
☘️☘️☘️
Semenjak kepergian Belinda dan Haikal, bik Lis selalu menjaga rumah mereka, apalagi Ricky selalu mampir ke rumah yg di tinggalkan oleh Belinda juga Haikal. setiap harinya Ricky selalu membawa pekerjaan yg ada di kantor ke rumah tempat singgahannya. terkadang Ricky tertidur di rumah itu, bahkan rumahnya dia abaikan begitu saja.
Setelah 1 bulan berlalu kehamilan Belinda memasuki 8 bulan, dimana proyek Haikal sudah ia bereskan saat berada di Amerika. kini baginya untuk pulang mengurus masalah yg sudah di buat oleh Ambar. ia berjanji pada Belinda untuk pulang saat dirinya melahirkan karena pekerjaan di London membuatnya tidak bisa berlama di New York.
Haikal pulang ke London untuk segera membereskan masalah yg timbul tanpa di ketahui oleh Belinda. Ricky juga akan bekerjasama dengan Haikal membereskan masalah yg akan mengancam nyawa Belinda. dengan cara Ricky akhirnya Fidya berhasil dia taklukan dan mau membantu mereka untuk menjebak Ambar yg telah membuat semuanya menjadi kacau.
Kepulangan Haikal pada malam hari di London, ia terbang naik pesawat dalam perjalanan waktu kurang lebih 3 jam saja. sesampainya di rumah Haikal melihat pintu rumahnya terbuka dengan lebar dan terdengar suara orang sedang tertawa begitu kerasnya.
"Kalian? sedang apa?" tanya Haikal di depan pintu rumah sambil memegang tas bawaannya.
"Tuan, sudah kembali? mari tuan saya bawakan tas tuan," turut bik Lis yg langsung sigap berlari yg sebelumnya bercanda gurau dengan Ricky.
Haikal berjalan melenggang menghampiri Ricky.
"Apa yg kau bicarakan pada bik Lis?" tanya Haikal pula menegur Ricky yg terlihat sedang tersipu malu. "Hm, apa aku ketinggalan sesuatu?" ia berjalan mengarah pada kursi dan duduk didepan Ricky bahkan belum menjawab pertanyaan darinya.
Haikal melirik Ricky mengusap pundak lehernya, ia tersenyum kecil melihat kegugupan Ricky di hadapannya. ia pun melepas kacamata putih yg bertengger di batang hidungnya.
"Ricky! kenapa kau melamun?"
Sangking terkejutnya Ricky sigap berdiri dn bungkuk tanpa bersuara.
"Maaf tuan, saya tidak bermaksud untuk tidak sopan, hanya saja..."
Ricky terdiam lagi terlihat malu ingin berbicara lebih lanjut.
"Tuan, makan malam sudah bibik siapkan, mari tuan di makan dulu," tegur bik Lis saat Haikal sedang melirik Ricky dan menoleh pada bik Lis.
Dengan isyarat anggukan kepala sekali dari bik Lis, barulah Haikal mengerti kalau Ricky sedang di mabuk asmara.
"Ayo, kita makan bersama!" tepukan di pundak Ricky membuatnya kembali terkejut.
"Baik tuan, silahkan deluan," turut Ricky dengan sopan.
Haikal berjalan lebih dulu sementara Ricky mengikuti dari belakang dan masih mengelus pundak lehernya lagi.
__ADS_1
Ternyta kegugupan Ricky itu ada sesuatu yg telah dia tutupi. Haikal juga bisa langsung merasa kalau Ricky sedang jatuh cinta pada seorang wanita yg tidak dia ketahui siapa orang tersebut yg sudah berhasil menaklukkan hati Ricky.
Pada saat di meja makan.
"Tuan, besok Fidya akan menemui bos besarnya. dia membuat janji di gudang tempat pertama kali saya mendapati mereka. Fidya akan bersandiwara, saat itu kita harus bisa menjegat bos besarnya. kita harus mendapatkan banyak bukti untuk menjebloskan bos besar itu ke pihak berwajib." Ricky berceloteh sambil mencakup nasi dan sambal untuk di letakkan di atas piringnya.
"Apa kau yakin Fidya akan bekerjasama dengan kita dan tidak berkhianat?" tanya Haikal yg masih belum percaya dengan pengakuan Ricky padanya.
