
☘️☘️☘️☘️
Didalam ruang tertutup.
Sepasang mata saling berpandang antara gisele dan juga Rian. sehingga mereka terhanyut dalam lamunan seperti sibuk mengamati wajah yg sudah kian memerah satu sama lain.
Dak,Dig,Dug
Dokter gadungan ini lagi bicara apa ya? kok aku jadi jantungan gini, kenapa juga aku ladeni orang sede*g ini !!! batin Gisele terpelongo menatap mata Rian.
Apa ini yg dinamakan rasa cinta? kok aku gak bisa lepas menatap si kera ini !!! batin Rian ngedumel mengernyitkan dahinya.
"Khem, heh! dokter gadungan. waktumu sudah habis, aku gak bisa meladeni orang gak war*s seperti mu! bisa tertular kalau aku berlama disini," cetus Gisele cuek krna sudah tidak bisa mengontrol detak jantungnya.
Gak bisa gini nih!! aku harus secepatnya pergi dari lelaki gi*a ini, bisa mati berdiri aku disini. batin Gisele berusaha tetap tenang.
Teng Teng
Suara bunyian lonceng telah terdengar oleh seluruh murid, menandakan sesi pelajaran telah berakhir. namun, Rian masih saja menatap gisele yg tengah sibuk merasa tidak tenang karna gisele belum sempat mengikuti sesi pelajaran dari sang dosen.
"Tuh, kan! aku jadi gak bisa ikut pelajaran kedua, kau maunya apa lagi sih! apa belum puas juga bertanya padaku?" gerutu Gisele merasa sangat jengah.
"Apa kau tidak dengar aku mengatakan apa terakhir kalinya?" tanya Rian pula mendekati Gisele.
"Aku tidak mau meladenimu lagi, aku mau keluar dari sini, apa kau gak berniat membiarkan aku pergi?" sergah Gisele dengan jengkel.
"Kau yg mulai deluan! bukan aku," beber Rian mengingatkan Gisele kembali.
"Malam itu lagi, memangnya apa sih yg aku lakuin padamu! aku juga lagi gak sadar, tentunya kau harus pahami itu! kalau aku membuatmu merasa tidak nyaman, aku minta maaf! dan tolong keluarkan aku dari sini," pinta Gisele memohon.
Enak saja kau kera!!! batin Rian mulai kesal.
"Baiklah..."
"Terimakasih," riuh Gisele tersenyum lebar.
Tap Tap
Lah, kenapa dia maju!! bukannya ingin membiarkan aku pergi dari sini. oh tuhan... bisa mati aku disini krna lelaki gi*a ini. batin Gisele mulai panik sendiri.
Rian melangkah perlahan untuk lebih mendekati tubuh gisele, tetapi Gisele melihat reaksi Rian yg bermaksud untuk mendekatinya. malah gisele lebih memilih mundur ketimbang berdiam diri. namun, gisele mendapatkan jalan buntu tidak bisa berkutik lagi sehingga dirinya terduduk dikursi sofa milik Rian.
"Ka - u! mau apa? aaaa," jerit Gisele memejam matanya krna Rian sudah sangat dekat dengan dirinya.
"Aku, ingin membuatmu sadar hari ini. aku yakin memorimu pasti akan kembali setelah apa yg telah kau lakukan padaku," ucap Rian dari jarak yg sangat dekat dengan wajah Gisele sedikit membungkukkan badannya.
"Kau! jauh-jauh dariku?!" erang Gisele membuang wajahnya dari Rian.
Tangan Rian mulai memegang dagu gisele krna sudah berani membuang wajahnya dari Rian.
"Aku tidak akan bermain lagi denganmu! kau, harus bertanggung jawab atas perbuatanmu!" tandas Rian menatap tajam Gisele.
"Aku harus Menanggung apa? ha?!" bentak Gisele pula.
"Ssttt, jangan terlalu keras berbicara padaku! aku hanya ingin membuatmu sadar saja, setelah perbuatan mu kemarin malam," lontar Rian sambil menutup bibir Gisele dengan jari telunjuknya.
Duh, jantung!!! tenang dong... aku akan membereskan lelaki bede*ah ini. batin Gisele terus memejam matanya.
"buka matamu!"
"Gak."
"buka."
Rumah sakit caling....
Deringan suara panggilan masuk membuat Rian mengomel karna sudah mengganggu dirinya yg hampir sedikit lagi menyentuh bibir gisele.
Huh, selamaaatt. batin Gisele mengembus nafas pelan.
Rian merogoh ponsel dari sakunya dan bergegas mengangkat telepon yg sudah kian menghubunginya.
__ADS_1
Telepon dari rumah sakit, ada apa ya?? batin Rian langsung menekan tombol terima.
Halo
...Selamat siang dokter rian...
Siang juga, ada apa?
...Dok, saya suster indah. ingin menyampaikan bahwa ada seorang wanita bersama putrinya ingin menjenguk pasien bernama Bapak Haikal....
Apa mereka keluarganya?
...Ny. ini bilang beliau adalah istri beserta anaknya....
Bukankah Rei adalah anak kandung ayahnya? apa masih ada putriny yg lain lagi??? batin Rian terbengong mendengar pengaduan dari salah satu suster rumah sakit.
...Halo dokter....
Ya.
...Bagaimana dok? apa Ny.ini saya izinkan masuk saja?...
Tunggu saja, saya akan segera ke rumah sakit.
...Baik dok, saya akan sampaikan pesan dokter rian, selamat siang dokter....
Siang.
