Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
MAPLE AND OAK


__ADS_3

☘️☘️☘️


Pada pukul 09.00 pagi Haikal dan Belinda pergi ke bandara untuk cek out tiket pesawat mereka. Haikal membawa 2 buah koper untuk perlengkapan mereka di rumah yg baru saja Haikal beli tanpa sepengetahuan Belinda.


Jalur keberangkatan dari London ke New York tidaklah memakan waktu lama. sebelum Belinda pergi, ia memberikan pesan pada bik Lis supaya mengikuti jejak langkah Haikal. bahkan Belinda berpesan untuk terus menghubunginya setiap saat apapun yg terjadi saat dirinya pergi ke New York bersama Haikal.


Sesampainya mereka di New York pukul 12.00 siang hari, berhentilah sebuah taksi berwarna biru tua di depan rumah yg mewah sekali. keduanya keluar dari taksi itu, Belinda celingukan melihat sekitarnya, terasa sejuk saat Belinda hendak memasuki kawasan yg banyak tertanam pohon Maple dan Oak berjejer terlihat seperti berbaris. begitu segar saat angin datang menghembus pohon itu. baru saja Belinda datang sudah merasakan nyaman dalam dirinya. yeap, Haikal sengaja membeli rumah itu supaya Belinda merasa rileks berada di daerah rumah tersebut.


Belinda hanya memegang tasnya saja bahkan tidak Haikal biarkan sedikit saja Belinda membawa barang yg berat. sempat Belinda memaksa untuk membawa salah satu koper tetapi tetap Haikal tidak membiarkannya.


Mau bagaimana lagi, Belinda menghembus nafas pelan melihat perhatian sang suaminya itu. ia juga tidak ingin membuat Haikal merasa terbebani olehnya.


"Ren, apa koper itu berat? aku bisa membawanya! kan tinggal di Sorong saja. kenapa kau tidak memberikannya padaku?" tanya Belinda dari belakang punggung Haikal.


"Kau hanya perlu memegang lenganku! biarkan koper ini aku yg bawa," ucap Haikal sambil menyuruh Belinda untuk memegangnya.


"Hm... Baiklah!" turut Belinda membuang nafas lagi.


"Tapi, ini rumah siapa? apa kau menyewa rumah ini?" tanya Belinda sambil melirik Haikal dari samping.


"Kita di dalam saja ceritanya, lihat jalanmu! karna di situ nanti banyak batu, awas terpijak," titah Haikal memberi pesan pada Belinda yg asyik memandangi dirinya.


Belinda tidak bisa berkata lagi, ia pun terdiam mengikuti langkah suaminya sambil tertunduk melihat ke bawah. memperhatikan jalannya saja.


Ting Tong


Haikal membunyikan bel rumah beberapa kali.


"Tunggu sebentar tuan..." sahut seorang wanita dari dalam.


Krek


"Oh, tuan dan nyonya sudah sampai. sini tuan biar bibik bawakan kopernya," turut wanita itu pula.


"Letakkan saja di situ bik! biar saya yg mengangkatnya ke atas nanti," pesan Haikal sambil memberi senyum kecil.


"Yuk bel, kita masuk."


Belinda merasa bahwa rumah itu tidak kalah besarnya dari rumah yg ada di London. jika Haikal menyewa tentu saja pasti mahal. Belinda melamun setelah pintu rumah terbuka sambil memperhatikan isi dalam rumah.


"Bel?! ada apa? kok melamun? apa kau sudah lapar?" tanya Haikal menggoyang lengan Belinda hingga buyar lamunan Belinda.


"Agh, tidak! aku hanya lelah saja," jawab Belinda nada rendah.


"Ini bik Ina! kalau ada apa-apa kau bisa meminta bantuannya," tunjuk Haikal pula.

__ADS_1


"Ya nyonya, di sini saya akan mengurus keperluan nyonya," bungkuk bik Ina itu sesekali.


"Iya, terimakasih kalau begitu," sambut hangat Belinda pula.


"Bik, kami ke kamar dulu," kata Haikal sambil menoleh anggukkan kepala pada Belinda.


Sang istri hanya memberikan senyum kecil di wajahnya itu.


"Masakan sudah tersedia di meja makan tuan, kalau masih ada yg di butuhkan bisa panggil bibik, mau nyiram tanaman dulu," katanya pula membungkuk pelan.


Keduanya membalas dengan anggukan tak berapa lama bik Ina menutup kembali pintu rumah dan pergi meninggalkan kedunya.


Mereka mulai melangkah masuk untuk menaiki anak tangga. karena kamar khusus ada di atas. sementara hanya ada 2 kamar di bawah, gudang dan kamar bik Ina.


Belinda di pegangin oleh Haikal sangat penuh kehati-hatian sekali. karena perut Belinda sudah semakin membesar saja.


Sampailah keduanya di depan sebuah pintu kamar yg berderet dengan dua kamar lainnya.


Belinda menoleh ke arah sisi kamar lain dengan tatapan penasaran.


"Bel, masuk! apa yg kau lihat di sana?" tegur Haikal yg sudah memegang gagang pintu kamar.


"Itu kamar siapa? apa masih kosong?" tunjuk Belinda pula.


"Itu kamar anak kita nanti, aku sengaja menyiapkannya jika nanti kau sempat melahirkan di sini." Haikal berkata begitu sambil mengelus perut besar Belinda.


