
☘️☘️☘️☘️
Ruang Dr. Rian
"Ada apa kau panggil aku kesini?" tanya Tristan setelah duduk disofa sudut milik Rian.
"Aku kesini ingin memberi tahumu sesuatu," mengeluarkan secarik kertas dalam saku celananya.
"Apa ini?" tanya Tristan bingung.
"Nih! kau baca saja isi suratnya," ucap Rian menyodorkan sepucuk surat didepan Tristan.
Setelah Rian berkata begitu, Tristan pun langsung meraih surat yg berlipat kecil berwarna putih tanpa berlapis amplop.
𝑹𝒆𝒊𝒏𝒊, 𝒂𝒏𝒂𝒌 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒔𝒂𝒕𝒖-𝒔𝒂𝒕𝒖𝒏𝒚𝒂. 𝒉𝒂𝒓𝒊 𝒊𝒏𝒊 𝒖𝒎𝒖𝒓𝒎𝒖 𝒕𝒆𝒑𝒂𝒕 20 𝒕𝒂𝒉𝒖𝒏 𝒏𝒂𝒌, 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒃𝒂𝒏𝒈𝒈𝒂 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒊𝒍𝒊𝒌𝒊 𝒂𝒏𝒂𝒌 𝒔𝒆𝒑𝒆𝒓𝒕𝒊𝒎𝒖. 𝒎𝒂𝒂𝒇 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎 𝒔𝒆𝒎𝒑𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒆𝒓𝒊𝒌𝒂𝒏𝒎𝒖 𝒉𝒂𝒅𝒊𝒂𝒉 𝒚𝒈 𝒃𝒂𝒊𝒌, 𝒏𝒂𝒎𝒖𝒏 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒊𝒂𝒑𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒂𝒅𝒐 𝒔𝒑𝒆𝒔𝒊𝒂𝒍 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌𝒎𝒖 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒂𝒔𝒂 𝒅𝒆𝒑𝒂𝒏𝒎𝒖 𝒏𝒂𝒏𝒕𝒊, 𝒌𝒂𝒖 𝒑𝒆𝒘𝒂𝒓𝒊𝒔 𝒕𝒖𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍 𝒂𝒚𝒂𝒉, 𝒌𝒂𝒖 𝒚𝒈 𝒍𝒂𝒚𝒂𝒌 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒈𝒂𝒏𝒕𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒐𝒔𝒊𝒔𝒊 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒏𝒂𝒏𝒕𝒊𝒏𝒚𝒂. 𝒓𝒆𝒊, 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒕𝒖𝒂 𝒏𝒂𝒌, 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒎𝒂𝒎𝒑𝒖 𝒍𝒂𝒈𝒊 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒖𝒓𝒖𝒔 𝒑𝒆𝒓𝒖𝒔𝒂𝒉𝒂𝒂𝒏 𝒚𝒈 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂 𝒊𝒏𝒊 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒑𝒆𝒓𝒋𝒖𝒂𝒏𝒈𝒌𝒂𝒏. 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒕𝒂𝒖 𝒖𝒎𝒖𝒓 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒔𝒂𝒎𝒑𝒂𝒊 𝒅𝒊𝒎𝒂𝒏𝒂 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒇𝒊𝒔𝒊𝒌 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒚𝒈 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒔𝒆𝒉𝒂𝒕 𝒍𝒂𝒈𝒊. 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂𝒌 𝒃𝒆𝒓𝒉𝒂𝒓𝒂𝒑 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝑹𝒆𝒊. 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒍𝒂𝒎𝒂 𝒍𝒂𝒈𝒊 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒏𝒚𝒂𝒌𝒊𝒕 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒊𝒏𝒊, 𝒎𝒖𝒏𝒈𝒌𝒊𝒏 𝒔𝒂𝒋𝒂 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒑𝒂𝒏𝒈𝒈𝒊𝒍 𝑻𝒖𝒉𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒔𝒐𝒌 𝒂𝒕𝒂𝒖 𝒋𝒖𝒈𝒂 𝒉𝒂𝒓𝒊 𝒊𝒏𝒊 𝒏𝒚𝒂𝒘𝒂 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒕𝒆𝒓𝒕𝒐𝒍𝒐𝒏𝒈 𝒍𝒂𝒈𝒊 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒏𝒚𝒂𝒌𝒊𝒕 𝒚𝒈 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂 𝒊𝒏𝒊 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒕𝒂𝒉𝒂𝒏𝒌𝒂𝒏 𝒕𝒂𝒏𝒑𝒂 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒆𝒓𝒊 𝒕𝒂𝒉𝒖𝒎𝒖 𝒔𝒆𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎𝒏𝒚𝒂 𝑹𝒆𝒊. 