Setelah perbincangan selesai Rian kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. saat itu juga dia pun melirik gisele yg masih saja menutup matanya sengaja tidak ingin membukanya. sekilas Rian tersenyum melihat tingkah seorang wanita yg sudah membuatnya tidak terkendali.
☘️☘️☘️☘️
Disatu sisi lain.
Rumah kaca milik Tristan.
"Lord...." panggilan Ibu Maria dari arah taman.
"Saya ingin membeli bahan untuk memasak. karna Rei akan datang hari ini," bebernya terlihat bahagia sambil menata bunga hiasnya.
"Bukankah nyonya bisa menyuruh Tika untuk membeli semua bahan yg nyonya perlukan?" tuturnya perlahan.
"Tidak lord, ini berbeda! saya mau membeli semuanya sendiri. karna mantu saya akan datang lord," riuhnya dengan antusias.
Mantu? apakah ada nyonya muda nantinya dirumah ini? batin Lord ikut merasa bahagia.
"Baiklah, kalau itu mau Nyonya. saya akan antarkan," sambung Lord tersenyum menundukkan kepala perlahan.
"Saya siap-siap dulu lord! kau tunggu saja dimobil," timpal Ibu Maria bergegas meninggalkan taman bunganya.
"Baiklah nyonya," balas Lord ikut berlalu.
☘️☘️☘️☘️
Kelas A bisnis.
"Saya harap sampai disini kalian sudah paham, mulai besok saya akan membagi kalian beberapa tim untuk membahas materi yg sudah saya jelaskan barusan."
"Saya pamit dulu, selamat siang," ucap Tristan pula.
"Siang pak..." riuh seluruh murid.
Antusias murid keluar dari kelas mereka untuk segera kembali pulang kerumah.
"Gisele kemana ya? apa dia masih di ruang istirahat," gumam Rei celingukan terlihat khawatir.
"Rei, aku balik deluan. da!" cetus Liona seakan cuek.
"Iya Liona, hati-hati dijalan," sahut Rei merasa aneh dengan tingkah Liona.
Sedari masuk kelas Sampai sekarang masih juga kayak gitu, kenapa ya?? bukankah tadi baik-baik aja!! batin Rei mengamati wajah Liona yg tampak muram.
__ADS_1
Ibu caling...
Halo Bu
...Tristan. kamu tidak lupa, kan kalau Rei siang ini makan bersama kita?...
Iya Bu, nanti akan aku ingatkan lagi. mungkin saja Rei sudah lupa.
...Jangan lupa nak, ibu sudah tidak sabar membawa Rei ke taman ibu....
Iya Bu, aku tutup dulu teleponnya.
...Baiklah....
Hampir aja lupa kalau kemarin malam ibu menyuruhku membawa Rei kerumah. tunggu dimana ya?! gak mungkin disini, jadi bahan perhatian nantinya. batin Tristan berhenti saat ingin keluar dari kelas.
Tristan menoleh kebelakang untuk melihat Rei yg tengah sibuk membereskan barangnya.
Pada saat seluruh murid keluar dari kelas disitulah kesempatan Tristan untuk bicara pada Rei.
"Emh. Rei," sapa Tristan melangkah mendekati Rei.
"Loh, bukankah bapak tadi sudah keluar?" tanya Rei pula terheran.
"Rei... apa kau sudah lupa, kalau kita sedang berdua kau jngan panggil aku bapak?" balasnya kembali bertanya.
"O,iya. lupa! Heheh," ucap Rei tertawa kecil.
"Kenapa kau tidak pulang?" sambungnya lagi.
"Aku kemarin malam sudah memberitahumu kalau hari ini kau akan kerumahku," seru Tristan sengaja mengingatkan Rei.
"Ya tuhan... aku sampai lupa," riuh Rei menepuk jidatnya.
Gemasnya!! batin Tristan menahan hasratnya.
"Tapi... aku ingin kerumah sakit, sampai sekarang aku belum tau kondisi ayahku gimana," ucap Rei terlihat sedih.
"Aku akan membawamu kesana! melihat kondisi ayahmu," tutur Tristan menawarkan dirinya.
"Maaf. Aku sudah minta jemput kakak," tolak Rei merasa tidak enak.
"Tidak!"
Kakak? bukankah itu si Ricky yg aku temui dirumah sakit kemarin malam?! batin Tristan terlihat panik.
"Tidak kenapa Tristan?" tanya Rei kebingungan.
"Maksudku, tidak mungkin aku membiarkanmu dengannya."
Barusan aku ngmong apa ya?? apa Rei bingung dengan sikapku ini, atau malah akan marah karna perkataanku!!! batin Tristan sudah merasa tidak tenang.
"Kenapa tidak mungkin Tristan, Ricky itu kakakku! apa yg salah kalau aku pergi dengannya."
Apa Tristan lagi cemburu?? batin Rei memastikan tingkah yg terlihat jelas dimatanya.
"Tidak begitu, yg aku maksud tidak mungkin kau pergi dengannya sementara kau kan mau kerumahku sehabis dari rumah sakit," pungkasnya berkelit mencari alasan yg masuk akal.
"Oh, bilang dong dari tadi. aku jadi gak paham maksud mu! baiklah, aku akan kabari kakak kalau dia gak usah menjemputku," timpal Rei meraih ponsel pintarnya untuk menghubungi Ricky.
Huffh. Rei akhirnya percaya alasanku, baguslah kalau dia gak sadar aku merasa cemburu. batin Tristan menarik nafas pelan.
...................
Bersambung....
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA 😚🤭
...👇...
...TETAP STAY TUNED...
__ADS_1
...❤️ saranghae dari mamak❤️...