sempat menolong Leli dari kebakaran itu. Haikal sudah mengerti dengan situasi Belinda saat ini.
Pemakaman umum.
Leli di masukkan ke dalam mobil ambulans untuk menjalani proses pemakaman. Belinda dan Haikal mengikuti dari belakang, karena di dalam mobil ambulans sudah ada para perawat yg menjaganya.
Saat sampai di tempat pemakaman, peti Leli di masukkan sedikit demi sedikit hingga proses penguburan berjalan dengan lancar.
Para pelayat itu termasuk para perawat,petugas, hingga sebagian dokter yg menemani proses pemakaman.
Setelah semuanya selesai mereka pun pamit pada Haikal juga Belinda, serta ucapan belasungkawa atas perginya kerabat dari kedua pasangan itu.
Semuanya pamit karena sudah menyelesaikan tugas mereka. Belinda dan Haikal manggut tampak bungkuk sopan serta ucapan terimakasih karena sudah membantu hingga akhir.
"Belinda... Leli sudah bahagia di sana, kau jangan berfikir ini semua salahmu! karena tidak ada yg mengetahui rahasia Tuhan. kau cukup mendoakannya dari jauh," ucap Haikal sambil menepuk pundak Belinda sesekali.
"Saya tidak pernah marah padanya, apapun yg dia lakukan terhadap saya. semuanya sudah saya maafkan," kata Belinda dengan lirih.
"Ren. kamu harus membaca tulisan Leli ini, karena saya sudah membacanya kemarin malam," sambung Belinda sambil mengeluarkan kertas itu dari saku bajunya.
Haikal meraih kertas itu, seketika membacanya dengan teliti.
Setelah selesai membaca.
"Kita harus kembali untuk segera memberi kabar ini pada Maria," lontar Haikal tampak gelisah.
"Ya! kamu benar Ren," sambut Belinda pula dengan menatap makam Leli.
Mereka pun bergerak dari tempatnya, setengah perjalanan Belinda mengingat bik Lis dan sejenak menghentikan langkahnya.
"Ren, saya ingin menjenguk bik Lis terlebih dulu, untuk berpamitan," ajak Belinda pula tampak senyum kecil.
"Baiklah! kita akan singgah ke rumah bik Lis terlebih dulu," turut Haikal menerima ajakan Belinda.
Setelah perbincangan selesai, mereka bergerak keluar dari pemakaman dan menuju ke arah rumah bik Lis.
Haikal seketika berhenti di pekarangan rumah bik Lis, tampak keramaian mengelilingi separuh ruas jalan.
__ADS_1
"Kenapa banyak orang berkumpul?" tanya Belinda sambil menunjuk ke arah yg dia maksud.
"Aku juga tidak tau, kita turun saja," ucap Haikal langsung bergerak dari tempatnya, begitu pula dengan Belinda mengikuti langkah Haikal.
Saat mereka menuju tempat keramaian itu, ternyata rumah bik Lis jadi target tempat orang-orang berkumpul riuh dengan saling berbisik.
Prang
Buugh
Aaaaa
Bik Lis terpental keluar dari rumahnya sendiri, tepat di bawah kaki Haikal. tentu saja Haikal sangat terkejut dengan kejadian itu.
Malam itu juga sebelum dirinya meninggalkan rumah bik Lis, dia mengintip karena rasa penasarannya pada lelaki yg datang entah dari mana. suara jeritan keras mengarah dari rumah bik Lis, tapi Haikal mengurungkan niatnya untuk melangkah lebih jauh krna rasa penasaran itu.
Namun, tepat hari dimana Belinda mengajaknya untuk menjenguk bik Lis, lelaki yg sama datang ke rumah bik Lis keluar dari rumah itu, sehingga mata Haikal terlihat penuh amarah.
"Hei, wanita sial*n!! mana uangnya?! kenapa aku tidak menemukan uang itu!!" bentaknya dengan melangkah perlahan sambil membawa sebotol minuman keras.
Bik Lis tampak ketakutan karna lelaki itu bergerak untuk mendekatinya. Haikal sudah tidak bisa menahan diri lagi, malam itu dia bisa menahan rasa penasarannya. tetapi tidak untuk saat ini, dimana bik Lis terlihat meminta pertolongan oleh orang di sekitar namun tidak ada satupun yg berani mendekat.
"Kau! jawab aku wanita murah*n!!" erangnya dengan mengayunkan tangan untuk memukul bik Lis.
Aaaaa
Set
Tangan lelaki itu dengan cepat di tahan oleh Haikal dengan sekuat tenaganya. bik Lis tampak terkejut krna Haikal sudah ada dibelakangnya. air mata mengalir di wajahnya krna masih ada yg peduli dengannya.
"Belinda, kau bawa bik Lis ke tempat yg aman! aku akan membereskan lelaki ini," bisik Haikal pula sambil melirik lelaki itu.
"Ayo bik! ikut saya," ajak Belinda dengan menatap pilu wajah bik Lis.
