Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
LEDAKAN


__ADS_3

☘️☘️☘️☘️


Perseteruan antara kedua pasangan itu masih terus berlangsung, pemberontak yg membakar istana marvel telah dihabisi satu persatu melalui tangan Maria juga Erlando. mereka juga tidak menginginkan hal itu, tetapi rasa emosi dari para vampir membuat kedua pasangan itu tidak memiliki pilihan lain.


"Hah.. hah... " rasa sesak dari nafas Maria terdengar jelas saat menyelesaikan aksinya.


"Apa kau terluka Maria?" tanya Erlando seketika mendekati Maria.


"Aku baik-baik saja, sekarang kita sudah membereskan semuanya," lirih Maria mengamati para vampir yg sudah berjatuhan.


"Ini bukan kesalahan kita! mereka lah yg membuat kita tidak punya pilihan," lontar Erlando memegang sebelah pundak Maria.


"Kau benar Er, semoga saja setelah ini tidak ada lagi kerusuhan," balas Maria tertunduk sedih.


"Maria! sekarang kita harus mencari Tristan," ucap Erlando sejenak menghentakkan hati Maria.


"Tatan! kenapa aku sampai melupakannya," panik Maria pula.


"Kau tenang! kita akan mencarinya bersama," sambung Erlando lagi.


"Segera! kita harus pergi dari sini sekarang," riuh Maria menarik lengan Erlando dengan cepat.


Akhirnya mereka meninggalkan tempat dimana para vampir yg sudah berjatuhan.


Disaat yg bersamaan Haikal tengah melindungi Tristan di balik punggungnya. namun, Eron masih saja berkeras untuk mendapatkan apa yg seharusnya menjadi target rencananya itu.


"Aku tidak ada urusan dengan mu! kau, serahkan anak itu atau kau akan mati di tanganku," serang Eron perlahan mendekati Haikal juga Tristan.


"Om ikal.... Tatan takut..." lirihnya dengan menggenggam baju Haikal tampak gemetaran.


Walau Tristan dikatakan seorang vampir, tetapi dirinya belum mampu untuk mengandalkan kekuatannya itu, sehingga rasa takut tampak di wajahnya saat Eron mulai mendekatinya.


"Kau jangan takut Tristan! om akan melindungi mu," bisik Haikal sambil menyingkirkan tubuh Tristan agar tidak melihat Eron.


"Kau jangan menghalangiku!" sergah Eron mulai geram.


Saat perbincangan mereka muncullah Axel yg tidak tahu datangnya dari mana.


"Eron! semua pemberontak telah di lalap habis oleh bede*ah itu! kita tidak punya waktu lagi di sini, segera kita rebut anak itu sebelum mereka menemukan kita di sini," bisik Axel tampak khawatir.


"Kau melangkah dari samping, rebut anak itu!" balas Eron dengan berbisik sambil menatap tajam Haikal.


WUUSH


Seketika Axel menangkap tangan Tristan dari samping tanpa sepengetahuan Haikal yg tengah menatap serius Haikal. dirinya tidak tahu bahwa Axel sudah berada di sampingnya dengan begitu cepat.


"Lepaskan!" gerutu Tristan memberontak.


"Kalian lepaskan dia!!" berang Haikal begitu kesalnya melihat tindakan Eron juga Axel.


"Kau manusia lemah! tidak akan bisa menghentikan kami," cemo'oh Axel tampak puas mencibir Haikal.


"Mm...Mmm..." jerit Tristan saat mulutnya di dekap oleh Axel.


AAAAA


Teriak Axel menahan sakitnya saat Tristan menggigit melalui taringnya yg hampir tajam.


"Dasar anak sial*n!!" bentak Eron melototi Tristan yg sudah terlepas dari tangan Axel.


"Tristan! lari...." jerit Haikal dengan suara yg keras.


Tetapi Tristan belum juga bergerak dari tempatnya, dirinya tidak mungkin membiarkan Haikal sendirian untuk menghadapi musuh.


"Kau tangkap anak itu Axel!!" hardik Eron mulai jengkel dengan kelemahan Axel pada seorang anak kecil.


Axel pun manggut dan mulai bergegas untuk mengejar Tristan yg masih berdiri ditempatnya.