𝒎𝒂𝒂𝒇𝒌𝒂𝒏 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒔𝒆𝒌𝒂𝒍𝒊 𝒍𝒂𝒈𝒊, 𝒌𝒓𝒏𝒂 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒊𝒏𝒈𝒊𝒏 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒆𝒓𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒃𝒂𝒏 𝒑𝒂𝒅𝒂𝒎𝒖 𝒍𝒆𝒃𝒊𝒉 𝒃𝒂𝒏𝒚𝒂𝒌 𝒍𝒂𝒈𝒊. 𝒔𝒆𝒎𝒖𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒔𝒆𝒓𝒂𝒉𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒂𝒅𝒂 𝑹𝒊𝒄𝒌𝒚 𝒏𝒂𝒌, 𝑹𝒊𝒄𝒌𝒚 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒖𝒓𝒖𝒔 𝒑𝒆𝒓𝒑𝒊𝒏𝒅𝒂𝒉𝒂𝒏 𝒏𝒂𝒎𝒂 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒂𝒕𝒂𝒔 𝒏𝒂𝒎𝒂𝒎𝒖 𝒏𝒂𝒌. 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒔𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝑹𝒆𝒊, 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒊𝒏𝒈𝒊𝒏 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒌𝒂𝒏 𝒚𝒈 𝒕𝒆𝒓𝒃𝒂𝒊𝒌. 𝒌𝒆𝒃𝒂𝒉𝒂𝒈𝒊𝒂𝒂𝒎𝒖 𝒋𝒖𝒈𝒂 𝒌𝒆𝒃𝒂𝒉𝒂𝒈𝒊𝒂𝒂𝒏 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝑹𝒆𝒊. 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂𝒕 𝒖𝒍𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒂𝒉𝒖𝒏 𝒑𝒖𝒕𝒓𝒊 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒚𝒈 𝒑𝒂𝒍𝒊𝒏𝒈 𝒄𝒂𝒏𝒕𝒊𝒌.
^^^𝑫𝒂𝒓𝒊 𝒂𝒚𝒂𝒉 𝒚𝒈 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒅𝒐𝒂𝒌𝒂𝒏𝒎𝒖.^^^
Disaat Tristan membaca semua isi surat itu kemudian dia melipat kembali suratnya dan kembali menatap Rian.
"Kenapa kau tidak memberikan langsung pada Rei?" tanya Tristan pula.
"Aku takut isinya akan membuat Rei syok nantinya," jawab Rian.
"Aku juga heran, kenapa isi surat ini seolah ayah Rei merasa dirinya akan dipanggil lebih cepat," ujar Tristan mengernyitkan dahi.
"Apa kau tidak mengerti yg sudah aku jelaskan pada Rei?" timpal Rian menatap penuh Tristan.
"Maksudmu," jawabnya cepat.
"Itu penyakit paling berbahaya," tukasnya meyakinkan Tristan.
"Jadi..."
"Ya, selama ini mungkin saja ayahnya Rei sudah mengetahui penyakitnya sedari awal, demi kebahagiaan Rei dia tak ingin membuat beban fikiran untuk anak yg disayanginya," mendeskripsikan apa yg sudah dilihatnya.
"Apa kau sudah membaca surat ini?" tanya Tristan menatap tajam.
"Ya! karna aku tidak ingin mengambil langkah yg salah. makanya aku berikan padamu," paparnya dengan jelas.
"Jadi menurutmu, aku harus berbuat apa dengan surat ini?" tanya Tristan dilanda kebingungan.
"Kalau menurutku, kau simpan saja Surat ini baik-baik! kuharap tak kau berikan sekarang, bisa saja Rei tambah terpukul dengan isi suratnya," pesan Rian memberikan idenya.
"Apakah begitu?" timpalnya pula.
"Ya, Rei itu terlihat lemah Tristan! kau harus lebih memperhatikannya lagi, krna aku takut setelah dia membaca surat ini bisa-bisa dia nekat tidak ingin menjalani kehidupannya lagi," memberikan pernyataan yg berasal dari apa yg dilihatnya.
"Kau benar Rian! tumben otakmu encer," sarkas Tristan menyengir.