"Hei, kau! wanita sial*n!! kemari kau! jangan bergerak selangkah pun!!" hardiknya membentak bik Lis, namun tidak bisa bergerak karna tangannya masih ditahan oleh Haikal.
"Bang*at kau!! kenapa kau ikut campur masalah kami?!" dengusnya pula melotot pada Haikal.
"Aku tidak ikut campur! tapi aku paling tidak bisa wanita di kasari," sergah Haikal dengan menghempas kuat tangan lelaki itu.
"Hahaha sok pahlawan kau, dasar Bangs*t!!" erangnya sambil bergerak untuk memukul Haikal.
BUK,DHUAK
Perlawanan dari Haikal membuat riuh seluruh orang yg melihat, Haikal sudah sangat geram karna kesombongan dari lelaki itu. Haikal berusaha keras untuk menangkis serangan lelaki yg berusaha menyakitinya.
Set
Buugh
Woo Woo
Suara sirine mobil polisi terdengar jelas di telinga Haikal.
"Jangan bergerak!" sergah polisi itu dengan menembak ke arah langit memberi peringatan.
__ADS_1
Haikal langsung berdiri dan diperiksa oleh polisi ditempat. polisi tidak menemukan ada benda tajam apapun, tetapi lelaki yg tergeletak sudah babak belur itu diperiksa oleh para petugas yg lainnya. mereka menemukan sebuah linggis tersimpan di belakang punggungnya.
"Pak! kami menemukan benda tajam," lontar petugas itu dengan menunjukkan buktinya.
"Tahan dia," kata atasan mereka.
Para petugas manggut dan menyelesaikan tugas mereka untuk memborgol lelaki yg membuat onar itu. Haikal menatap dari kejauhan karna polisi sudah membawanya.
Semua orang pun bubar karna tidak ingin terlibat lebih jauh lagi.
Haikal merenggangkan tubuhnya krna sempat kena pukul oleh lelaki yg menyerangnya itu.
"Ukh," desis sakitnya sambil memejamkan mata perlahan.
Seperkian detik Haikal berjalan untuk menghampiri Belinda juga bik Lis yg sedang menunggunya.
"Ren, kau terluka!" riuh Belinda melihat alis mata Haikal sudah berdarah.
"Ini hanya luka kecil," balasnya dengan tertawa kecil terlihat biasa saja.
"Maafkan saya tuan! karna saya tuan jadi begini," sambung bik Lis yg sudah mengeluarkan air mata karna haikal sudah menolongnya.
"Tidak bik, ini bukan seberapa. tidak sebanding dengan pengorbanan bibik pada kami," lontar Haikal sambil memegang punggung tangan bik Lis.
"Terimakasih tuan, maafkan saya juga tidak berkata jujur sebelumnya," ucap bik Lis dengan tertunduk sedih.
"Bibik sekarang sudah aman bersama kami, tidak perlu memikirkan hal lain lagi," sambung Belinda yg merasa kasihan terhadap bik Lis.
Belinda teringat dengan dirinya kalau sudah melihat keadaan bik Lis, krna semasa Belinda tinggal bersama nenek angkatnya dia juga di siksa anak dari nenek itu. tetapi dirinya masih bersabar untuk mengurus sang nenek yg akhirnya meninggalkan dia.
"Bik Lis, sekarang bibik punya kami... jangan takut lagi," kata Belinda lagi mengelus dada bik Lis sesekali.
Saat Haikal memperhatiakan tangan Belinda yg mengelus dada bik Lis, tampak memar dibagian sekitarnya.
"Loh, ini..." panik Haikal saat melihat memar itu terus mengamati.
"Ah," gelisah bik Lis tampak menutupi lukanya.
"Belinda, aku akan keluar dari sini dulu! kau lihat kondisi bik Lis sekarang," titah Haikal dengan tegas.
"Ba- "
"Jangan," sergah bik Lis terlihat takut.
"Kenapa tidak bik? saya hanya ingin memastikan luka bibik seperti apa," bujuk Belinda dengan menatap wajah bik Lis.
"Saya tidak terluka, ini bukan hal besar," tolak bik Lis dengan menghindar dari Belinda.
"Bik. tolong dengarkan kami, kalau bibik terluka akan kami obati," pinta Haikal dengan memohon.
Bik Lis hanya tunduk tidak berbicara apapun.
"Ren, kita obati bik Lis di rumah saja. mungkin bik Lis masih trauma dengan kejadian tadi," pinta Belinda membujuk Haikal yg terlihat panik.
"Hufh! baiklah, sekarang kita akan pulang," turut Haikal dengan melajukan mobil yg baru saja dia beli setelah peristiwa kebakaran itu.
__ADS_1
Akhirnya mereka beranjak dari pekarangan rumah bik Lis sehabis perbincangan selesai, belinda melirik bik Lis sesekali krna dia melihat bik Lis gemetaran, rasa takut itu seperti tertahan sekian lamanya.
Bersambung...