"Tuan tenang saja, bukti Fidya dan bosnya ada di tangan saya. jadi, Fidya tidak bisa berbuat apapun. apalagi sampai menipu kita," kata Ricky sambil mengunyah perlahan.
"Baiklah, kau urus waktu untuk itu. aku lelah, mau istirahat dulu," ucap Haikal setelah dirinya selesai makan dan bangkit dari kursi. "Oh ya, kau jaga wanita yg kau sukai. jangan kau sakiti dia," lanjut Haikal pula berbalik badan hingga tersenyum kecil membuat Ricky membelalakkan matanya
Dag Dig Dug
Jantung Ricky berdegup kencang saat Haikal berkata demikian, padahal dirinya belum mengatakan apapun tapi sudah ketahuan karena mimik wajah yg sangat menonjol saat orang lain melihatnya.
Puk
Bik Lis menepuk pundak Ricky sedikit keras karena Ricky terbengong saat Haikal sudah berlalu pergi.
"Ti... tidak! saya pamit dulu sudah malam," sangking kelabakan Ricky sampai salah jalan hendak mau ke pintu keluar malah mengarah ke toilet.
"Menginap saja di sini, apalagi sudah malam. kau terlihat mabuk asmara nanti malah tidak sadar di jalan. hehe," kekehan bik Lis membuat Ricky semakin malu dan merona. "Sudah, pergilah ke kamar mu! jangan melamun lagi, kau terlihat seperti tomat yg sudah sangat matang," ia kembali kekeh sambil membereskan meja makan.
Tanpa berkata apapun ricky berlari dengan kencang menyembunyikan wajahnya yg begitu memalukan. bik Lis terkekeh kembali dan bergeleng kepala melihat tingkah Ricky seperti itu.
Sampainya di kamar, Ricky berkaca di depan cermin dan melihat keadaan dirinya saat ini. ternyata dirinya saja langsung sadar kalau kedua pipinya begitu sangat terlihat seperti tomat.
"Oh ya tuhan! kenapa aku bisa seperti ini? sungguh memalukan!" gumam Ricky tertunduk dan menutup sebelah matanya terasa sangat tidak menyangka dengan wajahnya sendiri.
.
.
.
Pagi hari yg cerah seperti biasanya setiap orang beraktifitas melakukan kegiatan menjalani keseharian.
__ADS_1
"Ricky apa kau sudah siap?" tegur Haikal yg terlihat rapi hendak berangkat ke kantor.
"Sudah tuan, saya juga sudah menghubungi Fidya untuk bersiap melakukan perintah yg sudah saya berikan padanya," kata Ricky bungkuk dengan sopan.
"Sekarang kita berangkat."
"Mari tuan." Ricky berjalan menuju mobil terparkir di depan halaman rumah.
Kini Ricky bukan lagi karyawan biasa untuk Haikal, dia sudah diangkat menjadi kandidat untuk mengurus segalanya di kantor. bisa di katakan kaki tangan Haikal. Ricky selalu di samping Haikal dan membereskan semua permasalahan yg ada di kantor.
Saat di perjalanan menuju gudang tua.
Tut Tut Tut
"Hah!" keluh Ricky sambil menyetir mobil.
"Ada hal buruk?" tanya Haikal menautkan kedua alis matanya.
"Fidya tidak menjawab panggilan saya, ada apa dengan wanita ini?" keluh Ricky lagi berbicara sambil melihat ponsel di tangannya.
"Coba kau hubungi lagi," perintah Haikal pula.
Ricky melanjutkan menghubungi Fidya berulang kali, namun belum juga ada jawaban.
"Bagaimana?"
Ricky hanya bergeleng kepala saja.
"Sial! pasti dia sudah bermain di belakang kita." Haikal sedikit kesal dan berteriak memukul kaca samping tempat duduknya.
"Tenang tuan! saya sudah antisipasi kalau dia mau menjebak kita, jadi tuan tidak perlu cemas," turut Ricky menatap ke arah jalan dan meremas setir mobil dengan erat.
Awas saja kalau kau sampai bermain di belakangku! kau akan habis di tanganku Fidya!" batin Ricky tampak kesal di wajahnya sambil mengerutkan bibirnya.
............
Bersambung...
__ADS_1