"Sudahlah, ini hal serius! aku tak ingin bercanda denganmu! bagaimana pun aku akan berusaha untuk merawat ayah Rei disini, apapun yg akan terjadi akhirnya! itulah tanggung jawabku sebagai dokter," berkata dengan sangat berwibawa.
"Heh! tak pernah kulihat kau sepintar ini, baguslah kalau kau berfikir begitu! aku menuruti idemu," terpaksa menerima dengan mengalihkan pandangan.
"Satu lagi Tristan,"
"Apa."
__ADS_1
"Ayah Rei saat ini tidak sadarkan diri, kondisinya sangat buruk, nafasnya sepenggal. makanya aku memberikan alat pernafasan pada ayahnya," timpal Rian.
"Baguslah! kau lakukan saja dengan baik," ujar Tristan menepuk pundak Rian sesekali.
"Nyawanya hanya berkisar 50% saja, yg sudah aku katakan tadi. aku berharap ada harapan untuk bisa menolong ayahnya," seru Rian tertunduk sedih.
"Iya, aku mengerti maksudmu! aku yakin kau dokter hebat yg bisa menangani penyakit ayahnya Rei. kuserahkan semua padamu," titahnya dengan berharap.
"Baiklah! aku akan menyimpan surat ini. aku keluar dulu, mungkin saja Rei menunggu dengan cemas diluar," ucap Tristan sambil berdiri dari sofanya.
"Aku akan menghubungimu mengenai kondisi ayah Rei selanjutnya," ujar Rian meraih tas miliknya.
"Kau mau kemana?" tanya Tristan tepat didepan pintu ruangan.
"Aku ingin pulang ke apartemen, besok aku kembali lagi. disini juga ada suster yg bisa menjaga ayahnya Rei," ujarnya sambil membereskan barang.
Sepanjang perbincangan, mereka akhirnya keluar secara bersama. namun, sampai ditengah jalan Tristan dan Rian berpisah arah. krna Tristan akan kembali melihat keadaan Rei yg dia tinggal bersama seorang lelaki. hatinya mulai merasa tidak enak sekian jam meninggalkan Rei.
Dari arah kejauhan, Tristan melihat Rei tengah duduk berdua dengan lelaki yg sudah ada sejak kedatangannya bersama Rei, mereka terlihat sangat akrab layaknya sepasang kekasih sekian lama tidak bertemu. apalagi dia melihat Rei tertawa senang saat berbicara dengannya, sungguh pandangan yg membuat Tristan mendidih dengan mengepalkan tangannya, terlihat pula wajah yg begitu sangar seakan bringas.
"Kalian sedang apa?" tanya Tristan melotot pada Ricky.
Aura ini dingin sekali... batin Ricky menatap Tristan dengan mengelus leher belakanganya.
"Oh, kau sudah kembali... kenapa lama sekali, apa yg yg kalian bicarakan begitu serius?" tanya Rei tersenyum manis.
Apa aku tidak salah lihat? barusan Rei tersenyum padaku, bukankah sedari tadi dia terus menangis!! batin Tristan mencium aroma adanya pihak ketiga.
"Aku tanya! kalian sedang apa?" sarkasnya mengepalkan tangan.
"Kami sedang ngobrol tentang semasa kecil dulu! oh iya, kenalin Tristan! ini Ricky... kakak angkatku," timpal Rei tidak peka dengan ekspresi Tristan padanya.
Ricky katanya? bukankah nama itu tertera disurat tadi?! siapa lelaki ini, ada hubungan apa dia dengan Rei.. batin Tristan mulai jengah.
"Ha - ii... " melambaikan tangan seolah keringat dingin.
Sadis banget tatapannya!! atau jangan-jangan dia takut aku merebut Rei darinya?? berarti.... batin Ricky mengamati perawakan Tristan padanya.
"Kenapa kau sangat terkejut? ini kakak ku mulai sekarang, aku sudah punya kakak lelaki Tristan! sedari dulu aku menginginkan hal ini...." seru Rei mengungkap isi hatinya.
Apa aku tidak bisa menjadi kakakmu sekaligus Rei??? batin Tristan berdiri kaku.
"Tristan... apa yg kau pikirkan?" tanya Rei menyadari lamunan Tristan.
"Tidak ada! Rei, ini sudah larut malam.. aku akan mengantarmu pulang," pinta Tristan pula.
