Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
KEHANGATAN DALAM RUMAH


__ADS_3

☘️☘️☘️☘️


Ruang kamar tidur


Malam semakin larut terdengar gemericik angin berhembus dibalik tirai jendela yg terbuka lebar, Rei berdiri menatap kosong mengarah luar jendela kamarnya mendongakkan wajah keatas langit sembari tersenyum karna melihat ke'elokan bulan dikelilingi para bintang yg bersinar terang.


Sama halnya dengan ibu yg telah pergi meninggalkannya begitu lama tak akan bisa kembali lagi. bagaimana jauhnya sang ibu tapi tetap memberikan sinar didalam hidupnya sehingga dia tetap bersemangat menjalani kehidupan, kalau tidak ada sinar itu mungkin kegelapan akan terus menghantuinya.


Rei terhanyut didalam lamunannya yg panjang seolah dia tak ingin bergegas untuk meninggalkan kenyamanan yg dia rasakan saat ini, Tanpa dia sadari sudah melupakan sesuatu yg membuatnya bingung sedari tadi.


O.iya.. aku sampe lupa kalau gisele tadi nelpon, apa aku hubungi balik ya? gumam Rei mengamati layar ponselnya.


"Ah, sudahlah! palingan juga nanya kabar... besok aja kali ya telepon balik. Toh, Gisele gak hubungi lagi..." Rei mematikan layar ponselnya kembali.


Segera Rei menutup tirai jendelanya karna merasakan kantuk membuat matanya perih tak bisa dia tahankan lagi, setelah selesai menutup tirai tak lupa dia menghidupkan lampu tidur sembari meletakkan ponsel diatas lemari kecil sebelah tempat tidurnya.


"Haaahhh,,, nyaman banget..." gumam Rei membaringkan badan diatas kasur.


🌼🌼🌼🌼


Suasana pagi hari


Hembusan angin pagi yg sangat segar membuatnya terbangun lebih awal belum pernh dia rasakan sebelumnya ketenangan dalam dirinya itu, jemari kaki bergerak karna cahaya menyongsong masuk kedalam kamar serta burung yg bertengker dipepohonan terdengar cicitnya.


"Sudah bangun Non? bibi sudah siapkan sarapan buat non Rei... non segera pergi mandi, nanti non telat pergi ke kampus," sapa Bik Lis mendekati Rei.


"Eghh," membuka mata perlahan. "Bik Lis kapan masuk?" terkejut sembari mengucek mata pelan.


"Baru saja kok non... bibi memang sudah terbiasa membuka jendela kamar dipagi hari non, agar udara tetap berganti." jawab bik lis tersenyum.


"Ayah Dimana bik?" melihat kearah luar kamar.

__ADS_1


"Tuan besar sudah pergi non... pesan tuan, non jngn sampai tidak sarapan?" menjalankan perintah tuannya.


"Oh, Iya bik...Rei pergi mandi dulu?" jawab Rei patuh


"Baiklah, bibi keluar ya non..." bergegas pergi dari kamar.


Rei mengangguk pelan.


...............


"Bik...bibi,.." panggilan Rei diruang meja makan.


"Saya non... ada yg bisa bibi kerjakan non?" sahut Bik Lis menghampiri Rei.


"Tidak ada bik? Rei cuma gak mau aja makan sendirian... bibi bisa temani Rei sarapan?" mata Rei berkaca-kaca ingin membujuk Bik Lis.


"Jngn non... itu gak baik non? Antara pembantu dan majikan tidak pernah duduk bersama non... itu setau bibi?" tertunduk merasa tak tega melihat Rei memohon padanya.


"Itu non... bibi hanya menemani saja kan non? tidak ikut makan ya non... karna bibi sudah makan non tadi didapur..." menjelaskan pada Rei masih tertunduk.


"Baiklah... sini bik! jngn Hanya berdiri disitu... sini duduk dekat Rei," melirik wajah Bik Lis yg terlihat takut padanya.


Rei meraih tangan bik Lis yg masih saja canggung terhadapnya, langkah kaki bibiknya itu membuat Rei tersenyum bahagia krna dibalik kepolosan bik Lis dia merasakan tangan yg begitu hangat pada genggaman telapak tangannya.


Drrett... Drrettt


Getaran ponsel membuat Rei terhenti sejenak dalam menikmati makanannya, segera dia merogoh ponsel miliknya didalam tas. ternyata ada sebuah panggilan masuk dari sang ayah.


*Halo... iya yah?" jawab Rei dari balik ponsel.


*Rei... kamu sudah mau pergi ke kampus?" ucap ayah dari sebrang sana.

__ADS_1


*Belum yah? Rei masih sarapan... ada apa yah?" bertanya lagi.


*Ayah sudah menyuruh Ricky untuk menjemput kamu Rei... maaf nak, ayh gak bisa antar kamu? karna ayah ada pekerjaan dikantor. kamu tidak marah kan Rei?" ucap ayah dari sebrang sana.


*Kenapa Rei harus marah sih yah? kan udah Rei bilang... Rei bukan anak kecil lagi, Rei bisa pergi sendiri..." perjelasnya pada sang ayah.


*Baiklah kalau begitu... ayah tutup teleponnya ya Rei? bye..." tutur ayah pula dari sebrang sana.


"Bye...ayah," jawabnya sembari menutup panggilan teleponnya.


"Bik...." Rei mengibaskan tangan diwajah Bik Lis yg terlihat sedang melamun.


"Eh. iya non..." tersadar panggilan dari Rei untuknya.


"Bibi kenapa melamun... ada apa bik?" kata Rei menatap wajah Bik Lis.


"Tidak ada non..." ujar Bik Lis meyakinkan Rei.


"Bik... Rei berangkat kekampus dulu, bibi pelan-pelan kerjanya ya? jngn sampai melamun lagi..." sengaja menyindir sembari tersenyum manis.


"Iya non? hati-hati dijalan non..." ucap Bik Lis bergegas mengikuti langkah Rei.


"Iya bik? da..."


Dengan melambaikan tangan kearah bik Lis tampak wajah bersinar dimatanya, krna sedari awal Rei tidak pernah menganggap bik Lis sebagai pengurus rumah, melainkan bagian dari keluarganya sendiri.


bersambung......


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA🤭😚


😍🥰MAMAK SAYANG KALIAN ❤️🥺

__ADS_1


__ADS_2