"Boleh! setelah itu kau harus berganti pakaian dan kita makan di bawah," pesannya pula sambil merapikan rambut Belinda.


"Hm, aku akan kembali," turut Belinda mengiyakan.


Haikal masuk ke dalam kamar sementara Belinda bergerak ke arah kamar satunya.


Kriet


Kamar dengan nuansa yg bagus, di berikan cat berwarna biru langit hingga terlihat pula dengan perlengkapan bayi. mulai dari tempat tidur lengkap dengan kelambunya, bak mandi, baby Walker, hingga peralatan lainnya yg teramat sangat lengkap di kamar itu.


Belinda memegang tempat tidur yg indah itu, sudah terhias sedemikian rupa. hingga ada krincing beralunkan musik di atas tempat tidur tersebut.


Yeap, siapa lagi yg menyiapkan itu semua kalau bukan suaminya. ia sambil memegangi perutnya hingga tampaklah tetesan air mata kebahagiaan di wajahnya. betapa sangat terharu dirinya setelah melihat itu semua. dengan kesibukan Haikal, sang suami masih sempat menyiapkan segala perlengkapan untuk kelahiran anak mereka. Belinda menghapus air matanya jika Haikal melihat dirinya sedih begitu entah apa yg dipikirkan nantinya.


Belinda melangkah pergi dari kamar itu dan menutupnya kembali dengan rapat.


Krek


Pintu kamar satunya ia buka terlihat pula sang suami sudah tertidur lelap di atas kasur empuk dengan kondisi baju dan sepatu masih terpasang. Belinda melangkah masuk dan menutup pintunya dengan rapat, saat berada di dalam kamar. Belinda melepaskan sepatu dan baju kemeja yg di kenalan oleh Haikal. ia pun membuka tirai otomatis tanpa gorden. sehingga masuklah cahaya terang dari arah luar.

__ADS_1


Entah mengapa Belinda juga menguap beberapa kali sambil menyelimuti Haikal memakai selimut tebal ( badcover ) ia juga meraih remot AC yg sudah kian tertempel di tembok. Belinda menyetel suhu AC supaya tidak terlalu dingin. seusai itu, ia duduk dengan mengambil majalah terletak di meja rak kecil khusus penyimpanan buku-buku.


Beberapa saat mata Belinda terpejam setelah mengamati lembar demi lembar majalah tersebut. akhirnya mereka berdua tidur dari arah yg berbeda. sampai menjelang malam hari mereka berdua terus terlelap dengan keheningan suara AC dan dengkuran dari Haikal.


.


.


.


Pagi hari yg sudah menampakkan sinarnya. kicauan burung yg bertengker di pepohonan. segala aktifitas di pagi hari membuat orang-orang pada sibuk mengerjakan segala sesuatunya.


"Ren, apa kau hari ini mengurus proyek mu?" tanya Belinda yg sedang mengoles selai di atas roti, bik Ina melirik dari dekat karena merasa segan pada Belinda yg sedari pagi sudah membantu menyiram bunga di taman hingga membantu bik Ina di dapur.


"Bik, kembali lah! bibik kerjakan yg lain saja," turut Belinda dengan senyuman hangat.


"Baik nyonya, saya pamit dulu," patuh bik Ina angguk kepala lalu bungkuk, terus pergi dari tempatnya.


Beberapa menit kemudian.


"Ini, makan dulu rotinya." Belinda menyuguhkan Haikal roti berselai coklat hazelnut itu.


"Terimakasih sayang," ucap Haikal sambil mencubit pipi Belinda pelan.


"Ren, apa kita akan menetap di sini?" tanya Belinda sesaat setelah meletakkan pisau bekas olesan selai di atas meja.


"Nyam Nyam."


Terdengar suara kunyahan Haikal saat menikmati roti itu.


Setelah roti itu habis di makan Haikal, ia meraih sebuah gelas berisi air lemon hangat. ia pun meneguk beberapa kali, saat semuanya selesai, barulah ia menjawab pertanyaan dari sang istri.


"Apa kau sudah merindukan bik Lis? makanya kau bertanya begini padaku?" tanya Haikal sambil mengusap sisa roti di mulutnya.


Belinda anggukan kepala saat ucapan dari Haikal.


"Setelah aku siapkan proyek selama kurang lebih dua bulan ini, aku akan pulang dulu. tapi kau masih tetap di sini, kalau urusan ku selesai di London aku akan kembali ke sini lagi untuk melihatmu melahirkan," imbuh Haikal menjelaskan dengan perlahan pada Belinda.


"Baiklah, aku akan menunggu mu di sini," turut Belinda dengan patuh sambil menampakkan senyum kecil di pinggir bibirnya.


"Kau istri yg patuh! aku akan pergi sebentar lagi, ingat!! jangan terlalu lelah?! kalau ada keperluan apapun kau tinggal panggil bik Ina, apa kau mengerti?" tegas Haikal supaya Belinda menuruti kemauan dirinya.


Berulang kali Belinda anggukkan kepala supaya Haikal tidak cemas lagi saat dirinya di rumah.


Sejenak Haikal bangkit dan mencium kening Belinda begitu hangat. ia juga mengelus pipi Belinda sesekali barulah dia pergi dengan tenang. dari kejauhan Belinda menatap hangat suaminya itu. karena kasih sayang Haikal semakin bertambah saat dirinya tengah hamil.

__ADS_1


...........


Bersambung...


__ADS_2