"Tidak tristan! aku akan disini menunggu ayahku sadar," tuturnya menolak dengan lembut.
"Ayah mu akan baik-baik saja disini, lagipula suster akan sedini mungkin merawat ayahmu, kau tenang saja! percayakan semua pada dokter Rian," timpalnya meyakinkan Rei.
"Apakah begitu?" tanya Rei belum ingin pergi.
"Ya Rei, lagian besok ada ujian tengah semester! kau harus datang... karna ini menyangkut nilaimu," pungkas Tristan agar Rei terus menatapnya. tidak akan dia biarkan tatapan Rei mengarah pada Ricky.
"Baiklah... aku akan pulang sekarang," ucap Rei terbujuk rayuan Tristan.
"Kakak, kau pulang saja! besok kan kau sudah harus balik kekantor," seru Rei penuh perhatian.
__ADS_1
"Iya r - ei...." masih belum sanggup menyebut nama Rei.
Apa!!! Rei katanya?? apa benar Rei hanya menganggap lelaki ini sebagai kakakny?! aku tak boleh lengah, aku harus lebih waspada bahkan pada semut sekalipun!!!
batin Tristan masih terus menatap Ricky dingin.
Ricky yg sudah merasakan ancaman itu, dia tertunduk takut tidak berani menatap Tristan sepenuhnya. bahkan sesekali dia menyeka keringat yg keluar diwajahnya.
"Ayo Tristan, tapi kau mengajakku pulang! kenapa kau masih berdiri menatap kakak?" tanya Rei yg sudah tidak sabaran.
"Iya Rei..." jawab Tristan bergerak meninggalkan Ricky yg sedari tadi ditatapnya.
Namun, sesekali tristan menoleh kebelakang seakan belum puas untuk menatap lelaki yg dianggap Rei sebagai kakaknya, rasa takut mulai menggerogoti pikirannya yg sudah kacau balau.
*H*ufhh.. aku harus menjelaskan padanya nanti, bahwa aku tidak ada niat untuk merebut nona darinya, bagaimana mungkin aku bisa menandingi lelaki tampan sepertinya??! gumam Ricky dengan mengelus dada berulang kaki.
☘️☘️☘️☘️
Suasana malam lalu lintas.
CKIIIITTT
Mobil yg mendadak berhenti ditepian jalan raya.
"Loh! itukan gadis yg aku antar tadi... kalau tidak salah namanya Gisele," ucap Rian membuka kaca mobilnya melebarkan mata.
Karna rasa penasaran yg mendalam, Rian bergegas turun dari mobilnya dengan sigapnya dia berlari mendekati wanita yg dia kenal sebelumnya.
"A, tamu... tiapa?" cerocos Gisele berkata aneh.
Rian mendengus dari arah mulut Gisele yg sudah didekatinya. aroma alkohol yg sangat pekat tercium dari hawa mulutnya.
"Kau mabuk ya?" tanya Rian menyentuh pundak Gisele.
"Ah, hahahah... doktel dadungan lupana...."
"Masih kuliah sudah berani mabuk-mabukan, dimana rumahmu! biar aku antar," hardiknya mulai kesal.
"Hiks,hiks,"
Tiba-tiba saja gisele menangis seakan menahan sakit begitu dalam yg mungkin saja bisa dirasakan orang lain.
"Kau kenapa? apa kau ada masalah?" tanya Rian pula semakin bingung.
Namun, pertnyaan itu tidak digubris oleh Gisele. malah gisele menyenderkan kepalanya dipundak Rian tanpa dia sadari.
"Kau! apa kau tidak tau aku siapa?" tanya Rian mulai sebal.
"Ada apa dengan wanita ini? kenapa dia larut malam berada ditengah jalan begini," gumam Rian bertanya seolah kebingungan.
"Hei, rumahmu dimana?" bertanya berulang kali.
Gisele Masih tetap tidak menjawab dengan pertnyaan yg dilontarkan Rian padanya. malah gisele tertidur tidak sadarkan diri lagi.
"Apa yg harus kuperbuat dengan wanita ini... aku juga tidak tau rumahnya dimana! kalau aku bawa kerumah Rei, mungkin saja Rei masih dirumah sakit. ahh! sial," gumam Rian merasa panik sendiri.
Apa aku bawa ke apartemen ku saja malam ini??? bergumam lagi penuh keraguan.
__ADS_1
...............