__ADS_1


"Kalian mau mati?!" sergah Maria saat itu muncul.


"Ibu...." riuh Tristan dari jauh.


"Hahaha, kalian belum juga mati?!" gelak tawa Eron dengan sengaja.


Eron melirik Axel untuk segera menangkap Tristan dan pergi dari tempat itu.


Axel pun manggut karna isyarat yg diberikan Eron padanya.


Di saat Axel ingin bergerak kembali, sebuah batu berukuran sedang tengah dilempar Haikal dari jauh hingga Axel terpental dibawah kaki Tristan.


"Kau!!" dengus Eron menatap Haikal penuh amarah.


"Coba saja kalau kalian bisa menyentuh anakku! akan aku buat kalian mati di sini," lontar Erlando mulai jengah.


Karna rasa cemas dari Axel, dia pun menarik lengan eron agar mereka bisa selamat dari ancaman kedua pasangan itu, akhirnya Eron juga Axel melarikan diri sebelum Maria dan Erlando menghabisi mereka.


"Dasar bede*ah! aku berjanji akan mendapatkan kalian secepatnya!!" jerit Maria merasa tidak senang krna musuh yg di cari selama ini tidak bisa mereka habisi.


"Ibu...." teriak Tristan berlari mendekati Maria.


"Tatan, kau ada yg terluka?" tanya Maria gelisah sambil memeriksa seluruh wajah juga tubuh Tristan.


"Tidak Bu, Tatan baik-baik saja! karna om ikal melindungi Tatan," bebernya dengan melontarkan senyum pada Haikal.


"Terimakasih kal, karna kau melindungi anakku," peluk Erlando dengan begitu erat.


"Kau jangan sungkan! aku teman mu, tidak akan aku biarkan Tristan terluka," ucap Haikal sambil menepuk sesekali pundak Erlando.


"Tapi, Belinda dimana?" tanya Haikal langsung melepaskan pelukan itu.


"Iya! Belinda masih di dalam karna mencari Tristan," panik Maria bangkit dari tumpuannya.


"Tante cantik...." teriak Tristan saat mendengar nama Belinda.


"Tenanglah! kita akan mencarinya bersama," kata Erlando mulai merasa panik juga.


DUAAR


Suara ledakan dahsyat menghancurkan istana yg megah itu menjadi lebur.


"Tante....." jerit Tristan seketika.


"Belinda...." riuh Maria langsung terjatuh


"Ya tuhan," Haikal menganga sangat terkejut mendengar ledakan itu membuat dirinya terpukul.


"Kalian tenanglah! kita tidak bisa di sini. ayo, bergerak! kita cari Belinda!!" riuh Erlando menarik lengan Maria supaya bergerak cepat.


Haikal memegang tangan Tristan, sementara itu Tristan tampak menangis tersedu karna Belinda belum juga terlihat.


Di belakang istana.


Sebelum terjadinya ledakan.


Uhuk..Uhuk..


Batuk yg terus terdengar di telinga Belinda membuat dirinya bertambah panik, apalagi batuk itu sudah mengeluarkan darah.


"Madam, batuk mu berdarah! madam harus kuat, sebentar lagi kita akan keluar dari sini," riuh Belinda tampak berkeringat saat menggendong Leli dipunggungnya.


Brak


Dikarenakan asap yg begitu tebal seakan jalan sudah tidak terlihat lagi oleh mata Belinda, namun sangat samar dia menatap sebuah drum yg tercium bau bensin begitu menyengat masuk ke dalam hidungnya.


Krak

__ADS_1


Sebuah kayu besar dengan api jatuh tepat di atas drum itu.


"Oh tidak! madam... pegang yg erat...." jerit Belinda sudah mulai panik bukan kepalang.


Belinda pun mempercepat langkahnya walau dalam keadaan menggendong Leli, dia sudah berjanji pada dirinya tidak akan meninggalkan Leli begitu saja. yg ada di hatinya hanya menyebut nama Tuhan supaya dirinya diberikan kekuatan.


"Ya tuhan, sebentar lagi drum itu akan meledak!!" gumam Belinda sambil berlari dengan cepat tanpa memperhatikan drum itu lagi.


"Aku harus mencari tempat keluar yg paling cepat di sini," gumamnya lagi sambil memegang erat tubuh Leli.


Akhirnya Belinda menemukan pintu tempat pertama kalinya dia masuk untuk mencari Tristan. namun, lubang itu tidak akan cukup krna dirinya sedang membawa Leli.


Belinda pun menendang pintu itu memakai kaki kirinya sekuat tenaga. rasa kepanikan terus membuat dirinya lebih cepat lagi untuk menjebolkan pintu itu. keringat mulai bercucuran akibat hawa panas dan asap yg terus mengepul seolah dadanya mulai mati rasa karna sesak.


"Hah...hah," sesekali Belinda mengatur nafasnya supaya bisa lebih cepat lagi menghancurkan pintu itu.


"Tuhan... bantu aku," panjatnya pula dengan menutup mata.


Setelah dia berdoa kakinya serasa memiliki kekuatan penuh untuk mendobrak pintu yg terlihat kokoh itu. tendangan terakhir membuat pintu itu hancur seketika membuat Belinda bahagia krna dirinya mampu menyelamatkan Leli walau banyak pelayan di dalam yg sudah tidak bisa ia selamatkan lagi.


Di saat yg bersamaan bensin yg sudah di balut api itu meledak sampai menghantam tubuh Belinda hingga mereka terlempar ke sebuah puing bangunan. Leli terlempar beberapa meter dari Belinda dengan kondisi yg cukup parah sementara Belinda hanya terbentur di bagian kepala.


"Belinda....." teriak Maria saat menelusuri seluruh istana setelah menit berlalu.


"Tolong...." jerit Belinda terdengar serak.


"Er! aku mendengar suara Belinda," panik Maria mulai celingukan.


"Kita harus lebih teliti lagi dengan suara itu," lontar Erlando melangkah sambil memperhatikan.


"Tolong...." jerit Belinda lagi sekuat tenaga.


"Bu, sepertinya Tatan mendengar suara Tante cantik dari arah itu," sambung Tristan menunjuk ke arah tujuannya.


"Pelan-pelan! kita harus berhati-hati, bisa saja itu jebakan musuh," ungkap Haikal sambil mengikuti langkah Tristan.


Setelah mereka semua sampai di tempat itu, di mana Belinda tengah tergeletak dan terlihat juga kepala yg sudah mengeluarkan darah.


"Bel. bertahanlah, aku akan menolong mu," panik Maria langsung menopang tubuh Belinda.


"Tante cantik! Tante harus bertahan," Isak tangis Tristan memegang tangan Belinda.


Belinda hanya tersenyum krna mereka semua sudah mendengarkan panggilannya.


"Kau harus kuat Belinda," kata Haikal memberi semangat.


Belinda manggut begitu bahagia melihat semua orang sudah terselamatkan apalagi saat melihat Tristan yg sudah berada di sampingnya, hatinya mulai merasa tenang.


"Nyonya harus menolong madam, dia terluka parah," ucap lirih Belinda menatap tubuh Leli.


"Baiklah! kalian berdua sudah terluka parah, kita harus segera membawa mereka ke rumah sakit," riuh Maria dengan begitu cemasnya.


"Kalian tidak mungkin ke rumah sakit! akan terjadi hal buruk pada Tristan nantinya! biar aku saja yg membawa mereka! serahkan padaku," sambung Haikal membuka suara.


"Haikal benar Maria, tidak mungkin kita membawa Tatan ke rumah sakit, aku tidak yakin dia mampu melawan bau darah karena masih kecil," ungkap Erlando membujuk Maria.


"Baiklah! aku serahkan semua padamu kal! aku mohon selamatkan mereka berdua," tutur Maria menatap pilu Haikal.


Haikal manggut membalas perkataan Maria.


"Kalian akan aku antar ke rumah ku! tidak mungkin kalian di sini, setelah itu kita pikirkan hal yg lainnya," jelas Haikal pula.


Kedua pasangan itu mendengarkan perintah dari Haikal demi kebaikan bersama.


Akhirnya mereka semua pergi dari istana yg sudah terbakar hingga meledak tidak menyisakan sedikit pun ruang di dalamnya.


Tristan tampak sedih saat meninggalkan kediamannya, dia menatap hingga raut wajahnya yg sedikit murung.

__ADS_1


................


Bersambung.....


__ADS_2